Tag Archives: #SeruputKopiFirman #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

Name it, Claim it!

Seruput Kopi Firman
Yenny Indra

Name it, Claim it!

Kebanyakan orang langsung pasang alis ketika mendengar frasa ini. Name it, claim it! Wah… itu sih teologi kemakmuran! Ajaran sesat! Katanya begitu.

Tapi tunggu dulu…
Tahukah kita, bahwa setiap orang percaya yang lahir baru sebenarnya sudah menjalani prinsip ini?

Mari kita lihat dari awal. Saat seseorang percaya kepada Yesus, lalu mengakuinya sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia diselamatkan. Itu bukan karena usaha, bukan karena ritual tertentu, bukan pula karena hasil kerja keras. Kita cukup percaya dalam hati, dan mengaku dengan mulut — dan selamat!
Nah, bukankah itu sama dengan ‘Name it, Claim it’?

Istilah “Name it, Claim it” sering dipakai untuk menggambarkan iman yang salah kaprah: seolah-olah cukup menyebut sesuatu, maka otomatis kita berhak memilikinya. Banyak yang mengkritik karena dipahami seperti “sulap rohani” atau “keinginan daging dibungkus iman.”

Namun kalau kita luruskan sesuai Firman Tuhan, maknanya bukan sembarangan klaim, melainkan: “Deklarasikan janji Tuhan dan terimalah dengan iman.”

Tuhan sudah menawarkan keselamatan itu dalam Perjanjian Baru. Dan kita tinggal mengklaim dengan iman.
Bukan kita yang menciptakan janji itu. Tuhan yang lebih dulu menyediakannya.
Kita hanya percaya dan mengambilnya.

Dalam hal keselamatan, orang Kristen hampir tidak pernah protes.
Tapi giliran menyangkut kesembuhan, damai sejahtera, kecukupan, perlindungan, sukacita, hikmat, dan semua janji lainnya yang sudah dinamai oleh Tuhan dalam penebusan Kristus — langsung jadi kontroversi.

Padahal, prinsipnya sama.
Kalau Tuhan sudah menjanjikan dan menyediakannya, artinya kita boleh menerimanya.
Kita tidak sedang memaksa Tuhan. Kita hanya menerima apa yang sudah Dia sediakan.

Yesus sudah menang di salib. Artinya, semua manfaat dari penebusan — keselamatan, kesehatan, berkat, kedamaian, kemenangan atas dosa dan iblis — itu semua sudah jadi milik kita.
Ibarat rekening bank, isinya sudah ada. Tinggal kita ambil sesuai kebutuhan.
Tetapi banyak orang hidup seperti pengemis rohani.
Sudah punya warisan, tapi tidak pernah dicairkan. Sudah punya janji, tapi tidak pernah diklaim.

Kenapa?
Karena kita belum paham. Atau takut dikira serakah. Atau diajari bahwa Tuhan hanya memberi kepada orang-orang tertentu.
Padahal, Firman Tuhan berkata, “Segala janji Allah dalam Kristus adalah ‘ya’ dan ‘amin.’” (2 Korintus 1:20)
Artinya, boleh! Bahkan harus!
Itu bukan arogansi. Itu iman.

Tapi…
Bukan berarti kita bisa seenaknya menamai apa yang kita mau, lalu mengklaim seenaknya juga.
Bukan berarti kita bisa asal “speak – asal menyebutkan” mobil mewah, rumah megah, dan pasangan idaman tanpa dasar Firman.
Tuhan tidak menjanjikan semua keinginan kita.

Yang bisa kita klaim adalah apa yang sudah disediakan dalam penebusan Kristus.
Kita perlu tahu identitas, panggilan, dan tujuan hidup kita.
Iman itu bekerja kalau selaras dengan kehendak Tuhan — bukan sekadar menuruti hawa nafsu.

Ada batas yang jelas antara iman dan ambisi pribadi.

Karena itu penting bagi kita untuk belajar dan mengenal isi perjanjian yang sudah Tuhan berikan kepada kita.
Semakin kita tahu siapa kita di dalam Kristus, semakin berani kita hidup dalam otoritas anak-anak Allah.
Tuhan senang kalau kita percaya penuh kepada-Nya. Dia tidak pelit. Dia Bapa yang baik.

Kalau kita tidak berani percaya dan mengklaim, bukan karena Tuhan tidak mengasihi kita.
Seringkali karena kita tidak tahu bahwa janji itu sebenarnya milik kita.
Iblis suka menipu. Membuat kita merasa tidak layak, minder, atau ragu-ragu.
Padahal justru iman yang percaya kepada janji Tuhan itulah yang membuat kita menang.

Jadi…
Apakah kita masih takut dibilang ikut teologi “name it, claim it”?
Biarlah orang berkata apa saja.
Yang penting, kita tahu siapa identitas kita di dalam Kristus. Kita tahu apa yang sudah Tuhan sediakan. Dan kita berani mengambilnya dalam iman.

Bersyukurlah karena Tuhan kita bukan Tuhan yang pelit.
Dia sudah siapkan segalanya. Sekarang tinggal kita… name it… and claim it!

“Faith only appropriates what God has already provided by grace.” – Andrew Wommack.

“Iman hanya mengambil apa yang sudah Allah sediakan melalui kasih karunia” – Andrew Wommack.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirman
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Diterima, Baru Bisa Menerima – Kasih yang Menyembuhkan

Seruput Kopi Firman
Yenny Indra

Diterima, Baru Bisa Menerima –
Kasih yang Menyembuhkan

Hati manusia itu unik. Ketika ia merasa ditolak, ia bisa berubah keras, dingin, dan pahit. Tapi ketika ia merasa diterima dan dikasihi—meski sedang dalam keadaan paling buruk—ada sesuatu yang melembut. Yang retak bisa pulih. Yang tersesat bisa pulang.

Franklin Graham, anak dari penginjil besar Billy Graham, tahu betul rasanya diterima tanpa syarat. Dalam otobiografinya Rebel with a Cause, ia menceritakan masa mudanya yang liar, keras kepala, dan jauh dari kehidupan rohani. Ia mencoba berbagai hal untuk mencari identitas—rokok, alkohol, balapan motor, hingga keluar masuk sekolah.

Pernah satu hari, dengan suara bising Harley Davidson dan jaket kulit dekil, Franklin menerobos masuk ke ruang tamu, tempat ayahnya sedang menjamu tamu-tamu penting. Cambangnya lebat, wajahnya berdebu, dan suaranya menuntut uang.

Situasi memalukan? Jelas.

Tapi Billy Graham tidak berkata, “Maaf ya, anak saya sedang bermasalah.”
Sebaliknya, ia berdiri, tersenyum, dan berkata dengan bangga, “Ini anak saya, Franklin.”

Tanpa penjelasan. Tanpa pembelaan.

Di saat banyak orang memilih menjaga image, Billy memilih menjaga hati anaknya. Ia tahu, harga diri Franklin lebih berharga dari reputasi di mata publik.
Dan kasih itulah yang akhirnya meluluhkan hati Franklin, membawa dia kembali pada Tuhan, dan menjadikannya pewaris pelayanan besar ayahnya.

Hari ini, Franklin Graham dikenal sebagai Presiden dari Samaritan’s Purse, sebuah organisasi kemanusiaan yang melayani korban bencana, perang, dan kelaparan di seluruh dunia. Ia juga memimpin Billy Graham Evangelistic Association (BGEA), dan sering diundang untuk berdoa bersama Presiden Amerika Serikat serta para pemimpin dunia. Tapi semua itu tidak dimulai dari panggung. Semuanya dimulai dari satu pelukan kasih di tengah pemberontakannya.

Karena Franklin pernah mengalami kasih yang menerima, ia pun belajar menjadi pribadi yang menerima.

Bertahun-tahun kemudian, dunia menolak seorang penginjil bernama Jim Bakker. Ia dipenjara karena kasus keuangan. Yang tadinya dielu-elukan, kini membersihkan toilet penjara. Di titik itu, Billy Graham datang. Tanpa kamera. Tanpa panggung. Ia memeluk Jim dan berkata, “Jim, I love you.”

Pelukan itu bukan basa-basi. Itu kasih yang turun tangan saat semua orang menjauh.

Franklin ikut turun tangan. Ia berkali-kali datang ke penjara, menyemangati Jim dan para napi lainnya. Ruth Graham, istri Billy, bahkan menelepon dan mengundang Jim duduk bersama mereka di gereja. Ruth menepuk kursi di sebelahnya dan berkata, “Aku ingin kamu duduk di sini.” Setelah ibadah, mereka makan malam bersama.
Saat melihat Jim membawa amplop sebagai dompet (karena di penjara dompet dilarang), Ruth masuk dan keluar lagi membawa dompet Billy Graham.
“Billy nggak butuh ini sekarang. Kamu pakai saja,” katanya lembut.

Franklin bahkan menyediakan rumah, mobil, dan pendampingan agar Jim bisa membangun kembali hidupnya. Semua itu bukan karena Jim layak. Tapi karena Franklin ingat: dulu aku pun tidak layak, tapi tetap diterima.

Itulah kekuatan kasih yang menerima.

Bukan hanya menyelamatkan hubungan. Tapi menyelamatkan hidup seseorang.

Banyak dari kita cepat menuntut perubahan orang lain, tapi lupa bahwa hati seseorang tidak akan pernah berubah karena dikritik. Hati berubah karena dikasihi.
Bukan saat dia sempurna, tapi justru saat dia paling rapuh.

Tuhan pun memperlakukan kita begitu. “Tuhan rela mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”
Artinya, Dia menerima kita dulu, baru mengubahkan.

Kalau kita sudah menerima kasih seperti ini, maka kita pun bisa menjadi salurannya bagi orang lain. Tidak harus dengan khotbah. Tapi lewat pelukan, telepon, atau sekadar berkata, “Aku di sini buat kamu.”

Dunia tidak butuh lebih banyak penghakiman.
Dunia butuh lebih banyak orang yang berani mengasihi seperti Kristus.

Dan kuncinya sederhana:
Ketika kita diterima, kita lebih mudah menerima. Ketika kita dikasihi, kita pun bisa mengasihi.
Di situlah wajah Tuhan terlihat di dunia.

“The people who are hardest to love are the ones who need it the most.”
— Rick Warren

“Orang yang paling sulit dikasihi justru sering yang paling membutuhkan kasih.”
— Rick Warren

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirman
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

*”Wadah Imanmu Menentukan Seberapa Banyak Mujizat Tercurah”*

Seruput Kopi Firman
Yenny Indra

*”Wadah Imanmu Menentukan Seberapa Banyak Mujizat Tercurah”*

Pagi ini saya merenungkan tentang hidup seorang hamba Tuhan bernama John G. Lake. Ia dikenal sebagai penginjil yang mendirikan rumah sakit tanpa obat. Bukan berarti ia menolak ilmu kedokteran, tetapi karena ia begitu yakin bahwa doa dan iman mampu mengalahkan penyakit. Tahun 1915, ia membuka Healing Rooms di Spokane, Washington. Bukan rumah sakit biasa—tidak ada dokter, tidak ada resep, hanya doa dan iman. Setiap pasien yang datang didoakan setiap hari oleh tim rohani yang diperlengkapi, sampai mereka mengalami kesembuhan.

Hasilnya sungguh mencengangkan. Lebih dari 100.000 orang bersaksi sembuh dalam kurun waktu hanya lima tahun. Bahkan catatan resmi pemerintah Amerika menyebut Spokane sebagai “kota tersehat di Amerika.” Itu semua bukan karena obat-obatan, tetapi karena orang-orang sederhana yang percaya penuh bahwa Tuhan masih sanggup menyembuhkan.

Apa yang membuat kisah ini begitu istimewa? Bukan semata-mata mujizat yang terjadi, melainkan keberanian seseorang yang menghidupi imannya. John G. Lake sungguh yakin bahwa kuasa yang sama yang membangkitkan Yesus dari kematian sudah diberikan kepada setiap orang percaya.
Pertanyaannya, seberapa banyak dari kuasa itu yang kita realisasikan dalam hidup sehari-hari?

Hal ini mengingatkan saya pada kisah Raja Yoas dan Nabi Elisa. Saat Elisa sakit keras, Raja Yoas datang menemuinya dan menangis. Elisa kemudian menyuruhnya mengambil busur dan anak panah. Dengan tangannya sendiri, Elisa meletakkan tangan di atas tangan Raja Yoas dan mengarahkannya menembakkan panah ke arah timur, tanda kemenangan Tuhan atas musuh. Setelah itu Elisa berkata, “Ambillah panah-panah itu dan pukulkanlah ke tanah.” Yoas pun memukul tanah—tetapi hanya tiga kali. Elisa menjadi kecewa, karena seharusnya ia memukul lebih banyak kali lagi. Seandainya ia melakukannya, kemenangannya akan penuh dan sempurna. Tetapi karena ia berhenti di tengah jalan, kemenangannya pun hanya sebagian.

Betapa sayangnya. Tuhan sudah menyiapkan kemenangan penuh, tetapi dibatasi oleh kecilnya iman seorang raja. Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan selalu siap memberi lebih, melimpahkan kuasa-Nya tanpa batas. Tetapi seringkali manusialah yang membatasi diri dengan iman yang setengah hati.

Bukankah kita juga sering seperti Yoas? Tuhan sudah mendepositkan kuasa-Nya dalam hidup kita. Ia memberi kesempatan, membukakan jalan, bahkan meletakkan tangan-Nya di atas tangan kita, agar kita yakin bahwa kita tidak berjalan sendirian. Namun kita berhenti terlalu cepat. Kita hanya berani “memukul tanah tiga kali” karena merasa cukup, atau karena takut gagal. Padahal Tuhan siap melakukan jauh lebih besar.

*Iman itu bagaikan wadah. Semakin besar wadah yang kita sediakan, semakin banyak air berkat yang bisa ditampung.*
Tuhan tidak pernah kehabisan. Tetapi kita sering berhenti menuang karena merasa cukup, atau tidak percaya bahwa masih ada lebih banyak lagi.

John G. Lake tidak berhenti di tengah jalan. Ia mengulurkan wadah imannya seluas mungkin. Ia percaya, ia melangkah, dan ia menyaksikan kuasa Tuhan bekerja.

Demikian juga dengan kisah janda miskin yang datang kepada Elisa karena terlilit hutang. Nabi itu memintanya untuk meminjam wadah kosong sebanyak-banyaknya, lalu menuangkan minyak dari buli-bulinya. Minyak itu baru berhenti mengalir ketika tidak ada lagi wadah kosong yang tersedia. Dengan minyak itu, ia melunasi hutangnya dan hidup berkecukupan bersama anak-anaknya.

Tuhan tidak membatasi, manusialah yang berhenti memberi ruang. Hari ini Tuhan mengingatkan, Ia sudah mendepositkan kuasa yang sama di dalam diri kita. Bukan hanya untuk hamba-hamba Tuhan besar, tetapi untuk setiap orang percaya.

*Pertanyaannya sederhana:*
Seberapa intim hubungan kita dengan-Nya, seberapa berani kita melangkah bersama-Nya, seberapa banyak kita bersedia memukul tanah sampai akhir?

Hidup ini singkat. Jangan puas dengan kemenangan yang setengah-setengah. Tuhan menghendaki kita mengalami kepenuhan janji-Nya.

Mari belajar melangkah _hand in hand_ dengan Tuhan, terus menembakkan panah iman, sampai kita melihat kemenangan penuh yang sudah Dia sediakan.

“Faith does not make things easy, it makes them possible.” – Luke 1:37

“Iman tidak membuat segalanya mudah, tetapi membuat segalanya mungkin.” – Lukas 1:37

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirman
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Mintalah, Maka Kamu Akan Menerima.

Seruput Kopi Firman
Yenny Indra

Mintalah, Maka Kamu Akan Menerima.

“Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Lukas 11:9)

Ini janji Yesus sendiri. Bukan pendapat orang. Bukan karangan motivator. Tapi anehnya, banyak orang Kristen berdoa, tapi tidak menerima. Lalu mulai mencari-cari alasan: mungkin belum waktunya, mungkin Tuhan tidak mau.

Padahal, kalau Yesus sudah berkata setiap orang yang meminta akan menerima, berarti masalahnya bukan di Tuhan. Mungkin ada yang salah dalam cara kita berdoa atau cara kita menerima.

Yakobus 4:3 bilang, “Kamu berdoa juga, tetapi tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa.”
Artinya, bukan sekadar minta, tapi kita perlu tahu apa yang sudah dijanjikan Tuhan dalam Firman-Nya. Kalau yang diminta adalah bagian dari penebusan Kristus — pengampunan, damai, kesembuhan, hikmat, pemulihan, jodoh, anak, keuangan — semua itu sudah disediakan. Tinggal bagaimana kita percaya dan menerima.

Kita butuh iman. Ibarat listrik sudah terpasang di rumah, tapi lampu tetap gelap kalau tidak ada yang menyalakan saklar. Firman itu janjinya. Perkataan kita adalah saklarnya. Iman menyalakan kuasa Tuhan. Dan konsistensi adalah kuncinya.

Ini bukan teori. Saya ingin bagikan kisah nyata yang luar biasa — yang tidak hanya terjadi di Amerika, tapi juga sampai Afrika. Karena Firman Tuhan bekerja di mana pun, termasuk di Indonesia!

Tahun 1981, Dodie Osteen didiagnosis kanker hati metastasis. Dokter hanya memberi waktu hidup beberapa minggu. Tapi Dodie memilih percaya pada Firman, bukan vonis dokter. Ia pulang ke rumah, menempelkan ayat-ayat kesembuhan di seluruh rumah, memperkatakan janji Tuhan setiap hari, menolak takut, tetap memasak, tetap bergerak sebagai wujud iman bahwa ia disembuhkan. Ia bahkan berdiri secara harfiah di atas Alkitab, menegaskan bahwa hidupnya berdiri di atas Firman. Tidak instan. Tapi beberapa bulan kemudian, tubuhnya bebas kanker — dokter pun tidak bisa menjelaskan secara medis.

Mengapa Dodie begitu beriman?
Sebelumnya, putrinya Lisa lahir dengan tali pusat melilit leher, tidak bisa minum, duduk, atau menelan. Dokter bilang kemungkinan besar Lisa tidak akan berjalan. Tapi John dan Dodie memilih percaya. Mereka mengucap syukur seperti Lisa sudah sembuh, setiap hari. Secara bertahap Lisa berkembang. Sebelum usia 1 tahun, Lisa sudah bisa berjalan. Kini Lisa sehat, cantik, dan aktif melayani Tuhan.

Pengalaman bersama Tuhan ini membuat Dodie memiliki iman yang terlatih.

Pastor Robert Kayanja dari Uganda pernah datang ke rumah John dan Dodie Osteen, tidak hanya disambut secangkir kopi dan doa. Waktu itu dia belum menikah. Dodie mendoakan dan tak lama dia menikah dengan Jessica. Lalu selama 5 tahun mereka belum punya anak. Dodie mendoakan terus sampai lahir anak pertama, lalu disusul anak kembar.

Saat salah satu putrinya didiagnosis kanker dan divonis hidup 3 bulan, Robert kembali mengingat kesaksian Dodie. Ia berdoa setiap hari, berdiri atas Firman. Dalam kunjungannya ke Amerika, Dodie memberikan sapu tangan yang sudah diurapi untuk ditumpangkan pada anaknya. Hasilnya? Anaknya sembuh total.
Hari ini, Pastor Robert menyebut dirinya Black Osteen, saking bersyukurnya.

Kisah lain yang menggetarkan hati tentang George Müller, penginjil dari Inggis, yang berdoa setiap hari untuk lima orang temannya agar mereka diselamatkan.

Orang pertama bertobat setelah beberapa bulan.
Orang kedua, setelah beberapa tahun.
Orang ketiga, setelah 10 tahun.
Orang keempat, 25 tahun kemudian, sesaat sebelum Müller meninggal.
Orang kelima, bertobat setelah kematian Müller, lebih dari 50 tahun sejak Müller mulai berdoa.

Selama puluhan tahun, Müller tidak pernah berhenti mendoakan mereka, meskipun belum melihat hasilnya. Ia percaya bahwa Tuhan akan menjawab doanya — dan benar, semuanya akhirnya menerima Kristus.
Doa Terjawab!

Apa kunci dari semua ini?
Bukan karena suara Tuhan terdengar, mimpi, penglihatan, atau nubuatan.
Hanya satu: berdiri di atas Firman.
Konsisten. Tidak goyah. Tidak peduli berapa lama atau apa pun keadaannya.
Fakta bisa berubah. Firman Tuhan tidak.

Mintalah, maka kamu akan menerima.
Dan jika Firman ini nyata di Amerika dan Afrika, Firman yang sama bekerja juga di Indonesia.

“Ketika kamu kembali kepada Tuhan, tidak ada yang bisa mengalahkanmu.” — Smith Wigglesworth

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” — Yakobus 4:8

Jadi… Siap berdiri di atas Firman dan menerima apa yang sudah dijanjikan-Nya?

God will pass over a million people just to find someone who believes Him.” – Smith Wigglesworth.

“Tuhan akan melewati sejuta orang hanya untuk menemukan satu orang yang sungguh percaya kepada-Nya.” – Smith Wigglesworth.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#SeruputKopiFirman
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More