Articles

Ketika Tidak Dipilih, Tetapi Tetap Dilihat.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Tidak Dipilih, Tetapi Tetap Dilihat.

Ada masa dalam hidup ketika kita sadar… kita bukan pilihan utama.
Bukan yang paling diinginkan.
Bukan yang paling diutamakan.
Mungkin hanya ada karena keadaan.
Kisah Lea di Kejadian 29 terasa dekat dengan realitas seperti ini.

Ia menikah dengan Yakub, tetapi bukan karena cinta. Hati Yakub tertuju pada Rahel. Perbandingan sudah terlihat sejak awal. Rahel digambarkan cantik dan menawan. Lea hanya disebut “lemah lembut matanya.”

Yakub bekerja tujuh tahun demi Rahel. Itu menunjukkan dengan jelas ke mana hatinya condong.

Namun kehidupan Lea tidak berhenti di titik itu.
Kejadian 29:31 mencatat sesuatu yang sederhana tetapi sangat dalam:
“Tuhan melihat bahwa Lea tidak dicintai.”
Tuhan melihat.

Itu titik awal perubahan.
Lea melahirkan Ruben, Simeon, dan Lewi.
Dan setiap nama membawa harapan:
“Sekarang suamiku akan mengasihi aku.”

Ada kerinduan untuk diterima. Untuk dilihat. Untuk dianggap berarti.
Bukankah kita sering melakukan hal yang sama?

Mencoba menjadi lebih.
Memberi lebih.
Berusaha lebih keras.
Bukan karena panggilan, tetapi karena ingin diterima.
Namun semua usaha itu tidak pernah benar-benar menenangkan hati.
Sampai satu momen terjadi.

Ketika anak keempat lahir, Lea berkata:
“Sekarang aku akan memuji TUHAN.”
Ia menamai anak itu Yehuda.
Sebuah pergeseran terjadi.
Bukan lagi, “Sekarang suamiku akan…”
Tetapi, “Sekarang aku akan…”
Fokusnya berpindah.
Dari mencari cinta manusia
menjadi merespons kasih Tuhan.

Dan dari titik itu, kisahnya bergerak ke arah yang tidak terduga.
Dari Lea lahir Lewi, suku imam.
Dari Lea lahir Yehuda, suku raja.
Melalui Yehuda, garis keturunan itu berlanjut hingga Daud.
Dan dari Daud, lahirlah Yesus.
Warisan yang mengalir dari hidup Lea tidak ditentukan oleh bagaimana manusia melihatnya, tetapi oleh bagaimana Tuhan bekerja di dalam kisahnya.

Terlebih lagi kita yang hidup di Perjanjian Baru mengenal Yesus.
Itu jauh lebih luar biasa.
Dia mati untuk kita ketika kita masih berdosa.
Saat hidup kita masih berantakan,
Yesus tetap memilih untuk memberikan diri-Nya.
Dunia bisa menolak kita.
Manusia bisa tidak menerima kita.
Tetapi Yesus rela mati bagi kita… saat kita masih amburadul.

Seperti anak bungsu yang telah menghabiskan warisannya.
Ia pulang hanya berharap diterima sebagai pekerja.

Namun sang ayah melihatnya dari jauh… dan berlari.
Ia diberi jubah.
Tanda pemulihan identitas.
Ia diberi kasut.
Tanda bahwa ia bukan budak.
Ia diberi cincin.
Tanda otoritas sebagai anak.
Ia tidak sekadar diterima.
Ia dipulihkan.

Penerimaan dari Tuhan cukup bagi kita.
Bahkan itulah yang membuat kita penuh dan utuh.
Selama kita berharap dari manusia, itu tidak akan pernah cukup.
Kasih manusia selalu terbatas.
Sering kali bersyarat.
Karena itu, arahkan harapan kepada Tuhan.
Jangan salah fokus!

Ketika kita tahu bahwa kita sudah diterima oleh-Nya, kita tidak lagi harus membuktikan diri kepada dunia.
Dan dari tempat itulah, hati menemukan damai.

“To be loved by God is the greatest privilege.” – C.S. Lewis.

“Dikasihi oleh Tuhan adalah hak istimewa terbesar.” – C.S. Lewis.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Pewahyuan atau Peniruan?”
Apa Benih Yang Anda Tabur?
How To Sell Yourself