Apakah Tuhan yang Membunuh Ananias dan Safira?
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Apakah Tuhan yang Membunuh Ananias dan Safira?
Melihat Kisah Ini dari Kacamata Yesus
Banyak orang jujur berkata, “Saya takut membaca kisah Ananias dan Safira.”
Takut karena terlihat seolah-olah Tuhan langsung menghukum mati orang yang berbohong. Takut karena muncul kesan: salah sedikit, mati.
Pertanyaannya sederhana tapi penting: benarkah itu wajah Allah yang Yesus perkenalkan?
Kalau kita membaca Alkitab hanya dari satu peristiwa, tanpa melihat Yesus, kita bisa salah mengenal Bapa.
Yesus sendiri berkata dengan sangat jelas,
“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”
Artinya, Yesus adalah standar tertinggi untuk mengenal siapa Allah itu.
Bukan Musa. Bukan hukum Taurat. Bukan satu kisah yang berdiri sendiri. Tetapi Yesus.
Sekarang mari jujur.
Dalam Injil, apakah kita pernah melihat Yesus membunuh orang karena dosa?
Perempuan yang tertangkap basah berzina? Tidak dibunuh.
Petrus yang menyangkal Dia tiga kali? Tidak dibunuh.
Murid-murid yang sering salah paham, keras kepala, bahkan rebutan posisi? Tidak dibunuh.
Orang Farisi yang munafik dan penuh kebohongan? Ditegur keras, ya. Dibunuh? Tidak.
Yesus tidak pernah memperkenalkan Bapa sebagai Pribadi yang reaktif, mudah tersinggung, lalu menghukum mati orang di tempat.
Lalu apa yang terjadi dengan Ananias dan Safira?
Masalah utama mereka bukan sekadar “tidak memberi seluruh uang”.
Petrus sendiri berkata: tanah itu milikmu, uangnya juga milikmu. Tidak ada kewajiban memberi semuanya.
Masalahnya adalah kemunafikan yang disengaja, kepura-puraan rohani, hidup dalam dusta sambil ingin terlihat kudus.
Dan dusta, sejak awal, selalu berhubungan dengan si pendusta itu sendiri.
Yesus berkata dengan jelas:
“Iblis adalah pembunuh sejak semula… dan bapa segala dusta.”
Perhatikan ini baik-baik.
Yesus tidak pernah mengaitkan kematian dengan Bapa.
Yesus mengaitkannya dengan dosa dan dusta yang memberi ruang bagi kuasa kegelapan.
Dalam Injil, Yesus selalu datang sebagai Pemberi hidup, Pemulih, Penyembuh, Penyelamat.
Bahkan saat menghadapi dosa, Yesus memulihkan manusia, bukan melenyapkannya.
Maka membaca kisah Ananias dan Safira tanpa kacamata Yesus akan membuat kita takut.
Tetapi membaca dengan kacamata Yesus membuat kita sadar:
Allah itu kudus, tetapi Dia bukan algojo.
Allah itu terang, dan siapa yang memilih hidup dalam gelap, sedang bermain di wilayah yang berbahaya.
Kisah ini bukan untuk membuat kita takut pada Tuhan.
Justru untuk mengingatkan: jangan bermain-main dengan kepura-puraan rohani. Jangan hidup ganda. Jangan berdamai dengan dusta.
Bukan karena Tuhan ingin menghukum,
tetapi karena di luar terang, tidak ada perlindungan. Saat berdosa, kita keluar dari perlindungan Tuhan. tidak ada perlindungan.
Dan kabar baiknya?
Yesus sudah membuka jalan agar kita hidup di dalam terang itu.
Tanpa topeng. Tanpa sandiwara. Tanpa ketakutan.
Allah yang kita kenal melalui Yesus adalah Bapa yang memberi hidup.
Dan hidup itu aman, ketika kita berjalan jujur di hadapan-Nya.
“God is not proud. He will have us even though we have shown that we prefer everything else to Him.” – C. S. Lewis.
“Allah tidak sombong. Dia tetap menerima kita, sekalipun kita berkali-kali membuktikan bahwa kita memilih hal lain dibanding Dia.- C. S. Lewis.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

