Articles

Saat Aku Berhenti Membahas Roh Kudus dan Mulai Hidup Bersama-Nya.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Saat Aku Berhenti Membahas Roh Kudus dan Mulai Hidup Bersama-Nya.

Beberapa hari ini hati terasa hangat dan dalam saat membaca kutipan Kathryn Kuhlman: “I never met the Holy Spirit as a doctrine. I met Him as a person, and He changed my life forever.”

Saya tidak pernah menemui Roh Kudus sebagai doktrin. Saya bertemu Dia sebagai pribadi, dan Dia mengubah hidup saya selamanya.” – Kathryn Kuhlman

Bukan sekadar indah, tapi seperti menegur dengan lembut. Dia tidak bicara soal konsep, tidak bicara soal teori. Dia bicara soal perjumpaan. Dan *dari perjumpaan itulah hidupnya berubah selamanya.*

Saya jadi berpikir, berapa banyak dari kita yang mengenal Roh Kudus hanya sebagai “pelajaran”, bukan sebagai Pribadi?
Kita tahu istilahnya. Kita hafal ayatnya. Tapi belum tentu kita memberi Dia ruang sebagai Sahabat dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal Roh Kudus itu bukan energi. Bukan suasana. Bukan efek rohani. Dia Pribadi yang hidup, yang menyertai kita ke mana pun kita pergi. Tidak terpisahkan dari orang yang sudah lahir baru. Dia bukan datang ketika kita di gereja, lalu pergi saat kita pulang. Tidak. Dia tinggal di dalam kita, di dalam hati. Setiap detik. Di mobil, di dapur, di kamar, di tengah kesibukan, bahkan dalam kelelahan.

Yesus sendiri berkata,
“Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”Yohanes 16:7

Ini kalimat yang luar biasa. Yesus tahu, selama Dia masih dalam tubuh fisik, kehadiran-Nya dibatasi ruang dan waktu. Dia hanya bisa ada di satu tempat. Tapi Roh Kudus berbeda. Dia bisa tinggal di dalam hati setiap orang percaya, di mana pun kita berada. Bukan cuma dekat. Bukan cuma menemani. Tapi diam di dalam.

Inilah keistimewaan zaman kita, yang hidup dalam Perjanjian Baru. Tapi sering kali kita justru memperlakukan Dia seperti tamu, bukan seperti penghuni rumah. Padahal Dia seharusnya menjadi Pribadi utama dalam kehidupan kita. Yang kita ajak bicara. Yang kita dengar pendapat-Nya. Yang kita libatkan dalam keputusan kecil maupun besar.

Roma 8:26-28 menulis bahwa Roh Kudus menolong kita dalam kelemahan kita. Bahkan ketika kita tidak tahu bagaimana harus berdoa, Dia sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Ini bukan bahasa rohani yang puitis. Ini realitas rohani yang sangat praktis. Ada saat-saat di mana kita bingung, buntu, lelah, bahkan tidak tahu apa yang harus kita katakan kepada Tuhan. Di situlah Roh Kudus bekerja.

Bayangkan ini. Kita terdiam, penuh pertanyaan, tidak tahu arah. Tapi di level roh, Roh Kudus sedang “menghubungkan” kita dengan Bapa. Dia menyampaikan isi hati kita yang paling dalam, yang bahkan tidak bisa kita rangkai dengan kata-kata. Lalu dari hadirat Bapa, jawaban itu “didownload” ke dalam roh kita. Dari roh, masuk ke pikiran. Lalu pelan-pelan kita mulai mengerti apa yang harus dilakukan. Langkah apa yang harus diambil. Sikap apa yang perlu diubah.

Ini bukan mistik. Ini pengalaman iman yang nyata.

Andrew Murray berkata,
“The Holy Spirit is the one who makes Christ real in the hearts of believers. – Roh Kuduslah yang membuat Kristus nyata dalam hati orang percaya.”

Itulah sebabnya penting sekali untuk tidak mengabaikan Dia. Berbicara dengan Dia. Curhat dengan Dia. Diskusi dengan Dia. Perlakukan Dia bukan sekadar sebagai “penghibur kalau kita sedih”, tapi sebagai Penuntun hidup setiap hari. Roh Kudus menghibur, iya. Tapi Dia juga menegur, mengingatkan, mengajar, membela, bahkan kadang membongkar isi hati kita supaya kita bertumbuh.

Yang menyentuh saya dari kisah Kathryn Kuhlman adalah kesaksian orang-orang di sekelilingnya. Mereka bilang, kedekatan Kathryn dengan Roh Kudus membuat orang-orang lebih mudah menerima mujizat. Perhatikan. Bukan karena dia berteriak lebih keras. Bukan karena karismanya. Tapi karena hubungannya.

Itu yang membuat saya terdiam. Ternyata kunci bukan di teknik, tapi di relasi. Bukan di metode, tapi di kedekatan. Dan kabar baiknya, Tuhan tidak memandang muka. Kita pun bisa hidup dalam keintiman seperti itu. Tidak harus jadi pengkhotbah besar. Tidak harus ada di mimbar internasional. Cukup dimulai dari kehidupan sehari-hari. Dari hati yang mau mendengar. Dari keputusan untuk memberi ruang.

Mungkin kita tidak langsung melihat “mujizat besar” seperti Kathryn. Tapi kita akan melihat perubahan dalam diri. Kepekaan yang makin lembut. Pikiran yang makin jernih. Damai yang makin stabil. Dan tanpa kita sadari, orang di sekitar kita pun ikut menikmati hasilnya.

Yuk kita belajar. Bukan sekadar tahu tentang Roh Kudus, tapi benar-benar hidup bersama Dia. Kata Kathryn, dia bertemu Pribadi, bukan doktrin. Dan perjumpaan itulah yang mengubah segalanya.

“We need no more education about the Holy Spirit. We need an encounter with Him.” – A.W. Tozer.

“Kita tidak membutuhkan lebih banyak pendidikan tentang Roh Kudus. Kita membutuhkan perjumpaan dengan Dia” – – A.W. Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Masalah Berat? Ini Solusinya!
“Apa yang dikhotbahkan oleh gereja mula-mula?”
Orang-orang percaya” yang tidak percaya