Articles

Memberi dan Menerima: Rahasia Mengalirkan Berkat Tuhan.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Memberi dan Menerima: Rahasia Mengalirkan Berkat Tuhan.

Pernahkah kita merasa sulit memberi karena takut kekurangan? Pikiran logis manusia selalu berkata: kalau memberi, berarti berkurang. Tetapi Firman Tuhan mengajarkan hal yang berbeda. Memberi bukan membuat kita kekurangan, tetapi justru membuka jalan bagi Tuhan untuk mengalirkan berkat-Nya.

Paulus menulis, “Barangsiapa menabur sedikit, akan menuai sedikit juga. Barangsiapa menabur banyak, akan menuai banyak juga.” (2 Korintus 9:6). Ini bukan peribahasa rohani. Ini hukum Tuhan—setegas hukum menabur dan menuai dalam pertanian.

Seorang petani tidak pernah berharap panen tanpa menabur. Ia rela menanam sebagian hasilnya ke tanah, karena tahu benih itu tidak hilang. Benih itu hanya “ditanam”—untuk kembali dalam bentuk panen yang berlipat. Begitu pula dengan memberi. Uang yang kita taburkan di tangan Tuhan bukan lenyap; itu sedang ditanam dalam ladang rohani, menghasilkan panen—baik di dunia ini maupun dalam kekekalan.

Masalahnya, banyak orang ingin menuai besar tetapi tidak pernah menabur. Mereka ingin diberkati tanpa mau memberi. Itu seperti petani yang berharap panen padi tanpa menanam satu butir pun. Prinsip Tuhan selalu dimulai dari tindakan iman: kita memberi dulu, baru menerima. Tuhan tidak bisa memberkati sesuatu yang tidak kita lepaskan.

Namun sangat penting mengerti: Tuhan tidak melihat nominal, tetapi hati.

Andrew Wommack menegaskan, seorang miliuner bisa memberi satu juta dolar dan tetap pelit, sementara orang sederhana yang memberi seribu rupiah bisa dianggap murah hati. Karena Tuhan menilai motivasi, bukan angka.

Ada orang memberi hanya karena ingin diberkati. Mereka menabur bukan karena kasih, tetapi karena ingin menuai. Memberi dengan tujuan mengharapkan imbalan seratus kali lipat bukanlah iman yang murni, melainkan bentuk rohani dari keserakahan. Inilah akar teologi kemakmuran—mengutamakan berkat, bukan Pemberi Berkat.

Kita tidak memberi untuk memanipulasi Tuhan. Kita memberi sebagai respons kasih dan ucapan syukur. Tuhan tidak bisa ditipu dengan “strategi rohani.” Ia melihat kedalaman hati kita.

Seperti anak yang berkata “Aku cinta Mama,” padahal niatnya minta hadiah. Kata-katanya benar, tetapi motivasinya salah. Tuhan ingin kita memberi karena cinta kepada-Nya, bukan karena kalkulasi.

Karena itu Paulus mengingatkan, “Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan. Sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Korintus 9:7).
Kata “sukacita” berasal dari hilaros—akar kata hilarious. Tuhan menyukai pemberian yang lahir dari kegembiraan yang tulus.

Nancy Dufresne pernah berkata, “Memberi bukan tindakan emosi, melainkan keputusan iman yang dipimpin Roh Kudus.”

Berkat Tuhan selalu terdiri dari dua bagian: benih dan roti.
Benih untuk ditabur, roti untuk dimakan.
Artinya, tidak semua yang kita terima harus diberikan. Ada bagian untuk kebutuhan, ada bagian untuk kembali ditaburkan. Hikmat terletak pada membedakan mana benih, mana roti.

Karena itu, bijaksana kalau kita mulai melatih diri menyisihkan bagian untuk memberi:

– untuk gereja tempat kita bertumbuh,
– untuk menolong orang yang membutuhkan,
– untuk misi dan pelayanan Injil,
– untuk keluarga dan kebutuhan pribadi.

Memberi bukan reaksi sesaat karena provokasi, tetapi keputusan yang lahir dari doa, persekutuan dengan Tuhan, dan pimpinan Roh Kudus.

Saat memberi lahir dari kasih, selalu ada damai sejahtera. Tidak ada ketakutan akan kekurangan. Sebab kita tahu: tangan yang memberi selalu dijaga Tuhan. Andrew berkata, “Kalau Tuhan bisa mengalirkan uang lewat kita, Ia akan mengirimkannya kepada kita.”

Tuhan mencari saluran, bukan waduk.
Jika setiap kali diberkati kita menyalurkannya kembali untuk pekerjaan Tuhan dan menolong orang lain, Ia akan mempercayakan lebih banyak kepada kita—karena alirannya tetap bersih dan tidak mandek di tangan kita.

Memberi yang cerdas bukan hanya memberi “perbuatan baik,” tetapi memberi sesuatu yang berdampak kekal. Itu sebabnya saya suka membagikan buku-buku rohani yang membangun. Satu buku bisa mengubah kualitas hidup seseorang. Dan perubahan itu masuk kategori “buah kekekalan”—yang tidak bisa hilang.

Hukum memberi dan menerima dalam kerajaan Allah sangat berbeda dari cara dunia. Dunia berkata, kalau memberi berarti kehilangan. Tetapi Tuhan berkata, memberi dengan hati benar justru membuat kita berkelimpahan.

“Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepadamu, supaya kamu senantiasa memiliki segala kecukupan dalam segala hal dan berkelimpahan dalam setiap pekerjaan baik.” (2 Korintus 9:8)

Guru saya, Greg Mohr, selalu berkata: Tuhan ingin kita berkelimpahan—artinya cukup untuk diri sendiri dan ada extra untuk memberkati orang lain. Bukan supaya kita hidup mewah, tetapi supaya kita mampu memberi lebih banyak. Kita diberkati untuk menjadi berkat.

Ketika kebutuhan kita tercukupi dan kita tetap murah hati, banyak orang akan memuji Tuhan. Itulah tujuan berkat: memuliakan Allah. Tuhan tidak menilai berapa banyak yang kita beri, tetapi seberapa banyak kasih yang terkandung di dalamnya.

Dan ketika kasih menjadi alasan kita memberi, berkat akan datang bukan karena kita mengejarnya—tetapi karena Tuhan melihat bahwa kita bisa dipercaya menjadi saluran berkat-Nya.

“As God is exalted to the right place in our lives, a thousand problems are solved all at once- including why and how we give.” – A.W. Tozer.

“Ketika Allah ditinggikan pada tempat yang benar dalam hidup kita, seribu masalah terselesaikan sekaligus-termasuk mengapa dan bagaimana kita memberi.” – A.W. Tozer.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Serangan Dalam Proses Menanti Penggenapan Janji Tuhan. ( Survival Kit Part 2)
How To Dance In The Rain…
Mau Sembuh Dengan Cara Apa? Pilihlah.