From Garage to the World (Part 2)
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
From Garage to the World (Part 2)
Kadang Tuhan menumbuhkan kita justru lewat ketidaknyamanan yang panjang. Itulah yang saya rasakan saat membaca perjalanan Lianto—dari seorang pemasar sederhana yang memulai lagi dari nol, bekerja dari garasi mungil, sampai akhirnya menembus negeri seberang. Ada satu benang merah yang terasa hangat: ketika kita memilih setia, Tuhan menata langkah—pelan tapi pasti.
Ketika bisnis lamanya berhenti, Lianto tidak duduk meratapi nasib. Ia bangkit, menerima pekerjaan apa pun yang ada, dan selalu memberi lebih dari yang diminta. Hari pertama menjadi sales AC, ia langsung berhasil menjual. Dari sana ia belajar dua hal sederhana yang jadi fondasi hidupnya: ketulusan membuka pintu, dan disiplin menjaga kepercayaan. Ia tidak menunggu dunia ramah, tapi melangkah dulu—dan dunia kemudian mengikuti.
Saat krisis 1998 mengguncang, ia dan Nia, istrinya, mengambil langkah iman: pindah ke Bali dan memulai usaha dari garasi kecil di rumah kontrakan. Ruang tamu dijadikan kantor, dapur jadi gudang, Nia menulis invoice dan melayani pelanggan sambil tetap menjaga semangat keluarga. Tidak ada yang mewah, tapi semuanya dijalani dengan jujur. Dari titik nol itu lahir nilai-nilai yang kelak menjadi DNA DV Medika: kerja rapi, janji ditepati, pelanggan diperlakukan sebagai sahabat.
Suatu hari, DV Medika mengalami ujian besar. Saat mengirim CT Scan ke RS BaliMed, unit besar itu pecah. Situasi seperti itu bisa membuat siapa pun panik dan mencari alasan. Tetapi Lianto memilih tanggung jawab penuh. Tanpa banyak bicara, ia mengirim unit pengganti, memastikan rumah sakit tetap bisa melayani pasien tanpa penundaan. Kerugian memang besar, tapi reputasi dan nama baik, jauh lebih mahal. Ia pernah berkata, “Kalau ada masalah, biar saya yang susah; pelanggan jangan ikut repot.” Keputusan yang tampak “merugikan” itu justru menjadi batu penjuru kepercayaan. Orang bisa lupa harga, tapi tidak pernah lupa sikap.
Integritas yang diuji dalam gelap itu menjadi dasar semua keberhasilan berikutnya. Dari distributor yang setia, DV Medika naik kelas menjadi produsen alat kesehatan lokal berstandar internasional. Lianto membangun pabrik sendiri, menanamkan nilai kejujuran dan kemauan belajar pada timnya. Ia yakin, bisnis bukan sekadar mencari untung, tapi memberi manfaat bagi banyak orang. Tuhan memberkati kerja keras itu lewat hal yang paling membahagiakan: ekspor pertama ke Malaysia. Di Kendal, kendi dipecahkan sebagai tanda syukur, lima kontainer hospital bed buatan Indonesia berlayar meninggalkan dermaga. Bukan sekadar kiriman barang, tetapi surat cinta dari tangan anak bangsa kepada dunia. Bukankah ini cara Tuhan menulis cerita? Ia mulai dari garasi sempit, menguji lewat CT Scan yang pecah, lalu memuliakan lewat kontainer yang berangkat. Semua berawal dari kesetiaan pada perkara kecil.
Kini, setelah melalui banyak tahap, Lianto semakin sadar bahwa bisnis hanyalah panggung untuk melayani dan memuliakan Tuhan. Ia belajar berhenti sejenak, menghirup udara pegunungan, dan mengingat bahwa setiap keberhasilan bukan hasil kekuatan manusia, melainkan kasih karunia Tuhan. Ia mengajarkan kita bahwa semakin tinggi kita naik, semakin dalam kita harus berakar dalam kerendahan hati.
Itulah yang mendorong lahirnya Dusun Bedugul Asri—tempat di mana Lianto menanam kembali harapan. Bedugul bukan sekadar mencari keuntungan, namun Lianto memiliki tujuan lain, bahwa hidup kita harus berarti bagi orang lain. Itu jauh lebih bermakna. Bagaimana caranya memberdayakan petani lokal, membuka pasar mingguan, membantu mereka menjual hasil bumi tanpa perantara, bahkan melatih masyarakat untuk mengelola penginapan dan wisata edukatif. Ia ingin warga desa merasakan kebanggaan dan kemandirian, bukan belas kasihan. Di sana, bisnis bertemu kasih, dan iman berbuah dalam tindakan nyata.
Ketika saya mendengar kisahnya, saya teringat satu kebenaran sederhana: Tuhan tidak menilai seberapa tinggi kita mendaki, tetapi seberapa banyak kehidupan yang disentuh oleh langkah kita. Dari garasi kecil di Denpasar sampai kebun hijau di Bedugul, Lianto menulis kisah tentang kesetiaan, tanggung jawab, dan kasih yang bekerja melalui iman.
Mari kita pun bekerja dengan hati yang sama. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa besar perusahaan yang kita bangun yang menjadi warisan sejati, tetapi seberapa banyak orang yang diberkati melalui kehadiran kita. Karena produk terbaik yang bisa kita kirim ke dunia bukan sekadar barang—melainkan karakter, kasih, dan kehidupan yang memuliakan Tuhan.
“Try not to become a person of success, but rather try to become a person of value.” – Albert Einstein
“Janganlah berusaha menjadi orang sukses, tapi jadilah pribadi yang bernilai.”– Albert Einstein
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

