Menemukan Tempat yang Tuhan Tetapkan
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Menemukan Tempat yang Tuhan Tetapkan
Ada satu kisah yang belakangan ini sangat menggetarkan hati saya.
Kisah tentang seorang perempuan luar biasa, atlet dunia, sekaligus seorang ibu bernama Allyson Felix.
Ia bukan atlet biasa.
Allyson adalah peraih 11 medali Olimpiade, melampaui rekor Carl Lewis, dan menjadi atlet atletik Amerika tersukses sepanjang sejarah. Dunia mengenalnya sebagai pelari cepat, disiplin, dan penuh prestasi.
Namun justru di puncak kariernya, hidup membawanya pada ujian yang tidak pernah ia bayangkan.
Saat Allyson hamil, sponsor besarnya, Nike, menyampaikan keputusan yang mengejutkan. Kontraknya akan dipotong hampir 70 persen. Alasannya sederhana namun menyakitkan: ia dianggap tidak lagi produktif sebagai atlet.
Pesannya seperti berkata,
“Kamu tahu tempatmu. Diam. Terus berlari.”
Padahal di usia kehamilan tujuh bulan, Allyson mengalami komplikasi serius dan harus menjalani operasi caesar darurat. Bayinya lahir prematur dan harus dirawat di ruang NICU selama lebih dari sebulan.
Di saat ia berjuang sebagai seorang ibu, ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak selalu ramah pada perempuan yang memilih keluarga dan kehidupan.
Namun di titik terendah itu, sesuatu berubah.
Alih-alih tenggelam dalam kekecewaan, Allyson memilih berdiri. Ia meninggalkan Nike dan membangun mereknya sendiri, Saysh. Sebuah brand sepatu yang lahir bukan hanya dari visi bisnis, tetapi dari keberanian dan harga diri.
Dua tahun kemudian, dunia kembali menyaksikan langkahnya.
Di Olimpiade Tokyo, Allyson berlari dengan sepatu buatannya sendiri. Putrinya menyaksikan dari tribun. Dan di kakinya tertulis kalimat sederhana namun penuh makna:
“I know exactly where my place is.”
Ia tahu tempatnya.
Bukan ditentukan sponsor.
Bukan oleh industri.
Bukan oleh standar dunia.
Tetapi oleh siapa dirinya di hadapan Tuhan.
Dan hasilnya?
Ia kembali meraih medali.
Mencetak sejarah.
Menjadi atlet wanita Amerika dengan medali terbanyak sepanjang masa.
Namun lebih dari itu, ia meninggalkan pesan yang jauh lebih besar bagi perempuan di seluruh dunia:
bahwa kita tidak perlu mengorbankan martabat demi diterima.
Yang jarang disorot, Allyson adalah seorang wanita beriman. Dalam beberapa wawancara, ia terbuka tentang bagaimana imannya kepada Tuhan menopangnya melewati masa-masa paling gelap. Ia percaya hidupnya memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar podium dan penghargaan.
Di sinilah saya belajar satu hal penting.
Si musuh sering membawa kita masuk ke musim di mana kita merasa dipersempit, disalahpahami, bahkan diremehkan. Tetapi Tuhan mengubahnya menjadi alat, bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk membentuk.
Agar kita tidak lagi menggantungkan identitas pada pencapaian.
Agar kita tidak mencari nilai diri dari pengakuan manusia.
Agar kita tahu siapa kita sebenarnya di hadapan-Nya.
Sering kali kita baru menemukan “tempat” kita yang sejati ketika dunia tidak lagi menyediakan tempat.
Sering kali kita baru menemukan suara kita ketika kita berhenti berusaha menyenangkan semua orang.
Seperti Allyson, kita belajar bahwa keberanian sejati bukan tentang melawan dunia, melainkan berdiri teguh dalam nilai yang Tuhan tanamkan.
Dan pada akhirnya, yang tersisa bukanlah medali, kontrak, atau tepuk tangan.
Yang tersisa adalah keberanian untuk berkata dengan tenang:
“Aku tahu siapa aku. Dan aku tahu di mana tempatku.”
Wow….
Mari kita teladani.
“The greatest discovery of my generation is that a human being can alter his life by altering his attitude.”
– William James*
*Penemuan terbesar generasi ini adalah bahwa manusia bisa mengubah hidupnya dengan mengubah sikap hatinya.- William James
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

