Iman atau Tindakan Medis? Ketika Hikmat dan Mujizat Tidak Bertentangan.
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Iman atau Tindakan Medis? Ketika Hikmat dan Mujizat Tidak Bertentangan.
Anita duduk lama di mobil setelah keluar dari ruang dokter.
Diagnosisnya jelas: ada sel kanker, ditemukan sangat dini.
Secara medis, ini kabar baik. Masih sangat operable. Peluang sembuh tinggi.
Tetapi di dalam hatinya muncul pergumulan yang tidak sederhana.
Sebagai orang percaya, ia tahu Tuhan sanggup menyembuhkan secara supernatural.
Lalu pertanyaannya muncul:
Haruskah ia berdiri teguh menunggu mujizat?
Atau justru segera mengambil tindakan medis?
Apakah operasi berarti kurang iman?
Ini bukan lagi soal teologi kesembuhan.
Ini soal pengambilan keputusan.
Dan Alkitab sangat jelas:
iman tidak pernah meniadakan hikmat.
Seringkali kita tanpa sadar menjadikan mujizat sebagai penentu keputusan medis. Seolah-olah kalau kita cukup rohani, kita tidak perlu tindakan.
Padahal mengharapkan manifestasi supernatural itu sehat.
Yang tidak sehat adalah menjadikannya syarat untuk menunda langkah yang secara jelas bijak.
Paulus tidak pernah berkata kepada Timotius:
“Percaya saja. Jangan pakai apa pun.”
Justru ia menasihati Timotius:
“Janganlah minum air saja, tetapi tambahkanlah sedikit anggur oleh karena perutmu dan penyakitmu yang sering kambuh.”
Dengan kata lain, gunakan sesuatu yang membantu tubuh.
Iman tidak menggantikan hikmat.
Iman berjalan bersama hikmat.
“Orang bijak melihat malapetaka, lalu bersembunyi, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka
Kitab Amsal berkata bahwa orang bijak melihat bahaya dan mengambil tindakan.
Jika sesuatu masih bisa ditangani sejak dini, maka bertindak adalah bentuk tanggung jawab.
Operasi dini, ketika peluang baik masih tinggi, bukan tanda kurang iman.
Itu stewardship atas tubuh yang Tuhan percayakan kepada kita.
Sama seperti kita tetap mengunci pintu rumah walau percaya Tuhan melindungi.
Para jenderal iman juga tidak anti tindakan medis.
Kenneth Hagin pernah menjalani operasi jantung.
Oral Roberts yang terkenal dengan pelayanan kesembuhannya, pada tahun 1983, menjalani operasi bypass jantung (open heart surgery) karena penyakit jantung koroner
Mereka tetap mengajarkan kesembuhan ilahi, tetapi tidak menolak alat yang Tuhan ijinkan tersedia.
Mereka tidak melihat operasi sebagai melawan mujizat.
Mereka melihatnya sebagai kemungkinan jalur manifestasi.
Greg Mohr, salah satu guru saya, pernah menceritakan kisah yang sangat membuka mata.
Tahun 1975, John Osteen mengalami masalah jantung dan dijadwalkan operasi.
Saat menunggu di rumah sakit, ia mendengar Tuhan berkata:
“Pulanglah. Tidak perlu operasi. Aku akan menyembuhkanmu.”
John taat. Ia pulang. Dan ia sembuh secara supernatural.
Namun tahun 1986, masalah jantung itu datang lagi.
Ia kembali ke rumah sakit.
Kali ini, ia mendengar Tuhan berkata:
Operasi.
Dan John taat lagi.
Ia menjalani operasi — dan sembuh.
Sebagian orang terkejut.
“Lho, kok operasi? Bukankah dulu sembuh tanpa operasi?”
Seolah-olah imannya turun.
Padahal Alkitab berkata:
Iman timbul dari pendengaran. Pendengaran oleh firman Kristus.
John tidak kehilangan iman.
Ia justru berjalan dalam iman.
Karena iman sejati bukan bersikeras pada metode, tetapi taat pada suara Tuhan saat itu.
Ada orang yang menganggap pergi ke dokter, minum obat, atau operasi berarti tidak beriman.
Itu keliru.
Dokter juga alat Tuhan.
Tuhan bisa menyembuhkan secara supernatural.
Tuhan juga bisa menyembuhkan melalui proses medis.
Dan seringkali, Ia bekerja melalui keduanya.
Jadi pola pikir kita perlu diluruskan.
Bukan:
Operasi = natural
Mujizat = supernatural
Tetapi:
Tuhan bisa bekerja tanpa operasi.
Tuhan bisa bekerja melalui operasi.
Dan operasi tidak menghalangi kuasa Tuhan.
Ia bisa menjadi salurannya.
Pertanyaan yang lebih sehat bukan:
“Apakah saya cukup beriman untuk tidak operasi?”
Tetapi:
Apa keputusan paling bertanggung jawab dengan terang yang ada sekarang?
Jika kanker masih dini, masih bisa ditangani, dan peluang hasil baik tinggi, maka secara hikmat tindakan dini adalah langkah bijak.
Dan iman tetap punya tempat di dalamnya.
Memilih operasi bukan berarti menyerah kepada manusia.
Justru sebaliknya.
Kita tetap mengharapkan hasil terbaik.
Kita mengharapkan pemulihan cepat.
Kita mengharapkan tidak ada penyebaran.
Kita mengharapkan tubuh merespons dengan baik.
Itu tetap iman.
Tuhan menemui kita di setiap level iman yang kita miliki.
Kuncinya bukan metode.
Kuncinya hubungan.
Apa yang Tuhan arahkan pada saat itu — itulah yang kita taati.
Seperti John Osteen.
Kadang jalannya pulang tanpa operasi.
Kadang jalannya masuk ruang operasi.
Keduanya bisa sama-sama iman.
Karena iman bukan soal memilih jalur supernatural.
Iman adalah mengikuti jejak Tuhan.
Dan berjalan dalam hikmat tidak pernah bertentangan dengan percaya pada mujizat.
“Do all the good you can, by all the means you can.” – John Wesley.
“Lakukan semua kebaikan yang dapat kamu lakukan, dengan semua sarana yang tersedia – John Wesley.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama
