Luka Mereka, Bukan Milikmu..
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Luka Mereka, Bukan Milikmu..
Saya membaca sebuah tulisan dari #ajraharjo yang begitu menusuk hati:
“Ketika seseorang memperlakukanmu dengan buruk, itu mencerminkan masalahnya sendiri, bukan nilai dirimu. Orang yang sehat secara emosional tidak akan menjatuhkan orang lain.”
Kalimat itu sederhana, tapi dalam. Seperti cermin yang memantulkan kenyataan—bukan tentang kita, tapi tentang luka orang lain yang belum selesai.
Ajraharjo bercerita tentang Maya, seorang seniman muda berbakat yang bekerja di galeri seni terkenal. Mimpinya tinggi, semangatnya menyala. Tapi setiap hari, Maya harus menghadapi kurator senior yang sinis, merendahkan, dan sering mengolok-olok karyanya. Bahkan pakaiannya pun dikomentari.
Awalnya Maya mencoba kuat. Tapi lama-lama ia mulai percaya bahwa dirinya memang tidak cukup baik. Bahwa mimpinya terlalu besar untuk bakatnya yang kecil. Bahwa dirinya memang layak direndahkan.
Sampai suatu hari, seorang kolektor seni datang dan terpukau dengan lukisan Maya. Ia memuji kedalaman warnanya, emosi dalam goresannya.
Maya terdiam, lalu bertanya dengan suara pelan, “Bagaimana Anda bisa melihat keindahan itu, sementara kurator saya hanya melihat kesalahan?”
Kolektor itu tersenyum, “Karena dia tidak pernah mampu melihat keindahan—dalam karyamu, bahkan dalam dirinya sendiri.”
Dan di situlah Maya mulai mengerti. Ia bukan masalahnya. Bukan lukisannya yang buruk. Hanya saja, orang yang melihatnya, belum sembuh dari kekosongan dalam dirinya.
Banyak dari kita pernah berdiri seperti Maya. Diserang tanpa sebab, dikritik tanpa kasih, dijatuhkan padahal tak salah. Lalu kita sibuk memperbaiki diri, bukan karena ingin bertumbuh, tapi karena takut dianggap gagal. Kita lupa, luka yang dilemparkan orang lain bukan cermin yang harus kita pakai untuk menilai harga diri.
Tuhan menciptakan kita dengan nilai, bukan berdasarkan pendapat manusia. Nilai itu melekat, tetap utuh—meski orang lain menolak, mengabaikan, bahkan mencibir.
Dalam sebuah pengajaran kuno tertulis, bahwa hati yang penuh dengan kebencian akan mengeluarkan caci maki; tangan yang penuh kepahitan akan mencari sasaran untuk dijatuhkan. Tapi itu bukan tentangmu. Itu cerminan dari jiwanya yang terluka.
Tuhan melihat hati. Bukan hanya perilaku kita, tapi juga motivasi dan luka yang kita bawa. Maka ketika kita menerima perlakuan yang menyakitkan, sebenarnya kita sedang diundang untuk melihat lebih dalam: Apakah aku akan bereaksi seperti mereka, atau tetap berdiri dalam terang yang telah Tuhan berikan padaku?
Orang yang sehat secara rohani dan emosional tidak sibuk menjatuhkan. Mereka terlalu sibuk membangun, mencipta, dan menginspirasi. Mereka tahu bahwa menjatuhkan orang lain tidak membuat mereka lebih tinggi. Justru sebaliknya, memperlihatkan betapa kosongnya dunia batin mereka sendiri.
Ketika seseorang mencoba meruntuhkanmu, jangan lari. Berdirilah tegak.
Bukan untuk membalas, tapi sebagai pernyataan: Aku tahu siapa diriku. Aku tahu siapa yang memegang hidupku. Aku bukan pantulan dari kritikmu, tapi ciptaan Tuhan yang unik dan bernilai.
Terkadang, terang dalam dirimu begitu kuat, sampai-sampai kegelapan dalam diri orang lain merasa terancam. Maka jangan padamkan terang itu hanya karena ada yang merasa silau. Jangan biarkan luka mereka merusak jiwamu. Biarkan mereka dengan pergumulannya, dan teruslah bersinar.
Dan saat hatimu mulai goyah, ingatlah kisah Maya. Ia hampir menyerah karena cermin yang retak. Tapi yang ia butuhkan bukan cermin baru, melainkan keberanian untuk melihat dirinya lewat mata yang lebih tinggi—mata yang melihat bukan hanya kesalahan, tapi potensi, kasih, dan panggilan hidup.
Kadang, kehidupan memaksa kita lewat jalan sempit agar kita belajar membedakan: mana kritik yang membangun, dan mana yang lahir dari kegelapan jiwa orang lain.
Kita tidak bisa memilih bagaimana orang memperlakukan kita. Tapi kita bisa memilih untuk tetap berdiri dalam kasih, dalam pengampunan, dan dalam keyakinan bahwa hidup kita berharga—bukan karena pengakuan mereka, tapi karena Tuhan sendiri yang memberi nilai itu.
Siap praktik?
Mari jadi Pemenang!
“You will never be criticized by someone doing more than you. You will only be criticized by someone doing less.”- Denzel Washington.
“Kamu tidak akan dikritik oleh orang yang melakukan lebih darimu. Kritikan biasanya datang dari mereka yang melakukan lebih sedikit.” – Denzel Washington.
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

