Articles

Lu Shan: Gunung Seribu Villa dan Saksi Persatuan Satu China

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Lu Shan: Gunung Seribu Villa dan Saksi Persatuan Satu China

Hari ini kapal kami tiba di provinsi Chiang Zi. Tur hari ini membawa kami menuju Chiu Chiang City, kota terbesar kedua di provinsi ini, dikenal sebagai “kota sembilan sungai” karena banyaknya aliran yang bermuara ke Yangtze River. Kota ini juga dikelilingi danau-danau indah dan menjadi pusat sumber air. Ternyata tempat-tempat wisata yang kami kunjungi hari ini sungguh unik.
Why?
Karena hanya mereka yang naik river cruise yang bisa sampai ke sini. Melalui jalan darat terlalu jauh dan sulit dijangkau. Itulah salah satu alasan mengapa river cruise begitu istimewa.

Tujuan utama kami hari ini adalah Gunung Lu Shan, kawasan yang masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO dan satu-satunya Global Geopark di daerah ini—bukti bahwa tempat ini memang spesial. Kami naik cable car besar berkapasitas 24 orang, menembus kabut dan pepohonan. Di puncak gunung terbentang pemandangan yang menakjubkan: Ruqin Lake, danau berwarna hijau kebiruan berbentuk biola, dikelilingi lembah-lembah dan udara yang segar.

Lu Shan sendiri dikenal sebagai “gunung seribu villa.” Dulu, misionaris Edward Lito menjual kavling tanah di sini kepada ekspatriat Eropa.
Akhirnya berdirilah lebih dari seribu seratus villa asing; kini tersisa sekitar 660. Di masa jayanya, gunung ini bahkan memiliki empat sekolah internasional untuk anak-anak diplomat dan misionaris dari Amerika, Inggris, Italia, dan Spanyol—lebih dari 2.000 murid pernah belajar di sini.

Salah satu sekolah paling terkenal adalah Kuling American School, berdiri sejak 1916 di Jalan Zhongshi No. 404, tempat anak-anak para duta besar dan misionaris menerima pendidikan modern dan pelatihan moral-rohani.

Di salah satu kavling, berdiri *Mei Lu Villa,* kediaman musim panas pasangan terkenal Chiang Kai-shek dan istrinya Song Mei Ling. Villa ini dibangun tahun 1903, milik salah satu ekspatriat yang dibeli Song Mei Ling dengan harga miring dari temannya, dan hingga kini tetap menawan.

Nama Mei Lu bermakna ganda: “villa cantik di Gunung Lu” sekaligus “villa milik Mei Ling.” Saat kami tiba, pohon-pohon maple di sekelilingnya memerah keemasan—wuih…..benar-benar indah.

Bangunan ini memadukan gaya Barat dan Timur. Di dalam kamar ada sofa bed panjang seperti masa kini, bath-up hijau di kamar mandi yang menghadap jendela, serta kulkas bukan dengan listrik tapi bensin—salah satu kulkas pertama di dunia. Dipajang juga 4 lukisan karya Song Mei Ling sendiri. Dari sinilah Chiang Kai-shek sering membuat rencana perang dan perundingan penting.

Menariknya, pada bulan Juni dan Juli 1937, di Lu Shan inilah sejarah besar terjadi. Chou En-lai, tokoh penting dari pihak komunis, sampai tiga kali datang membujuk Chiang Kai-shek agar mau berdamai dengan Mao Zedong, membahas front persatuan melawan Jepang. Akhirnya, setelah negosiasi panjang, disepakati kerja sama demi “Satu China” untuk melawan penjajahan Jepang. Kesepakatan itu menjadi titik awal persatuan nasional yang singkat, namun menentukan arah sejarah Tiongkok modern.

Namun setelah Perang Dunia II usai, konflik kembali meletus. Tahun 1946 perang antara pasukan nasionalis pimpinan Chiang dan kaum komunis di bawah Mao Zedong tak terelakkan. Hingga akhirnya 1948 Mei Lu ditinggalkan, lalu pada 1949, Chiang Kai-shek dan Song Mei Ling meninggalkan daratan Tiongkok menuju Taiwan, mengakhiri babak penting dalam sejarah negeri ini.

Selain sejarahnya, Lu Shan juga dikenal sebagai “gunung puisi.” Konon ada lebih dari 900 inskripsi dan ribuan lukisan yang menggambarkan keindahannya. Salah satu karya paling terkenal adalah puisi Li Bai berjudul Melihat Air Terjun di Gunung Lu, yang terpahat di tengah taman:

Sinar mentari menyinari puncak Xianglu, asap ungu membumbung;
Dari jauh kulihat air terjun menggantung di lembah sungai.
Arusnya jatuh lurus tiga ribu kaki,
Seakan Galaksi Bima Sakti jatuh dari langit.

Wow….. indahnya….
Puisi Li Bai tentang air terjun di Gunung Lu Shan bukan sekadar lukisan alam, tapi renungan jiwa. Saat air jatuh dari ketinggian seperti kasih Allah mengalir menuruni langit, bak hidup yang mengalir dari sumber yang tertinggi- Tuhan sendiri. Keindahan sejati lahir ketika kita membiarkan hati dialiri oleh kebesaran kasih-Nya dan mengalir membawa terang bagi dunia di sekitar kita.

“The heavens declare the glory of God; the skies proclaim the work of His hands.”

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.”

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Tuhan!
Kasih Itu Memberi…
Selamat Jalan Ko Hendry McGyver….Surga Bersorak-Sorai Menyambutmu….