“Menelusuri Jejak Budaya Chiang Rai: Panas, Penuh Warna, dan Penuh Cerita”
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
“Menelusuri Jejak Budaya Chiang Rai: Panas, Penuh Warna, dan Penuh Cerita”
Perjalanan hari ini dimulai dengan mampir ke Hot Spring Thaweb Sin Chiang Rai. Meskipun bukan kolam pemandian besar, tempat ini punya daya tarik tersendiri. Air panas menyembur dari tanah membentuk pancuran kecil, dikelilingi kios oleh-oleh dan jajanan lokal. Ada juga telur puyuh dan ayam yang bisa direbus langsung di air panas alami. Lucu juga, makan telur rebus sambil melihat asap mengepul dari bumi. Rasanya seperti di dapur alam Tuhan.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Longneck Village—desa suku Karen, tepatnya sub-suku Padaung. Ini salah satu highlight hari ini, karena begitu berbeda dari kehidupan yang biasa kami lihat.
Begitu sampai, kami disambut perempuan-perempuan dengan leher yang dilingkari cincin kuningan. Sebagian dari mereka sudah lanjut usia, dan lehernya tampak jauh lebih panjang karena jumlah cincin yang dikenakan lebih banyak.
Katanya, leher mereka jadi panjang karena tumpukan gelang itu-meski sebenarnya bukan lehernya yang memanjang, melainkan bahu yang ditekan ke bawah.
Ternyata, tradisi ini dimulai sejak usia sekitar 5 tahun, dan setiap tahun, gelang leher diganti dengan ukuran yang lebih panjang. Harganya? Bisa mencapai 3.000 baht per set gelang atau sekitar 1.35 juta rupiah, tergantung panjang dan jumlahnya.
Saya sempat berbincang dan riset, apa yang diceritakan salah satu ibu yang sudah mengenakan cincin lebih dari 30 tahun. Ia tersenyum tenang. Katanya, dulu sempat sakit di awal-awal, tapi sekarang sudah terbiasa. Baginya, ini bukan sekadar hiasan, tapi identitas.
Ada sesuatu yang menyentuh saat melihat mereka duduk tenang di pondok bambu, menjual kerajinan tangan sambil sesekali mengajak pengunjung berfoto.
Tidak lupa kami pun segera berfoto dengan mereka.
Duh…. uniknya!
Yang menyentuh hati, mereka tidak meminta sesuatu dari kami. Jika diberi tip, diterima dengan senang hati.
Tidak pun, mereka tetap tersenyum tulus….
Manisnya….. !
Bukan karena ingin dikasihani, tapi karena mereka tahu nilai tradisi mereka—dan mereka bangga.
Dari sana, perjalanan berlanjut ke Blue Temple (Wat Rong Suea Ten). Begitu turun dari mobil, warna biru menyala langsung menyapa mata. Kuil ini benar-benar unik—biru tua berpadu dengan emas cerah, dan di bagian dalam ada patung Buddha putih duduk dalam sikap tenang, menciptakan kontras yang indah.
Yang menarik, kuil ini dibangun oleh murid dari seniman White Temple, dan baru selesai tahun 2016. Detil ukirannya rumit, atapnya menjulang dengan bentuk khas arsitektur Thailand Utara, dan suasananya bersih serta tertib. Meski banyak turis, tempat ini tetap terasa tenang.
Saya pribadi suka bagian dinding-dinding dalam kuil yang dilukis penuh warna. Rasanya seperti masuk ke dunia dongeng dengan sentuhan spiritualitas yang dalam. Bukan karena saya mengikuti keyakinan di balik bangunannya, tapi karena saya menghargai usaha manusia untuk mengekspresikan keindahan dan nilai hidup lewat seni.
Setelah makan siang, tibalah kami di tempat paling ikonik hari itu: White Temple (Wat Rong Khun). Ini bukan kuil biasa—lebih seperti galeri seni yang dibangun dalam bentuk kuil. Warnanya putih bersih, penuh kaca kecil yang memantulkan cahaya, memberi kesan memukau. Tidak berlebihan kalau banyak yang menyebutnya kuil terindah di Thailand.
Setiap sudut diatur dengan cermat. Ada jembatan kecil yang harus diseberangi untuk masuk, dengan tangan-tangan yang menjulur dari bawah—simbol dari penderitaan manusia sebelum mencapai pencerahan. Tapi jujur saja, saya lebih sibuk menikmati keindahan dan keunikan bentuk bangunannya daripada menganalisis makna simboliknya.
Senimannya, Chalermchai Kositpipat, membangun kuil ini dengan dana pribadinya sebagai karya hidup. Sampai sekarang, pembangunan dan perluasannya masih berlangsung. Ini menunjukkan dedikasi yang luar biasa—membangun sesuatu bukan untuk mencari keuntungan, tapi untuk meninggalkan warisan budaya yang bisa dinikmati banyak orang.
Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini, berjalan santai, mengambil foto, dan menikmati detail demi detail yang tak habis-habis. Rasanya seperti berjalan di lukisan yang hidup.
Hari ini bukan hanya perjalanan wisata biasa, tapi perjalanan melihat wajah-wajah budaya yang beragam, penuh warna dan cerita. Dari air panas yang sederhana, gelang leher yang penuh makna, hingga kuil-kuil yang memukau mata—semuanya meninggalkan kesan tersendiri.
Perjalanan bukan cuma soal tempat, tapi soal hati yang terbuka untuk melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang baru. Dan hari ini, hati kami benar-benar diperkaya.
“Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness.” – Mark Twain.
“Perjalanan itu mematikan prasangka, fanatisme, dan pikiran yang sempit – Mark Twain.
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

