Articles

Da Lian, Kota Pertama Rangkaian Menuju Harbin.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Da Lian, Kota Pertama Rangkaian Menuju Harbin.

Landing di Dalian sudah malam. Kelihatannya biasa saja. Tapi keesokan paginya… wow. Kami langsung terpukau. Kota di sekitar hotel cantik sekali. Rasanya seperti bukan di China, tapi di Rusia. Bangunan-bangunannya rapi, elegan, dan bikin mata betah.

Di Dalian, Provinsi Liaoning, kami mengunjungi monumen Singa Siberia yang terkenal. Sekilas tampak megah. Tapi makin diperhatikan, makin terasa maknanya. Di kompleks ini bukan satu patung, melainkan lima singa dewasa dan satu singa kecil di belakangnya. Bukan kebetulan.

Lima singa melambangkan kekuatan, perlindungan, keberanian, stabilitas, dan kewaspadaan. Lima sisi hidup yang perlu dijaga seimbang, bukan dipamerkan. Lalu singa kecil itu berbicara pelan tapi kuat tentang kelanjutan, generasi, dan warisan. Kekuatan sejati tidak berhenti di kita. Ia diteruskan lewat hidup yang konsisten. Iman, karakter, dan nilai tidak diwariskan lewat ceramah, tapi lewat teladan sehari-hari.

Selain itu ada satu jembatan yang bukan cuma panjang, tapi penuh cerita: Xinghai Bay Bridge. Jembatan ini membentang belasan kilometer di atas laut. Pemandangannya luas, tenang, dan jujur indah.

Orang lokal menyebutnya jembatan romantis. Bukan karena hiasan berlebihan, tapi karena suasananya. Angin laut, langit terbuka, dan langkah kaki yang panjang bikin orang otomatis melambat. Memang cantik. Di laut, batu-batu tampak mirip Twelve Apostles di Melbourne.

Banyak pasangan berjalan berdua di sini. Ngobrol hal kecil sampai hal besar. 14 kilometer saat sedang dimabuk cinta terasa dekat.

Ada cerita yang sering beredar. Konon, kalau pasangan suami istri bertengkar dan salah satunya “kabur”, mereka akan dicari ke jembatan ini. Bukan dramatis. Tapi karena tempat ini dianggap aman untuk menenangkan diri. Di atas laut, emosi panas biasanya turun sendiri. Kita jadi berpikir lebih jernih. Entah benar atau urban legend, yang jelas jembatan ini seperti ruang jeda. Kadang, yang kita butuhkan bukan jawaban cepat, tapi jarak yang cukup luas untuk mendengar hati sendiri.

Kami lalu berdiri di Xinghai Square, alun-alun kota terbesar di Asia. Dibangun dari reklamasi, luasnya disebut sekitar 110 hektar, bahkan ada yang menyebut hingga 176 hektar.

Wow…..Cantik, bersih, rapi.

Luasnya bikin orang otomatis diam sebentar. Bukan karena capek jalan, tapi karena tempat ini terasa “bercerita”.
Ada area terkenal bernama 1000 jejak kaki. Instalasi “1000 footprints” ini berisi jejak dari berbagai usia warga Dalian, dari generasi awal hingga seratus tahun kemudian.

Wuih… uniknya. Inilah kayanya travelling. Setiap tempat punya cerita yang tidak bisa disalin.

Rasanya seperti diingatkan: hidup ini memang soal melangkah. Tidak semua jejak sama, tapi semua bergerak. Tidak ada yang berdiri diam.

Yeeeayy, ternyata resto lunch kami persis menghadap “1000 footprints”. Double berkat. Lunch lezat, pemandangan penuh makna. Praise the Lord!

Mata lalu tertarik ke dua patung anak kecil. Bukan pahlawan. Bukan raja. Anak-anak. Pesannya jujur: masa depan tidak ditaruh di tangan kekuasaan, tapi di generasi muda yang hari ini sedang dibentuk.

Ada juga patung buku yang bisa dibaca bolak-balik. Seolah berbisik, “belajarlah dari masa lalu, tapi jangan hidup di sana.” Arah hidup tetap ke depan.

Dan… dua tiang biru menjulang seperti sumpit biru yang hendak menyumpit bulan. Simbol mimpi besar. Terlihat mustahil, tapi tetap diarahkan ke langit. Seolah berkata, bersama Tuhan, tidak ada yang mustahil.

Teringat kutipan Norman Vincent Peale:
“Shoot for the moon. Even if you miss, you’ll land among the stars.”

Tembaklah ke bulan. Sekalipun meleset, kamu akan mendarat di antara bintang-bintang.

Pokoknya, jangan takut bermimpi. Lalu realisasikan.

Xinghai Square tidak pamer ukuran. Ia mengajak kita berpikir: sejauh apa kita melangkah, dan setinggi apa kita berani bermimpi.

Di ujung alun-alun, laut terbentang dengan ribuan burung camar beterbangan. Kami berebut memikat mereka dengan roti di tangan. Di video tentu saja. Rasanya seperti nunggu lotre… hahaha…

Jepret… saat camar mematuk roti di tangan P. Indra yang terjulur ke atas. Yeaaaayyyy…..

Di sisi kanan, ada rumah seperti kado dengan pita merah besar dan teddy bear di depannya. Wuih… menariknya. Serasa jadi anak kecil lagi.

Life is good. Thank You, Lord.

“The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.”* – Eleanor Roosevelt.

“Masa depan milik mereka yang percaya pada indahnya mimpi.” -Eleanor Roosevelt.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Tuhan Pilih Kasih? – Healing Part 1.
Sudahkah Kita Bersyukur? Ini Alasannya!
Visi Yang Mencipta Masa Depan.