Monthly Archives: Nov 2025

Articles

Lu Shan: Gunung Seribu Villa dan Saksi Persatuan Satu China

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Lu Shan: Gunung Seribu Villa dan Saksi Persatuan Satu China

Hari ini kapal kami tiba di provinsi Chiang Zi. Tur hari ini membawa kami menuju Chiu Chiang City, kota terbesar kedua di provinsi ini, dikenal sebagai “kota sembilan sungai” karena banyaknya aliran yang bermuara ke Yangtze River. Kota ini juga dikelilingi danau-danau indah dan menjadi pusat sumber air. Ternyata tempat-tempat wisata yang kami kunjungi hari ini sungguh unik.
Why?
Karena hanya mereka yang naik river cruise yang bisa sampai ke sini. Melalui jalan darat terlalu jauh dan sulit dijangkau. Itulah salah satu alasan mengapa river cruise begitu istimewa.

Tujuan utama kami hari ini adalah Gunung Lu Shan, kawasan yang masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO dan satu-satunya Global Geopark di daerah ini—bukti bahwa tempat ini memang spesial. Kami naik cable car besar berkapasitas 24 orang, menembus kabut dan pepohonan. Di puncak gunung terbentang pemandangan yang menakjubkan: Ruqin Lake, danau berwarna hijau kebiruan berbentuk biola, dikelilingi lembah-lembah dan udara yang segar.

Lu Shan sendiri dikenal sebagai “gunung seribu villa.” Dulu, misionaris Edward Lito menjual kavling tanah di sini kepada ekspatriat Eropa.
Akhirnya berdirilah lebih dari seribu seratus villa asing; kini tersisa sekitar 660. Di masa jayanya, gunung ini bahkan memiliki empat sekolah internasional untuk anak-anak diplomat dan misionaris dari Amerika, Inggris, Italia, dan Spanyol—lebih dari 2.000 murid pernah belajar di sini.

Salah satu sekolah paling terkenal adalah Kuling American School, berdiri sejak 1916 di Jalan Zhongshi No. 404, tempat anak-anak para duta besar dan misionaris menerima pendidikan modern dan pelatihan moral-rohani.

Di salah satu kavling, berdiri *Mei Lu Villa,* kediaman musim panas pasangan terkenal Chiang Kai-shek dan istrinya Song Mei Ling. Villa ini dibangun tahun 1903, milik salah satu ekspatriat yang dibeli Song Mei Ling dengan harga miring dari temannya, dan hingga kini tetap menawan.

Nama Mei Lu bermakna ganda: “villa cantik di Gunung Lu” sekaligus “villa milik Mei Ling.” Saat kami tiba, pohon-pohon maple di sekelilingnya memerah keemasan—wuih…..benar-benar indah.

Bangunan ini memadukan gaya Barat dan Timur. Di dalam kamar ada sofa bed panjang seperti masa kini, bath-up hijau di kamar mandi yang menghadap jendela, serta kulkas bukan dengan listrik tapi bensin—salah satu kulkas pertama di dunia. Dipajang juga 4 lukisan karya Song Mei Ling sendiri. Dari sinilah Chiang Kai-shek sering membuat rencana perang dan perundingan penting.

Menariknya, pada bulan Juni dan Juli 1937, di Lu Shan inilah sejarah besar terjadi. Chou En-lai, tokoh penting dari pihak komunis, sampai tiga kali datang membujuk Chiang Kai-shek agar mau berdamai dengan Mao Zedong, membahas front persatuan melawan Jepang. Akhirnya, setelah negosiasi panjang, disepakati kerja sama demi “Satu China” untuk melawan penjajahan Jepang. Kesepakatan itu menjadi titik awal persatuan nasional yang singkat, namun menentukan arah sejarah Tiongkok modern.

Namun setelah Perang Dunia II usai, konflik kembali meletus. Tahun 1946 perang antara pasukan nasionalis pimpinan Chiang dan kaum komunis di bawah Mao Zedong tak terelakkan. Hingga akhirnya 1948 Mei Lu ditinggalkan, lalu pada 1949, Chiang Kai-shek dan Song Mei Ling meninggalkan daratan Tiongkok menuju Taiwan, mengakhiri babak penting dalam sejarah negeri ini.

Selain sejarahnya, Lu Shan juga dikenal sebagai “gunung puisi.” Konon ada lebih dari 900 inskripsi dan ribuan lukisan yang menggambarkan keindahannya. Salah satu karya paling terkenal adalah puisi Li Bai berjudul Melihat Air Terjun di Gunung Lu, yang terpahat di tengah taman:

Sinar mentari menyinari puncak Xianglu, asap ungu membumbung;
Dari jauh kulihat air terjun menggantung di lembah sungai.
Arusnya jatuh lurus tiga ribu kaki,
Seakan Galaksi Bima Sakti jatuh dari langit.

Wow….. indahnya….
Puisi Li Bai tentang air terjun di Gunung Lu Shan bukan sekadar lukisan alam, tapi renungan jiwa. Saat air jatuh dari ketinggian seperti kasih Allah mengalir menuruni langit, bak hidup yang mengalir dari sumber yang tertinggi- Tuhan sendiri. Keindahan sejati lahir ketika kita membiarkan hati dialiri oleh kebesaran kasih-Nya dan mengalir membawa terang bagi dunia di sekitar kita.

“The heavens declare the glory of God; the skies proclaim the work of His hands.”

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.”

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

kepercayaan Diri Yang Sejati, Bagaimana Membangunnya?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

kepercayaan Diri Yang Sejati, Bagaimana Membangunnya?

Pernahkah kita kehilangan rasa percaya diri karena gagal, ditolak, atau dibandingkan? Rasanya seperti semua yang kita lakukan salah. Tapi kebenarannya, rasa percaya diri bukan sesuatu yang datang begitu saja. Itu dibangun — perlahan, setia, langkah demi langkah — dengan memilih untuk mempercayai apa yang Tuhan katakan tentang kita, bukan apa yang dunia katakan.

Saya belajar bahwa percaya diri bukan perasaan, tapi keputusan. Saat kita berhenti mengulang naskah yang ditulis oleh si musuh — kata-kata seperti “Aku gak mampu,” “Aku gak layak,” “Aku selalu gagal” — dan mulai mengucapkan Firman Tuhan, sesuatu di dalam kita mulai berubah. Pikiran diperbarui, hati dikuatkan, dan roh kita selaras dengan kebenaran.

Alkitab mengajarkan bahwa iman bekerja lewat pengakuan (Filemon 1:6). Kita menjadi seperti apa yang kita katakan. Ketika kita berkata, “Aku adalah ciptaan baru” (2 Korintus 5:17), “Aku dikasihi Tuhan” (Roma 8:38-39), “Aku mampu melakukan segala sesuatu dalam Kristus” (Filipi 4:13), itulah cara kita membangun kembali rasa percaya diri yang sejati. Bukan dengan usaha keras menutupi kelemahan, tapi dengan membangun fondasi yang kokoh dalam identitas kita di dalam Kristus.

Saya pun pernah merasa hancur dan kehilangan arah. Tapi saya menemukan, setiap kali saya memilih untuk mempercayai Firman Tuhan dan mengucapkannya — walau masih gemetar — kepercayaan diri saya mulai tumbuh kembali. Satu deklarasi, satu kebiasaan kecil, satu tindakan iman. Tuhan tidak menuntut kita sempurna, Dia hanya ingin kita percaya dan bertindak sesuai iman itu.

Rasa layak bukan sesuatu yang datang ketika semuanya sudah beres. Itu dibangun — momen demi momen, keputusan demi keputusan. Kita menunjukkan pada diri sendiri bahwa kita bisa tetap berdiri bahkan ketika keadaan sulit. Kita bisa gagal tanpa hancur. Kita bisa menepati janji pada diri sendiri bahkan ketika tak ada yang melihat. Itulah latihan batin yang membentuk rasa percaya diri sejati: disiplin, ketekunan, dan rasa hormat pada diri sendiri — karena kita tahu siapa yang tinggal di dalam kita (1 Yohanes 4:4).

Selama bertahun-tahun, banyak orang — termasuk saya dulu — mengira bahwa nilai diri datang dari pencapaian: prestasi, kontrol, atau penampilan sempurna. Tapi ternyata, “kinerja tanpa kedamaian” hanyalah ketakutan yang disamarkan sebagai kedisiplinan. Kita tampak kuat, tapi sebenarnya sedang melarikan diri dari rasa tidak cukup yang belum disembuhkan.

Proses pemulihan mengajarkan hal yang sederhana tapi mengubah hidup: kita tidak perlu menghasilkan kelayakan. Kita hanya perlu menghidupinya. Dengan integritas, keselarasan, dan konsistensi. Saat kita memilih berkata, “Aku cukup,” bukan karena semuanya sudah sempurna, tapi karena kita hadir dan setia menjalani prosesnya — di situlah keajaiban mulai terjadi.

Saya belajar satu hal indah: kita ini hanyalah pena di tangan Tuhan. Kita memang menulis dengan kesungguhan, menjalani bagian kita dengan iman dan tanggung jawab. Tapi sesungguhnya, Tuhanlah Sang Penulis Agung yang menulis kisah hidup kita (Mazmur 139:16).

Keyakinan sejati muncul ketika kita berhenti mencoba mengontrol segalanya, dan mulai percaya bahwa Dia sedang menulis sesuatu yang indah, bahkan dari kesalahan kita sekalipun. Tugas kita adalah taat dan percaya. Saat kita menulis dengan tangan iman, Tuhan mengisi halaman demi halaman dengan anugerah dan mujizat-Nya (Roma 8:28).

Dan inilah rahasianya: percaya diri sejati selalu berhubungan dengan panggilan hidup yang Tuhan beri. Kita tidak akan pernah benar-benar percaya diri kalau kita hidup di luar tujuan-Nya. Sebab keyakinan terbesar muncul saat kita tahu — “Aku sedang melakukan apa yang Tuhan panggil aku lakukan. Untuk itulah aku ada di dunia ini.”
Seperti yang sering diingatkan:

“God won’t judge us by what we did on earth, but by whether we did what we were called to do.” – John Bevere.

“Tuhan tidak akan menilai kita berdasarkan apa yang kita lakukan di bumi, tetapi berdasarkan apakah kita melakukan apa yang Tuhan panggil untuk kita lakukan.”- John Bevere

Ingat kisah orang kerasukan di Gerasa (Markus 4:35–5:20)? Saat Yesus dan murid-murid-Nya menyeberang danau menuju daerah itu, tiba-tiba badai besar menghadang perahu mereka.
Why?
Karena musuh tahu Yesus akan membebaskan seseorang yang sangat berpotensi. Orang itu dikuasai ribuan roh jahat — namun begitu Yesus menyembuhkannya, hidupnya berubah total. Ia menjadi murid pertama Yesus di Dekapolis, yang terdiri dari sepuluh kota besar, bahkan menjadi penginjil pertama di daerah non-Yahudi. Musuh tahu masa depan orang ini penting, karena itu ia mencoba menggagalkan perjalanan Yesus dengan badai. Tapi gagal!
Begitu juga kita — jika badai datang, bisa jadi karena ada tujuan besar Tuhan yang sedang menanti di seberang.

Percaya diri sejati lahir dari kesadaran itu: aku melakukan bagian kecilku, tapi Tuhanlah yang mengarahkan seluruh kisah. Itu sebabnya kita bisa tenang, bahkan di tengah ketidakpastian. Kita percaya diri bukan karena semua sudah jelas, tapi karena kita mengenal Pribadi yang menulis cerita ini — dan Dia tidak pernah gagal.

Kita tidak perlu “menemukan diri sendiri,” karena sebenarnya diri sejati kita sudah ada di dalam Kristus. Yang kita butuhkan adalah menghormati diri kita sendiri melalui tindakan-tindakan kecil yang benar — kebiasaan yang sejalan dengan Firman, keputusan yang menunjukkan bahwa kita dapat dipercaya oleh Tuhan dan diri kita sendiri.

Percaya diri sejati tidak lahir karena hidup menjadi mudah. Itu tumbuh ketika kita belajar melewati hal sulit dengan kasih karunia. Ketika kita berhenti berusaha lebih keras dan mulai menjadi lebih utuh. Karena kita tahu: kita menulis, tetapi Tuhanlah yang menentukan akhir ceritanya.

“When you speak God’s Word, you remind your soul who you really are.”
— Andrew Wommack

Saat kamu mengucapkan Firman Tuhan, kamu mengingatkan jiwamu siapa dirimu sebenarnya.”— Andrew Wommack

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Slender West Lake & Baisui Palace.


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Slender West Lake & Baisui Palace.

Dari Nanjing, kami melanjutkan perjalanan menuju Yang Chow dengan bus. Begitu mendengar nama “Yang Chow”, spontan yang terlintas di kepala adalah Nasi Goreng! Yess… siapa sih yang tidak kenal Nasi Goreng Yang Chow? Tapi sebelum sampai ke bagian itu, pagi kami diisi dengan kunjungan ke tempat yang sangat cantik — Slender West Lake.

Disebut Slender karena bentuknya panjang dan ramping seperti pita air yang berliku lembut di antara taman bunga, jembatan, dan pagoda-pagoda kuno. Di seluruh Tiongkok, ada 36 danau bernama West Lake, Slender West Lake inilah yang paling langsing. Tidak seluas West Lake di Hangzhou, tetapi pesonanya terletak pada kelembutan lanskapnya—seperti lukisan klasik yang hidup.

Udara pagi terasa sejuk dan segar. Di tepi danau, pohon-pohon yangliu menjuntai lembut, rantingnya seperti tirai hijau yang bergoyang mengikuti irama angin. Air danau jernih memantulkan langit biru, pepohonan, serta bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang jalan setapak. Warna ungu, merah muda, putih, dan kuning saling berpadu, seolah taman itu ingin menampilkan seluruh palet warna yang dimilikinya. Para turis berjalan pelan, menikmati keindahan ciptaan Tuhan.

Sungguh tempat yang menenangkan hati. Rasanya ingin duduk lebih lama di sana, menyeruput teh hangat sambil memandangi air yang berkilau diterpa sinar matahari pagi. Suasana damai itu membuat hati terasa ringan — seperti diingatkan kembali bahwa di tengah kesibukan hidup, kita tetap butuh waktu untuk diam, menikmati keindahan, dan bersyukur atas setiap napas yang diberikan Tuhan.

Menjelang siang, kami dibawa ke restoran lokal untuk menikmati makan siang khas Yang Chow. Tak tanggung-tanggung, 18 macam hidangan disajikan berturut-turut! Satu per satu datang: dari sup, daging, sayuran, hingga seafood. Tapi yang paling ditunggu tentu saja menu ke-17 — Nasi Goreng Yang Chow. Setelah itu, buah segar menutup jamuan sebagai hidangan ke-18.

Namun ternyata, rasanya agak di luar dugaan. Tidak se-wow yang kami bayangkan. Entah memang rasanya yang kurang pas di lidah kami, atau mungkin karena perut sudah terlalu kenyang setelah 16 menu sebelumnya. Kami tidak tahu pasti, tapi tetap tertawa bersama sambil menatap piring nasi goreng yang hanya disantap sedikit. Mungkin bukan nasi gorengnya yang salah… tapi perut kami yang menyerah duluan!

Sore harinya, kami kembali ke kapal Century Legend, satu-satunya river cruise yang berlayar dari Shanghai menuju Chongqing. Kapal ini termasuk mewah, dengan pelayanan ramah dan fasilitas lengkap. Semua minuman — bahkan wine dan alkohol — gratis, padahal biasanya di international cruise berbayar. Rasanya benar-benar istimewa.

Kami sempat berpikir tak perlu makan malam, masih kenyang setelah menikmati 18 menu tadi.
Ah, ke ruang dinner sekedar icip-icip saja, pikir saya.

Sang chef tersenyum ramah dan mengundang kami mencicipi Nasi Goreng ala Kaisar Nanjing. Kali ini sungguh luar biasa! Nasi gorengnya dicampur ketan hitam dan di atasnya ditaburi telur kepiting oranye yang harum menggugah selera.
Alamak… nikmatnya luar biasa! Semua langsung semangat makan lagi. Di meja tersaji berbagai snack, dessert, bebek rebus kebanggaan sang chef.

Teringat saat hari pertama di kapal, begitu memikat dengan steak yang lembutnya benar-benar meleleh di mulut plus kepiting berbulu yang membuat teman-teman seolah ‘kalap’. Bahkan Bu Rita makan 9 kepiting…. wkwkwk…
Dan menu selalu ganti, tidak ada yang diulang!

Hari ini pun di kapal berakhir sempurna — dari Slender West Lake yang memikat, Nasi Goreng Yang Chow yang tak sesuai ekspektasi, hingga Nasi Goreng Kaisar yang lezatnya tak terlupakan.

Keesokan harinya, kapal berlabuh di Chizhou, kota yang dikenal dengan julukan Kota 99 Gunung dan 99 Kelokan. Kami berkunjung ke Baisui Palace, sebuah vihara tua yang berdiri anggun di lereng gunung Ciu Hua San. Hujan turun lembut, dan kabut putih menyelimuti pegunungan — seolah kami sedang melangkah di negeri awan.

Yang paling menarik adalah kisah tentang pendeta asal Korea yang mengabdikan hidupnya di tempat ini. Ia sesungguhnya seorang calon raja di negerinya. Namun hidupnya berubah ketika ibunya dihukum secara tidak adil. Rasa kecewa dan kepahitan membuatnya menolak takhta, memilih jalan pertapaan, dan mengabdikan hidupnya di Baisui Palace hingga usia 126 tahun. Karena itulah vihara ini dikenal sebagai tempat yang melambangkan umur panjang.

Tubuh sang biksu dibalut emas dan disimpan dalam kotak kaca — simbol penghormatan atas kesetiaan dan pengabdiannya. Namun di dalam vihara, pengunjung tidak diizinkan mengambil foto.
Btw, lunch kami vegetarian food. Enak lho!
Terima kasih Tuhan untuk kesempatan berlibur dan melihat sisi dunia yang lain, bersama-Mu….

“The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.” – Marcel Proust

“Perjalanan sejati bukanlah tentang mencari pemandangan baru, tetapi tentang melihat dengan mata yang baru.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Century Legend Cruise @Nanjing

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Century Legend Cruise @Nanjing

Perjalanan kali ini kami memulai Yangtze Cruise dengan Century Legend Cruise, berangkat dari Shanghai dan berakhir di Chongqing. Total dua belas hari di atas kapal yang meluncur anggun di Sungai Yangtze.
Rombongan kami dari Indonesia cukup besar, 36 orang, dipimpin langsung oleh P. Anton Thedy, pendiri TX Travel, dan B. Rita, istrinya. Wah… luar biasa! Dua bos besar TX ikut turun tangan, pertanda perjalanan ini memang spesial!

Ini pertama kalinya kami menikmati river cruise — kapal pesiar di sungai, bukan di laut lepas seperti biasanya. Menariknya lagi, kali ini bukan di Eropa atau Amerika, tetapi di China! Kapalnya berkapasitas sekitar 400 penumpang, dengan pelayanan dan fasilitas yang tidak kalah dengan kapal internasional. Proses check-in-nya cepat, efisien, dan yang paling menyenangkan — makanannya cocok banget di lidah!
Hidangan melimpah, variatif, dan semuanya lezat. Ah, perjalanan yang menyenangkan dimulai sejak suapan pertama!

Hari pertama, kapal berlabuh di Nanjing, kota tua yang sarat sejarah. Sebelum Beijing menjadi ibu kota, Nanjing pernah menjadi pusat pemerintahan Tiongkok. Di sinilah berbagai dinasti besar menorehkan jejak kejayaannya. Namun di balik kejayaan itu, tersimpan luka mendalam dalam sejarah manusia: Tragedi Nanjing Massacre tahun 1937, ketika lebih dari 300.000 jiwa dibantai oleh tentara Jepang.
Mendengar kisah itu, hati terasa perih. Betapa mahal harga sebuah perang — bukan hanya hancurnya kota, tetapi juga hilangnya kemanusiaan.

Ibukota akhirnya dipindahkan ke Beijing. Konon, apa yang sudah ada di Nanjing disalin ulang di sana — termasuk Forbidden City.
Namun Nanjing bukan hanya tentang luka. Kota ini juga menyimpan warisan budaya yang luar biasa. Salah satunya: relik tulang kepala Buddha Siddhartha Gautama yang kini tersimpan di situs bersejarah Grand Bao’en Temple Heritage Site.

Ribuan tahun lalu, Raja Ashoka dari India — penguasa besar yang kemudian bertobat dan memilih jalan damai — memerintahkan agar abu dan relik tubuh Buddha dibagi ke dalam 84.000 pagoda di seluruh dunia.

Salah satu relik itu sampai ke daratan Tiongkok dan disimpan di Kuil Agung Da Bao’en Si di Nanjing. Di atas situs itu dahulu berdiri Pagoda Porselen Nanjing, salah satu “keajaiban dunia” pada zamannya. Bayangkan, pagoda setinggi lebih dari 70 meter, berlapis ubin porselen putih yang memantulkan cahaya matahari hingga berkilau seperti kristal!

Sayangnya, pagoda megah itu hancur akibat perang dan waktu. Namun sejarah tak bisa dikubur begitu saja. Ketika para arkeolog menggali reruntuhannya beberapa dekade lalu, mereka menemukan sebuah pagoda miniatur kuno. Di dalamnya tersimpan peti perak dan emas berisi relik suci — tulang kepala Buddha. Penemuan itu menggetarkan dunia arkeologi dan mendorong pembangunan kembali Pagoda Porcelain dengan biaya mencapai 200 juta hingga 1 miliar RMB, tergantung lingkup proyek yang dihitung.

Kini, tempat itu berdiri megah kembali sebagai Grand Bao’en Temple Heritage Site, perpaduan indah antara sejarah, arsitektur, dan teknologi modern.

Hari itu, perjalanan kami di Nanjing bukan sekadar wisata, tapi menyentuh sisi terdalam dari kemanusiaan. Kota ini, dengan luka dan kebanggaannya, seakan berbisik lembut:
*Peradaban besar tidak diukur dari megahnya istana atau pagoda, tetapi dari kemampuan manusia menjaga kasih, kebijaksanaan, dan kedamaian di tengah perubahan.*

Ketika kapal kembali berlayar menyusuri Sungai Yangtze yang tenang, hati kami pun terasa penuh.
Ada rasa syukur — telah menyaksikan jejak keabadian di tanah Tiongkok, tempat masa lalu, kini, dan masa depan bertemu dalam satu arus: kehidupan yang terus bergerak, membawa hikmat bagi yang mau belajar.

Kembali ke kapal, hidangan lezat berlimpah sudah menanti.
Wow… God is good all the time.
Praise the Lord!

*”You can’t go back and change the beginning, but you can start where you are and change the ending.” – C. S. Lewis*

“Kita tidak bisa kembali dan mengubah awal, tetapi kita bisa memulai dari tempat kita berada sekarang dan mengubah akhirnya”. – C. S. Lewis

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Ketika Firman Dihidupi…..

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Firman Dihidupi…..

Frances Perkins tidak pernah bermimpi menjadi orang berkuasa. Ia hanya ingin hidup benar—setia pada nurani dan imannya. Namun justru dari situ, Tuhan memakainya mengubah wajah Amerika.

Sebagai gadis muda, Frances tumbuh dengan banyak pertanyaan. Mengapa ada orang miskin, padahal mereka rajin dan jujur? Ayahnya berkata, orang miskin malas atau lemah. Tetapi di hati kecilnya, Frances tahu, itu tidak benar. Kebenaran tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi dari cara seseorang menghargai sesamanya. Keyakinan sederhana itu kelak menjadi fondasi seluruh hidupnya.

Ketika berkuliah di Mount Holyoke, ia mengambil jurusan fisika—aman, terhormat, sesuai dengan harapan keluarga. Sampai suatu hari, gurunya membawa para mahasiswa berkunjung ke pabrik di sepanjang Sungai Connecticut. Di sana Frances melihat gadis-gadis muda bekerja dalam ruangan pengap, tanpa ventilasi, tanpa pintu keluar, tanpa istirahat. Jari-jari mereka terjepit mesin, paru-paru mereka rusak karena debu kapas. Ia pulang dari perjalanan itu dengan hati yang bergetar. Ia berkata, “Ilmu pengetahuan tidak ada artinya kalau tidak menolong orang hidup dengan bermartabat.”

Sejak itu Frances memilih jalan yang berbeda. Ia tidak mau hanya jadi “wanita baik-baik” yang diam dalam kenyamanan. Ia belajar ekonomi dan sosiologi di Columbia University, meneliti kemiskinan di Hell’s Kitchen, tempat orang-orang hidup di pinggir maut setiap hari. Keluarganya menentang keras. Tapi Frances tidak peduli apa kata orang. Iman di hatinya terlalu kuat untuk dikalahkan oleh norma sosial.

Ketika ia menyaksikan 146 perempuan muda tewas terbakar dalam kebakaran pabrik Triangle Shirtwaist, Frances tahu hidupnya tidak akan sama lagi. Ia berdiri di jalan dan melihat gadis-gadis melompat dari jendela lantai sembilan—karena pintu keluar dikunci. Ia tidak bisa menutup mata. Ia berjanji kepada Tuhan, “Kematian mereka tidak akan sia-sia.”

Janji itu menjadi panggilan hidup. Frances memperjuangkan undang-undang keselamatan kerja, jam kerja maksimal, dan hak-hak buruh. Ia tidak hanya marah, tapi bertindak. Ia membawa bukti, data, dan hati nurani ke ruang-ruang rapat penuh pria berkuasa. Mereka menertawakannya, menyebutnya keras kepala, bahkan “wanita tidak wajar.” Tapi Frances tahu siapa yang ia layani. Bukan mereka, melainkan Tuhan yang menaruh kasih terhadap yang lemah.

Ketika Presiden Roosevelt memintanya menjadi Menteri Tenaga Kerja—wanita pertama dalam sejarah Amerika—Frances tidak langsung mengiyakan. Ia menyerahkan daftar syarat: kerja 40 jam seminggu, upah minimum, jaminan sosial, asuransi pengangguran, dan penghapusan pekerja anak. Roosevelt kaget. “Itu mustahil,” katanya. Frances menjawab tenang, “Kalau begitu, carilah orang lain.” Dan Roosevelt memilihnya juga.

Selama dua belas tahun ia berjuang, diserang, difitnah, bahkan disebut komunis. Tapi Frances tidak goyah. Ia tahu siapa yang memanggilnya. Ia percaya iman tanpa tindakan adalah mati. Firman Tuhan berkata, “Apa pun yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku.” Itulah keyakinan yang membuat Frances berdiri teguh, bahkan ketika seluruh sistem menentangnya.

Hari ini, setiap kali kita menerima gaji dengan upah lembur, menikmati akhir pekan, atau melihat pintu keluar darurat di gedung—itu semua warisan dari perjuangan Frances Perkins. Ia tidak hanya menyaksikan penderitaan; ia menjadikan imannya sebagai bahan bakar untuk mengubah dunia.

Iman bukan sekadar keyakinan di kepala, tetapi arah hidup yang kita jalani setiap hari. Frances membuktikan bahwa iman yang dihidupi, yang diwujudkan dalam tindakan nyata, mampu menegakkan keadilan dan memulihkan martabat manusia. Ia tidak perlu berteriak tentang Tuhan—hidupnya sendiri sudah menjadi kesaksian yang berbicara.

Dunia mungkin tidak lagi mengingat namanya, tapi setiap orang yang bekerja dengan layak, setiap lansia yang menerima jaminan sosial, dan setiap anak yang belajar di sekolah alih-alih di pabrik—adalah bukti nyata bahwa iman yang dihidupi bisa menyalakan terang di tengah kegelapan. Frances hidup untuk membuktikan satu hal: iman sejati selalu melahirkan tindakan yang memuliakan Tuhan dan memanusiakan manusia.

“Faith in action is love, and love in action is service.” – Mother Teresa.

Iman yang diwujudkan adalah kasih, dan kasih yang diwujudkan adalah pelayanan. – Mother Teresa.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3