Tag Archives: #seruputkopicantik #yennyindra #Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Articles

Seni Debat Socrates: Menang Tanpa Harus Marah…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Seni Debat Socrates: Menang Tanpa Harus Marah…

Di sebuah sore yang agak gerah, aku duduk di sudut kedai kopi kecil sambil menyeruput latte favoritku. Di meja sebelah, dua anak muda sedang berdebat. Topiknya entah apa, tapi volume suara yang meninggi dengan nada ketus, percakapan mereka cukup menyita perhatian.

Sampai akhirnya salah satu dari mereka berdiri dan pergi begitu saja. Sisa percakapan yang tertinggal hanya suara hati yang menggumam lirih, “Kenapa debat harus jadi pertengkaran, ya?”

Di zaman serba cepat ini, diskusi sering jadi ajang unjuk kekuatan, bukan pertukaran pikiran. Kita lebih sibuk menyiapkan bantahan daripada mendengarkan. Padahal, ada cara yang lebih bijak. Cara yang pernah dipraktikkan oleh seorang filsuf Yunani kuno bernama Socrates.

Socrates tidak berteriak. Ia bertanya.
Ia tidak menyerang. Ia menggali.
Ia tidak memaksakan. Ia mengundang orang berpikir.

Dikisahkan bahwa Socrates lebih suka duduk di pasar, berbincang dengan orang asing, menanyakan hal-hal sederhana seperti: Apa itu keadilan? Apa makna keberanian? Apa arti hidup yang baik?

Tapi justru dari pertanyaan-pertanyaan itu, ia menyingkap kebijaksanaan.

Aku teringat suatu nasihat lama yang mengatakan bahwa “kata-kata yang lembut dapat mematahkan tulang”. Bukan karena kerasnya suara, tapi karena tepatnya hati. Ada kekuatan dalam ketenangan, dalam sikap tidak reaktif, dalam mendengar tanpa buru-buru menyela.

Socrates percaya, ketika kita menghadapi pendapat berbeda, kita tidak sedang berhadapan dengan musuh. Kita sedang duduk bersama sesama pencari kebenaran.

Kita bukan hakim. Kita hanya penanya yang tulus.

Dalam salah satu perdebatan, Socrates tidak mengatakan, “Kamu salah!”
Ia malah bertanya, “Apakah menurutmu pandangan itu berlaku dalam semua situasi? Jika tidak, mungkinkah ada hal yang terlewat?”

Pertanyaannya tidak menjatuhkan, tapi menggugah. Dan yang paling penting, ia tetap tenang.

Sikap itu mengajarkan pada kita sesuatu: tidak semua argumen harus dimenangkan hari ini. Kadang, cukup menanam benih dalam pikiran seseorang. Besok, minggu depan, atau bahkan tahun depan, benih itu bisa bertumbuh.

Dan siapa tahu, ketika benih itu tumbuh, ia akan ingat bahwa kita yang menanamnya—bukan dengan marah, tapi dengan hormat.

Serupa dengan saat kita membagikan benih kebenaran, tidak harus tumbuh sekarang. Yang penting, tabur, lalu sirami dengan kasih, pemahaman, serta keteladanan. Biarkan dia melihat demonstrasi kebaikan-kebaikan Tuhan melalui kehidupan kita.

Saya percaya, suara hati yang lembut sering kali lebih dekat pada kebijaksanaan Tuhan daripada teriakan yang dipenuhi ego. Ketika kita mendebat dengan damai, kita sebenarnya sedang menyerahkan ego dan memberi ruang bagi terang Tuhan untuk bekerja—dalam diri kita, maupun dalam lawan diskusi kita.

Sebab yang sejati tidak perlu dipaksakan.
Yang benar akan berdiri sendiri, meski pelan-pelan. Dan kebenaran yang ditemukan dengan sadar jauh lebih kuat daripada yang dipaksakan dengan keras.

Ada waktu untuk berbicara, dan ada waktu untuk diam. Tetapi dalam semua itu, jagalah hati. Jangan sampai perdebatan yang tujuannya mencari terang malah meredupkan cahaya dalam diri kita.

Hari ini, ketika kita tergoda untuk membalas komentar tajam, cobalah berhenti sejenak. Tarik napas. Tanya dalam hati: Apakah ini tentang mencari kebenaran, atau hanya mempertahankan harga diri?

Jika kita memilih untuk tenang, bukan berarti kita lemah. Kita sedang mempercayai bahwa Tuhan bisa bekerja lebih baik lewat kedewasaan kita, daripada lewat amarah kita.

Dan kalaupun lawan tetap keras kepala, tak mengapa.
Bukan tugas kita untuk mengubah semua orang. Tapi kita bisa menjadi contoh kecil, bahwa perbedaan pendapat tidak harus berarti permusuhan.

Socrates tidak pernah menulis buku. Tapi warisan hidupnya menjadi pengingat: kebenaran sejati tidak perlu berteriak. Ia hanya perlu ruang untuk didengar.

Jadi mari belajar, bukan untuk selalu menang. Tapi untuk tetap waras, tetap lembut, dan tetap jadi terang—bahkan di tengah diskusi paling panas sekalipun.

Raise your words, not your voice. It is rain that grows flowers, not thunder.”- Jalaluddin Rumi.

“Tinggikanlah kata-katamu, bukan suaramu. Hujanlah yang menumbuhkan bunga, bukan guntur.” – Jalaluddin Rumi.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

From Garage to the World (Part 3) – Indah Rencana-Mu: Saat Tuhan Memberi Kesempatan Kedua.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

From Garage to the World (Part 3) –
Indah Rencana-Mu: Saat Tuhan Memberi Kesempatan Kedua.

Ada kalanya hidup menekan kita sampai ke titik nadir, ketika semua kekuatan seolah lenyap, dan yang tersisa hanyalah napas serta doa yang lirih. Di saat seperti itu, Tuhan sering kali turun tangan — bukan dengan suara gemuruh, tetapi lewat bisikan lembut: “Anakku, Aku beri engkau kesempatan kedua.”

Itulah yang dialami Vincent Lianto. Pengusaha yang memulai langkahnya dari sebuah garasi kecil di Denpasar ini telah menembus banyak batas keberhasilan. Namun pandemi datang membawa badai yang tidak bisa diatasi oleh uang, jabatan, atau pengaruh siapa pun. Ia berhadapan dengan maut.

Ketika tubuhnya melemah dan napasnya nyaris habis, ia tidak lagi berdoa dengan kata-kata panjang. Hanya satu kalimat lirih yang keluar dari hatinya, “Tuhan, tolong saya…” Dan di saat tak berdaya itu, keajaiban terjadi. Dalam ketidaksadaran, ia melihat sinar terang dan mendengar suara yang begitu lembut, tapi tegas: “Anakku, Aku berikan hidup baru untukmu.” Saat terbangun dari ventilator, air matanya mengalir—bukan karena takut, tapi karena sadar betapa rapuh hidup ini dan betapa besar kasih Tuhan yang memulihkannya.

Di ICU, kasih hadir dalam bentuk sederhana namun nyata. Doa istrinya dan anak-anak, pesan semangat dari sahabat, suster yang membisikkan doa di telinga, dan dokter yang berdoa sebelum tindakan. Semua menjadi saluran kasih Tuhan yang bekerja di balik peralatan medis dan dinding rumah sakit. Lianto menyadari, mujizat bukan hanya soal sembuh dari sakit, melainkan menemukan kembali kasih yang menopang saat manusia tak lagi mampu berbuat apa-apa. Tuhan bekerja melalui banyak tangan manusia.

Saat akhirnya ia bisa berjalan lagi, menaiki tangga, bahkan kembali menyetir mobilnya sendiri, Lianto tahu, ia tidak hanya disembuhkan secara fisik. Ia dipulihkan secara makna. Kesempatan hidup kedua membuatnya memandang segala sesuatu dengan kacamata baru. Bisnis, jabatan, dan pencapaian tidak lagi menjadi pusat hidupnya. “Tuhan memberi saya hidup baru. Saya tidak mau menyia-nyiakannya. Saya ingin hidup saya berarti — menjadi berkat bagi orang lain,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Ia mulai menurunkan tempo kerja, memberi waktu lebih banyak untuk keluarga, mendukung pelayanan, dan menolong siapa pun yang datang kepadanya. Ia menemukan kebahagiaan bukan dari angka dan target, tetapi dari memberi dan mengasihi. Dari situ, hidupnya benar-benar berubah arah: dari sekadar mengejar sukses menjadi membagikan berkat.

Suatu hari ia merenungi persahabatan masa SMA-nya yang masih terjalin hangat hingga kini. Bersama sahabat-sahabat lamanya yang menamakan diri BHG Group – Bahagia Group, mereka menjadi seperti keluarga rohani yang saling menopang. Mereka sering berkumpul, tertawa, bermain pingpong, dan berdoa bersama. Nana bercerita tentang bagaimana Lianto dengan tulus mengantar hospital bed untuk ibunya yang sakit tanpa mau dibayar. Anto mengenang kerendahan hatinya yang tak berubah meski sudah begitu sukses. Lenna berkata lembut, “Vincent itu bukan hanya teman, tapi terang bagi kami.”

Melalui mereka, Lianto kembali belajar arti kasih yang sesungguhnya: hadir bagi sesama, mendengar dengan hati, dan memberi tanpa pamrih. Ia menemukan wajah Tuhan bukan di altar megah, melainkan di hati yang peduli.

Kini, ketika menatap ke belakang, ia menyadari bahwa setiap kegagalan, air mata, dan peristiwa yang dulu terasa pahit, ternyata hanyalah bagian kecil dari mosaik besar rancangan Tuhan. Dari garasi kecil di Denpasar hingga ekspor alat medis ke luar negeri, dari tabung oksigen di ICU hingga napas baru yang Tuhan tiupkan, semua terjalin dalam satu desain ilahi. “Tuhanlah yang memiliki rancangan. Saya hanya alat kecil dalam rencana besar-Nya. Sungguh, indah rencana-Mu,” ucapnya pelan.

Hidup yang diberi kesempatan kedua bukan sekadar hidup kembali, melainkan hidup dengan kesadaran baru. Bahwa waktu adalah anugerah. Bahwa setiap orang yang hadir di hidup kita adalah saluran kasih Tuhan. Dan…. keberhasilan sejati tidak diukur dari berapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa dalam kita mengasihi.

Kini Vincent Lianto tidak lagi berlari mengejar dunia, melainkan berjalan perlahan bersama Tuhan — langkah demi langkah, dalam syukur.

“We make a living by what we get, but we make a life by what we give.”
— Winston Churchill

“Kita mencari nafkah dari apa yang kita dapat, tapi kita membangun kehidupan dari apa yang kita berikan.”— Winston Churchill

Hhmmm….Seruput Kopi Cantik kita…?
Hidup bukan sekadar bertahan, tetapi menemukan makna di balik setiap napas yang Tuhan beri. Dan ketika hati kita belajar berkata, “Terima kasih, Tuhan, untuk kesempatan kedua ini,” hidup pun berubah menjadi persembahan syukur yang indah.

“In the middle of every difficulty lies opportunity.” — Albert Einstein

“Di tengah setiap kesulitan, tersimpan sebuah kesempatan.” — Albert Einstein

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Belajar Mengasihi dari Lukas, Si Anak Autis.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Belajar Mengasihi dari Lukas, Si Anak Autis.

Lukas adalah seorang anak laki-laki kecil dengan autisme yang tinggal di New York City. Ia senang sekali mengoleksi boneka-boneka empuk, plushies. Suatu hari, keluarganya melihat Lukas membawa beberapa bonekanya ke luar rumah. Mereka penasaran, lalu mengikutinya. Ternyata Lukas sedang meletakkan boneka-boneka itu di pinggir jalan, tepat di depan rumah mereka.

Bukan tanpa alasan. Itu adalah hadiah dari Lukas untuk anak-anak miskin di lingkungan tempat tinggalnya. Tanpa banyak bicara, tanpa perlu pengakuan, ia membagikan apa yang ia punya kepada mereka yang tidak memiliki.

Tak ada yang menyuruhnya. Tak ada yang mengajarinya melakukan itu. Ia hanya mengikuti isi hatinya. Lukas mengasihi dengan cara yang sederhana tapi tulus.

Kisah ini langsung menyentuh hati saya. Terbayang betapa polos dan murninya kasih sayang seorang anak yang oleh banyak orang dianggap tidak normal. Padahal justru dari dia, kita bisa belajar tentang kepedulian yang tulus—yang mungkin jarang kita temui di tengah masyarakat yang sibuk mengejar status, kesuksesan, dan pengakuan.

Tuhan tidak pernah salah menciptakan seseorang. Dia tidak membuat manusia secara massal seperti pabrik mencetak barang. Setiap orang adalah ciptaan yang unik, istimewa, dan limited edition. Tidak ada yang persis sama. Kita dibentuk menurut rancangan-Nya, dengan tujuan khusus yang hanya kita yang bisa menggenapinya.

Wuih…. kerennya….

Masalahnya, kita sering lebih percaya pada standar dunia daripada rancangan Tuhan. Dunia punya definisi sendiri tentang apa itu berhasil, layak, penting, bahkan “normal”. Lalu tanpa sadar, kita mulai menuntut orang-orang di sekitar kita untuk mengikuti pola itu. Kita ingin anak-anak bertindak sesuai harapan kita, pasangan harus cocok dengan standar kita, bahkan teman sepelayanan pun kita ukur dengan ukuran pribadi.

Begitu seseorang bertindak berbeda, kita mudah curiga, menilai, atau bahkan menghindar. Kita lupa bahwa kasih sejati tidak bersyarat. Kasih yang dari Tuhan tidak memandang rupa, tidak memperhitungkan kekurangan, dan tidak tergantung pada performa.

“Our differences are not something to be tolerated. They are something to be celebrated.” – Rev. William Sloane Coffin.

“Perbedaan kita bukanlah sesuatu yang sekadar harus ditoleransi. Itu sesuatu yang patut dirayakan.” – Rev. William Sloane Coffin.

Bayangkan jika semua orang berpikir dan bertindak sama. Dunia ini akan terasa datar, membosankan, dan tanpa warna. Justru karena ada perbedaan, dunia menjadi lebih kaya. Kita butuh orang-orang seperti Lukas—yang tidak dibentuk oleh tekanan sosial, tapi berani mengikuti suara hatinya.

Saat Lukas diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri, kasih Tuhan mengalir melalui tindakannya. Ia tidak berpikir panjang soal status sosial, citra diri, atau balasan. Ia hanya membagikan yang ia punya dengan hati yang tulus.

Dan ironisnya, anak-anak miskin yang menerima boneka dari Lukas itu—sering kali justru diabaikan oleh orang-orang “normal” yang merasa lebih tahu, lebih penting, lebih sibuk.

Mungkin ini saatnya kita berhenti sejenak dan merenung. Jangan-jangan kita terlalu sibuk membenahi orang lain, menuntut perubahan, atau mengajarkan nilai-nilai… sampai lupa menghidupi kasih yang paling dasar: peka terhadap kebutuhan sesama.

Sering kali Tuhan memakai orang yang menurut dunia tidak penting untuk menyampaikan pesan kasih-Nya. Lukas adalah salah satu contohnya. Lewat tindakannya, kita diingatkan bahwa kasih sejati itu nyata. Tidak selalu rapi, tidak harus masuk akal, dan tidak perlu diumumkan. Tapi justru karena itulah, kasih itu murni.

Apa yang kita anggap sebagai kelemahan, bisa jadi adalah saluran Tuhan untuk mengalirkan kasih-Nya. Lukas mungkin tak bisa menyampaikan isi hatinya seperti anak lain, tapi ia mendengarkan suara kasih di dalam dirinya, dan bertindak.

Tuhan tidak melihat seperti manusia melihat. Manusia memandang penampilan luar, tetapi Tuhan melihat hati. Dan hati Lukas… begitu menyerupai hati-Nya.

Maukah kita belajar dari Lukas? Bukan hanya belajar memberi, tapi belajar untuk tidak menghakimi. Belajar membuka ruang bagi perbedaan. Belajar memberi tempat bagi orang lain menjadi versi terbaik dari dirinya, bukan salinan dari kita.

Karena kasih sejati bukan tentang menjadikan orang lain seperti kita, tapi menerima mereka sebagaimana Tuhan menciptakan mereka. Jika Lukas bisa melakukannya, kenapa kita tidak?

Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.” – Albert Einstein.

“Setiap orang adalah jenius. Tapi jika kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan menjalani hidupnya dengan keyakinan bahwa dirinya bodoh.” – Albert Einstein.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Kalau Mimpi Belum Terjadi, Apa Tuhan Lupa?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kalau Mimpi Belum Terjadi, Apa Tuhan Lupa?

Menyalakan kembali mimpi terdengar indah. Tapi kenyataannya?
Sering kali jauh dari kata mudah. Aku pun belum melihat hasil dari beberapa doa dan mimpi yang sudah lama tertanam di hati. Tapi anehnya, justru di masa penantian itu, aku mulai merasakan iman yang bangkit kembali. Bukan karena sesuatu terjadi. Tapi karena aku belajar percaya… sekali lagi.

Kita sering berpikir iman itu soal menerima jawaban. Tapi kenyataannya, iman justru paling nyata ketika belum ada hasil apa pun. Ketika kita tetap percaya, padahal belum ada perubahan. Di situlah iman diuji—dan dimurnikan.

While you’re waiting for God to change your situation, He’s changing you.

Saat Anda menunggu Tuhan mengubah situasi Anda, Dia mengubah Anda.

Masa tunggu membuat kita bertanya ulang: apa sebenarnya yang jadi sandaran hidupku? Apakah aku sungguh berharap kepada Tuhan? Atau diam-diam aku menaruh harapan pada pasangan, anak, pekerjaan, pelayanan, atau hal-hal lain yang bisa lenyap sewaktu-waktu?

Kadang kita baru sadar setelah mimpi itu gagal total. Harapan seakan dicabut dari tangan kita. Tapi justru di titik itu, Tuhan sedang menunjukkan, harapan kita perlu diarahkan kembali. Bukan pada apa yang bisa Tuhan lakukan, tapi pada siapa Dia. Sesungguhnya, Tuhan sendirilah harta dan tujuan kita. Bukan hasil. Bukan pencapaian. Bukan pengakuan.

Aku juga sempat bertanya dalam hati: mimpi ini sebenarnya buat siapa? Untuk membuktikan aku bisa? Supaya orang kagum? Atau mimpi ini memang datang dari Tuhan, dan hanya bisa terjadi kalau aku hidup untuk menyenangkan Dia?

Waktu tunggu sering jadi cermin. Tuhan menunjukkan sisi-sisi diriku yang masih harus dibentuk. Masih terlalu banyak “aku”-nya. Ambisi pribadi. Ingin cepat. Ingin terlihat berhasil. Kalau saat itu mimpi langsung jadi kenyataan, bisa-bisa aku malah rusak sendiri.

Dan memang, dalam banyak hal, aku melihat bagaimana Tuhan tidak menjawab doa-doaku saat aku ingin—karena Dia sedang bekerja di area yang tidak aku lihat. Di balik layar. Sambil juga bekerja dalam diriku. Memurnikan niat, mengubah fokus, dan mengajarkanku untuk percaya, bukan karena keadaan baik, tapi karena Dia baik.

Yang sering luput kita sadari adalah: bentuk akhir dari mimpi itu bisa sangat berbeda dari ekspektasi kita. Tapi waktu itu tiba, kita akan sadar—ini jauh lebih baik. Bukan cuma lebih indah, tapi juga lebih kuat dan tahan lama. Karena mimpi yang lahir dari proses bersama Tuhan punya akar yang dalam. Bukan euforia sesaat.

Teringat kisah Yusuf. Dapat mimpi besar dari Tuhan. Tapi malah dijual, dijebak, dipenjara. Rasanya seperti hidup yang salah arah. Tapi ternyata, justru lewat semua itu Tuhan sedang mempersiapkannya. Bukan hanya untuk posisi tinggi, tapi untuk menjadi seseorang yang sanggup mengampuni dan menyelamatkan orang banyak. Prosesnya panjang. Tapi hasilnya abadi.

Aku juga punya mimpi. Menulis. Tapi dulu aku merasa nggak layak. Nggak punya latar belakang yang berhubungan dengan tulis-menulis Tapi Tuhan tuntun langkah demi langkah. Bahkan membawaku masuk ke sekolah Charis. Butuh waktu sampai bisa benar-benar melangkah. Penuh liku. Penuh keraguan. Bahkan sempat merasa, “Mungkin aku salah mendengar Tuhan…”

Tapi hari ini aku bisa berkata: penantian itu penting. Karena Tuhan lebih peduli pada menjadi siapa aku, bukan hanya apa yang aku lakukan. Dan ketika waktu-Nya tiba, kita akan tahu… ini bukan hasil kerja keras kita. Tapi karya kasih-Nya.

“Sometimes God will slow you down so that the evil ahead of you will pass before you get there. Your delay could mean your protection.” – Tony Gaskins

“Terkadang Tuhan memperlambat langkahmu supaya kejahatan yang ada di depanmu berlalu lebih dulu. Penundaanmu bisa jadi perlindunganmu.” – Tony Gaskins

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Kuasa Kata-Kata

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kuasa Kata-Kata

Pagi ini dalam doa pagi BBL, kami membahas tentang “Kuasa Kata-Kata.”
Ari, seorang youth leader, berbagi pengalaman yang sangat menyentuh.

“Banyak anak muda di pelayanan saya mengalami masalah mental health,” ujarnya.
“Setelah saya dekati, ternyata penyebab utamanya adalah perkataan negatif dari orang tua. Ucapan meremehkan, membandingkan, atau menyalahkan, yang mungkin dimaksudkan agar anak berubah, ternyata justru melukai hati mereka. Akibatnya, anak merasa tertolak, tidak percaya diri, bahkan ada yang depresi.”

Ari pun menasihati para orang tua ini agar berhenti mengucapkan kata-kata yang menghancurkan. Ia mengajarkan untuk mengganti perkataan kematian dengan firman Tuhan yang membangun. Mengubah keluhan menjadi ucapan syukur, dan mulai menubuatkan hal-hal baik bagi anak-anaknya. Saat Ari mendoakan mereka, banyak orang tua menangis. Firman Tuhan menyentuh hati mereka. Perlahan-lahan, bukan hanya anak yang dipulihkan, tetapi orang tuanya juga ikut bertumbuh.

Wow… benih yang ditabur Ari sungguh luar biasa!

Beberapa waktu lalu, Angelin,saya dan teman-teman sempat berlibur ke Chiang Mai & Chiang Rai. Begitu tiba, Pak Rudi, salah satu pemilik tur, sudah jatuh sakit. Esoknya masih lemah. Kami sepakat berdoa, memerintahkan kesembuhan, dan terus memperkatakan bahwa ia sudah sembuh. Hasilnya? Pak Rudi sendiri yang bersaksi: tubuhnya langsung segar hingga kembali ke Jakarta.

Di saat yang sama, Indonesia sedang ramai dengan demo besar. Berita simpang siur membuat suasana tidak nyaman. Namun, karena terbiasa doa pagi BBL, kami memilih memperkatakan firman:
“Seribu rebah di sisiku, sepuluh ribu di sebelah kananku, tetapi itu tidak akan menimpa aku.”

Kabar boleh heboh, tapi hati tetap tenang. Kami pun bisa menikmati liburan.

Menjelang pulang, berita makin panas. Banyak yang menyarankan kami jangan pulang dulu. Namun setelah berdoa, kami memutuskan tetap kembali ke Jakarta. Kalau situasi di bandara tidak kondusif, kami siap menginap di hotel bandara.

Ada satu kejadian lucu. Kristina, teman kami, trauma duduk di kursi tengah karena repot kalau mau ke toilet. Pagi itu saat check in online, semua kursi penuh, yang tersisa hanya di tengah. Bahkan sempat terpikir upgrade ke bisnis class, tapi biayanya hampir sama dengan harga tur! Kami akhirnya sepakat berdoa minta mujizat.

Di bandara, awalnya petugas menyarankan tetap pindah ke bisnis. Tetapi setelah dicek ulang, ternyata ada satu kursi aisle di baris belakang, dengan dua kursi kosong di sebelahnya. Wow… Tuhan sungguh baik!

Lucunya lagi, saya dan Angelin duduk bersebelahan. Saya di aisle, Angelin di tengah. Lalu Angelin bertanya,
“Bu Yenny, siapa ya yang duduk di window?”

Saya spontan menjawab,
“Ya sudah, kita perintahkan saja biar kosong.”

Tiba-tiba pramugari di belakang kami nyeletuk, “Alamaak… perintahkan!”
Dan betul saja… kursi window itu kosong sampai pesawat terbang.

Pelajarannya jelas: Perkataan kita punya Kuasa.
Situasi bisa berubah hanya karena kita memperkatakan janji Tuhan, bukan berita simpang siur. Hati yang tadinya gelisah menjadi tenang, karena kita tahu, “Jika Allah di pihak kita, siapa dapat melawan kita?”

Sering kali kita tahu otoritas yang Tuhan beri, tetapi lupa mempraktikkannya. Padahal saat dengan iman kita memerintahkan halangan pergi, jawaban doa nyata kita alami.

Firman Tuhan berkata:
“As a man thinks in his heart, so is he. – Seperti seorang pria berpikir dalam hatinya, begitu juga dia.”

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

Apa yang kita pikirkan dan ucapkan menentukan hasilnya. Jika sungguh percaya Tuhan, maka kata-kata kita akan selaras dengan iman. Seperti pohon dikenal dari buahnya, demikian pula hidup kita.

Maka mari berhati-hati dengan apa yang keluar dari mulut kita.
Ucapan kita bisa menjadi doa, nubuat, dan benih yang menumbuhkan mujizat.

Setuju?

“Kind words can be short and easy to speak, but their echoes are truly endless.” – Mother Teresa.

“Kata-kata yang penuh kasih bisa singkat dan mudah diucapkan, tetapi gaungnya akan terus terdengar tanpa akhir.” – Bunda Teresa.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 4 5 10