Tag Archives: #seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Articles

Kehendak Tuhan Ditemukan Saat Kita Mencari Tuhan, Bukan Mencari Jawaban.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kehendak Tuhan Ditemukan Saat Kita Mencari Tuhan, Bukan Mencari Jawaban.

Ada satu jebakan rohani yang halus, kelihatannya rohani, tapi sebenarnya bikin kita makin bingung. Jebakan itu adalah ketika kita sibuk mencari jawaban, bukan mencari Tuhan.

Saya pernah ada di fase itu. Ada masalah. Ada keputusan. Ada tekanan. Lalu pikiran langsung bekerja keras.
“Bagaimana caranya ya?”
“Mungkin begini.”
“Atau mungkin begitu.”
“Kira-kira Tuhan maunya yang mana?”

Kelihatannya wajar. Bahkan terlihat bijak. Tapi semakin dipikirkan, kok makin ruwet. Makin banyak opsi, makin banyak suara, makin sulit membedakan: ini suara Tuhan atau cuma suara pikiran sendiri?

Di sinilah saya belajar satu kebenaran penting dari pengajaran Andrew Wommack. Saat dia ada di masa paling bingung dalam hidupnya, dia tidak mencari jawaban. Dia mencari Tuhan.

Itu kuncinya.

Andrew tidak sibuk bertanya ke banyak orang. Tidak mengejar pendapat ini dan itu. Tidak menganalisis semua kemungkinan sampai kepalanya penuh. Yang dia lakukan justru sebaliknya. Dia berhenti.

Dia berpuasa.
Dia menjauh dari gangguan.
Dia menghentikan suara manusia.

Dan dia memilih satu hal: hadirat Tuhan.

Ini bertolak belakang dengan kecenderungan kita. Saat butuh jawaban, refleks kita adalah cari solusi instan. Cari orang yang ahli. Cari yang sudah berpengalaman. Cari yang “pernah berhasil”. Dulu saya pikir itu cerdas. Sekarang saya sadar, itu bukan iman. Itu jiwa yang bekerja keras.

Logika dan pengalaman bukan hal yang jahat. Tapi kalau kita bergantung sepenuhnya pada itu, kita sedang beroperasi di tingkat jiwa, bukan roh. Dan keputusan rohani yang sejati tidak lahir dari kebisingan pikiran, tetapi dari keheningan hadirat Tuhan.

Masalahnya, saat kita sibuk memikirkan caranya, pendengaran kita terhadap Tuhan jadi tercemar. Fokus teralihkan. Suara Tuhan yang sebenarnya lembut dan jelas, tenggelam oleh asumsi, ketakutan, dan spekulasi kita sendiri. Akhirnya kita bertanya lagi: “Benarkah ini suara Tuhan?” Padahal kebingungan itu sering bukan karena Tuhan tidak bicara, tapi karena kita terlalu ribut di dalam.

Tuhan tidak pernah kesulitan memberi arahan. Yang sering kesulitan adalah kita yang tidak tenang untuk mendengar.

Pelajaran besar yang saya pelajari adalah ini: kehendak Tuhan tidak ditemukan saat kita mengejar jawaban, tetapi saat kita mengejar Tuhan. Saat fokus kita kembali pada Dia, bukan pada masalah, sesuatu yang menarik terjadi. Arah hidup mulai jelas dengan sendirinya.

Bukan karena kita mendapat peta lengkap. Tapi karena kita berjalan bersama Pribadi yang tahu jalan.

Tuhan punya rencana yang sangat spesifik bagi setiap kita. Bukan versi umum. Bukan meniru orang lain. Bukan hasil copy-paste dari kesaksian orang lain. Arahan Tuhan untuk saya belum tentu sama dengan arahan Tuhan untuk Anda. Karena itu, terlalu sibuk membandingkan justru menjauhkan kita dari suara yang seharusnya kita dengar.

Saat hati kita selaras dengan Tuhan, keputusan menjadi lebih jernih. Bukan selalu lebih mudah, tapi lebih pasti. Ada damai yang tidak bisa dijelaskan. Ada keyakinan yang tidak perlu dibela. Ada ketenangan yang membuat kita tahu: ini Dia.

Jadi, ini pengingat yang sederhana tapi menentukan:
-Jangan kejar petunjuk. Kejarlah Tuhan.
-Jangan kejar jawaban. Kejarlah hadirat-Nya.

Saat Tuhan menjadi fokus utama, jawaban akan datang pada waktunya. Dan sering kali, datang dengan cara yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.

The man who has God for his treasure has all things in One.” – AW Tozer.

“Orang yang menjadikan Tuhan sebagai harta utamanya, memiliki segala sesuatu di dalam Dia – AW Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Batal Terbang Demi Ibadah: Kebetulan, Takdir, atau Ketaatan?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Batal Terbang Demi Ibadah: Kebetulan, Takdir, atau Ketaatan?

Saya membaca kisah ini di sebuah grup WhatsApp. Sederhana, tapi menghantam hati.

Nama Franky D. Tanamal awalnya tercatat resmi dalam manifes penerbangan maut ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar. Semua sudah fix. Nama ada. Jadwal ada. Kursi ada.

Namun sore itu, Franky mengambil satu keputusan kecil yang ternyata mengubah seluruh garis hidupnya. Ia mengajukan izin kepada atasannya untuk tidak ikut terbang. Alasannya bukan darurat medis, bukan urusan keluarga, bukan karena takut naik pesawat. Alasannya satu: *ia harus menjalankan pelayanan ibadah di gereja.*

Keputusan mendahulukan panggilan Tuhan itu menjadi jalan keselamatannya. Pesawat tersebut jatuh di Gunung Bulusaraung, Sabtu (17/1), dan menelan banyak korban jiwa.

“Ia izin tidak ikut terbang karena ada pelayanan ibadah,” ujar rekannya, Rumoton Sitanggang.

Penutup kisah ini, Kisah Franky adalah pengingat indah bagi kita semua: bahwa jika Tuhan sudah berkehendak dan takdir belum waktunya, maka selalu ada cara ajaib bagi-Nya untuk melindungi hamba-Nya. Ketaatan membawa keselamatan

Benarkah demikian?

Dulu, saya juga berpikir hidup ini misteri. Seram. Sewaktu-waktu hal buruk bisa terjadi, dan kita manusia kecil yang tak berdaya. Tuhan berdaulat, katanya. Jadi semua tergantung mood Tuhan. Kalau Dia lagi baik, kita selamat. Kalau tidak, ya sudah.

Jujur saja, pemahaman seperti itu membuat hidup melelahkan dan iman penuh ketakutan.

Namun setelah belajar Firman dengan benar, termasuk dari Greg Mohr, guru saya, maka saya menyadari: Tuhan tidak bekerja seperti itu.

Tuhan bukan Allah yang diam, apalagi acuh. Ia selalu berbicara, selalu memperingatkan, selalu membimbing, dan selalu ingin melindungi anak-anak-Nya. Masalahnya bukan pada Tuhan. Masalahnya pada manusia yang diberi free will dan free choice. Mau dengar atau tidak. Mau taat atau tidak.

Sejak Adam memberontak di Taman Eden, otoritas atas dunia ini jatuh ke tangan iblis. Dunia berada di bawah sistem yang rusak. Malapetaka, kecelakaan, kehancuran, bukan berasal dari Tuhan. Itu strategi iblis untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan.

Tujuan Tuhan jelas dan konsisten: memberi hidup, bahkan hidup yang berkelimpahan. Mati itu tidak hidup. Jadi sumbernya jelas bukan Tuhan. Sesederhana itu.

Greg Mohr sering menegaskan, Tuhan terus memberi sinyal peringatan. Alarm bahaya itu ada. Pertanyaannya, apakah kita peka?

Ia berkata, “Jika hewan saja bisa mengikuti insting mereka dan bergerak ke tempat lebih tinggi sebelum tsunami, bukankah orang yang dipenuhi Roh Tuhan seharusnya lebih lagi mendapat perlindungan dari tsunami keuangan, kesehatan, relasi, dan krisis hidup lainnya?”

Fakta menarik terjadi saat tragedi 9/11 di WTC. Dari seluruh pekerja, hanya sepertiga yang hadir di kantor hari itu. Dua pertiga lainnya tidak masuk, dengan alasan yang beragam. Ada yang sakit, mobil rusak, ada yang merasa tidak tenang tanpa tahu sebabnya.

Bahkan salah satu pesawat yang menabrak menara, hanya berisi 13 penumpang. Sangat tidak lazim.

Kebetulan? Tidak. Itu dorongan. Itu peringatan. Masalahnya selalu sama: apakah kita peka dan taat?

Greg juga pernah mengalami hal serupa. Suatu pagi, hatinya sangat tidak tenang. Ia menahan anak-anaknya untuk tidak berangkat sekolah. Ia dan istrinya berdoa hampir satu jam sampai damai. Setelah itu barulah mereka berangkat.

Di jalan tol, mereka melihat kecelakaan beruntun sekitar 20 mobil. Waktu kejadiannya persis jam biasa Greg lewat di sana.

Pesannya jelas: jangan abaikan peringatan Tuhan.

Kepekaan kita ditentukan oleh kedekatan kita dengan Tuhan. Kita lebih banyak mendengar siapa? Berita dunia atau Firman? Hati kita sensitif ke mana? Benih apa yang kita tanam setiap hari?

Jawaban atas pertanyaan itu menentukan ending hidup kita.
Bukan soal takdir.
Masalahnya: ketaatan.

Pertanyaannya:
Bagaimana dengan kita?

“God speaks in the silence of the heart. Listening is the beginning of prayer.” – – Mother Teresa.

“Tuhan berbicara dalam keheningan hati. Mendengar adalah awal dari doa.” – Mother Teresa

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Saat Es, Salju, dan Keberanian Bertemu di Harbin.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Saat Es, Salju, dan Keberanian Bertemu di Harbin.

Pagi di Harbin itu tidak pernah setengah-setengah. Dinginnya serius. Menusuk. Bahkan rasanya lebih tajam daripada yang pernah kami alami di wilayah Kutub Utara. Tapi justru di situlah keindahannya.

Hari itu kami bangun tanpa terburu-buru, karena hotel kami berada di Volga Manor. Begitu keluar kamar, kami langsung disambut deretan ukiran dan patung es yang berdiri anggun di sekeliling bangunan. Es bening, pahatan detail, cahaya pagi memantul lembut. Rasanya seperti berjalan di negeri dongeng.

Volga Manor sendiri unik. Arsitekturnya kental nuansa Rusia klasik. Ada gereja kecil berkubah khas, jembatan, rumah-rumah bergaya Eropa Timur. Bahkan ada satu bangunan yang langsung mengingatkan saya pada Rovaniemi, kampung Santa Claus di Finlandia. Cantik, tenang, dan terasa hangat meski suhu minus.

Volga Manor memang dibangun untuk merayakan sejarah dan pengaruh Rusia di Harbin. Kota ini sejak dulu menjadi titik pertemuan budaya, sejak jalur kereta api Rusia dibangun ratusan tahun lalu.

Menariknya, semua es yang digunakan untuk patung dan bangunan es di Harbin diambil dari Sungai Songhua. Sungai ini membeku tebal saat musim dingin, menghasilkan balok es yang jernih, padat, dan kuat.

Es yang sama, tapi di tangan seniman, berubah menjadi karya seni kelas dunia. Alam menyediakan bahannya. Manusia memberi maknanya.

Tidak hanya itu, di Volga Manor kami naik ban yang sudah diikat sekitar 8-10 biji, lalu meluncur di parit panjang menurun, yang terbuat dari es…
Kompak yang di depan menahan sepatu teman di belakangnya, lalu meluncur bersama-sama sambil berteriak dan merasakan sensasinya.
Wuih….. serunya…

Siang hari kami menuju Sun Island. Dulu, ratusan tahun silam, pulau ini hanyalah tempat nelayan memancing. Lalu, ketika Rusia membangun jalur kereta api, orang-orang Rusia mulai membangun vila musim panas di sini. Dari pulau sederhana, Sun Island berubah menjadi pusat seni salju internasional.

Sun Island adalah rumahnya snow sculpture. Bukan es bening, tapi salju padat. Warnanya putih matte, kesannya lembut, artistik, dan penuh ekspresi.

Di sinilah kami melihat salah satu momen paling membanggakan: juara ketiga kompetisi internasional snow sculpture diraih oleh tim Indonesia. Karya berjudul “Dewi Dhawantari”, diukir oleh tim seniman Indonesia, diketuai oleh I Ketut Suaryana.

Sosok dewi digambarkan anggun, penuh simbol kehidupan dan keseimbangan. Berdiri di tengah kompetisi dunia, karya anak bangsa itu tidak kalah wibawa.

Juara pertama tahun itu diraih oleh tim Rusia, dengan karya berskala besar dan detail yang sangat kompleks. Melihat Indonesia berdiri di podium dunia, rasanya hangat di hati, meski udara dingin menusuk.

Sore bergeser ke malam, suasana berubah total saat kami mengunjungi Harbin Ice and Snow World atau yang sering disebut Ice Exhibition. Inilah dunianya ice sculpture. Es bening dari Sungai Songhua disusun menjadi kastil raksasa, menara, jembatan, dan bangunan bercahaya.

Tahun 2026, area ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah, lebih dari satu juta meter persegi. Lampu LED tertanam di dalam es, memantulkan warna-warni.

Jika Sun Island itu galeri seni, Ice and Snow World adalah kerajaan es bercahaya. Wajib malam hari. Siang hari tidak akan memberikan efek yang sama.

Hari berikutnya kami mengunjungi Siberian Tiger Park. Ini pengalaman yang benar-benar berbeda. Harimau Siberia adalah predator langka.

Di dunia jumlahnya kurang dari 700 ekor, di China sekitar 100 ekor. Beratnya bisa mencapai 200–320 kg, panjang tubuhnya hingga lebih dari dua meter.

Kami membeli lima potong daging seharga 100 yuan, dimasukkan ke dalam ember. Dari dalam bus khusus dengan kaca anti peluru, kami memberi makan harimau-harimau itu satu per satu.
Karena datang masih pagi, harimau-harimau itu masih lapar.
Seru, mendebarkan, tapi tetap aman.
Kacanya tebal, desainnya memang dibuat untuk pengalaman tanpa risiko.

Satu lagi pengalaman unik di Harbin adalah pertunjukan berenang di air es. Awalnya tradisi ini berasal dari upacara baptisan musim dingin gereja Ortodoks Rusia. Seiring waktu, tradisi ini diadopsi masyarakat lokal dan menjadi tontonan publik.

Yang berenang bukan anak muda, tapi orang-orang usia 60–70 tahun, memakai pakaian renang terbuka, melompat dari ketinggian ke air bersuhu minus 22 derajat rasanya minus 34 derajat. Gaya mereka santai, bahkan percaya diri. Sulit dipercaya, tapi itulah Harbin.

Di mana-mana kami melihat snowman, dari yang kecil sampai raksasa. Kota ini seperti menolak kalah pada dingin. Harbin tidak melawan musim dingin. Harbin merayakannya.

Perjalanan ini mengajarkan satu hal sederhana: dingin tidak selalu tentang ketidaknyamanan. Dalam tangan yang tepat, dingin bisa berubah menjadi keindahan, keberanian, bahkan kebanggaan. Dan Harbin membuktikan itu dengan cara yang tidak terlupakan.

“In the depth of winter, I finally learned that within me there lay an invincible summer.”- Albert Camus

“Di tengah dingin musim dingin yang paling dalam, aku akhirnya belajar bahwa di dalam diriku ada musim panas yang tak terkalahkan.” – Albert Camus

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Paul Milligan: Ketika Integritas Menjadi Strategi Bisnis dan Pelayanan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Paul Milligan: Ketika Integritas Menjadi Strategi Bisnis dan Pelayanan

Tidak banyak orang yang benar-benar berhasil di dua dunia sekaligus: bisnis dan pelayanan. Lebih jarang lagi yang dampaknya lintas generasi dan lintas negara. Paul Milligan adalah salah satunya. Hidupnya membuktikan bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari besar keuntungan semata, tetapi dari apa yang dibenahi, diperbaiki, dan ditinggalkan bagi banyak orang.

Paul bukan sekadar CEO Andrew Wommack Ministries. Ia adalah pembenah sistem, orang yang Tuhan pakai untuk menata fondasi AWM dan Sekolah Charis agar bisa bertumbuh sehat, stabil, dan berjangka panjang. Ketika ia masuk lebih dalam dalam kepemimpinan, pelayanan ini berubah dari pola top-down yang kaku menjadi organisasi yang bisa diperluas, dimultiplikasi, dan direplikasi secara global.

Andrew Wommack pernah hampir bangkrut pada tahun 1996. Bukan karena pelayanan tidak berbuah, tetapi karena kurangnya pemahaman management. Visi rohani besar, tetapi tidak diimbangi pengelolaan yang tepat. Di titik itulah Tuhan mengirim Paul Milligan. Bukan untuk mengambil alih mimbar, tetapi untuk membenahi belakang layar.

Hasilnya nyata.
Pendapatan dan jumlah staf AWM berlipat ganda. Auditorium dan fasilitas besar dibangun. Charis berkembang ke puluhan negara dan ratusan kota. Semua ini bukan terjadi karena mujizat instan, tetapi karena keputusan-keputusan benar yang konsisten.

Salah satu keteladanan Paul yang paling kuat adalah integritas tanpa kompromi.

Dalam salah satu bisnis besar yang ia jalankan, Paul diminta memberikan uang suap agar proyek dapat berjalan. Ia menolak. Akibatnya, ia dikeluarkan dan digantikan supplier lain. Selama satu tahun penuh, Paul kehilangan keuntungan besar. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada pembenaran rohani.

Setahun kemudian, praktik kotor itu terbongkar. Pemerintah Amerika Serikat justru mencari Paul dan mempercayakan proyek yang jauh lebih besar kepadanya. Keuntungannya dua kali lipat dari yang hilang sebelumnya. Apa yang hilang karena integritas, dikembalikan Tuhan melalui jalur yang bersih.

Ini pelajaran mahal:
integritas mungkin membuat kita kehilangan uang hari ini, tetapi menyelamatkan masa depan kita.

Paul Milligan juga mengajarkan prinsip yang sering disalahpahami orang percaya. Ia berkata, kehendak Tuhan tidak otomatis terjadi hanya karena kita berdoa. Anugerah Tuhan sudah menyediakan segalanya di dalam roh, tetapi *dibutuhkan respons iman yang konkret.*

Kerjakan bagian kita dengan serius.
Kumpulkan pengetahuan.
Bangun tim yang tepat.
Bekerja dengan excellence.

Setelah semua itu dilakukan, beristirahatlah di dalam Tuhan. Jangan stres. Jangan memaksa hasil dengan kekuatan sendiri. Di titik kita berhenti, Tuhan mulai mengerjakan hal-hal yang tidak bisa kita lakukan. Di sanalah supernatural bekerja.

Paul juga menegaskan bahwa banyak orang sebenarnya sudah didoakan dan diberkati Tuhan, tetapi menganulir berkat itu sendiri karena kurang komitmen. Talenta ada. Peluang ada. Tetapi tidak dikerjakan dengan konsisten dan bertanggung jawab.

Keteladanan Paul bukan pada kata-katanya, tetapi pada hidup yang selaras. Apa yang ia ajarkan, itulah yang ia jalani. Ia berhasil membangun hampir dua puluh perusahaan, dan tetap menjadi pelayan Tuhan yang berbuah. Kombinasi ini sangat langka.

Hari ini Paul Milligan sudah menyelesaikan pertandingannya. Ia dipromosikan ke kemuliaan. Namun pengaruhnya tidak berhenti. Ia hidup dalam sistem yang dibenahi, pemimpin yang diperlengkapi, dan pelayanan yang terus menjangkau dunia.

Ia membuktikan satu hal:
ketika bisnis dibangun di atas Firman, dan pelayanan dikelola dengan hikmat, dampaknya akan jauh melampaui satu generasi.

Selamat jalan, Paul Milligan, guru yang kukagumi…

Engkau telah mengakhiri pertandingan dengan baik dan memelihara imanmu sampai garis akhir. Surga bersukacita menyambutmu, karena hidupmu berkenan dan berbuah.

Jejakmu tertinggal di bumi, tetapi upahmu menantimu di kekekalan. Apa yang engkau tabur dalam ketaatan, integritas, dan kasih, kini dituai dalam kemuliaan. Hamba yang baik dan setia, masuklah dalam sukacita Tuhanmu.

Sampai berjumpa kembali, di rumah Bapa, di tempat di mana jerih lelah berubah menjadi sorak sorai.

“One person with a belief is equal to ninety-nine who have only interests” — John Stuart Mill III.

“Satu orang dengan keyakinan lebih kuat daripada sembilan puluh sembilan orang yang hanya memiliki minat” — John Stuart Mill III.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Tur Harbin: Dari Dunhua ke Snow Village: Cantik, Dingin, dan Dalam Maknanya.


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tur Harbin: Dari Dunhua ke Snow Village: Cantik, Dingin, dan Dalam Maknanya.

Dunhua itu kota transit. Titik berhenti sebelum kami masuk ke Hailin Snow Village. Kota kecil bernuansa China–Korea. Tulisan Korea hampir di seluruh sudut kota. Unik, dingin, dan tenang.

Saat hendak naik bus, Frank, local guide kami, menunjuk ke depan hotel. “Itu Buddha duduk tertinggi di dunia, menghadap ke selatan. Katanya sedang berhadapan dengan Buddha duduk yang lebih kecil di Hongkong. Biar ada teman ngobrol,” ujarnya sambil tertawa. Kami ikut tertawa. Humor receh tapi menghangatkan.

Lalu muncullah kisah Ratu Qixi, ratu paling boros. Setiap hari harus makan seratus macam hidangan.
Alamaaak….bagaimana makannya coba?

Istana mewah, tubuh terawat, wajah dipuja. Tapi usia tetap berjalan. Tak ada kosmetik yang bisa menahan waktu.

Di pegunungan dingin, hidup snow frog, katak kecil yang bisa berbulan-bulan bahkan ratusan hari tanpa makan. Lemaknya dipercaya menjaga daya hidup. Frank bilang, di dekat hotel kami, snow frog legendaris itu ada. Maka Qixi percaya, minyak snow frog bisa membuat awet muda. Konon, saat wafat, snow frog ikut dikubur bersamanya. Duh… kasihan snowfrognya.

Legenda ini sederhana tapi menampar. Manusia bisa membeli segalanya, kecuali keabadian. Dan yang dikejar mati-matian sering kali tidak pernah mengenyangkan jiwa. Tidak ada kepuasan sejati di luar Tuhan.

Mengapa harus transit di Dunhua?
Bu Rita menjelaskan, inilah beda tur premium dan tur biasa. Perjalanan diatur supaya tubuh tidak lelah. Bukan dihajar jarak. Ada tur yang bolak-balik Snow Village sampai waktu habis di jalan. Sampai lokasi sudah capek, penuh turis. Bahkan ada yang ke Harbin tapi tidak ke Snow Village.Padahal tempat ini cantik luar biasa.

Sengaja masuk lewat Dalian juga, agar tubuh kita tidak kaget. Dinginnya bertahap hingga paling dingin di Harbin. Strategi yang cerdik.

Tur Bu Rita TX Travel ini menginap di tengah Snow Village. Bayar tiket dan ada gate untuk masuk di lokasi ini. Ibaratnya, betul-betul di tengah ‘Disneyland’ nya.
Wuih… nikmat.

Depan hotel penuh resto dan pedagang street food. Sate, sosis, mala skewers pedas hangat, tahu, jamur, sayur berbumbu. Ada buah beku alami, dingin tapi manis segar.
Ada pilihan berbagai minuman hangat.
O ya juga jagung rebus or bakar yang rasanya seperti ketan yang pulen.
Tinggal pilih.

Ada pula supermarket, Starbucks, toko-toko. Mau naik dog sledding – kereta yang ditarik plastik, tempat duduk plastik atau kayu berbagai model yang ditarik manusia juga ada. Bisa untuk bawa koper-koper juga.
Pokoknya fasilitas lengkap.

Di belakang hotel, naik tangga sedikit, spot foto ramai sekali. Banyak orang-orang yang live streaming. Malam hari jepret-jepret. Jam delapan, kembang api mekar. Ciamiiik.

Dan kami beramai-ramai membuat ‘lukisan cantik’. Saat air panas dilempar ke udara minus lebih dari 20 derajat, ia tak sempat jatuh sebagai air.
Dalam sekejap, air itu meledak menjadi awan kristal es, berkilau diterpa cahaya, seperti debu cahaya surgawi yang menari sebentar… lalu lenyap.
Menarik sekali.

Pagi hari kami foto lagi. Sama-sama cantik, tapi keindahannya beda. Malam penuh lampu warna-warni, pagi soft tenang… Semua ini memungkinkan, karena kami menginap di Snow Village.

Kata Bu Rita, hotel ini harus booking setahun sebelumnya. Beliau sampai ganti agen dua kali demi hotel-hotel di lokasi khusus ini. Worth it.

Dilanjut naik jeep ke Yangcao. Suhu -28°C, terasa seperti -35°C. Salju turun, angin kencang.
Cemara-cemara dibungkus salju tebal. Seperti kartu Natal hidup.

Lanjut ke Snow Gallery. Lebih dingin lagi… minus 28 derajad tapi serasa minus 41 derajad. Cemara lebih banyak lagi dan semua diselimuti salju seperti pemandangan yang kerap kita lihat di kalender atau tiktok.

Patung-patung berbagai boneka salju yang lucu, lampion merah dan berbagai asesoris manis ada di ke dua lokasi indah itu.
Foto, video, tertawa, menari bersama teman-teman…. senangnya…
Liburan jadi hidup.

Anehnya, justru karena salju turun, jalan tidak licin. Klo tidak turun salju, es mengeras bak kaca itulah yang licin sekali. Bisa terpeleset that’s why mesti pakai spike paku-paku di sepatu.

Saljunya putih bersih, halus. Sampai alis dan bulu mata memutih. Menurut B. Rita, salju di kutub tidak bisa demikian karena butir-butir saljunya lebih besar.
Segenggam salju dilempar ke udara… wuih. Indah sekali.

Nach … ketela manis, sate dan sweet ice & snow pot yang manis segar, laris manis. Sambil beli, numpang menghangatkan tangan yang kedinginan.

Yang lucu, P. Mul & B. Mega, pasangan dokter ini beli ketela hanya untuk menghangatkan tangan. Saat mendingin, ditukar lagi dengan yang masih panas…. wkwkwk….

Dinner malam ini, steak ala Rusia karena kami mrnginap di tengah-tengah Volga Manor, kampung Rusia.
Hotel kami dikelilingi pahatan-pahatan es.
Keren abis dah….
Lanjut kisahnya di artikel besok.

*”You have made us for Yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in You.” – Augustine of Hippo.*

*”Engkau menciptakan kami bagi-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam Engkau.” – Augustine of Hippo.*

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3