“Ketika Alam Bernyanyi: Kisah Cinta dan Perjalanan di Keketuohai & Koktokay”
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
“Ketika Alam Bernyanyi: Kisah Cinta dan Perjalanan di Keketuohai & Koktokay”
Di ujung utara Xinjiang, tersembunyi sebuah lembah bernama Keketuohai. Pegunungan granit menjulang, sungai Irtysh berliku jernih, dan danau biru memantulkan langit seolah cermin. Dulu, kawasan ini dikenal sebagai tambang logam langka, keras dan dingin. Namun, di balik bebatuan dan mineral, tersimpan kisah cinta yang lembut.
Salah satunya terukir dalam lagu “Penggembala di Keketuohai”. Lagu ini menceritakan dua jiwa yang saling mencintai, tapi harus berpisah karena jalan hidup berbeda: satu memilih tetap di padang sebagai penggembala, yang lain pergi jauh mengejar mimpi. Bait-baitnya penuh kerinduan, seperti pegunungan yang kokoh dan danau yang tenang, cinta mereka bertahan meski dipisahkan jarak.
Di lembah ini juga tumbuh sepasang pohon unik. &Pohon birch putih* berdiri anggun seperti seorang gadis 16 tahun. Bila batangnya tertusuk, mengalirlah getah jernih seperti air mata seorang dara yang sedang merindu. Tepat di sampingnya berdiri *pohon cooper* yang gagah, seakan seorang pemuda tampan yang setia menjaga. Keduanya seolah melambangkan kisah cinta dalam lagu itu—perempuan yang rapuh namun tulus, dan lelaki yang kokoh, tetap di sisinya.
Maka tak heran, siapa pun yang datang ke Keketuohai sering terbawa suasana. Di tepi danau atau di bawah rimbun pohon birch dan cooper itu, orang dapat merasakan kerinduan, kesetiaan, dan cinta sederhana yang hidup selamanya dalam nyanyian dan alam.
Konon, sejak ada lagu Keketuohai yang terkenal—ditambah kisah cinta yang memukau—Xinjiang pun menjelma menjadi tujuan wisata yang sangat populer. Lagu dan cerita itu seolah memberi “jiwa” pada keindahan alam yang sebelumnya hanya diam.
Menariknya, saat berkunjung ke Mohe, saya juga menemukan pohon birch putih dan pohon cooper. Sama indahnya, sama menawan, namun di sana tidak ada lagu, tidak ada kisah yang melatarbelakangi. Hasilnya, keindahan Mohe hanya dipandang sebatas pemandangan, tanpa daya tarik emosional yang mengikat hati pengunjung.
Dari sini terlihat, keindahan alam memang memikat, tetapi cerita yang menyertainya mampu menggandakan pesona. Ada pelajaran yang bisa kita ambil: nilai sejati sering kali bukan hanya pada apa yang tampak, melainkan pada makna yang mampu kita rangkai dan bagikan.
Sepanjang perjalanan hari ini, pemandangannya berbeda lagi. Hamparan rumput hijau nan ayu memukau menuju Koktokay National Geopark —salah satu taman yang terkenal dan dilindungi UNESCO.
Koktokay bagaikan surga alam di Xinjiang, dengan *sungai Irtysh* berair biru jernih, lembah granit raksasa, serta batuan unik berusia jutaan tahun. Di dalamnya, berdiri gagah sebuah batu besar berbentuk lonceng, seakan menjadi penanda keagungan alam. Sungai yang jernih mengalir tenang hingga tampak jelas bebatuan di dasarnya, memberi kesan damai dan murni. Di tepiannya, bunga-bunga cantik berwarna pink bermekaran, menambah sentuhan manis pada panorama.
Pepohonan birch dan hutan lebat berpadu dengan tebing granit, menghadirkan pemandangan bak lukisan hidup. Saat musim gugur, dedaunan keemasan memantul di air sungai, menciptakan suasana romantis yang sulit dilupakan.
Pendek kata, Koktokay merupakan perpaduan antara museum geologi raksasa dan taman alam memesona, membuat siapa pun betah larut dalam keindahannya.
Fasilitasnya dibangun apik, jembatan, spot-spot foto, look-out yang sudah dipilih dengan seksama.
Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini…. jepret sini, jepret sana, sambil tertawa lepas…
Wuih… senangnya.
Traveling with friends means making memories that even time can’t erase
Bepergian dengan teman berarti membuat kenangan yang bahkan waktu tidak dapat menghapusnya.
Perjalanan pun berlanjut dari Koktokay menuju Burqin. Di sepanjang padang luas, terlihat garis-garis berwarna kuning dan hijau terbentang seperti lukisan alam. Saat mendekat, barulah jelas bahwa itu adalah lahan setelah panen melon dan semangka. Buah-buahan segar itu ada yang disusun rapi bergaris-garis, ada pula yang dibiarkan bertebaran di tanah, memamerkan warna kuning cerahnya. Tak heran, Xinjiang memang terkenal dengan semangka, melon, dan anggurnya yang manis sekali—semanis perjalanan indah yang menemani hari ini.
“Happiness is only real when shared.” – Christopher McCandless.
“Kebahagiaan hanya benar-benar nyata ketika dibagikan – – Christopher McCandless.
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama
