Articles

“Dari Menara Yueyang ke Makam Raja Chu: Renungan yang Menggetarkan Hati”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Dari Menara Yueyang ke Makam Raja Chu: Renungan yang Menggetarkan Hati”

Yueyang langsung memikat sejak pertama kali kami tiba. Kotanya bersih, rapi, dan punya pesona yang lembut tapi kuat. Dari kejauhan, tiga jembatan megah berdiri sejajar, termasuk jembatan gantung tiga kilometer yang membuat perjalanan terasa seperti melayang di atas Danau Dongting. Namun permata sejatinya adalah Yueyang Tower, salah satu dari tiga menara agung di Tiongkok. Dahulu berfungsi sebagai menara pengawas militer, atapnya berbentuk seperti helm jenderal. Menara kayu klasik yang dibangun kembali oleh Lu Shu dengan 15.000 pekerja ini berdiri anggun, menghadap danau dan sejajar dengan Sungai Yangtze. Rasanya seperti melihat pintu menuju masa silam.
Di seberangnya, Blanhe Street menawarkan suasana traditional yang asri dengan deretan toko untuk berbelanja.

Keesokan harinya kapal merapat di Jingzhou. Kota ini seperti kapsul waktu yang terangkat perlahan dari bawah tanah, memperlihatkan sejarah yang lama tersembunyi. Kami mengunjungi King of Chu Chariots and Horses Museum, situs penemuan makam raja Chu yang paling lengkap dari sekitar 2.200–2.500 tahun lalu pada masa Negara Chu. Di sinilah perjalanan benar-benar membuka mata.

Raja Chu yang dimakamkan di sini meninggal sekitar usia 50 tahun dan dibaringkan bersama 64 selir, sekitar 70 pelayan, seekor anjing pemburu, serta 164 kuda yang konon dikubur hidup-hidup. Pada masa itu, orang percaya bahwa kehidupan di bumi adalah cermin kehidupan di kekekalan. Karena itu raja membawa seluruh “dunia”-nya ke alam baka: harta, permaisuri, selir, pelayan, kereta, bahkan anjing pemburu kesayangannya. Mereka tidak melawan—konon karena semuanya diberi alkohol dan campuran tertentu sebelum dikubur.

Pandangan inilah yang membuat banyak makam raja, baik di Tiongkok maupun Mesir, dijarah habis karena penuh benda berharga. Makam Raja Chu ini menjadi satu-satunya yang ditemukan masih utuh karena posisinya sangat dalam.

Tiga jenis kereta ditemukan: kereta perang, kereta transportasi, dan kereta upacara. Menariknya, meski ia hanya raja daerah dan seharusnya memakai kereta dengan empat kuda, ia memilih kereta berkuda enam—simbol raja besar. Rupanya ambisinya ikut terkubur bersama tubuhnya.

Bagian pertama museum membawa kami langsung ke makam asli. Peninggalan itu dilindungi kaca super tebal, dengan suhu ruangan dijaga sesuai kondisi tanah tempat makam ditemukan.

Setelah itu kami melihat relic aslinya—kereta dan perlengkapannya yang sudah dibersihkan dan ditata ulang. Dalam salah satu area, tampak 66 kereta dan 258 kuda, disusun rapi dalam formasi yang memukau.

Makam ini tetap tersembunyi selama 2.500 tahun karena letaknya yang sangat dalam. Baru ditemukan pada 1979 ketika proyek bendungan dikerjakan, dan dibuka untuk publik pada 2005. Hingga kini, baru dua pertiga area yang dibuka, sisanya sengaja disimpan untuk penelitian masa depan.

Kunjungan ini menyadarkan betapa sia-sianya membawa harta ke kubur. Tuhan memberi hidup supaya kita menjadi berkat bagi sesama, bukan menimbun kemegahan yang akhirnya terkubur tanpa makna. Pada akhirnya, keselamatan yang sejati hanya ada di dalam Tuhan Yesus-bukan pada apa yang kita bawa, tetapi pada Dia yang memimpin hidup kita.
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”

“Aim at heaven and you will get earth thrown in. Aim at earth and you get neither.” – CS Lewis.

“Fokuslah pada surga, maka bumi akan mengikuti. Fokus pada dunia, maka keduanya hilang” – CS Lewis.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Mengapa Sebagian Orang Menyalahkan Tuhan Karena Keadaannya? (Part 2).”
Pelayanan Itu Panggilan, Bukan Sekadar Pilihan
Di Mana Solusi Permasalahan Kita?