Articles

From Garage to the World (Part 3) – Indah Rencana-Mu: Saat Tuhan Memberi Kesempatan Kedua.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

From Garage to the World (Part 3) –
Indah Rencana-Mu: Saat Tuhan Memberi Kesempatan Kedua.

Ada kalanya hidup menekan kita sampai ke titik nadir, ketika semua kekuatan seolah lenyap, dan yang tersisa hanyalah napas serta doa yang lirih. Di saat seperti itu, Tuhan sering kali turun tangan — bukan dengan suara gemuruh, tetapi lewat bisikan lembut: “Anakku, Aku beri engkau kesempatan kedua.”

Itulah yang dialami Vincent Lianto. Pengusaha yang memulai langkahnya dari sebuah garasi kecil di Denpasar ini telah menembus banyak batas keberhasilan. Namun pandemi datang membawa badai yang tidak bisa diatasi oleh uang, jabatan, atau pengaruh siapa pun. Ia berhadapan dengan maut.

Ketika tubuhnya melemah dan napasnya nyaris habis, ia tidak lagi berdoa dengan kata-kata panjang. Hanya satu kalimat lirih yang keluar dari hatinya, “Tuhan, tolong saya…” Dan di saat tak berdaya itu, keajaiban terjadi. Dalam ketidaksadaran, ia melihat sinar terang dan mendengar suara yang begitu lembut, tapi tegas: “Anakku, Aku berikan hidup baru untukmu.” Saat terbangun dari ventilator, air matanya mengalir—bukan karena takut, tapi karena sadar betapa rapuh hidup ini dan betapa besar kasih Tuhan yang memulihkannya.

Di ICU, kasih hadir dalam bentuk sederhana namun nyata. Doa istrinya dan anak-anak, pesan semangat dari sahabat, suster yang membisikkan doa di telinga, dan dokter yang berdoa sebelum tindakan. Semua menjadi saluran kasih Tuhan yang bekerja di balik peralatan medis dan dinding rumah sakit. Lianto menyadari, mujizat bukan hanya soal sembuh dari sakit, melainkan menemukan kembali kasih yang menopang saat manusia tak lagi mampu berbuat apa-apa. Tuhan bekerja melalui banyak tangan manusia.

Saat akhirnya ia bisa berjalan lagi, menaiki tangga, bahkan kembali menyetir mobilnya sendiri, Lianto tahu, ia tidak hanya disembuhkan secara fisik. Ia dipulihkan secara makna. Kesempatan hidup kedua membuatnya memandang segala sesuatu dengan kacamata baru. Bisnis, jabatan, dan pencapaian tidak lagi menjadi pusat hidupnya. “Tuhan memberi saya hidup baru. Saya tidak mau menyia-nyiakannya. Saya ingin hidup saya berarti — menjadi berkat bagi orang lain,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Ia mulai menurunkan tempo kerja, memberi waktu lebih banyak untuk keluarga, mendukung pelayanan, dan menolong siapa pun yang datang kepadanya. Ia menemukan kebahagiaan bukan dari angka dan target, tetapi dari memberi dan mengasihi. Dari situ, hidupnya benar-benar berubah arah: dari sekadar mengejar sukses menjadi membagikan berkat.

Suatu hari ia merenungi persahabatan masa SMA-nya yang masih terjalin hangat hingga kini. Bersama sahabat-sahabat lamanya yang menamakan diri BHG Group – Bahagia Group, mereka menjadi seperti keluarga rohani yang saling menopang. Mereka sering berkumpul, tertawa, bermain pingpong, dan berdoa bersama. Nana bercerita tentang bagaimana Lianto dengan tulus mengantar hospital bed untuk ibunya yang sakit tanpa mau dibayar. Anto mengenang kerendahan hatinya yang tak berubah meski sudah begitu sukses. Lenna berkata lembut, “Vincent itu bukan hanya teman, tapi terang bagi kami.”

Melalui mereka, Lianto kembali belajar arti kasih yang sesungguhnya: hadir bagi sesama, mendengar dengan hati, dan memberi tanpa pamrih. Ia menemukan wajah Tuhan bukan di altar megah, melainkan di hati yang peduli.

Kini, ketika menatap ke belakang, ia menyadari bahwa setiap kegagalan, air mata, dan peristiwa yang dulu terasa pahit, ternyata hanyalah bagian kecil dari mosaik besar rancangan Tuhan. Dari garasi kecil di Denpasar hingga ekspor alat medis ke luar negeri, dari tabung oksigen di ICU hingga napas baru yang Tuhan tiupkan, semua terjalin dalam satu desain ilahi. “Tuhanlah yang memiliki rancangan. Saya hanya alat kecil dalam rencana besar-Nya. Sungguh, indah rencana-Mu,” ucapnya pelan.

Hidup yang diberi kesempatan kedua bukan sekadar hidup kembali, melainkan hidup dengan kesadaran baru. Bahwa waktu adalah anugerah. Bahwa setiap orang yang hadir di hidup kita adalah saluran kasih Tuhan. Dan…. keberhasilan sejati tidak diukur dari berapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa dalam kita mengasihi.

Kini Vincent Lianto tidak lagi berlari mengejar dunia, melainkan berjalan perlahan bersama Tuhan — langkah demi langkah, dalam syukur.

“We make a living by what we get, but we make a life by what we give.”
— Winston Churchill

“Kita mencari nafkah dari apa yang kita dapat, tapi kita membangun kehidupan dari apa yang kita berikan.”— Winston Churchill

Hhmmm….Seruput Kopi Cantik kita…?
Hidup bukan sekadar bertahan, tetapi menemukan makna di balik setiap napas yang Tuhan beri. Dan ketika hati kita belajar berkata, “Terima kasih, Tuhan, untuk kesempatan kedua ini,” hidup pun berubah menjadi persembahan syukur yang indah.

“In the middle of every difficulty lies opportunity.” — Albert Einstein

“Di tengah setiap kesulitan, tersimpan sebuah kesempatan.” — Albert Einstein

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Mau Hidup Damai Melampaui Masalah? Ini Rahasianya!
“Foto, Tiktok, dan Tuhan: Bagaimana Kehadiran Orang Lain Mengubah Hidup”
Edisi Menyambut Tahun Baru 2023:Artificial Intelligence & Masa Depan Dunia.