“Penjara Tak Terlihat Bernama Rasa Bersalah”
Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra
“Penjara Tak Terlihat Bernama Rasa Bersalah”
Mengampuni orang lain memang butuh keberanian. Tapi tahukah kita, mengampuni diri sendiri justru sering kali jauh lebih sulit? Kita tahu Tuhan mengampuni, tapi hati kita masih menolak menerima. Kita merasa terlalu gagal, terlalu kotor, terlalu terlambat.
Andrew Wommack pernah berkata, “Kalau kita merasa bersalah berlebihan, artinya kita menempatkan perasaan kita di atas salib Kristus.”
Saya termenung mendengarnya. Tanpa sadar, kita hidup dengan rasa bersalah yang tidak Tuhan berikan. Kita terima pengampunan secara teori, tapi dalam praktik, hati kita masih menyimpan vonis terhadap diri sendiri.
Nancy Dufresne mengingatkan, “Kalau Tuhan sudah mengampuni, tapi kamu belum bisa berdamai dengan dirimu sendiri, kamu sedang menolak kasih karunia-Nya.”
Kadang kita mengira itu tanda kerendahan hati. Padahal sebenarnya, itu bentuk kesombongan rohani—seolah-olah dosa kita lebih besar dari pengorbanan Yesus. Kita berkata, “Tuhan mengampuni, tapi saya belum bisa memaafkan diri saya sendiri,” padahal justru itulah yang membuat kita terus hidup dalam luka yang tidak sembuh.
Saya pun pernah mengalami rasa sesal yang dalam. Menangis, bertanya, “Kenapa saya bisa sebodoh itu? Kenapa saya gak sadar dari dulu?”
Tapi saya belajar, penyesalan tidak pernah membawa kita ke depan. Penyesalan menahan kita di masa lalu yang tidak bisa diubah. Justru penerimaan atas pengampunan Tuhanlah yang membawa pemulihan.
Tuhan tidak menunggu kita sempurna. Dia tahu kita pernah salah langkah, tapi kasih-Nya tidak berubah. Kalau kita mau jujur, kita semua punya hal yang ingin diulang kembali. Tapi waktu tidak pernah bisa diputar. Yang bisa kita lakukan adalah mengubah respon kita sekarang—dengan belajar berdamai dan mengampuni diri sendiri. Karena hanya orang yang sudah diampuni dan menerima pengampunan itulah yang bisa hidup dalam damai, mengalirkan kasih, dan dipakai Tuhan secara maksimal.
Andrew juga menekankan bahwa iman tidak bisa bekerja kalau hati masih dikuasai rasa bersalah. Iman bekerja lewat kasih. Dan kasih itu tidak menyimpan kesalahan, termasuk terhadap diri sendiri. Jadi hari ini, berhentilah memukul diri sendiri karena masa lalu. Kalau Tuhan sudah selesai menghakimi, kita tidak berhak terus menyiksa diri.
Saya pun mengalami proses ini dalam kehilangan orang-orang terkasih. Setiap kali kehilangan, entah itu papa, mama, maupun adik, selalu ada penyesalan. “Ah… seandainya saja saya lebih sering meluangkan waktu… lebih sabar… lebih perhatian.”
Kalimat-kalimat itu terus membayang. Tapi saya sadar, penyesalan tidak mengubah apa pun. Yang ada justru menghancurkan hati sendiri.
Saya mulai bertanya pada diri sendiri: “Kalau mereka masih hidup, apa yang mereka harapkan?” Jawabannya sederhana: tentu mereka ingin saya bahagia, dan menjalani hidup dengan penuh kasih. Maka saya pun memutuskan untuk memperhatikan adik dan keponakan yang masih hidup. Mencintai mereka, hadir buat mereka, memberi apa yang saya bisa. Saya percaya, di surga sana, papa, mama, dan adik saya pun ikut bersukacita.
Mengampuni diri sendiri adalah pilihan untuk hidup, bukan untuk terus terjebak dalam rasa bersalah. Bukan melupakan, tapi berdamai. Karena hanya orang yang berdamai dengan masa lalu yang bisa melangkah penuh iman ke masa depan.
“It’s not what you did that’s holding you back. It’s what you think about what you did.” – Lisa Nichols.
“Bukan apa yang kamu lakukan yang menahan langkahmu, tapi cara kamu memandang apa yang sudah terjadi. – Lisa Nichols.
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
