Tag Archives: #gospeltruth’s truth #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

Alkitab Dan Ilmu Pengetahuan Itu Selaras. Ini Buktinya!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Alkitab Dan Ilmu Pengetahuan Itu Selaras. Ini Buktinya!

Dalam salah satu episode acara *Sid Roth – It’s Supernatural!*, saya belajar banyak dari seorang ilmuwan otak Kristen, Dr. Caroline Leaf. Beliau bukan hanya seorang ahli dalam bidang neuroplastisitas, tetapi juga seorang yang sungguh-sungguh mengandalkan firman Tuhan dalam setiap penelitiannya. Mendengarnya menjelaskan bagaimana iman dan ilmu pengetahuan bekerja selaras membuat saya terkagum-kagum. Ada begitu banyak hal yang sebelumnya kita anggap rohani semata, ternyata bisa dijelaskan secara ilmiah. Dan sebaliknya, hal-hal ilmiah pun justru menunjukkan betapa hebatnya kebenaran Firman Tuhan.

Dr. Caroline menjelaskan bahwa manusia memang didesain oleh Tuhan untuk “wired for love.”
Otak kita secara alami dirancang untuk hal-hal positif—kasih, sukacita, damai, kebenaran, antusiasme, gairah, pengharapan. Semua itu menghasilkan reaksi kimia di otak kita yang sehat, membangun, dan memperkuat pikiran yang benar. Tapi sayangnya, kita hidup di dunia yang rusak, penuh trauma dan ketakutan. Saat kita mengalami sesuatu yang menyakitkan atau mempercayai kebohongan, maka otak kita pun membentuk “pohon-pohon hitam” – memori beracun yang disimpan dalam bentuk struktur yang nyata di dalam otak.

Yang menarik, dalam 24–48 jam sejak pikiran negatif itu muncul, kita sebenarnya diberi waktu oleh Tuhan untuk mengambil keputusan. Apakah kita akan membiarkannya tumbuh dan memperkuat diri? Atau kita mau mengubahnya, dengan menggunakan bagian otak depan kita – frontal lobe – untuk berkata, “Ini tidak baik. Aku memilih percaya kepada Tuhan. Aku memilih kebenaran-Nya.”

Firman Tuhan dalam Markus 11:22–23 berkata, “Percayalah kepada Allah… Katakanlah kepada gunung ini…”
Gunung itu, kata Dr. Caroline, adalah pohon-pohon beracun dalam pikiran kita
. Kita bisa berbicara kepada mereka – bukan sekadar berpura-pura positif, tapi dengan mengucapkan Firman Tuhan. Saat kita membaca Alkitab, percaya dan mengucapkannya, otak kita menghasilkan bahan kimia seperti dopamin, serotonin, dan oksitosin yang secara ilmiah mampu melelehkan struktur memori beracun itu. Luar biasa, ya?

Dan ternyata, proses ini memakan waktu 21 hari. Dalam 21 hari, kita bisa mulai menghancurkan pohon pikiran beracun dan membangun pohon hijau baru di sebelahnya – pikiran-pikiran sehat yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Tapi dua pohon ini tidak bisa hidup berdampingan dalam satu tempat. Yang satu harus digantikan oleh yang lain. Kasih yang sempurna mengusir ketakutan, kata 1 Yohanes 4:18. Ternyata, itu bukan cuma janji rohani, tapi juga kenyataan ilmiah.

Dr. Caroline juga bercerita tentang pria 78 tahun yang sudah tidak bisa terbang lagi karena matanya memburuk. Tapi dia memutuskan memulai karier kedua: jadi akuntan. Dengan menerapkan prinsip firman Tuhan dan ilmu otak, dia berhasil lulus di usia 84 dan bekerja sebagai akuntan selama 19 tahun! Bahkan ada juga anak muda yang mengalami cedera otak parah, divonis tak bisa pulih, tapi setelah menerapkan prinsip ini selama 3 bulan, ia bukan hanya pulih, tetapi meraih 4 gelar dan jadi pembicara top di Afrika Selatan.

Jadi, siapa bilang makin tua kita makin lemah dan pikun? Kalau kita setia merenungkan Firman Tuhan, membaca Alkitab, berdoa, memuji dan menyembah-Nya, bagian luar otak kita akan menebal. Secara ilmiah, itu artinya kita makin cerdas! Firman Tuhan bukan hanya menguatkan hati dan jiwa, tapi juga menyehatkan dan memperbarui otak secara fisik.

Kebenaran ini benar-benar menyentuh saya. Firman Tuhan itu bukan sekadar tuntunan hidup, tapi juga sarana pemulihan total – roh, jiwa, dan tubuh. Tak heran Mazmur 1 menyebutkan bahwa orang yang merenungkan firman Tuhan siang dan malam itu seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air—yang tidak layu daunnya dan apa saja yang dibuatnya berhasil. Ternyata, kita pun punya pohon-pohon dalam otak kita. Dan kita bisa memilih: mau tanam pohon hijau atau biarkan pohon beracun merusak hidup?

Seperti kata Dr. Caroline Leaf, “You are not a victim of your biology. You are a product of your choices.”
“Kita bukan korban dari biologi kita. Kita adalah hasil dari pilihan-pilihan kita.”

“Renew your mind with the Word of God. It literally changes your brain.”
“Perbaruilah pikiranmu dengan Firman Tuhan. Itu sungguh-sungguh mengubah otakmu.”

Wow…. praktik yuk….

“Science now proves that we are not victims of our genes. We can change our genes, health, even our destiny… supernaturally!” – Sid Roth

“Ilmu pengetahuan sekarang membuktikan bahwa kita bukan korban gen kita. Kita bisa mengubah gen, kesehatan, bahkan takdir kita… secara supranatural!” – Sid Roth

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Menang dengan Cara Tuhan: Tambahkan Terang Positif, Gelap Pun Lenyap”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Menang dengan Cara Tuhan: Tambahkan Terang Positif, Gelap Pun Lenyap”

Hidup itu seperti matematika. Kalau mau menghapus angka, caranya dengan menambahkan kebalikannya. Positif dibatalkan dengan negatif yang sama nilainya. Perkalian dibatalkan dengan membaginya. Begitu rumusnya di dunia hitung-hitungan. Menariknya, prinsip yang sama juga berlaku di dunia rohani. Tuhan berkata, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” Artinya, kita tidak cukup hanya menghindari atau melawan kejahatan secara pasif. Kita perlu secara aktif menambahkan kebaikan, agar kejahatan itu batal, nilainya jadi nol.

Bayangkan, seseorang berkata kasar kepada kita. Reaksi alami manusia adalah membalas dengan nada yang sama, atau minimal ngedumel di hati. Tetapi Tuhan mengajarkan cara yang berbeda: tambahkan berkat untuk membatalkan kutuk. Itu bisa berarti kita membalas dengan kata yang lembut, atau cukup mengucap syukur kepada Tuhan, daripada mengunyah-ngunyah rasa sakit di pikiran. Saat kita menambahkan positif ke negatif, luka itu kehilangan kekuatannya. Nilainya jadi nol. Dan kalau kita lakukan ini terus-menerus, daftar kesalahan orang lain terhadap kita akan selalu kosong.

Bahkan Tuhan berkata, saat kita berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat pada kita, itu seperti menaruh bara di atas kepalanya. Bara itu membakar rasa bersalahnya dan membuat hati nuraninya terusik. Bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk menundukkan kejahatan dengan cara Tuhan. Dengan cara demikian, karakter kita dibentuk semakin menyerupai Dia. Kita belajar sabar, rendah hati, dan berfokus pada kebaikan, bukan pada luka.

Kegelapan tidak bisa diusir dengan kegelapan. Kalau kita membalas benci dengan benci, kita hanya menambah pekatnya suasana. Tetapi begitu Terang datang, gelap otomatis hilang. Tidak perlu diusir, tidak perlu didoakan secara khusus. Cukup hadirkan terang, dan gelap akan mundur dengan sendirinya. Begitu pula saat kita menghadirkan kebaikan, kasih, dan pengampunan. Atmosfer berubah, hati menjadi lega, dan damai sejahtera kembali.

Tuhan sudah memberi contoh. Kita semua awalnya punya “saldo dosa” yang sangat besar, tak mungkin kita bayar sendiri. Lalu Tuhan menambahkan “positif”-Nya — pengorbanan Yesus di kayu salib — untuk membatalkan semua “negatif” kita. Seketika, rekening dosa kita jadi nol. Tidak ada lagi catatan pelanggaran, semuanya dihapus. Lalu Tuhan meminta kita memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.

Kuncinya bukan sekadar menahan diri supaya tidak marah, tetapi menggantinya dengan tindakan positif sesuai Firman Tuhan. Kalau hatimu mulai panas karena ucapan orang, langsung tambahkan ucapan syukur. Kalau kamu dirugikan, segera cari cara untuk menabur kebaikan. Tidak selalu mudah, tapi setiap kali kita memilih cara ini, kita sedang membangun kebiasaan baru. Lama-lama, ini menjadi gaya hidup: membalas negatif dengan positif, bukan untuk membenarkan orang itu, tapi untuk membebaskan hati kita sendiri.

Saat karakter kita dibentuk, kita sebenarnya sedang naik level. Dan setiap kenaikan level selalu diiringi promosi dari Tuhan. Kepercayaan dan tanggung jawab besar hanya bisa diberikan kepada orang yang sudah terbentuk di level tertentu. Tuhan tidak akan menaruh beban besar di pundak orang yang belum siap. Jadi, setiap kali kita memilih untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, bukan hanya hati kita yang terjaga, tetapi kita sedang memposisikan diri untuk menerima kepercayaan dan tanggung jawab yang lebih besar dari-Nya.

Dunia mengajarkan: “Balas setimpal.”
Tuhan mengajarkan: “Balas dengan kasih.”
Dunia bilang: “Jangan mau direndahkan.”
Tuhan bilang: “Rendahkan dirimu, dan Aku yang akan meninggikanmu.” Kalau kita paham prinsip ini, kita akan sadar, kemenangan sejati bukan saat kita “menang debat” atau “membalas dendam,” tapi saat hati kita tetap tenang, bebas dari kepahitan.

Jadi, setiap kali negatif datang — entah dalam bentuk kata, perlakuan, atau sikap orang — jangan biarkan dia menetap. Tambahkan positif. Ucapkan berkat, nyatakan kasih, lakukan kebaikan.
Seperti matematika, nilai negatif itu akan dibatalkan. Dan seperti terang, begitu hadir, gelap akan pergi tanpa perlawanan. Inilah hidup yang Tuhan mau kita jalani: menang, bukan dengan memukul balik, tapi dengan menghadirkan terang di tengah gelap.
Wow… ternyata rahasianya sesederhana itu, tapi dampaknya luar biasa.

The best way to destroy an enemy is to make him a friend.” – Abraham Lincoln

“Cara terbaik menghancurkan musuh adalah menjadikannya teman.” – Abraham Lincoln.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Hard Knocks atau Firman Tuhan?


Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Hard Knocks atau Firman Tuhan?

Pernah dengar istilah School of Hard Knocks? Artinya sekolah kehidupan yang penuh benturan, di mana seseorang baru sadar setelah dihajar masalah. Banyak orang hidup seperti itu. Sudah diingatkan, tetap jalan sendiri. Akhirnya jatuh, sakit, bangkrut, baru menoleh kepada Tuhan.

Padahal itu *BUKAN* rencana Tuhan.
Alkitab jelas mengatakan bahwa “upah dosa adalah maut” (Roma 6:23). Hidup jauh dari Tuhan itu berbahaya karena kita berjalan tanpa arah. Seperti anak bungsu dalam perumpamaan Yesus (Lukas 15:11–24), yang lari dari rumah, menghamburkan harta, dan berakhir di kandang babi. Baru setelah lapar, miskin, ditinggalkan teman-temannya, Alkitab berkata: “Ia sadar akan dirinya.” (Lukas 15:17).

Perhatikan, bukan Tuhan yang bikin dia sengsara. Pilihannya sendiri yang menjerumuskannya.

“Perbuatanmu sendiri mendatangkan malapetaka bagimu” (Yeremia 2:19).

Inilah hukum kehidupan. Kalau kita salah memilih, kita menuai akibatnya (Galatia 6:7).

Namun di balik kesulitan itu, ada satu hal yang bisa jadi titik balik: penderitaan seringkali membuka mata. Seperti anak bungsu itu, penderitaan membangunkan dia. Saat sadar, ia ingat rumah bapanya yang penuh kasih. Ia pulang, dan dipeluk.

Sayangnya, tidak semua orang pulang. Ada yang malah pahit, menyalahkan Tuhan.

Di sinilah pentingnya kita memahami: malapetaka bukan dari Tuhan. Tuhan itu Bapa yang baik (Yakobus 1:17).

Tetapi kalau kita mengabaikan firman-Nya, hidup ini seperti mobil yang dipacu di jalan tanpa rem. Ketika menabrak tembok, sakitnya luar biasa.

Firman Tuhan itu seperti rambu lalu lintas. Kalau kita mau belajar, mendengar dan menuruti-Nya, kita bisa menghindari tabrakan.

“Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian setiap orang diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Timotius 3:16–17).

Belajar dari firman itu jauh lebih ringan daripada harus belajar dari penderitaan. Tapi kalau keras kepala, hidup akan mengajar dengan cara yang keras.

Mana yang kita pilih? School of Hard Knocks atau sekolah Firman Tuhan?

Kalau kita jujur, semua orang pernah mengalami benturan. Namun orang bijak tidak berhenti di situ. Kita belajar, bangkit, dan memperbaiki hidup. Kesulitan itu menjadi guru, tetapi guru yang mahal. Mengapa harus menunggu sampai masalah menghancurkan kita baru mau dengar suara Tuhan?

Hidup kita ini berharga. Jangan tunggu sampai di kandang babi baru sadar. Lebih baik buka hati dari sekarang.
Baca firman setiap hari. Dengarkan suara Tuhan. Praktikkan. Hidup akan jauh lebih tenang karena kita dituntun.

Setiap kali membaca kisah anak bungsu, hati saya tergetar. Bagaimana seorang bapak dengan sabar menunggu, tidak menyeret anaknya pulang paksa. Tapi ketika anak itu pulang, sang bapak berlari menyambutnya, memeluk, memulihkan, dan mengadakan pesta. Itulah hati Bapa kita di surga.

Bagi yang sedang di tengah badai hidup, jangan salahkan Tuhan. Arahkan hati kepada-Nya. Gunakan badai ini sebagai alarm untuk kembali. Dan bagi kita yang masih ada kesempatan, belajarlah dari firman, bukan dari pukulan hidup.

Karena sekolah kehidupan memang ada, tetapi sekolah firman jauh lebih murah biayanya. Pilih mana?

“You can learn from God’s Word or from painful experience. Experience is always the most expensive teacher” – Rick Warren.

“Kita bisa belajar dengan mendengar firman Tuhan, atau dengan pengalaman pahit. Tapi pengalaman selalu jadi guru yang mahal.” – Rick Warren.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Kesembuhan: Anugerah yang Harus Dijaga


Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Kesembuhan: Anugerah yang Harus Dijaga

Tuhan itu baik. Dia penuh kasih, dan salah satu bukti nyata kasih-Nya adalah keinginan-Nya untuk menyembuhkan. Kesembuhan bukanlah hadiah untuk orang suci, tapi warisan bagi anak-anak-Nya.

Yesus menyembuhkan semua orang yang datang kepada-Nya dengan iman — tanpa seleksi. Itu artinya Tuhan selalu mau menyembuhkan. Tapi, seperti halnya keselamatan, kesembuhan itu tidak otomatis. Kita harus merespons dengan iman dan ketaatan.

Saya sering bertanya-tanya: Kenapa ada yang disembuhkan seketika, tapi ada juga yang sembuh perlahan-lahan — bahkan ada yang belum sembuh sama sekali? Ternyata jawabannya sederhana: Tuhan bukan mesin mujizat, Dia adalah Bapa yang rindu hubungan dengan anak-anak-Nya.

“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.” — Mazmur 147:3

Kesembuhan bisa terjadi secara instan — mujizat langsung. Tapi untuk mempertahankan kesembuhan, kita harus mengisi hidup kita dengan Firman Tuhan. Kalau tidak, penyakit itu bisa datang kembali. Yesus sudah memberi peringatan keras:

“Apabila roh jahat keluar dari seseorang… ia kembali ke rumahnya yang telah ditinggalkannya… lalu masuk dan tinggal di situ; maka keadaan orang itu lebih buruk dari sebelumnya.” — Matius 12:43-45

Artinya, jika kita tidak mengisi hidup dengan Firman, kebenaran, dan gaya hidup baru yang sehat secara rohani maupun jasmani, kita membuka pintu bagi iblis untuk kembali — dan kali ini lebih parah.

Saya pernah mendengar kesaksian seseorang yang sembuh total dari penyakit berat setelah didoakan. Tapi hanya beberapa bulan kemudian, penyakit itu kembali, bahkan lebih parah. Ternyata, setelah sembuh, ia kembali hidup seperti dulu — cuek terhadap gaya hidup, makanan, bahkan emosinya. Tidak ada perubahan pola pikir. Tidak membangun hubungan dengan Tuhan. Firman tidak lagi menjadi makanan rohaninya. Itulah kunci kegagalan.

Tuhan bisa menyembuhkan lewat mujizat, tetapi sering kali, kesembuhan datang melalui hikmat. Ketika kita membangun hubungan dengan-Nya, Roh Kudus akan menunjukkan akar masalahnya: pola makan yang salah, stres yang terus-menerus, gaya hidup yang rusak, atau bahkan kebiasaan yang merusak tubuh. Kita perlu bertobat, bukan hanya percaya. Percaya tanpa pertobatan adalah iman yang kosong.

“Umat-Ku binasa karena kurang pengetahuan.” — Hosea 4:6

Penyakit seringkali merupakan buah gaya hidup yang tidak selaras dengan Firman selama bertahun-tahun. Maka kesembuhan sejati menuntut kita untuk berubah dari dalam. Tuhan mengundang kita untuk hidup dalam kemitraan dengan-Nya. Dia menyembuhkan, dan kita menjaga kesehatan itu dengan hikmat dan ketaatan.

Saya belajar, kesembuhan bukan sekadar doa dan mujizat. Kesembuhan adalah perjalanan hidup yang melekat pada Firman. Ketika tubuh kita diselaraskan dengan kehendak Tuhan — baik secara jasmani, jiwa, dan roh — maka kesembuhan bukan lagi kejutan, tapi hasil yang wajar dari kehidupan yang benar. Inilah yang disebut Hidup Dalam Berkat.

Mari kita isi hati dengan Firman, dengar suara Roh Kudus setiap hari, dan ubah gaya hidup kita. Tuhan sudah menyembuhkan, tetapi mempertahankan kesembuhan adalah tanggung jawab kita bersama Dia.

“Hai anakku, perhatikanlah perkataanku… sebab itulah kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.” — Amsal 4:20-22

Jangan hanya kejar mujizat, tapi kejar Dia yang memberi mujizat. Karena bersama Tuhan, kita bukan hanya sembuh — tapi hidup sehat dalam kebenaran-Nya. Itulah yang dinamakan hidup dalam berkat – blessings. Sehat, makmur, berkelimpahan dalam damai sejahtera.

“The Word of God is spirit and life, and it brings health and strength to those who receive it in faith.” – Smith Wigglesworth.

“Firman Tuhan adalah roh dan hidup, dan membawa kesehatan serta kekuatan bagi siapa saja yang menerimanya dengan iman”. – Smith Wigglesworth.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

In Christ Part 1: Sudah Punya, Ngapain Minta Lagi?

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

In Christ Part 1: Sudah Punya, Ngapain Minta Lagi?

“Tahukah kita, dalam Perjanjian Baru tidak ada pelajaran tentang menerima kesembuhan?”, ujar Ps. Daniel Amstutz.

Oh, sungguh mengejutkan!

Why?
“Karena saat lahir baru, kita sudah memiliki kesembuhan itu di dalam roh kita…,” lanjutnya.

Sungguh ini pewahyuan yang mengguncang cara berpikir lama saya!
Kalau memang sudah punya, ngapain minta lagi?

Yes!
Kita tidak perlu meminta sesuatu yang SUDAH kita miliki.
Kan sudah punya… buat apa didoakan untuk menerima lagi?
Makes sense!

Hidup dalam Kristus itu seperti kita duduk di dalam pesawat.
Yesus adalah pesawatnya.
Kita bisa terbang tinggi, bukan karena kita bisa mengepakkan tangan atau tahu cara menaklukkan angin, tapi karena kita ada di dalam pesawat.

Begitu juga, kita tidak bisa menyelamatkan, menyembuhkan, atau memberkati diri sendiri dengan kekuatan manusia.
Tapi karena kita ada di dalam Kristus, maka semua itu sudah otomatis jadi milik kita.

Keselamatan? Sudah punya.
Pengampunan? Sudah punya.
Kesembuhan? Sudah ditaruh di dalam roh kita.
Berkat, damai, sukacita, otoritas? Sudah semua!

Masalahnya: Kita sering lupa kalau kita sedang duduk di pesawat!
Kita malah panik, bingung, minta turun, minta didoakan ulang, dan bahkan kadang curiga:
“Tuhan, kenapa belum jawab doaku?”

Padahal Tuhan mungkin sedang tersenyum dan berkata,
“Nak, kamu sedang di dalam pesawat-Ku. Duduk saja yang manis. Tetap percaya. Segala sesuatunya sedang berjalan sesuai rencana.”

Saya teringat saat naik pesawat ke luar negeri.
Begitu duduk, semua fasilitas sudah disediakan.
Makanan, hiburan, bantal, selimut…
Saya tidak perlu buka pintu darurat dan beli makan sendiri di bawah.
Itu justru berbahaya!

Kesembuhan, damai, dan kelimpahan adalah ‘fasilitas kelas utama’ dari Kristus. Kalau sudah di dalam pesawat, kita tinggal menunggu pramugari datang bawa makanan.
Mengapa saya harus keluar untuk mencari?

Begitu juga dalam hidup kekristenan.
Kita in Christ.
Sudah ada di dalam Kristus!

Firman Tuhan berkata:
“Sebab di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia…” (Kolose 2:9-10)

Dipenuhi. Bukan akan dipenuhi. Sudah.

Itu sebabnya, kita perlu berubah cara berpikirnya.
Bukan lagi minta-minta dari luar.
Tapi belajar menyadari siapa kita di dalam Kristus, dan mulai berjalan dalam iman atas apa yang sudah kita miliki.

Pesawat itu membawa kita terbang tinggi di atas awan. Kita bisa melihat dunia dari perspektif berbeda.

“Allah telah membangkitkan kita bersama-sama dengan Dia dan mendudukkan kita bersama-sama dengan Dia di sorga dalam Kristus Yesus.” (Efesus 2:6)

Inilah realita rohani kita. Kita duduk in Christ — di atas segala kuasa jahat, penyakit, kemiskinan, ketakutan. Kita duduk bersama Yesus dalam posisi menang, lalu melihat semua itu dari atas, bukan dari bawah.

Jadi, bagaimana kalau tubuh terasa tidak sehat?
Kita bisa berkata:
“Tunggu dulu… Aku in Christ. Di dalam Kristus. Kesembuhan sudah ditaruh dalam rohku. Sekarang aku tinggal menerima dan bertindak sesuai kebenaran ini.”

Tidak panik.
Tidak bingung.
Tidak kejar-kejaran doa.
Tapi percaya dan tetap duduk manis di dalam pesawat-Nya.

Pesawat ini tidak pernah gagal membawa penumpangnya sampai ke tujuan.
Yesus-lah Jaminan Kita.

Dan karena kita ada di dalam Dia,
maka segala berkat rohani di surga adalah milik kita sekarang juga — bukan nanti, bukan besok, tapi sekarang, saat ini juga. (Efesus 1:3)

Jangan minta lagi yang sudah dikaruniakan.
Tinggal terima dan hidupi, karena kita in Christ!

God does not ask us to do anything for Him. He only asks us to be in Christ.” – Watchman Nee.

“Allah tidak meminta kita melakukan sesuatu untuk-Nya. Dia hanya meminta kita untuk tinggal di dalam Kristus.” – Watchman Nee.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 6