Tur Harbin: Changchun – Dunhua, Kaisar Boneka dan Harga Sebuah Kebebasan.
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Tur Harbin: Changchun – Dunhua, Kaisar Boneka dan Harga Sebuah Kebebasan.
Pernah menonton film The Last Emperor?
Nach, hari ini kami mengunjungi Puppet Emperor Palace, istananya Kaisar Puyi. Terdiri dari istana lama yang dibangun tahun 1928 dan istana baru yang dibangun untuk istri ke 4 Puyi tahun 1937.
Sesungguhnya, Puyi bukan penerus utama takhta Dinasti Qing. la dipilih justru karena masih sangat kecil dan tidak memiliki kekuatan politik. Setelah Kaisar Guangxu wafat tanpa keturunan, kekuasaan berada di tangan Permaisuri Cixi yang membutuhkan kaisar yang mudah dikendalikan. Puyi, yang baru berusia sekitar dua tahun, menjadi pilihan ideal. Sejak awal, mahkota itu bukan diberikan untuk memerintah, melainkan untuk diatur
Puyi dinobatkan menjadi kaisar pada tahun 1908, saat usianya masih balita. Secara resmi ia memerintah hingga 1912, ketika Dinasti Qing runtuh akibat Revolusi Nasionalis. Jadi secara kalender, ia adalah kaisar selama sekitar empat tahun. Namun pada kenyataannya, masa kekuasaan itu lebih bersifat simbolis daripada nyata.
Setelah turun takhta, Puyi masih diizinkan tinggal di Forbidden City hingga tahun 1924. la tinggal di Forbidden City selama 12 tahun, dijaga ketat dan hidup tanpa kuasa, seolah menjadi penjaga simbolis dari istana yang pernah menjadi miliknya.
Puyi mencari bantuan ke berbagai negara agar kekaisarannya bisa kembali.
Puyi mencoba mencari dukungan dari berbagai pihak, bahkan rela melepas banyak harta kekaisaran, berharap tahtanya bisa kembali.
Puyi percaya. Ternyata, banyak negara hanya mengincar hartanya.
Lalu datang Jepang dengan tawaran “pertolongan”. Puyi dibawa ke Jepang, disetting pulang Tiongkok dengan sambutan massa yang berteriak “Wansui…Wansui…Wansui….!”.
Wansui artinya “hidup seribu tahun” atau “panjang umur selamanya.”
Ia tersenyum. Ia pikir, inilah yang ia tunggu. Dia tidak sadar, semua itu propaganda Jepang, bukan kejadian spontan.
Sekembalinya ke Tiongkok, ia ditempatkan di Changchun, dibuatkan istana yang meniru Beijing. Bahkan dibangun tiruan Tiananmen Square. Megah, rapi, dan palsu.
Suatu hari, Puyi ingin berjalan keluar sendirian. Seorang prajurit melarangnya. Di situlah ia sadar: ia bukan kaisar. Ia ‘tahanan’. Raja boneka. Puppet emperor.
Tiga kali jadi raja, tiga kali pula jadi rakyat biasa. Ia kaisar pertama yang bisa bahasa Inggris, pernah naik sepeda, hidup modern—namun tak pernah merdeka.
Kisah paling menyayat adalah tentang istri ketiganya, Tan Yuling, yang paling ia cintai. Wafat di usia 22 tahun. Sakit batuk parah. Obat herbal terlalu lambat. Puyi ingin Yuling segera sembuh maka meminta dokter Barat. Seorang perwira Jepang berbicara 1 jam dengan sang dokter sebelum memberi suntikan pada Yuling. Subuhnya Tan Yuling meninggal.
Mengapa Yuling harus ‘dihilangkan’?
Ia dikenal jujur dan berani mengingatkan Puyi tentang kelicikan Jepang. Terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup.
Pemakamannya dibuat megah, dengan mawar hitam yang harganya setara mobil pada zamannya.
Jepang lalu ingin menjodohkan Puyi dengan perempuan Jepang. Ia menolak. Perempuan itu akhirnya dinikahkan dengan adiknya. Puyi kemudian menikah dengan gadis 15 tahun, istri keempat, yang menemaninya sampai akhir hidup.
Di kompleks istana ada monumen jam yang konon disetel sesuai waktu ketika Puyi mencoba melarikan diri. Ini menjadi simbol momen runtuhnya ilusi terakhirnya sebagai kaisar.
Saat perang dunia ke 2, Jepang kalah. Sementara Uni Soviet juga mengincar China utara yang subur dan kaya berbagai tambang mineral yang langka di dunia. Puyi berusaha melarikan diri.Tetapi naas, Puyi ditangkap Soviet di Mukden (Shenyang) airport, 1945. Maka dia menjadi tahanan Uni Soviet.
Akhirnya China bersedia membebaskan Puyi dari tangan Soviet, asalkan dia bersedia bersaksi tentang strategi dan kejahatan Jepang.
Disebut Puppet Emperor karena sepanjang hidupnya, Puyi hanya memegang mahkota—tanpa pernah memegang kendali. Sebuah istana indah, kisah besar, dan pelajaran sunyi tentang kuasa tanpa kebebasan.
Sungguh tragis!
Selanjutnya, kami Nanhu Park, berfoto ria dan ini dia yang keren….
Teng… Teng…Teng ….. mengunjungi Jingyue lake yang konon kembarannya dari Sun Moon Lake di Taiwan.
Karena suhu minus 20 derajad Celcius, danaunya membeku jadi es dan banyak permainan di sana.
Seru sekali mengendarai Jeep di atas es. P. Indra senang sekali bersama teman-teman beraksi memutar jeep semaksimal mungkin hingga lebih dari 180 derajad…
Ngepot… kata orang jawa.
Tidak puas hanya sekali, awalnya pakai jeep hijau, ternyata lebih kecil dibandingkan jeep merah. Maka ronde ke dua P. Indra pakai jeep merah yang besar.
Wow….. gaya banget… lomba ngebut sambil merasakan terpaan angin dingin di wajah.
Tidak mau kalah gaya bak pembalap profesional….
Kami juga naik 6 bebek plastik beroda yang ditarik jeep dan di putar-putar jadilah deretan bebek berlarian ke kanan kiri….. sambil sedikit tegang. Pokoknya ngeri- ngeri sedap….
Hahahaha…..
Ada juga dog-sledding, kereta yang ditarik anjing Husky Siberia yang besar dan ganteng. Naik kuda. Dll
Begitu banyak aktifitas.
Tinggal pilih mau yang mana?
Inilah yang bikin liburan bersama teman-teman tak terlupakan.
Once in a lifetime perlu dicoba…
Life is good.
Thank you Lord!
“He who controls others may be powerful, but he who has mastered himself is mightier still.” – Lao Tzu
“Orang yang menguasai orang lain mungkin berkuasa, tetapi orang yang menguasai dirinya sendiri jauh lebih kuat. – Lao Tzu
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

