Articles

Ketika Tuhan Bukan Doktrin, Semua Perdebatan Berakhir….

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Tuhan Bukan Doktrin, Semua Perdebatan Berakhir….

Yohanes 10:24–25 selalu mengingatkan saya pada dinamika hubungan manusia dengan Tuhan. Orang-orang Yahudi mengelilingi Yesus, menuntut kepastian. “Kalau Engkau Mesias, bilang terus terang!” Dan Yesus menjawab dengan sederhana, “Aku sudah bilang, tapi kalian tidak percaya. Pekerjaan-pekerjaan-Ku itulah kesaksiannya.”

Ayat ini seperti cermin untuk zaman kita. Banyak orang sibuk mencari rumus tentang doa, lalu berdebat panjang soal Word of Faith. Ada yang pro, ada yang kontra, masing-masing merasa punya kebenaran. Padahal inti persoalannya bukan pada teknik, tetapi pada hubungan. Ketika Tuhan hanya diperlakukan sebagai konsep teologis, orang cenderung memperjuangkan rumus. Tapi ketika Ia dikenal sebagai Pribadi, cara mendekat kepada-Nya menjadi alami.

Word of Faith pada dasarnya adalah meyakini bahwa iman bergerak lewat kata-kata, dan bahwa janji Tuhan dihidupi, bukan hanya disimpan di kepala. Tapi sebagian orang menyalahgunakannya untuk memenuhi ambisi pribadi. Di sisi lain, ada yang menolaknya sama sekali karena takut terlihat seperti “memaksa Tuhan”. Dua ekstrem ini muncul karena Tuhan dianggap objek debat, bukan Pribadi yang mau ditemui dan diikuti.

Kathryn Kuhlman pernah berkata, “I never met the Holy Spirit as a doctrine. I met Him as a person, and He changed my life forever.”
“Saya tidak pernah menemui Roh Kudus sebagai doktrin. Saya bertemu Dia sebagai pribadi, dan Dia mengubah hidup saya selamanya.”

Itu sangat mengena buat saya. Semakin saya menyadari betapa baiknya Tuhan, semakin saya menyerahkan hidup pada tuntunan-Nya, dan semakin ringan hidup saya. Hidup kalau dijalani bersama Tuhan, bukan sekadar teori tentang Tuhan—hasilnya selalu berbeda.

Beberapa hari lalu, Elisa menyarankan papanya membeli baju merk tertentu, seperti yang ia belikan saat di luar negeri. Katanya, merk itu sudah masuk Indonesia. Kami tidak tahu tokonya di mana. Saya hanya berkata, “Tolong ya Tuhan, tunjukkan.”

Kami tiba di mal, masuk dari pintu tertentu, dan langsung melihat tokonya tepat di depan kami. Semua terasa pas. Parkir pas. Pintu masuk pas. Saya tersenyum—Tuhan memang peduli pada hal-hal kecil yang penting buat kita.

Kadang saya meminta secara spesifik. Kadang saya mengajak-Nya berdiskusi sambil minta arahan. Kadang saya menyerahkan kekhawatiran kepada-Nya, sesuai 1 Petrus 5:7. Setiap hari bentuk hubungan itu berbeda-beda. Hidup bersama Tuhan itu hidup, bukan prosedur.

Begitu pula dengan empat anak kami. Cara mereka meminta sesuatu tidak sama. Ada yang langsung. Ada yang bercerita dulu. Ada yang memberi kode. Tapi saya mengerti semuanya. Kalau itu baik dan mereka siap, saya memberikannya. Hubungan yang membuat saya memahami hati mereka, bukan format permintaannya.

Kalau orang tua manusia saja bisa fleksibel, mengapa Tuhan—yang jauh lebih mengasihi—harus dibatasi oleh formula tertentu?

Di bagian inilah banyak orang salah paham tentang Word of Faith, terutama soal berkat dan berkelimpahan. Apakah Tuhan ingin kita hidup berkelimpahan? Tentu. Kita punya Bapa yang baik. Tetapi kelimpahan itu bukan untuk memanjakan ego atau memenuhi ambisi pribadi. Kelimpahan diberikan supaya kita menjadi pengelola yang bijaksana. Diberkati agar bisa menjadi berkat bagi orang lain. Bukan untuk memuaskan keinginan diri, tetapi untuk memperluas kerajaan-Nya melalui hidup yang memuliakan Dia.

Melakukan Word of Faith? Ya. Bahkan kadang sambil sikat gigi di depan cermin. Saya suka mengingatkan diri saya tentang identitas saya di dalam Kristus sesuai Filemon 1:6. Itu bukan ritual semata, tetapi ucapan syukur yang mengalir dari hati yang tahu kepada siapa ia terhubung. Siapa saya di dalam Kristus – In Christ – dengan DNA & identitas yang baru.

Ketika Tuhan bukan lagi doktrin yang harus diperdebatkan, tetapi Pribadi yang kita kenal, semua perdebatan berhenti. Yang tersisa hanya perjalanan bersama Bapa yang baik, yang tahu kebutuhan kita, memahami keinginan kita, dan memampukan kita menjalani hidup yang berarti.

Christianity is not a religion. It is a relationship.” – Billy Graham

“Kekristenan itu bukan agama. Kekristenan adalah hubungan.” – Billy Graham

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Potongan Puzzle Rencana Besar Tuhan di MB-Gen menjadi Go-ImET by CI-Gen.
Sembuh Dari Sakit Aneh & Terima Terobosan Keuangan. Mau Tahu Rahasianya?
My Mom, My Hero, In Memoriam