Articles

Chuck Feeney: Ketika Tuhan Bertanya, “Apa yang Masih Kau Pegang?”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Chuck Feeney: Ketika Tuhan Bertanya, “Apa yang Masih Kau Pegang?”

Ada satu pertanyaan yang jarang kita doakan, tapi sering Tuhan bisikkan pelan-pelan di dalam hati:
apa yang masih kau pegang terlalu erat?
Bukan dosa besar.
Bukan kejahatan.
Sering kali justru sesuatu yang sah, baik, bahkan diberkati.
Dan justru di situlah ujiannya.

Chuck Feeney hidup di dunia yang memuja akumulasi. Dunia yang mengajarkan: simpan, lindungi, wariskan, amankan. Ia melakukan semua itu dengan sangat sukses. Ia adalah miliarder. Bisnis global. Akses tak terbatas.

Namun di satu titik, hidupnya seperti disergap oleh satu kesadaran yang tajam dan tidak bisa dihindari:
hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi dari seberapa taat kita melepaskan ketika diminta.
Feeney tidak banyak berbicara. Ia bertindak.

Ia memilih hidup sederhana bukan karena anti-kekayaan, tetapi karena ia menolak dikendalikan olehnya. Apartemen sewaan. Jam murah. Terbang ekonomi. Semua itu bukan simbol asketisme rohani, melainkan pernyataan batin yang jelas:
aku pemilik uang, bukan hamba uang.

Lalu ia melangkah lebih jauh.
Ia memberi selagi hidup.
Bukan menunggu nanti.
Bukan menunggu aman.
Bukan menunggu nama dikenang.
Prinsip hidupnya sederhana namun radikal: Giving While Living.
Wow…..
Baginya, menunda memberi ketika kebaikan bisa dilakukan sekarang adalah bentuk ketidaktaatan yang halus.

Yang jarang diketahui orang, selama hampir lima belas tahun, dunia bahkan tidak tahu bahwa Feeney adalah donor di balik aliran dana miliaran dolar itu. Ia memberi secara anonim melalui The Atlantic Philanthropies.
Tanpa plakat. Tanpa gedung bernama dirinya. Tanpa panggung.
Lebih dari 8 miliar dolar dialirkan ke pendidikan, kesehatan, perdamaian, dan pemulihan martabat manusia di berbagai belahan dunia.

Dan ia melakukannya dalam kesunyian.
Seolah ia memahami satu prinsip Kerajaan yang sering kita dengar tapi jarang kita hidupi:
ketika kita memberi demi sorotan, upahnya berhenti di sorotan itu juga.

Yang membuat kisah ini luar biasa bukan jumlah uangnya, tetapi ketaatannya yang konsisten. Ia tidak memberi sekali lalu berhenti. Ia mengosongkan hidupnya sedikit demi sedikit. Dengan sadar. Dengan damai. Tanpa drama.

Ia melihat perang.
Ia melihat kematian.
Ia melihat betapa rapuhnya hidup dan betapa timpangnya dunia.
Pengalaman itu membentuk kepekaan batin yang tajam:
hidup terlalu singkat untuk ditimbun, terlalu berharga untuk dihabiskan demi rasa aman palsu.

Puncaknya sangat mengguncang, bahkan bagi dunia filantropi sendiri.
Ia menutup yayasannya secara resmi.
Bukan karena gagal.
Bukan karena krisis.
Tetapi karena selesai.
Uangnya habis sesuai rencana.
Misinya tuntas.
Tidak ada yang diwariskan demi kemegahan nama.
Ia tidak mati sebagai miliarder.
Ia mati sebagai seseorang yang taat sampai akhir.

Dan di sinilah kisah ini berhenti menjadi cerita tentang orang lain, lalu berubah menjadi cermin bagi kita.
Karena hidup yang profetik, yang menyatakan kehendak Tuhan, hampir selalu mengganggu kenyamanan.

Apa itu profetik?
Profetik adalah ketika Tuhan memberi makna ilahi pada sesuatu untuk membawa kita selaras dengan rencana-Nya.

Hidup Feeney memaksa kita bertanya:
apakah kita sedang mempersiapkan hidup,
atau sedang menunda ketaatan?
Apakah kita menyimpan karena takut,
atau menahan karena belum percaya sepenuhnya?
Apakah kita berkata, “Tuhan pakai hidupku,”
tetapi tetap mengunci bagian-bagian tertentu dengan rapat?

Chuck Feeney seperti suara sunyi yang berdiri di tengah kebisingan zaman ini dan berkata:
hidup yang berdampak tidak lahir dari niat baik saja, tetapi dari keberanian berkata ya ketika Tuhan mengundang kita melangkah lebih jauh.

Tidak semua orang dipanggil memberi miliaran.
Tetapi semua orang dipanggil untuk taat tanpa syarat.
Dan sering kali, kebangunan tidak dimulai dari mujizat besar,
melainkan dari satu keputusan sunyi:
melepaskan apa yang paling kita andalkan
dan mempercayakannya kembali ke tangan Tuhan.

Bagaimana dengan keluarganya?
Ini bagian yang penting, dan sering ditanyakan.

Chuck Feeney menikah dan memiliki anak. Ia tidak meninggalkan warisan kekayaan besar bagi mereka. Keputusan itu bukan tanpa percakapan, bukan tanpa proses, dan bukan tanpa harga emosional.

Ia percaya bahwa meninggalkan nilai hidup, integritas, dan teladan jauh lebih penting daripada meninggalkan harta. Ia tidak ingin anak-anaknya hidup tergantung pada apa yang tidak mereka bangun sendiri.

Ini bukan model yang harus ditiru secara harfiah oleh semua orang. Tetapi ini menunjukkan satu hal yang sangat jelas:
ketaatan sejati sering kali menuntut kesepakatan keluarga dan keberanian menghadapi ketidaknyamanan relasional.
Ketaatan tidak selalu terlihat heroik dari luar.

Bukan soal siapa yang paling “melihat jauh”, melainkan siapa yang paling setia menyampaikan kebenaran dengan jujur dan bertanggung jawab.

Pesan yang berasal dari Tuhan tidak pernah berdiri sendiri.
la selalu selaras dengan Firman, membangun manusia, dan memuliakan Tuhan. Di titik itulah pesan rohani berhenti menjadi sensasi,
dan kembali menjadi sarana Allah untuk menuntun, menegur, dan memulihkan.
Sungguh kisah yang sangat langka di jaman ini!

“The truth will set you free, but first it will make you uncomfortable.” – Gloria Steinem.

“Kebenaran akan memerdekakan, tetapi sering kali terlebih dulu mengguncang – Gloria Steinem.*

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Natural & Supernatural Adalah Kunci Sukses! Sudah Dipraktikkan?
Apakah Anda Seorang Ahli Waris, atau Seorang Hamba?
Jawaban Doa Lahir dari Hubungan, Bukan Kepanikan.