New York Times (Part 2) -Cara Tuhan Menggenapi Cita-Cita Kita.
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
New York Times (Part 2) -Cara Tuhan Menggenapi Cita-Cita Kita.
Kadang kita tidak menyadari, Tuhan punya cara yang sangat unik dalam menggenapi cita-cita kita. Tidak selalu lewat jalan besar, sering kali justru melalui langkah kecil yang tidak kita anggap penting. Namun, saat kita menoleh ke belakang, semuanya ternyata membentuk pola indah yang hanya bisa dijelaskan dengan satu kalimat: Tangan Tuhan sedang bekerja.
Saya tidak pernah membayangkan, mimpi masa kecil yang sederhana—lahir dari gambar-gambar kalender bergambar pemandangan dunia—bisa menjadi awal dari pelayanan lintas bangsa. Tuhan tidak langsung membawa saya berkeliling dunia. Ia menanamkan benihnya dulu: rasa ingin tahu, semangat belajar, dan kerinduan melihat keindahan ciptaan-Nya. Dari benih kecil itulah, Tuhan menumbuhkan panggilan yang jauh lebih besar: menyentuh dunia dengan tulisan dan kesaksian hidup.
Andrew Wommack berkata, “Tuhan menciptakan setiap orang dengan tujuan tertentu. Kita tidak diciptakan secara kebetulan, dan kita tidak akan pernah benar-benar puas sampai menemukan dan menggenapi kehendak-Nya.”
Dan saya sangat merasakannya.
Cita-cita masa kecil saya ternyata bukan sekadar impian pribadi. Tuhan memakainya sebagai alat untuk menuntun saya menemukan kehendak-Nya. Setiap langkah kecil, setiap tulisan, setiap perjalanan hidup—semuanya adalah bagian dari benang merah yang menuntun ke rancangan besar-Nya.
Tuhan memang suka memakai mimpi untuk memulai sesuatu. Tapi mimpi itu baru menemukan maknanya ketika dihubungkan dengan misi Tuhan.
Ketika mimpi kita sejajar dengan kehendak-Nya, mimpi itu berhenti menjadi ambisi pribadi dan berubah menjadi penugasan surgawi. Di sinilah perbedaan antara “hidup sukses” dan “hidup bermakna.”
Sukses bisa terjadi tanpa Tuhan. Tapi hidup bermakna hanya terjadi bersama Tuhan.
Andrew Wommack menulis bahwa untuk menemukan kehendak Allah, kita perlu tiga langkah: Find it, Follow it, and Fulfill it.
Pertama, menemukan. Ini dimulai dari relasi pribadi dengan Tuhan. Semakin dekat kita dengan-Nya, semakin jelas arah hidup yang Ia tunjukkan.
Kedua, mengikuti. Taat melangkah, bahkan ketika belum mengerti sepenuhnya. Tuhan jarang menunjukkan seluruh peta, Ia hanya memberi satu langkah berikutnya.
Dan ketiga, menggenapi. Ini bukan hasil kerja keras manusia, tetapi buah dari hidup yang berserah dan setia berjalan bersama Tuhan hari demi hari.
Saya tersenyum saat melihat bagaimana Tuhan mengorkestrasi segalanya. Saya tidak pernah memohon agar tulisan saya dibaca di banyak negara. Saya hanya ingin menulis, membagikan isi hati, dan menjadi berkat. Namun Tuhan melampaui doa saya. Sekarang, blog www.yennyindra.com bisa dibaca dalam berbagai bahasa.
Bahkan artikel travelling sederhana diterjemahkan ke Bahasa Nepal, dan seorang tour guide lokal berkata dengan mata berbinar, “Sekarang ibuku bisa membaca kisah saya!”
Saat mendengar itu, saya terharu. Tuhan memakai hal yang sangat kecil untuk menyentuh hati seseorang di ujung bumi.
Saya tersadar, beginilah Tuhan menggenapi “Cita-Cita New York Times.”
Bukan lewat sorotan dunia, tapi melalui dampak yang melintasi waktu dan tempat.
Itulah doa saya — supaya tulisan-tulisan di blog, buku, atau media apa pun yang Tuhan percayakan tetap hidup, tetap dibaca, tetap memberkati bahkan ketika saya sudah di surga.
Kalau suatu hari ada seseorang yang mengenal Tuhan karena membaca tulisan yang saya tinggalkan, bukankah itu artinya mimpi itu sudah menjangkau kekekalan?
Tuhan tidak menggenapi cita-cita kita dengan cara spektakuler seperti yang dunia bayangkan.
Ia bekerja melalui kesetiaan kita pada hal-hal kecil.
Setiap kata yang kita tulis, setiap tindakan kasih, setiap ketaatan kecil — semuanya Ia kumpulkan menjadi mozaik indah rencana-Nya.
Dan ketika kita berjalan dalam kehendak-Nya, hidup kita menjadi kesaksian yang hidup, bukan hanya untuk generasi ini, tapi juga generasi setelah kita.
Kini saya mengerti, Tuhan tidak pernah menolak mimpi besar. Ia hanya ingin memastikan arah panahnya benar.
Sebab mimpi yang dihubungkan dengan misi Tuhan tidak akan berhenti pada diri kita — mimpi itu akan terus hidup bahkan setelah kita tidak ada lagi.
Dan kalau nanti tulisan-tulisan saya masih dibaca orang, membawa harapan, iman, dan kasih bahkan setelah saya di surga, saya tahu itulah New York Times versi saya:
Menjadi yang terbaik di dunia yang Tuhan percayakan, memberi pengaruh lintas waktu, dan memuliakan Dia melalui setiap huruf yang saya tulis dan setiap hidup yang disentuh oleh kasih-Nya.
Karena sesungguhnya, Tuhan tidak memanggil kita untuk sekadar berhasil. Ia memanggil kita untuk berdampak. Dan dampak sejati terjadi ketika mimpi kita bertemu dengan misi-Nya.
“The place God calls you to is the place where your deep gladness and the world’s deep hunger meet.” — Frederick Buechner
“Tempat di mana Tuhan memanggilmu adalah titik pertemuan antara sukacita terdalam hatimu dan kebutuhan terdalam dunia.” — Frederick Buechner
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

