Articles

Jangan Biarkan Luka Orang Lain Merusak Cahayamu..

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Biarkan Luka Orang Lain Merusak Cahayamu..

Seorang pemuda bernama *Howard Schultz*, yang kemudian dikenal sebagai sosok di balik kesuksesan Starbucks. Tapi sebelum semua itu, Howard hanyalah anak dari keluarga sederhana yang tinggal di kompleks perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah di Brooklyn, New York.

Ayahnya bekerja sebagai sopir truk pengantar barang. Bukan di perusahaan besar, tapi perusahaan kecil tanpa tunjangan kesehatan. Suatu hari, sang ayah mengalami cedera saat bekerja, dan langsung diberhentikan tanpa pesangon, tanpa perlindungan. Hanya luka… dan rasa kecewa yang mendalam.

Howard tumbuh dalam suasana rumah yang penuh tekanan dan ketidakpastian. Ia kerap mendengar kata-kata pahit dari ayahnya. “Orang-orang kaya itu tamak.” “Kita ini orang kecil, tak akan bisa ke mana-mana.” Kata-kata yang menyakitkan, tapi sebenarnya bukan berasal dari niat jahat. Itu keluar dari hati yang lelah dan terluka.

Namun menariknya, Howard tidak menjadikan luka itu sebagai batas. Ia tidak membiarkan luka orang lain meracuni pandangannya. Ia memilih untuk melihat lebih dalam: bahwa kata-kata ayahnya lahir dari pengalaman pahit dan rasa tidak berdaya. Bukan karena Howard tidak layak. Tapi karena sang ayah belum sembuh.

Bertahun-tahun kemudian, saat Starbucks mulai berkembang, Howard menetapkan satu keputusan penting: semua karyawan, bahkan pekerja paruh waktu, harus mendapatkan tunjangan kesehatan. Sebuah kebijakan revolusioner di Amerika Serikat kala itu.

Ia berkata, “Saya ingin membangun tempat kerja yang dulu diimpikan ayah saya.”
Bukan untuk balas dendam, tapi sebagai bentuk pemulihan—bagi dirinya, dan bagi banyak orang.

“Hurting people hurt people.”
“Orang yang terluka cenderung melukai orang lain.”
– Rick Warren

Kita pun sering mengalami hal yang serupa. Disalahpahami. Diperlakukan kasar. Dikecilkan oleh orang yang bahkan belum mengenal kita dengan baik.
Bahkan ada orang yang sedemikian bangga bisa menemukan kesalahan-kesalahan dalam hal-hal yang sangat kecil, seolah dia manusia sempurba dan standar kebenaran yang sehati.
Dan biasanya, kita buru-buru menyalahkan diri sendiri.

“Apa aku kurang baik?”
“Kenapa mereka memperlakukanku seperti ini?”
“Haruskah aku berubah agar diterima?”

Lalu kita mulai meragukan diri sendiri. Padahal, bisa jadi masalahnya bukan pada kita. Mereka yang menyerang, bisa jadi sedang memproyeksikan luka lama mereka. Orang yang bahagia tidak akan sibuk merendahkan orang lain. Orang yang damai tidak merasa perlu memenangkan harga diri lewat menjatuhkan.

“Kritik yang tajam seringkali bukan cermin kebenaran, tapi pantulan dari jiwa yang belum pulih.”
– Yenny Indra

Ketika seseorang memperlakukan kita dengan buruk, itu mencerminkan masalahnya sendiri, bukan nilai diri kita. Orang yang sehat secara emosional tidak akan menjatuhkan orang lain.

Di dunia ini, kita akan selalu bertemu dengan dua macam manusia: yang membangun, dan yang merobohkan. Yang pertama akan mendorong kita untuk tumbuh, yang kedua mungkin akan menyakiti, bahkan tanpa sadar. Tapi kita bisa memilih: apakah akan menyerap racun itu, atau tetap menjaga cahaya kita tetap menyala.

Seperti pepatah bijak mengatakan: *Ada waktu untuk bicara, dan ada waktu untuk diam. Tapi dalam segala waktu, jagalah hatimu, karena dari sanalah terpancar kehidupan.*

Ketika seseorang memperlakukanmu dengan tidak hormat, jangan buru-buru larut dalam luka. Ingat: kita diciptakan dengan nilai dan tujuan yang unik. Kita berharga bukan karena validasi manusia, tetapi karena kehadiran kita membawa makna.

Kita bukan hasil dari opini orang lain.

Kita adalah karya Tuhan yang diciptakan dengan kasih. Dan kasih itu tak berubah hanya karena seseorang tidak mampu melihatnya.
Justru semestinya terang kita yang menyalurkan kasih Tuhan melalui kitalah yang menerangi kegelapan dalam hidup orang lain.

Saya belajar, ketika kasih Tuhan memenuhi bahkan melimpah melalui kita, maka pendapat negatif atau kritikan orang lain, tidak bisa melukai kita. Kasih-Nya lebih dari cukup. Bahkan kita sadar, Promosi itu datang dari Tuhan!

Jadi ketika ada orang yang mencoba menjatuhkan kita, berdirilah tegak. Anggap itu bukan serangan, melainkan pengakuan bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang menyilaukan kegelapan mereka.

Teruslah bersinar.

Jangan padam hanya karena ada yang silau. Biarkan mereka berdamai dengan lukanya sendiri, sementara kita terus melangkah dalam terang.

“Jadilah cahaya yang tetap menyala, meski dunia tak selalu ramah.”
– Yenny Indra

Siap praktik? Yuuuk….

Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle.”- Plato.

“Bersikaplah baik, sebab setiap orang yang kamu temui sedang berjuang dalam pertempuran yang berat.”- Plato.

??YennyIndra??
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Serba-Serbi Mendengar Suara Tuhan Bagian 2.
Mengapa Perlu Berdoa? Padahal Itu Kehendak Tuhan!
Musim – Musim Kehidupan & Grand Design Tuhan.