Articles

Tur Harbin: Dari Dunhua ke Snow Village: Cantik, Dingin, dan Dalam Maknanya.


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tur Harbin: Dari Dunhua ke Snow Village: Cantik, Dingin, dan Dalam Maknanya.

Dunhua itu kota transit. Titik berhenti sebelum kami masuk ke Hailin Snow Village. Kota kecil bernuansa China–Korea. Tulisan Korea hampir di seluruh sudut kota. Unik, dingin, dan tenang.

Saat hendak naik bus, Frank, local guide kami, menunjuk ke depan hotel. “Itu Buddha duduk tertinggi di dunia, menghadap ke selatan. Katanya sedang berhadapan dengan Buddha duduk yang lebih kecil di Hongkong. Biar ada teman ngobrol,” ujarnya sambil tertawa. Kami ikut tertawa. Humor receh tapi menghangatkan.

Lalu muncullah kisah Ratu Qixi, ratu paling boros. Setiap hari harus makan seratus macam hidangan.
Alamaaak….bagaimana makannya coba?

Istana mewah, tubuh terawat, wajah dipuja. Tapi usia tetap berjalan. Tak ada kosmetik yang bisa menahan waktu.

Di pegunungan dingin, hidup snow frog, katak kecil yang bisa berbulan-bulan bahkan ratusan hari tanpa makan. Lemaknya dipercaya menjaga daya hidup. Frank bilang, di dekat hotel kami, snow frog legendaris itu ada. Maka Qixi percaya, minyak snow frog bisa membuat awet muda. Konon, saat wafat, snow frog ikut dikubur bersamanya. Duh… kasihan snowfrognya.

Legenda ini sederhana tapi menampar. Manusia bisa membeli segalanya, kecuali keabadian. Dan yang dikejar mati-matian sering kali tidak pernah mengenyangkan jiwa. Tidak ada kepuasan sejati di luar Tuhan.

Mengapa harus transit di Dunhua?
Bu Rita menjelaskan, inilah beda tur premium dan tur biasa. Perjalanan diatur supaya tubuh tidak lelah. Bukan dihajar jarak. Ada tur yang bolak-balik Snow Village sampai waktu habis di jalan. Sampai lokasi sudah capek, penuh turis. Bahkan ada yang ke Harbin tapi tidak ke Snow Village.Padahal tempat ini cantik luar biasa.

Sengaja masuk lewat Dalian juga, agar tubuh kita tidak kaget. Dinginnya bertahap hingga paling dingin di Harbin. Strategi yang cerdik.

Tur Bu Rita TX Travel ini menginap di tengah Snow Village. Bayar tiket dan ada gate untuk masuk di lokasi ini. Ibaratnya, betul-betul di tengah ‘Disneyland’ nya.
Wuih… nikmat.

Depan hotel penuh resto dan pedagang street food. Sate, sosis, mala skewers pedas hangat, tahu, jamur, sayur berbumbu. Ada buah beku alami, dingin tapi manis segar.
Ada pilihan berbagai minuman hangat.
O ya juga jagung rebus or bakar yang rasanya seperti ketan yang pulen.
Tinggal pilih.

Ada pula supermarket, Starbucks, toko-toko. Mau naik dog sledding – kereta yang ditarik plastik, tempat duduk plastik atau kayu berbagai model yang ditarik manusia juga ada. Bisa untuk bawa koper-koper juga.
Pokoknya fasilitas lengkap.

Di belakang hotel, naik tangga sedikit, spot foto ramai sekali. Banyak orang-orang yang live streaming. Malam hari jepret-jepret. Jam delapan, kembang api mekar. Ciamiiik.

Dan kami beramai-ramai membuat ‘lukisan cantik’. Saat air panas dilempar ke udara minus lebih dari 20 derajat, ia tak sempat jatuh sebagai air.
Dalam sekejap, air itu meledak menjadi awan kristal es, berkilau diterpa cahaya, seperti debu cahaya surgawi yang menari sebentar… lalu lenyap.
Menarik sekali.

Pagi hari kami foto lagi. Sama-sama cantik, tapi keindahannya beda. Malam penuh lampu warna-warni, pagi soft tenang… Semua ini memungkinkan, karena kami menginap di Snow Village.

Kata Bu Rita, hotel ini harus booking setahun sebelumnya. Beliau sampai ganti agen dua kali demi hotel-hotel di lokasi khusus ini. Worth it.

Dilanjut naik jeep ke Yangcao. Suhu -28°C, terasa seperti -35°C. Salju turun, angin kencang.
Cemara-cemara dibungkus salju tebal. Seperti kartu Natal hidup.

Lanjut ke Snow Gallery. Lebih dingin lagi… minus 28 derajad tapi serasa minus 41 derajad. Cemara lebih banyak lagi dan semua diselimuti salju seperti pemandangan yang kerap kita lihat di kalender atau tiktok.

Patung-patung berbagai boneka salju yang lucu, lampion merah dan berbagai asesoris manis ada di ke dua lokasi indah itu.
Foto, video, tertawa, menari bersama teman-teman…. senangnya…
Liburan jadi hidup.

Anehnya, justru karena salju turun, jalan tidak licin. Klo tidak turun salju, es mengeras bak kaca itulah yang licin sekali. Bisa terpeleset that’s why mesti pakai spike paku-paku di sepatu.

Saljunya putih bersih, halus. Sampai alis dan bulu mata memutih. Menurut B. Rita, salju di kutub tidak bisa demikian karena butir-butir saljunya lebih besar.
Segenggam salju dilempar ke udara… wuih. Indah sekali.

Nach … ketela manis, sate dan sweet ice & snow pot yang manis segar, laris manis. Sambil beli, numpang menghangatkan tangan yang kedinginan.

Yang lucu, P. Mul & B. Mega, pasangan dokter ini beli ketela hanya untuk menghangatkan tangan. Saat mendingin, ditukar lagi dengan yang masih panas…. wkwkwk….

Dinner malam ini, steak ala Rusia karena kami mrnginap di tengah-tengah Volga Manor, kampung Rusia.
Hotel kami dikelilingi pahatan-pahatan es.
Keren abis dah….
Lanjut kisahnya di artikel besok.

*”You have made us for Yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in You.” – Augustine of Hippo.*

*”Engkau menciptakan kami bagi-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam Engkau.” – Augustine of Hippo.*

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Gadis Cantik Korban Bullying Bunuh Diri .
“Apa yang akan Anda kehendaki?”
Kasih Itu Memberi…