Articles

Ketika Sistem Melukai, Jangan Menyalahkan Yesus…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Sistem Melukai, Jangan Menyalahkan Yesus…

“Kemarin, saya mendapat kehormatan untuk berbicara dalam ibadah di Howard University,” demikian A.R. Bernard memulai.
Ia menyinggung ketegangan yang banyak dialami generasi muda saat ini:
“Saya tidak religius — saya spiritual.”

Ia berkata, ia mengerti bahasa itu.
Ia pun pernah menggunakannya ketika mempertanyakan institusi dan menantang sistem yang tidak mencerminkan perubahan yang dikhotbahkan.

Namun ia juga mengingatkan:
Spiritualitas tanpa pembentukan bisa menjadi kabur dan tidak berakar.

Kita perlu belajar membedakan antara Yesus — karakter-Nya, pengajaran-Nya, dan cara-Nya menyatakan natur Allah — dengan konstruksi sosial yang dibangun oleh manusia.
Di situlah kita bisa sungguh-sungguh mengikuti Dia.

Lalu muncul pertanyaan penting:
Bagaimana kita memisahkan pribadi Yesus dari sistem yang dibangun atas nama-Nya?

Yesus sendiri pernah memberikan gambaran yang sangat kuat.
Ia menceritakan tentang seorang yang dirampok di tengah jalan.
Ia terluka, tergeletak, tidak berdaya.
Seorang imam lewat.
Ia melihat… lalu berjalan terus.

Seorang Lewi lewat.
Ia juga melihat… lalu melewati.
Mereka adalah orang-orang sistem.
Orang-orang yang memahami aturan, fungsi, dan tanggung jawab religius.

Namun justru seorang Samaria — orang luar, bukan bagian dari struktur — yang berhenti.
Ia mendekat.
Ia merawat luka.
Ia mengangkat.
Ia memulihkan.
Perumpamaan ini sederhana, tetapi tajam.

Terkadang yang paling dekat dengan sistem justru yang paling jauh dari empati.
Dan yang paling mencerminkan hati Tuhan justru bukan mereka yang menjaga struktur, tetapi mereka yang melihat manusia.
Inilah realitas yang banyak dialami hari ini.

Ketika anak muda berkata, “Aku spiritual, bukan religius,” seringkali itu bukan karena mereka menolak Tuhan.
Itu lahir dari luka.
Ada yang pernah melayani dengan tulus, tetapi ketika hidupnya goyah, respons yang ia terima hanya seputar jadwal.

Ada yang datang membawa pergumulan pribadi, tetapi yang ditanyakan bukan “apa yang kamu alami?”, melainkan “siapa yang akan menggantikanmu?”
Ada yang berharap didengar, tetapi yang mereka temui adalah sistem yang harus tetap berjalan.

Mereka tidak sedang menolak Kristus.
Mereka sedang bereaksi terhadap pengalaman.
Luka itu bukan datang dari Yesus, tetapi dari struktur yang dibangun manusia, yang kadang berbicara lebih keras daripada kasih.
Dan di titik itulah banyak orang mulai menjauh.
Bukan dari Tuhan.
Dari sistem.
Namun tanpa sadar, keduanya disamakan.
Ketika sistem melukai, Yesus ikut disalahkan.

Padahal realitas pelayanan memang tidak sederhana.
Banyak pemimpin rohani hidup di bawah tekanan menjaga keberlangsungan.
Pelayanan harus tetap jalan.
Jadwal harus stabil.
Sistem harus tidak terganggu.

Tanpa disadari, peran yang muncul bukan lagi gembala jiwa, tetapi:
administrator rohani
penjaga struktur
pengarah pelayanan

Fokusnya bukan pada hati yang terluka, tetapi pada fungsi yang harus tetap berjalan.
Di titik tertentu, pelayanan mulai dijalankan bak bisnis di perusahaan sekuler – menekankan efisiensi, kontinuitas, dan stabilitas, sementara ruang bagi empati semakin menyempit.
Dan dalam tekanan itu, empati sering menjadi korban pertama.
Tidak ada ruang untuk benar-benar walk in others shoes – berjalan di sepatu orang lain.

Yang ada hanyalah respons praktis:
Yang penting ada pengganti.
Yang penting pelayanan tetap jalan.
Bagi orang yang sedang bergumul, ini terasa seperti penolakan.

Lalu muncul kesimpulan yang menyakitkan:
Kalau beginilah wajah pelayanan, mungkin beginilah wajah Tuhan.

Padahal Yesus sangat berbeda.
Ia tidak memperlakukan manusia sebagai bagian dari sistem.
Ia berhenti di tengah perjalanan demi satu orang.
Ia menunda agenda demi mendengar.
Ia tidak melihat manusia sebagai fungsi, tetapi sebagai jiwa.
Ia tidak menjaga jadwal.
Ia menjaga hati.

Yesus tidak pernah mengorbankan manusia demi stabilitas pelayanan.
Ia justru mengorbankan diri-Nya demi manusia.

Bagi para pemimpin, ini juga menjadi cermin.
Pelayanan membawa pengaruh.
Jemaat, posisi, akses, bahkan kedekatan dengan kekuasaan sosial.
Fasilitas, pujian, peluang — semua itu bisa menjadi berkat, tetapi juga jebakan.
Sering dikatakan, perbedaan antara pendeta dan figur publik kadang sangat tipis bagaikan sehelai rambut belaka.
Keduanya bisa dipuja.
Keduanya bisa dielu-elukan.
Dan ketika pujian menggantikan empati, sistem bisa kehilangan jiwa.

Tulisan ini bukan untuk menolak gereja.
Tetapi untuk mengajak kita semua — pemimpin maupun jemaat — melakukan check and recheck:

Apakah kita sedang mencerminkan Kristus?
Atau hanya menjaga struktur?
Atau tanpa sadar memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri?
Karena pada akhirnya,

“The greatest single cause of atheism in the world today is Christians who acknowledge Jesus with their lips, then walk out the door and deny Him by their lifestyle.” — Brennan Manning

“Satu penyebab atheisme terbesar di dunia saat ini adalah orang Kristen yang mengakui Yesus dengan bibir mereka, lalu berjalan keluar pintu dan menyangkal Dia dengan gaya hidup mereka.” — Brennan Manning

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Misteri Yesus Meludahi Orang Buta. Oh…..
“Penyakit Itu Illegal – Kisah Kesembuhan Kyle Graham.”
Every Problem Has A Solution….