Articles

Saat Es, Salju, dan Keberanian Bertemu di Harbin.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Saat Es, Salju, dan Keberanian Bertemu di Harbin.

Pagi di Harbin itu tidak pernah setengah-setengah. Dinginnya serius. Menusuk. Bahkan rasanya lebih tajam daripada yang pernah kami alami di wilayah Kutub Utara. Tapi justru di situlah keindahannya.

Hari itu kami bangun tanpa terburu-buru, karena hotel kami berada di Volga Manor. Begitu keluar kamar, kami langsung disambut deretan ukiran dan patung es yang berdiri anggun di sekeliling bangunan. Es bening, pahatan detail, cahaya pagi memantul lembut. Rasanya seperti berjalan di negeri dongeng.

Volga Manor sendiri unik. Arsitekturnya kental nuansa Rusia klasik. Ada gereja kecil berkubah khas, jembatan, rumah-rumah bergaya Eropa Timur. Bahkan ada satu bangunan yang langsung mengingatkan saya pada Rovaniemi, kampung Santa Claus di Finlandia. Cantik, tenang, dan terasa hangat meski suhu minus.

Volga Manor memang dibangun untuk merayakan sejarah dan pengaruh Rusia di Harbin. Kota ini sejak dulu menjadi titik pertemuan budaya, sejak jalur kereta api Rusia dibangun ratusan tahun lalu.

Menariknya, semua es yang digunakan untuk patung dan bangunan es di Harbin diambil dari Sungai Songhua. Sungai ini membeku tebal saat musim dingin, menghasilkan balok es yang jernih, padat, dan kuat.

Es yang sama, tapi di tangan seniman, berubah menjadi karya seni kelas dunia. Alam menyediakan bahannya. Manusia memberi maknanya.

Tidak hanya itu, di Volga Manor kami naik ban yang sudah diikat sekitar 8-10 biji, lalu meluncur di parit panjang menurun, yang terbuat dari es…
Kompak yang di depan menahan sepatu teman di belakangnya, lalu meluncur bersama-sama sambil berteriak dan merasakan sensasinya.
Wuih….. serunya…

Siang hari kami menuju Sun Island. Dulu, ratusan tahun silam, pulau ini hanyalah tempat nelayan memancing. Lalu, ketika Rusia membangun jalur kereta api, orang-orang Rusia mulai membangun vila musim panas di sini. Dari pulau sederhana, Sun Island berubah menjadi pusat seni salju internasional.

Sun Island adalah rumahnya snow sculpture. Bukan es bening, tapi salju padat. Warnanya putih matte, kesannya lembut, artistik, dan penuh ekspresi.

Di sinilah kami melihat salah satu momen paling membanggakan: juara ketiga kompetisi internasional snow sculpture diraih oleh tim Indonesia. Karya berjudul “Dewi Dhawantari”, diukir oleh tim seniman Indonesia, diketuai oleh I Ketut Suaryana.

Sosok dewi digambarkan anggun, penuh simbol kehidupan dan keseimbangan. Berdiri di tengah kompetisi dunia, karya anak bangsa itu tidak kalah wibawa.

Juara pertama tahun itu diraih oleh tim Rusia, dengan karya berskala besar dan detail yang sangat kompleks. Melihat Indonesia berdiri di podium dunia, rasanya hangat di hati, meski udara dingin menusuk.

Sore bergeser ke malam, suasana berubah total saat kami mengunjungi Harbin Ice and Snow World atau yang sering disebut Ice Exhibition. Inilah dunianya ice sculpture. Es bening dari Sungai Songhua disusun menjadi kastil raksasa, menara, jembatan, dan bangunan bercahaya.

Tahun 2026, area ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah, lebih dari satu juta meter persegi. Lampu LED tertanam di dalam es, memantulkan warna-warni.

Jika Sun Island itu galeri seni, Ice and Snow World adalah kerajaan es bercahaya. Wajib malam hari. Siang hari tidak akan memberikan efek yang sama.

Hari berikutnya kami mengunjungi Siberian Tiger Park. Ini pengalaman yang benar-benar berbeda. Harimau Siberia adalah predator langka.

Di dunia jumlahnya kurang dari 700 ekor, di China sekitar 100 ekor. Beratnya bisa mencapai 200–320 kg, panjang tubuhnya hingga lebih dari dua meter.

Kami membeli lima potong daging seharga 100 yuan, dimasukkan ke dalam ember. Dari dalam bus khusus dengan kaca anti peluru, kami memberi makan harimau-harimau itu satu per satu.
Karena datang masih pagi, harimau-harimau itu masih lapar.
Seru, mendebarkan, tapi tetap aman.
Kacanya tebal, desainnya memang dibuat untuk pengalaman tanpa risiko.

Satu lagi pengalaman unik di Harbin adalah pertunjukan berenang di air es. Awalnya tradisi ini berasal dari upacara baptisan musim dingin gereja Ortodoks Rusia. Seiring waktu, tradisi ini diadopsi masyarakat lokal dan menjadi tontonan publik.

Yang berenang bukan anak muda, tapi orang-orang usia 60–70 tahun, memakai pakaian renang terbuka, melompat dari ketinggian ke air bersuhu minus 22 derajat rasanya minus 34 derajat. Gaya mereka santai, bahkan percaya diri. Sulit dipercaya, tapi itulah Harbin.

Di mana-mana kami melihat snowman, dari yang kecil sampai raksasa. Kota ini seperti menolak kalah pada dingin. Harbin tidak melawan musim dingin. Harbin merayakannya.

Perjalanan ini mengajarkan satu hal sederhana: dingin tidak selalu tentang ketidaknyamanan. Dalam tangan yang tepat, dingin bisa berubah menjadi keindahan, keberanian, bahkan kebanggaan. Dan Harbin membuktikan itu dengan cara yang tidak terlupakan.

“In the depth of winter, I finally learned that within me there lay an invincible summer.”- Albert Camus

“Di tengah dingin musim dingin yang paling dalam, aku akhirnya belajar bahwa di dalam diriku ada musim panas yang tak terkalahkan.” – Albert Camus

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Apa yang terjadi ketika Yesus memberikan kuasa kepada para murid?
Cara Menangani Berbagai Konflik Dengan Anggun.
Nonna Anna: Barista 100 Tahun & Bukti Bahwa Tua Itu Babak Baru yang Indah.