Kebenaran Diri – Self Righteousness
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Kebenaran Diri – Self Righteousness
Apa itu? Menurut Andrew Wommack, banyak orang Kristen hidup dalam tekanan tanpa sadar karena masih berjuang membuktikan diri di hadapan Tuhan.
Ia menyebutnya “kebenaran diri” (self-righteousness) — yaitu usaha untuk menjadi benar dengan kekuatan sendiri, bukan karena percaya pada apa yang Yesus sudah lakukan di kayu salib. Kebenaran diri terdengar rohani, tapi sebenarnya membuat orang percaya kehilangan damai dan tidak pernah benar-benar menikmati kasih karunia Tuhan.
Orang yang hidup dalam kebenaran diri sering berpikir, “Tuhan memberkatiku karena aku rajin doa, baca Alkitab, dan melayani.”
Mereka berasumsi bahwa kasih Tuhan bergantung pada performa mereka. Padahal, itu artinya mereka sedang percaya pada diri sendiri, bukan pada Kristus.
Roma 10:3 berkata, “Karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri, mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.”
Selama seseorang masih mencoba menjadi cukup baik supaya diterima Tuhan, ia sebenarnya menolak kebenaran sejati — kebenaran yang diberikan sebagai anugerah, bukan hasil usaha.
Kebenaran sejati, bukanlah pencapaian, tapi pemberian, Anugerah. *Kita dijadikan benar bukan karena sudah sempurna, tapi karena Yesus sudah menukar hidup-Nya dengan kita.*
Ia menegaskan, “Kamu tidak menjadi benar karena melakukan hal yang benar, kamu melakukan hal yang benar karena kamu sudah benar.”
Perbuatan baik bukanlah akar kebenaran, melainkan buah dari kebenaran.
Dan setiap kali kita mengandalkan performa sendiri, kasih karunia berhenti bekerja.
Galatia 5:4 menulis, “Kamu lepas dari Kristus, kamu yang mencari pembenaran oleh hukum Taurat; kamu jatuh dari kasih karunia.” Jadi kuncinya adalah berhenti berusaha menjadi benar dan mulai percaya bahwa kita sudah dibuat benar.
Masalahnya, banyak orang sulit menerima bahwa kebenaran itu gratis. Kita terbiasa berpikir harus “berbuat sesuatu” agar layak. Tapi justru di situlah perang iman terjadi — percaya bahwa kasih dan penerimaan Tuhan tidak pernah diukur dari performa kita, melainkan dari karya Kristus.
Kebenaran sejati adalah identitas, bukan target moral. Ia bukan hasil perubahan perilaku, melainkan perubahan posisi: dari manusia berdosa menjadi anak Allah.
Firman Tuhan berkata dalam Yesaya 54:14, “Engkau akan meneguhkan dirimu di dalam kebenaran.” Artinya, bukan lagi berusaha menjadi benar, tetapi membangun kesadaran bahwa kita sudah benar di dalam Kristus.
Ini bukan pekerjaan Allah untuk kita, tetapi tanggung jawab pribadi — meneguhkan diri dalam kebenaran yang sudah menjadi milik kita.
Meneguhkan diri berarti membangun kesadaran dan pola pikir baru. Kita belajar berkata pada diri sendiri, “Saya benar, bukan karena saya sempurna, tetapi karena Yesus menjadikan saya benar.” Pikiran ini harus diulang sampai tertanam kuat di hati. Kita merenungkannya, mengucapkannya, dan mempraktikkannya dalam cara berpikir, berbicara, dan bereaksi. Kebenaran tidak akan berdampak sampai kita berpikir dan berbicara sesuai dengan kebenaran itu.
Saat seseorang mulai hidup dari kesadaran ini, banyak hal berubah. Ia tidak lagi hidup dalam rasa bersalah, takut, atau tertekan. Ia berhenti menilai diri dari masa lalu, dan mulai melihat dirinya sebagaimana Allah melihatnya. Tidak ada lagi tempat bagi rasa malu, kegagalan, atau penghukuman. Firman Tuhan menjanjikan, ketika kita meneguhkan diri di dalam kebenaran, kita akan jauh dari ketakutan, jauh dari penindasan, dan bebas dari tekanan.
Meneguhkan diri di dalam kebenaran bukan berarti menjadi sombong, melainkan hidup dengan identitas yang benar. Kita tidak sedang berusaha menjadi siapa pun — kita hanya hidup sebagai siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.
Saat kita berkata, “Saya di dalam Dia, dan Dia di dalam saya,” kita sedang melatih diri untuk berpikir seperti orang benar, berbicara seperti orang benar, dan bereaksi seperti orang benar.
Kebenaran membuat kita berhenti hidup dalam ketakutan dan mulai berjalan dalam damai. Ia memindahkan kita dari hidup yang digerakkan rasa bersalah ke hidup yang digerakkan kasih karunia. Kita tidak lagi hidup berdasarkan perasaan, tetapi berdasarkan identitas baru.
Tugas kita bukan mencoba menjadi benar, melainkan meneguhkan bahwa kita sudah dibuat benar. Ketika kesadaran itu tumbuh, hidup menjadi ringan. Kita berhenti berjuang untuk diterima dan mulai menikmati hubungan yang manis dengan Bapa. Karena kebenaran sejati bukan hasil kerja kita, melainkan hadiah dari kasih Tuhan yang sempurna.
Siap praktik? Yuuuk……
*”It is not what you do that makes you righteous, but what you believe about what Jesus has done.” – Andrew Wommack*
*”Bukan apa yang kita lakukan yang membuat kita benar, tetapi apa yang kita percayai tentang apa yang telah Yesus lakukan. – Andrew Wommack*
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

