Category : Articles

Articles

“Yesus Dalam Luka Umat-Nya”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Yesus Dalam Luka Umat-Nya”

Dikhianati, ditusuk dari belakang, dilukai orang yang kita percaya… Menyakitkan bukan?
Dan yang membuat luka itu semakin dalam adalah karena yang melakukannya justru orang-orang dekat — teman seperjalanan, rekan pelayanan, bahkan anggota keluarga.

Saya pernah ada di sana.
Dan jujur saja, tidak ada yang mudah dari pengalaman itu.

Awalnya saya bergumul. Mengapa, Tuhan? Kenapa Engkau izinkan ini terjadi?
Bukankah aku mengasihi mereka? Bukankah aku hanya ingin menjadi saluran berkat?

Tapi kemudian saya belajar.
Ternyata, saat kita disakiti, Tuhan mengambilnya secara personal.

Dalam Kisah Para Rasul 9:4, ketika Yesus menampakkan diri kepada Saulus di jalan menuju Damsyik, Ia berkata, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?”
Padahal secara fisik, Saulus tidak menyentuh Yesus. Ia “hanya” menganiaya para pengikut-Nya. Namun Yesus menyamakan penderitaan umat-Nya dengan penderitaan-Nya sendiri.

Luar biasa bukan?
Tuhan begitu mengasihi kita hingga apa yang menyentuh kita — menyentuh-Nya juga.

Hmmm…..Jangan Ambil Alih Tugas Tuhan!

Rasanya ingin membela diri, ingin menjelaskan, ingin membalas. Itu manusiawi.
Tapi saya belajar dan diingatkan akan firman dalam Roma 12:19,
“Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.”

Saat kita membela diri, sebenarnya kita sedang mengatakan, “Tuhan, aku tidak percaya Engkau akan membelaku.”
Itu bentuk ketidakpercayaan, dan Tuhan tidak bekerja dalam ketidakpercayaan.

Banyak orang ingin melihat pembelaan Tuhan, tapi terus berusaha menyelesaikan semuanya dengan caranya sendiri. Mereka tak sadar, tangan Tuhan hanya bekerja ketika kita berhenti menggunakan tangan kita sendiri.

Berhenti membela diri bukan berarti kita lemah.
Justru sebaliknya, itu bukti bahwa kita percaya penuh kepada Tuhan yang berdaulat, adil, dan tidak pernah gagal menepati janji-Nya.

Tuhan itu tidak pernah tidur. ‘Gusti Allah mboten sare…’
Apa yang penting untuk kita, itu penting juga bagi Tuhan.

Saat kita memilih diam, menyerahkan luka dan pengkhianatan kepada Tuhan, kita sedang memberikan ruang bagi pengadilan surga bekerja.
Saya pernah menyaksikan bagaimana Tuhan membela saya — secara terbuka, gamblang, dan di luar perkiraan saya.

Orang-orang yang dulu salah paham, mencemarkan nama baik, akhirnya datang meminta maaf.
Yang lain melihat kebenaran yang selama ini saya pegang teguh.
Dan saya? Hanya bisa tersenyum dengan kagum, “Tuhan, Engkau adil. Engkau tahu segala sesuatu.”

Bahkan Tuhan berjanji, apa yang dicuri si musuh melalui orang-orang yang mau dipakainya, si iblis harus mengembalikan 7 kali lipat.
Wow….. dahsyat bukan?

Saya belajar bahwa dalam kerajaan Allah, tidak ada luka yang sia-sia.
Setiap pengkhianatan yang kita alami — jika kita menyerahkannya kepada-Nya — akan diubah menjadi mahkota kemuliaan.

Sakit hati bukan untuk disimpan.
Luka bukan untuk dikubur.
Tapi untuk diproses, diampuni, dan diserahkan.

Mengampuni bukan berarti membenarkan tindakan mereka.
Tapi itu berarti kita membebaskan diri kita dari jerat kepahitan yang menggerogoti damai sejahtera kita.

Dan percayalah, saat kita memilih jalan salib — jalan yang sempit dan tidak populer — kita akan melihat tangan Tuhan menyatakan pembelaan-Nya secara nyata.

Hari ini… mungkin kita sedang terluka.
Dikhianati, disalahpahami, difitnah.
Jangan takut. Jangan balas. Jangan patah.

Tuhan melihat. Tuhan tahu. Dan Tuhan akan bertindak.

Biarkan Dia yang membela.
Sementara kita terus melangkah… dengan damai, penuh kasih, dan percaya bahwa akhir dari orang benar itu selalu penuh kemuliaan.

Saya pun belajar. Bagaimana dengan Anda?

“Darkness cannot drive out darkness; only light can do that. Hate cannot drive out hate; only love can do that. – Martin Luther King Jr.

“Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan; hanya cahaya yang bisa melakukan itu. Kebencian tidak bisa mengusir kebencian; hanya kasih yang bisa melakukan itu.- Martin Luther King Jr.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Kebaikan Itu Tidak Pernah Kadaluarsa”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Kebaikan Itu Tidak Pernah Kadaluarsa”

“Getting that account gave him the chance to start Reich Insurance Brokers and grow it into a successful company.”

Mendapatkan akun itu memberinya kesempatan untuk memulai Reich Insurance Brokers dan mengembangkannya menjadi perusahaan yang sukses.

Wow…… luar biasa!

Kalimat itu bukan sekadar akhir sebuah cerita bisnis, tetapi bukti nyata bahwa kebaikan yang ditabur tidak pernah sia-sia, bahkan lintas generasi.

Ceritanya begini.
Tahun 1943, J.J. Reich hanyalah agen asuransi biasa di Manchester, Inggris. Hidupnya pas-pasan, gaji kecil, dan hampir putus asa. Ia punya teman bernama Hassan Labedini, salah satu pengusaha paling berhasil di kota itu. Hassan menyarankan J.J. agar mendatangi Oliver Johnson di Westminster Bank—orang yang selama ini mengurus polis asuransi perusahaannya.

Dengan penuh harap, J.J. datang, menceritakan kesulitannya, dan meminta Oliver memindahkan polis itu kepadanya. Jawabannya singkat: “Tidak!” Tanpa empati, Oliver bahkan tidak tertarik membantu.

J.J. berdiri dan bersiap keluar. Namun sebelum pergi, ia menyerahkan kartu namanya dan berkata, “Kalau suatu hari Anda berubah pikiran, tolong hubungi saya.”

Baru saja mencapai pintu, Oliver memanggil, “Anak muda, bisa kembali sebentar? Saya lihat nama belakangmu Reich. Apakah kamu keturunan Elozor Reich?”

“Ya, dia kakek buyut saya,” jawab J.J.

Lalu Oliver bercerita: “39 tahun lalu, saat saya baru bekerja di bank ini, saya hampir berhenti karena perlakuan buruk atasan-atasan saya. Tapi setiap pagi, kakek buyutmu datang ke bank ini, membantu imigran baru membuka rekening supaya bisa mengirim uang ke keluarganya. Ia memperlakukan mereka semua dengan penuh hormat. Hanya karena beliau, saya bertahan. Kalau benar dia kakek buyutmu, maka bisnis ini saya serahkan padamu.”

Satu keputusan itu mengubah hidup J.J. Akun besar itu menjadi batu loncatan baginya untuk memulai Reich Insurance Brokers, yang kelak berkembang menjadi perusahaan sukses.

Kita tidak pernah tahu bagaimana sebuah kebaikan kecil hari ini, yang dilakukan dengan tulus, dapat menjadi jawaban doa bagi seseorang bertahun-tahun kemudian. Bahkan cucu cicitnya bisa menikmati hasil dari benih yang kita tabur.

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena pada waktunya kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”

Sering kali kita lelah karena merasa tidak dihargai. Ada yang bahkan membalas kebaikan dengan ketus. Tapi kisah ini membuktikan satu hal: Tuhan tidak pernah melupakan benih yang kita tabur. – Gusti Allah Mboten Sare.

Elozor Reich tidak mencari pujian. Ia tidak tahu Oliver yang muda itu sedang putus asa. Ia hanya memilih hidup sesuai hati Tuhan: menghormati orang, membantu, memperlakukan sesama dengan kasih. Tidak ada kamera, tidak ada sorak-sorai. Tapi Tuhan melihat.

Hidup ini singkat. Jejak kita akan tetap tinggal, baik atau buruk. Kita bisa memilih untuk meninggalkan jejak kasih. Kita tidak bisa menentukan hasilnya hari ini, tetapi kita bisa menentukan benih yang kita tanam. Dan Tuhanlah yang membuat benih itu bertumbuh.

Saya sering menggunakan ilustrasi, jika kita menanam biji mangga, sudah pasti buahnya mangga. Tidak mungkin durian.
Tidak mungkin tertukar.
Saat menabur benih kebaikan, tidak usah dipikirkan… pasti buahnya baik juga, meski entah kapan berbuahnya. Tinggal tunggu waktu saja.

Siapa tahu, di masa depan, benih yang kita tanam menjadi pintu terbuka yang menyelamatkan keluarga kita, persis seperti Elozor Reich.

Karena itu, teruslah menabur. Bukan untuk mencari balasan dari manusia, melainkan untuk memuliakan Tuhan.
Untuk itulah kita diciptakan Tuhan di dunia ini.
Diberkati untuk menjadi berkat bagi sesama.
Kebaikan yang kita tabur, sekecil apa pun, tidak akan pernah sia-sia.
“Gusti Allah mboten sare” – Tuhan tidak tidur….

Setuju? Yuk praktik…..

“We can’t always do great things. But we can always maintain small things with a big love.” – Mother Teresa.

“Kita tidak selalu bisa melakukan hal-hal besar. Tetapi kita selalu bisa melakukan hal kecil dengan kasih yang besar.” – Mother Teresa.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Kebangkitan: Awal Dunia Baru

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Kebangkitan: Awal Dunia Baru

Banyak orang berpikir, salib Yesus hanya tentang pengampunan dosa. Kita diampuni, selesai. Tom Wright membukakan pemahaman baru.
Pengampunan dosa itu baru setengah cerita. Bagian yang sering terlewat adalah: kebangkitan Yesus.

Di kayu salib, Yesus menanggung dosa kita. Tapi ketika Ia bangkit, sesuatu yang jauh lebih besar dimulai.
Kebangkitan adalah tanda dimulainya dunia baru.

Paulus menuliskan, “Dia diserahkan karena pelanggaran kita, dan dibangkitkan untuk pembenaran kita.”
Artinya apa?
Kebangkitan adalah deklarasi Allah:
“Kalian sudah Kuperdamaikan. Sekarang Aku membuka jalan bagi ciptaan yang baru.”

Karena karya salib dan kebangkitan, kita:

– Diperdamaikan dengan Allah.
– Diperdamaikan dengan diri kita sendiri.
– Menjadi bagian dari proyek Allah untuk memulihkan dunia.

Sering kita hanya berhenti di titik pertama: “Tuhan sudah mengampuni aku.” Titik. Selesai.
Tapi kehidupan Kekristenan bukan hanya tentang dosa yang dibereskan.
Kebangkitan Yesus adalah awal sebuah kehidupan baru, di mana kita dipanggil untuk ikut membereskan dunia bersama Dia.

Bayangkan ini: tubuh Yesus yang bangkit adalah “prototype” ciptaan baru. Itu bukan sekadar mukjizat spektakuler. Itu adalah model awal bagaimana dunia yang rusak ini akan diperbaharui.
Allah memulai dengan Yesus, lalu meneruskannya lewat kita, anak-anak-Nya.

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya la, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8:29 (TB)

Itulah sebabnya Paulus menggunakan istilah “pembenaran” (justification) dalam kaitannya dengan kebangkitan.
Kebangkitan bukan hanya bukti Yesus menang atas maut. Kebangkitan adalah deklarasi resmi bahwa sekarang ada dunia baru, dan kita berada di dalamnya.

Kalimat besar yang tertulis di atas dunia baru ini adalah:
“Benar di hadapan Allah.”

Bukan karena kita sempurna. Tapi karena Yesus.
Status kita berubah: dari orang berdosa yang dihukum, menjadi anak yang diperkenan.
Dan dari posisi itu, kita diajak untuk hidup sebagai ciptaan baru.

Inilah panggilan kita: hidup di dunia lama dengan cara dunia baru.

Dunia lama penuh ketakutan, egois, serakah, dan putus asa.
Dunia baru hidup dengan damai, murah hati, dan penuh harapan karena tahu Allah memerintah.

Kita tidak hanya selamat supaya “aman masuk surga.” Kita diutus supaya dunia melihat:
“Ada cara lain untuk hidup. Ada pengharapan.”
Itulah mengapa Yesus berkata, “Kamu adalah terang dunia.”

Apakah ini mudah? Tidak.
Ada banyak tantangan. Tapi kita tidak berjalan sendiri. Roh Kudus memampukan kita.

Hari ini, saat kita menghadapi berita buruk, ketidakadilan, atau kegelapan, mari ingat:
Kebangkitan berarti dunia baru sudah dimulai.
Di tengah kekacauan, kita bisa berdiri teguh dan berkata:
“Aku adalah bagian dari karya Allah. Aku akan membawa terang-Nya.”

Jadi, jangan hanya berhenti pada pengampunan.
Terimalah hidup kebangkitan itu.
Karena ketika Yesus bangkit, Dia bukan sekadar keluar dari kubur. Dia membuka jalan untuk dunia yang benar-benar baru, dan kita diundang ikut di dalamnya.

“Kita tidak hidup untuk diri sendiri lagi. Kita hidup sebagai ciptaan baru, di dalam dunia baru yang sedang Allah pulihkan.”

The resurrection gives my life meaning and direction and the opportunity to start over, no matter what my circumstances.” – Robert Flatt

“Kebangkitan memberi arti dan arah hidupku, serta kesempatan untuk memulai lagi, apa pun keadaanku.- Robert Flatt

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Belajar Memberi Grace: Melihat Orang Lain dengan Kaca Mata Baru

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Belajar Memberi Grace: Melihat Orang Lain dengan Kaca Mata Baru

Ada satu kalimat yang di post sahabat saya Yuliadi, yang mengubah cara saya melihat orang lain:

When you finally learn that a person’s behavior has more to do with their own internal struggle than it does you, you learn grace.

“Ketika kita akhirnya mengerti bahwa perilaku seseorang lebih banyak berhubungan dengan pergumulan dalam dirinya sendiri daripada tentang kita, saat itulah kita belajar memberi anugerah.”

Selama ini kita sering salah paham.
Ada orang yang bicara ketus, marah tiba-tiba, sinis, atau dingin. Spontan kita tersinggung. Pikiran kita langsung berkata: “Dia kenapa sih sama aku?”
Padahal, seringkali masalahnya bukan di kita sama sekali.

Kita tidak pernah tahu apa yang dia alami: mungkin sedang ada masalah rumah tangga, tekanan keuangan, sakit hati, atau bahkan masa lalu yang berat. Semua itu mempengaruhi sikapnya hari itu. Perkataannya hanyalah luapan badai yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

Ketika saya sadar hal ini, hati seperti terbuka. Ada kelegaan.
Kita tidak lagi menempatkan diri sebagai pusat dunia, seolah semua orang bertindak karena kita. Kebanyakan orang sedang bergumul dengan diri mereka sendiri.

Di titik inilah kita belajar memberi grace.
Apa itu grace? Grace adalah anugerah.
Anugerah itu sesuatu yang kita terima dari Tuhan tanpa syarat, gratis, karena kasih-Nya. Bukan hasil usaha kita.

Kalau kita sudah menerima kasih karunia itu dengan iman, otomatis kita dimampukan untuk juga memberi anugerah kepada orang lain.
Memberi grace artinya memberi ruang, tidak cepat bereaksi, memberi pengertian, karena kita sadar kita pun hidup hanya karena kasih karunia Tuhan.

Grace tidak berarti membenarkan perilaku yang salah. Tapi hati kita tidak mudah tersulut, karena kita tahu masalahnya bukan tentang kita.
Grace itu sikap: hati kita tetap lembut walau orang lain sedang berantakan.

“Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain.”
Kasih seperti ini bukan teori. Ini latihan setiap hari.
Kita dilatih justru saat orang lain tidak sempurna.

Saya belajar berkata dalam hati,
“Mungkin dia sedang letih. Mungkin hatinya terluka. Saya tidak perlu ikut terbawa arusnya.”
Hidup jadi lebih ringan.

Orang yang sudah matang dan mengerti kasih karunia Tuhan tidak gampang marah. Mereka tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan, sehingga tidak terguncang oleh sikap orang lain.
Kita hanya bisa memberi grace kalau hati kita sudah kenyang oleh kasih Tuhan.

Seorang teman pernah berkata,
“Kalau kita bereaksi setiap kali ada orang yang salah kepada kita, hidup kita habis hanya untuk memadamkan api di luar. Lebih baik kita belajar memadamkan api di dalam hati dulu.”

Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan marah-marah.

Mari kita belajar melihat orang lain dengan cara berbeda.
Daripada tersinggung, lihatlah mereka dengan belas kasihan.
Kadang orang yang paling menyebalkan adalah orang yang paling butuh kasih.

Apakah ini mudah? Tidak. Tapi setiap kali kita memberi grace, kita sedang bertumbuh.
Pelan-pelan, hati kita makin dewasa dan damai sejahtera kita terjaga.

Mungkin inilah maksud Tuhan ketika berkata: “Belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.”

Berhentilah berpikir bahwa semua hal tentang kita.
Karena begitu kita sadar: Perilaku orang lain lebih banyak tentang pergumulan mereka sendiri, bukan tentang kita,
kita pun akan hidup lebih damai… dan belajar memberi grace—anugerah yang sudah kita terima dari Tuhan.

“Hurting people hurt people. They are full of pain, and it comes out in what they do and say.” – Joyce Meyer.

“Orang yang terluka cenderung melukai orang lain. Mereka penuh dengan rasa sakit, dan itu keluar melalui apa yang mereka lakukan dan katakan – – Joyce Meyer.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Hard Knocks atau Firman Tuhan?


Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Hard Knocks atau Firman Tuhan?

Pernah dengar istilah School of Hard Knocks? Artinya sekolah kehidupan yang penuh benturan, di mana seseorang baru sadar setelah dihajar masalah. Banyak orang hidup seperti itu. Sudah diingatkan, tetap jalan sendiri. Akhirnya jatuh, sakit, bangkrut, baru menoleh kepada Tuhan.

Padahal itu *BUKAN* rencana Tuhan.
Alkitab jelas mengatakan bahwa “upah dosa adalah maut” (Roma 6:23). Hidup jauh dari Tuhan itu berbahaya karena kita berjalan tanpa arah. Seperti anak bungsu dalam perumpamaan Yesus (Lukas 15:11–24), yang lari dari rumah, menghamburkan harta, dan berakhir di kandang babi. Baru setelah lapar, miskin, ditinggalkan teman-temannya, Alkitab berkata: “Ia sadar akan dirinya.” (Lukas 15:17).

Perhatikan, bukan Tuhan yang bikin dia sengsara. Pilihannya sendiri yang menjerumuskannya.

“Perbuatanmu sendiri mendatangkan malapetaka bagimu” (Yeremia 2:19).

Inilah hukum kehidupan. Kalau kita salah memilih, kita menuai akibatnya (Galatia 6:7).

Namun di balik kesulitan itu, ada satu hal yang bisa jadi titik balik: penderitaan seringkali membuka mata. Seperti anak bungsu itu, penderitaan membangunkan dia. Saat sadar, ia ingat rumah bapanya yang penuh kasih. Ia pulang, dan dipeluk.

Sayangnya, tidak semua orang pulang. Ada yang malah pahit, menyalahkan Tuhan.

Di sinilah pentingnya kita memahami: malapetaka bukan dari Tuhan. Tuhan itu Bapa yang baik (Yakobus 1:17).

Tetapi kalau kita mengabaikan firman-Nya, hidup ini seperti mobil yang dipacu di jalan tanpa rem. Ketika menabrak tembok, sakitnya luar biasa.

Firman Tuhan itu seperti rambu lalu lintas. Kalau kita mau belajar, mendengar dan menuruti-Nya, kita bisa menghindari tabrakan.

“Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian setiap orang diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Timotius 3:16–17).

Belajar dari firman itu jauh lebih ringan daripada harus belajar dari penderitaan. Tapi kalau keras kepala, hidup akan mengajar dengan cara yang keras.

Mana yang kita pilih? School of Hard Knocks atau sekolah Firman Tuhan?

Kalau kita jujur, semua orang pernah mengalami benturan. Namun orang bijak tidak berhenti di situ. Kita belajar, bangkit, dan memperbaiki hidup. Kesulitan itu menjadi guru, tetapi guru yang mahal. Mengapa harus menunggu sampai masalah menghancurkan kita baru mau dengar suara Tuhan?

Hidup kita ini berharga. Jangan tunggu sampai di kandang babi baru sadar. Lebih baik buka hati dari sekarang.
Baca firman setiap hari. Dengarkan suara Tuhan. Praktikkan. Hidup akan jauh lebih tenang karena kita dituntun.

Setiap kali membaca kisah anak bungsu, hati saya tergetar. Bagaimana seorang bapak dengan sabar menunggu, tidak menyeret anaknya pulang paksa. Tapi ketika anak itu pulang, sang bapak berlari menyambutnya, memeluk, memulihkan, dan mengadakan pesta. Itulah hati Bapa kita di surga.

Bagi yang sedang di tengah badai hidup, jangan salahkan Tuhan. Arahkan hati kepada-Nya. Gunakan badai ini sebagai alarm untuk kembali. Dan bagi kita yang masih ada kesempatan, belajarlah dari firman, bukan dari pukulan hidup.

Karena sekolah kehidupan memang ada, tetapi sekolah firman jauh lebih murah biayanya. Pilih mana?

“You can learn from God’s Word or from painful experience. Experience is always the most expensive teacher” – Rick Warren.

“Kita bisa belajar dengan mendengar firman Tuhan, atau dengan pengalaman pahit. Tapi pengalaman selalu jadi guru yang mahal.” – Rick Warren.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 28 29 30 31 32 314