Articles

PART 1 – “Ditertawakan Ilmuwan Amerika”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

PART 1 – “Ditertawakan Ilmuwan Amerika”

Kapal kami merayap pelan memasuki Yichang pagi itu. Sungai Yangtze berkilau keemasan, seperti menyambut kami dengan kisah lama yang tak pernah selesai dituturkan. Udara sejuk, damai, dan entah mengapa rasanya ada sesuatu yang besar sedang menunggu untuk diceritakan.

Cruise kemudian memasuki Gezhouba Ship Lock—pintu air raksasa yang mengangkat kapal kami beberapa meter lebih tinggi. Sensasinya unik, seperti masuk ke dalam lift air yang amat besar. Gerakannya perlahan, tenang, tapi luar biasa presisi. Baru melihat teknologi ini saja saya sudah terpukau. Bagaimana mungkin manusia mampu menjinakkan sungai sebesar Yangtze?

Tapi para insinyur Tiongkok ternyata sedang “pemanasan.” Gezhouba hanyalah proyek awal, laboratorium hidup untuk sesuatu yang jauh lebih besar: Bendungan Tiga Ngarai.

Begitu tiba di darat, kami menuju Museum Tiga Ngarai. Bangunannya modern, tapi isinya penuh napas perjuangan panjang bangsa ini. Foto-foto banjir yang menelan ribuan jiwa, sketsa teknik kuno, sampai potret para ilmuwan asing dan lokal yang pernah terlibat. Di sinilah saya mendengar kisah yang membuat saya berhenti melangkah sejenak.

Pada tahun 1940-an, ketika ide bendungan raksasa ini mulai dibahas, Tiongkok mengundang beberapa pakar Amerika—ahli hidrologi dan insinyur bendungan terbaik di dunia saat itu. Mereka memeriksa kondisi sungai, kontur geologi, dan kekuatan ekonomi Tiongkok.

Kepala Insinyur Desain Biro Reklamasi Amerika – J.L.Savage, melakukan survei lokasi di Tiga Ngarai
Isi utama “Rencana Savage”

“Rencana Savage” mengusulkan untuk memilih lokasi bendungan antara Nanjinguan dan Shipai, yang berada di hulu Yichang. Bendungan yang direncanakan adalah bendungan gravitasi beton dengan tinggi sekitar 250 meter, menaikkan permukaan air rendah sekitar 160 meter. Pembangkit listrik dirancang berada di terowongan batu pada kedua sisi tebing sungai, masing-masing dilengkapi 48 turbin generator, setiap unit berkapasitas 110.000 kW, dengan total kapasitas terpasang 10,56 juta kW.

Proyek ini mencakup waduk, bendungan penahan sungai, pelimpah, saluran pelimpas, saluran pengambilan air, bangunan pembangkit, saluran pembuangan air (tailrace), serta pintu air/ship lock. Jika selesai dibangun, proyek ini akan berfungsi untuk pembangkit listrik, irigasi, pengendalian banjir, serta peningkatan navigasi.

Kesimpulannya?
Mereka menggeleng.

“China is too poor. This project is unrealistic.”
Tiongkok terlalu miskin. Proyek ini tidak realistis.

Bukan hanya soal uang, tapi juga kemampuan teknik, sumber daya manusia, dan stabilitas politik. Amerika menolak memberikan dukungan, bahkan menyarankan agar Tiongkok tidak membuang waktu pada proyek raksasa seperti itu.
Mereka tahu jika Tiongkok berhasil dengan proyek ini, dia bisa menjadi Superpower Dunia….

Bagi sebuah bangsa yang baru bangkit dari perang dan kekacauan, itu tentu mengecewakan. Tetapi ada satu hal menarik dari bangsa ini: mereka tidak patah semangat. Mereka tidak membanting pintu, tidak marah, tidak memohon-mohon. Mereka menunduk, mencatat, lalu mulai membangun dari apa yang bisa mereka kerjakan.

Karena tidak mendapat dukungan teknologi dan pembiayaan, mereka memutuskan membuat bendungan “percobaan” terlebih dahulu. Maka muncullah proyek Gezhouba—bendungan pertama di Yangtze. Di sinilah mereka belajar: menaklukkan arus besar, mengelola sistem pintu air, menguji beton, memetakan struktur tanah, dan yang terpenting, mengasah kemampuan sendiri tanpa bergantung pada siapa pun.

Ternyata itu keputusan yang sangat bijak.
Gezhouba bukan hanya bendungan. Ia adalah universitas raksasa bagi para insinyur Tiongkok. Setiap baut, setiap mesin, setiap kesalahan kecil menjadi guru. Mereka belajar apa yang tidak pernah diajarkan Amerika. Dan secara perlahan, bangsa ini tumbuh percaya diri.

Sambil berjalan di museum, saya melihat foto-foto Sun Yat-sen. Jauh sebelum itu, Sun Yat-sen sudah memimpikan pembangkit raksasa di Tiga Ngarai.
Latar belakangnya karena kerusakan akibat banjir besar yang sering terjadi di Sungai Yangtze – banjir seperti pada tahun 1954 (setelah gagasan Sun) menelan puluhan ribu korban serta jutaan orang terdampak.

Tahun 1918, beliau menulis rancangan lengkap dalam bahasa Inggris, menggambarkan bagaimana tenaga air Yangtze bisa menjadi tulang punggung ekonomi Tiongkok. Visi itu terlalu maju untuk zamannya, sehingga dianggap mimpi kosong. Dunia menertawakan.

Tetapi mimpi tidak peduli siapa yang menertawakan. Mimpi hanya mencari orang yang mau bekerja untuk mewujudkannya.

Ketika proyek kerja sama Amerika–Tiongkok batal karena perang sipil dan politik, mimpi itu tertidur lagi. Namun seperti *pepatah Tiongkok: mimpi besar tidak mati—ia hanya menunggu orang yang tepat untuk membangunkannya.*

Keluar dari museum, angin lembut menyentuh wajah saya. Saya membayangkan bagaimana para visioner itu mungkin tidak pernah melihat hasil akhirnya. Sun Yat-sen tidak menyaksikan bendungan selesai. Para insinyur awalnya mungkin sudah tiada.

Tetapi pada akhirnya, Tiongkok berhasil membangun bendungan tenaga air terbesar di dunia—dengan kekuatan sendiri. 22.500 MW (22,5 GW) – total kapasitas terpasang pembangkit dengan 32 turbin utama dan biaya sekitar US$31,8 miliar hanya untuk proyeknya saja.

Saya tersenyum kecil. Dunia bisa saja meremehkan, menolak membantu, bahkan menertawakan. Tapi bagi orang yang tekun dan tidak menyerah, pintu yang tertutup hanyalah undangan untuk membuka pintu yang lain. Firman Tuhan berkata, Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali…

Dan kisah ini… baru dimulai. Tunggu kisah selanjutnya…..

“When everything seems to be going against you, remember that the airplane takes off against the wind, not with it.” – Henry Ford

“Saat segala sesuatu tampak melawanmu, ingatlah bahwa pesawat justru lepas landas melawan angin, bukan mengikuti angin.” – Henry Ford.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
*MPOIN PLUS & PIPAKU* ??
*THE REPUBLIC OF SVARGA*
*SWEET O’ TREAT*
*AESTICA INDONESIA – AESTICA ID*
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Faith Can Be Seen.
“Anda Tinggal Dalam Perjanjian Yang Mana?”
Penasaran Mengapa Doa Tidak Terjawab? Ini Rahasianya!