Articles

Melepaskan Genggaman, Menemukan Kedamaian.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Melepaskan Genggaman, Menemukan Kedamaian.

Pernahkah kita merasa begitu lelah, padahal fisik kita tidak sedang melakukan pekerjaan berat? Rasanya seperti ada beban tak kasatmata yang menggelayut di pundak, membuat napas terasa sesak dan pikiran terus berputar tanpa henti.

Biasanya, kelelahan jenis ini bukan datang dari tugas yang menumpuk, melainkan dari keinginan kita untuk mengontrol segala hal. Kita ingin memastikan masa depan anak-anak aman, kita ingin proyek di kantor berjalan tanpa cacat, bahkan kita ingin mengatur bagaimana orang lain harus bersikap kepada kita. Kita menggenggam kendali hidup begitu erat sampai jari-jemari kita kaku dan gemetar.

Lucunya, semakin kuat kita menggenggam, semakin kita merasa cemas. Kita takut jika genggaman ini kendur sedikit saja, semuanya akan hancur berantakan. Padahal, hidup ini sering kali bekerja di luar logika dan rencana manusia. Di sinilah pentingnya sebuah seni yang sering kita salah pahami: berserah.

Banyak orang mengira berserah itu berarti pasif atau menyerah pada nasib. Padahal, berserah yang sejati adalah tetap melangkah dan bekerja maksimal, namun berhenti memikul beban hasilnya sendirian.

George Mueller. Suatu pagi di panti asuhannya, ia menghadapi situasi yang mustahil: ada ratusan anak yatim piatu yang sudah duduk rapi di meja makan, tetapi tidak ada sepotong roti pun di dapur. Tidak ada uang, tidak ada stok makanan.

Secara logika, George seharusnya panik, marah, atau sibuk menelepon donatur. Tapi apa yang ia lakukan? Ia justru mengajak anak-anak itu menundukkan kepala dan mengucap syukur atas makanan yang akan Tuhan sediakan. Ia melepaskan kendali logikanya dan memilih berserah penuh.

Tepat setelah ia mengucapkan “Amin”, terdengar ketukan di pintu. Seorang tukang roti datang membawa berkotak-kotak roti hangat karena ia merasa gelisah sepanjang malam dan merasa harus membakar roti ekstra untuk panti asuhan itu. Tak lama kemudian, tukang susu menyusul karena gerobaknya patah tepat di depan panti, dan ia memberikan seluruh susunya secara gratis daripada mubazir.

George Mueller melakukan bagiannya—ia tetap memimpin, tetap mendidik, dan tetap menyiapkan meja makan—tetapi ia menyerahkan bagian “penyediaan” kepada tangan yang lebih kuat.

Sering kali, yang membuat hidup terasa berat adalah karena kita merasa harus menjadi penanggung jawab atas segala sesuatu. Padahal, kita punya Tuhan yang jauh lebih besar dari segala kalkulasi kita. Saat kita berani melenturkan jemari dan melepaskan ambisi untuk mengatur setiap detail, kita memberi ruang bagi mukjizat untuk bekerja.

Berserah bukan berarti kita kehilangan arah. Berserah justru berarti kita menaruh kepercayaan penuh kepada Pribadi yang tidak pernah salah dalam memimpin. Saat kita berhenti mengandalkan pengertian sendiri, di situlah damai yang sejati mulai mengalir.
Lakukan yang terbaik hari ini, lalu biarkan Tuhan melakukan bagian-Nya yang ajaib. Hidup akan terasa jauh lebih ringan saat kita sadar bahwa kita tidak sedang berjalan sendirian.

Faith is not the belief that God will do what you want. It is the belief that God will do what is right. — Max Lucado

Iman bukanlah keyakinan bahwa Tuhan akan melakukan apa yang kita inginkan. Iman adalah keyakinan bahwa Tuhan akan melakukan apa yang benar. — Max Lucado

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Kekuatan Kata-kata.”
Memasuki Kemenangan!
“Pohon Yang Mana?”