Articles

Tur Harbin: Shenyang ke Changchun:Kisah Kekuasaan, Disiplin, dan Harga Kebebasan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tur Harbin: Shenyang ke Changchun:Kisah Kekuasaan, Disiplin, dan Harga Kebebasan…

Sejak semalam, hujan salju turun cukup deras. Tidak heran saat bangun pagi, salju di sekitar hotel sudah tebal. Putih bersih, senyap, dan entah kenapa selalu bikin hati terasa lebih adem.

Di mana ada salju tebal, sekitarnya otomatis kelihatan cantik. Pohon, jalan, atap bangunan, semua seperti diselimuti keheningan. Suhu turun ke minus 14°C, tapi rasanya jujur saja seperti minus 20°C. Angin tajam, dingin menggigit. Nah lho… baju “perang” pun resmi dimulai. Berlapis-lapis tanpa kompromi. Wkwkwk.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Imperial Palace Shenyang.

Istana ini sudah berusia sekitar 400 tahun, dibangun tahun 1625. Bahkan lebih tua dari Forbidden City di Beijing. Di sinilah fondasi Dinasti Qing dimulai, jauh sebelum mereka menguasai seluruh Tiongkok.

Ada kisah menarik tentang Nurhaci, pendiri Dinasti Jin Akhir dan tokoh kunci lahirnya Qing. Ia bukan bangsawan istana. Ia adalah kepala suku Manchu yang hidup keras, ditempa peperangan, dan kehilangan ayah serta kakeknya karena konflik dengan Dinasti Ming.

Dari luka itulah, Nurhaci menyatukan suku-suku Manchu lewat disiplin militer yang ketat dan sistem Eight Banners yang legendaris.

Eight Banners atau Sistem Delapan Panji adalah sistem organisasi unik yang membagi masyarakat Manchu ke dalam delapan panji berwarna. Ini bukan cuma pasukan perang, tetapi sistem hidup: tentara, keluarga, logistik, dan kepemimpinan menyatu dalam satu struktur. Dengan sistem ini, Nurhaci menyatukan suku-suku yang tercerai-berai menjadi satu kekuatan besar. Dari sinilah Dinasti Qing punya mesin kekuasaan yang rapi, loyal, dan sangat efektif.

Shenyang menjadi pusat kekuasaannya, dan istana ini adalah simbol awal mimpi besar yang kelak mengubah sejarah Tiongkok.

Keunikan istana ini terasa kuat. Arsitekturnya bukan Han murni, bukan Mongol. Ini perpaduan Manchu-Han, dengan tata ruang yang lebih ringkas, praktis, dan sarat nuansa militer. Bahkan ada paviliun yang dirancang khusus untuk diskusi strategi perang, bukan sekadar upacara simbolik.

Kami pun segera berfoya-ria di sana. Foto ini, foto itu, sambil menahan dingin. Salju membuat istana tua ini tampak makin anggun dan berwibawa.

Berjalan di tempat berusia 400 tahun, di tengah salju dan sunyi, saya merasa sejarah tidak sedang berteriak.
Ia sedang berbisik. Dan justru itu yang membuatnya terasa hidup.

Dari Shenyang kami menuju Changchun.

Malam itu kami dinner di resto Korea Utara.
Lho… bukannya kami sedang di Changchun, China?

Yes. Betul sekali.
Dari Changchun ke perbatasan Korea Utara hanya sekitar 2,5 jam. Dan di kota ini, keberadaan restoran Korea Utara memang bukan hal yang aneh. Tapi pengalaman kami malam itu… jujur, jauh dari kata biasa.

Semua pelayannya adalah *gadis-gadis cantik dari Korea Utara.* Bukan sembarang pelayan. Mereka lulusan universitas ternama di Pyongyang. Tinggi badan, penampilan, latar belakang keluarga, bahkan kesetiaan politik *hingga tiga generasi*, semuanya diseleksi ketat. Baru setelah itu mereka diizinkan bekerja di luar negeri, termasuk di China.

Pertanyaannya langsung muncul di kepala:
_Kok bisa lulusan universitas bagus, cantik, terdidik, hanya jadi pelayan restoran?_

Itulah yang terjadi dengan negara yang masih terisolasi.
Mereka hanya bisa menikmati sekitar 50% penghasilannya.

Di luar negeri mereka bisa mendapat gaji yang lebih besar.
Gaji mereka sekitar 4.000 yuan per bulan, tapi mereka hanya perlu 300–500 yuan karena hidupnya hanya dari mess ke resto. Sisanya dikirim ke Korea Utara. Dari jumlah itu, setelah dipotong pajak dll oleh pemerintah, baru sisanya kurang dari 50% diberikan kepada keluarga mereka.

Mereka bekerja tujuh hari penuh, tinggal di mess, dan hanya mendapat libur dua jam per minggu. Setiap hari wajib membuat laporan detail: bertemu siapa, bicara apa, melakukan apa. Tidak boleh pacaran. Tidak boleh menikah dengan orang non-Korea Utara. Nekad melanggar? Keluarga mereka yang jadi jaminan. Penjara… atau lebih dari itu.

Lalu makanannya?
Wuih… enak! Bahkan
jauh lebih variatif dibanding saat kami benar-benar ke Korea Utara. Ada 14 macam hidangan, semua tersaji rapi. Malam itu juga ada hiburan. Gadis cantik menyanyi, diiringi akordion, berpindah dari satu ruang VIP ke ruang lainnya. Profesional. Tersenyum. Tapi matanya… tenang sekaligus kosong.

Mencicipi hal baru, ditambah pengalaman yang tidak biasa, selalu membuat saya tersadar:
itulah alasan saya suka travelling. Bukan cuma lihat tempat, tapi *melihat kehidupan.*

Dan hati saya bersyukur.
Lahir di Indonesia.
Menikmati kebebasan. Bukan hanya kebebasan fisik, tapi *kebebasan rohani*. Mengenal Tuhan yang penuh kasih. Tuhan yang memampukan kita hidup di atas situasi apa pun. Bersama-Nya, tidak ada yang mustahil.

Mengenal-Nya secara pribadi membuat hidup bermakna.
Dan kekekalan… sudah terjamin.

Praise The Lord!

He who has a why to live can bear almost any how.” – Viktor Frankl

“Orang yang memiliki alasan untuk hidup, dapat bertahan dalam hampir segala keadaan.” – Viktor Frankl

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Takut? Terteror? Apa Yang Harus Dilakukan?
Kombinasi Doa & Intermittent Fasting (IF)
Serba-Serbi Seruput Kopi Cantik & Terjemahannya.