Ukuran Hidup Itu Bukan Seberapa Hebat Kita, Tapi Seberapa Dalam Jejak yang Kita Tinggalkan…
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Ukuran Hidup Itu Bukan Seberapa Hebat Kita, Tapi Seberapa Dalam Jejak yang Kita Tinggalkan…
HIDUP KITA AKAN BERNILAI APABILA ADA ORANG YANG MERASA BERSYUKUR TELAH BERTEMU DENGAN KITA.”
FRANZ MAGNIS SUSENO –
Wuih… senangnya, quotes Franz Magnis Suseno persis dengan prinsip saya….
Ukuran kebermaknaan hidup bukan terletak pada berapa banyak harta, jabatan, atau popularitas yang kita miliki, melainkan pada jejak kebaikan yang kita tinggalkan dalam kehidupan orang lain. Hidup yang bernilai adalah hidup yang menghadirkan rasa syukur bagi orang-orang di sekitar kita—entah karena kebaikan sederhana, ketulusan dalam membantu, atau sekadar kehadiran yang menenangkan.
Kata-kata ini menyentuh dan menyadarkan. Karena di tengah dunia yang ramai mengejar sorotan, kita sering lupa bahwa hidup bukan soal jadi yang paling menonjol, tapi soal apakah orang lain bersyukur karena pernah mengenal kita. Dalam realitasnya, banyak orang terjebak dalam pencarian nilai yang semu—mengejar pengakuan, like, view, followers, atau posisi. Padahal, seseorang yang hidupnya biasa-biasa saja bisa meninggalkan kesan yang luar biasa, jika hatinya tulus dan kehadirannya membawa damai.
Nilai hidup tidak selalu muncul dalam bentuk prestasi besar. Justru sering terlihat dalam hal-hal kecil yang konsisten: senyum yang menguatkan, pelukan yang menyembuhkan, kesediaan mendengar tanpa menghakimi. Kita semua mungkin tidak bisa hebat seperti tokoh-tokoh besar, tapi kita bisa menjadi orang yang menghadirkan rasa aman dan sukacita bagi orang lain.
Apakah kehadiran kita memberi cahaya? Atau malah meninggalkan bayangan kelam?
Kita perlu bertanya: ketika kita tidak ada, apakah orang lain akan merasa kehilangan? Atau justru merasa lega?
Karena yang abadi bukanlah nama besar, melainkan jejak hati yang tertanam dalam hidup orang lain.
Saya tidak pernah menyangka, lewat hobi menulis, Tuhan membuka begitu banyak pintu. Saya dipertemukan dengan banyak orang, mendengar cerita hidup mereka, ikut mendoakan, tertawa bersama, bahkan menangis bersama. Tapi yang lebih mengejutkan—sering kali bukan saya yang memberkati mereka, justru saya sendiri yang paling banyak belajar. Setiap tulisan bukan hanya berbicara kepada orang lain, tapi sedang mengajar saya sendiri. Tuhan sungguh baik.
Tidak ada kebahagiaan yang melampaui saat kita tahu hidup kita bisa jadi saluran berkat. Itu sukacita yang tak bisa dibeli, tak bisa diukur dengan materi. Tapi saya tahu juga: ini bukan karena saya hebat. Sejujurnya, ini semua karena Tuhan yang mengorkestrasi semuanya dengan sempurna.
Seperti kisah yang baru-baru ini saya alami. Ibu Hermini mengirim pesan,
“Bu, saya di detik yang sama sedang mengetik untuk mengungkap rasa kecewa. Pas di baris kelima sedang nulis, WA dari Ibu masuk. Saya berhenti menulis karena ingin baca dulu. Ternyata isinya tentang KECEWA. Aduh Tuhan… Engkau tahu hati hamba-Mu saat sedang sedih. Saya langsung hapus tulisan saya. Terima kasih Tuhan. Terima kasih Bu Yenny.”
Saya terdiam membaca pesan itu. Ini bukan kebetulan. Ini Tuhan yang bekerja—tepat waktu, tepat sasaran. Saya hanya menulis karena merasa perlu, tapi Tuhan tahu siapa yang sedang membutuhkan kata-kata itu, dan mengaturnya sampai tepat waktu masuk ke ponsel seseorang yang sedang nyaris tenggelam dalam rasa kecewa.
It’s all about God, not us.Tuhanlah yang menjadikan hal sederhana tampak luar biasa. Tapi saat kita taat, saat kita bersedia dipakai, Tuhan membuat kita kelihatan lebih *“awesome”* dari diri kita yang sebenarnya. Bukan karena kita hebat, tapi karena Tuhan yang luar biasa bekerja melalui hidup yang biasa-biasa saja.
Dan itulah warisan terbaik. Bukan sekadar nama, harta, atau posisi. Tapi kehidupan yang menghadirkan rasa syukur di hati orang lain. Ketika mereka tersenyum, dan berkata dalam hati, “Terima kasih Tuhan, aku pernah mengenalnya.”
“The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.”— Mahatma Gandhi
“Cara terbaik menemukan jati dirimu adalah dengan mengabdikan dirimu bagi sesama.”— Mahatma Gandhi.
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama
