Category : Articles

Articles

Mintalah, Maka Kamu Akan Menerima.

Seruput Kopi Firman
Yenny Indra

Mintalah, Maka Kamu Akan Menerima.

“Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Lukas 11:9)

Ini janji Yesus sendiri. Bukan pendapat orang. Bukan karangan motivator. Tapi anehnya, banyak orang Kristen berdoa, tapi tidak menerima. Lalu mulai mencari-cari alasan: mungkin belum waktunya, mungkin Tuhan tidak mau.

Padahal, kalau Yesus sudah berkata setiap orang yang meminta akan menerima, berarti masalahnya bukan di Tuhan. Mungkin ada yang salah dalam cara kita berdoa atau cara kita menerima.

Yakobus 4:3 bilang, “Kamu berdoa juga, tetapi tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa.”
Artinya, bukan sekadar minta, tapi kita perlu tahu apa yang sudah dijanjikan Tuhan dalam Firman-Nya. Kalau yang diminta adalah bagian dari penebusan Kristus — pengampunan, damai, kesembuhan, hikmat, pemulihan, jodoh, anak, keuangan — semua itu sudah disediakan. Tinggal bagaimana kita percaya dan menerima.

Kita butuh iman. Ibarat listrik sudah terpasang di rumah, tapi lampu tetap gelap kalau tidak ada yang menyalakan saklar. Firman itu janjinya. Perkataan kita adalah saklarnya. Iman menyalakan kuasa Tuhan. Dan konsistensi adalah kuncinya.

Ini bukan teori. Saya ingin bagikan kisah nyata yang luar biasa — yang tidak hanya terjadi di Amerika, tapi juga sampai Afrika. Karena Firman Tuhan bekerja di mana pun, termasuk di Indonesia!

Tahun 1981, Dodie Osteen didiagnosis kanker hati metastasis. Dokter hanya memberi waktu hidup beberapa minggu. Tapi Dodie memilih percaya pada Firman, bukan vonis dokter. Ia pulang ke rumah, menempelkan ayat-ayat kesembuhan di seluruh rumah, memperkatakan janji Tuhan setiap hari, menolak takut, tetap memasak, tetap bergerak sebagai wujud iman bahwa ia disembuhkan. Ia bahkan berdiri secara harfiah di atas Alkitab, menegaskan bahwa hidupnya berdiri di atas Firman. Tidak instan. Tapi beberapa bulan kemudian, tubuhnya bebas kanker — dokter pun tidak bisa menjelaskan secara medis.

Mengapa Dodie begitu beriman?
Sebelumnya, putrinya Lisa lahir dengan tali pusat melilit leher, tidak bisa minum, duduk, atau menelan. Dokter bilang kemungkinan besar Lisa tidak akan berjalan. Tapi John dan Dodie memilih percaya. Mereka mengucap syukur seperti Lisa sudah sembuh, setiap hari. Secara bertahap Lisa berkembang. Sebelum usia 1 tahun, Lisa sudah bisa berjalan. Kini Lisa sehat, cantik, dan aktif melayani Tuhan.

Pengalaman bersama Tuhan ini membuat Dodie memiliki iman yang terlatih.

Pastor Robert Kayanja dari Uganda pernah datang ke rumah John dan Dodie Osteen, tidak hanya disambut secangkir kopi dan doa. Waktu itu dia belum menikah. Dodie mendoakan dan tak lama dia menikah dengan Jessica. Lalu selama 5 tahun mereka belum punya anak. Dodie mendoakan terus sampai lahir anak pertama, lalu disusul anak kembar.

Saat salah satu putrinya didiagnosis kanker dan divonis hidup 3 bulan, Robert kembali mengingat kesaksian Dodie. Ia berdoa setiap hari, berdiri atas Firman. Dalam kunjungannya ke Amerika, Dodie memberikan sapu tangan yang sudah diurapi untuk ditumpangkan pada anaknya. Hasilnya? Anaknya sembuh total.
Hari ini, Pastor Robert menyebut dirinya Black Osteen, saking bersyukurnya.

Kisah lain yang menggetarkan hati tentang George Müller, penginjil dari Inggis, yang berdoa setiap hari untuk lima orang temannya agar mereka diselamatkan.

Orang pertama bertobat setelah beberapa bulan.
Orang kedua, setelah beberapa tahun.
Orang ketiga, setelah 10 tahun.
Orang keempat, 25 tahun kemudian, sesaat sebelum Müller meninggal.
Orang kelima, bertobat setelah kematian Müller, lebih dari 50 tahun sejak Müller mulai berdoa.

Selama puluhan tahun, Müller tidak pernah berhenti mendoakan mereka, meskipun belum melihat hasilnya. Ia percaya bahwa Tuhan akan menjawab doanya — dan benar, semuanya akhirnya menerima Kristus.
Doa Terjawab!

Apa kunci dari semua ini?
Bukan karena suara Tuhan terdengar, mimpi, penglihatan, atau nubuatan.
Hanya satu: berdiri di atas Firman.
Konsisten. Tidak goyah. Tidak peduli berapa lama atau apa pun keadaannya.
Fakta bisa berubah. Firman Tuhan tidak.

Mintalah, maka kamu akan menerima.
Dan jika Firman ini nyata di Amerika dan Afrika, Firman yang sama bekerja juga di Indonesia.

“Ketika kamu kembali kepada Tuhan, tidak ada yang bisa mengalahkanmu.” — Smith Wigglesworth

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” — Yakobus 4:8

Jadi… Siap berdiri di atas Firman dan menerima apa yang sudah dijanjikan-Nya?

God will pass over a million people just to find someone who believes Him.” – Smith Wigglesworth.

“Tuhan akan melewati sejuta orang hanya untuk menemukan satu orang yang sungguh percaya kepada-Nya.” – Smith Wigglesworth.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#SeruputKopiFirman
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Luka Mereka, Bukan Milikmu..

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Luka Mereka, Bukan Milikmu..

Saya membaca sebuah tulisan dari #ajraharjo yang begitu menusuk hati:

“Ketika seseorang memperlakukanmu dengan buruk, itu mencerminkan masalahnya sendiri, bukan nilai dirimu. Orang yang sehat secara emosional tidak akan menjatuhkan orang lain.”

Kalimat itu sederhana, tapi dalam. Seperti cermin yang memantulkan kenyataan—bukan tentang kita, tapi tentang luka orang lain yang belum selesai.

Ajraharjo bercerita tentang Maya, seorang seniman muda berbakat yang bekerja di galeri seni terkenal. Mimpinya tinggi, semangatnya menyala. Tapi setiap hari, Maya harus menghadapi kurator senior yang sinis, merendahkan, dan sering mengolok-olok karyanya. Bahkan pakaiannya pun dikomentari.

Awalnya Maya mencoba kuat. Tapi lama-lama ia mulai percaya bahwa dirinya memang tidak cukup baik. Bahwa mimpinya terlalu besar untuk bakatnya yang kecil. Bahwa dirinya memang layak direndahkan.

Sampai suatu hari, seorang kolektor seni datang dan terpukau dengan lukisan Maya. Ia memuji kedalaman warnanya, emosi dalam goresannya.

Maya terdiam, lalu bertanya dengan suara pelan, “Bagaimana Anda bisa melihat keindahan itu, sementara kurator saya hanya melihat kesalahan?”

Kolektor itu tersenyum, “Karena dia tidak pernah mampu melihat keindahan—dalam karyamu, bahkan dalam dirinya sendiri.”

Dan di situlah Maya mulai mengerti. Ia bukan masalahnya. Bukan lukisannya yang buruk. Hanya saja, orang yang melihatnya, belum sembuh dari kekosongan dalam dirinya.

Banyak dari kita pernah berdiri seperti Maya. Diserang tanpa sebab, dikritik tanpa kasih, dijatuhkan padahal tak salah. Lalu kita sibuk memperbaiki diri, bukan karena ingin bertumbuh, tapi karena takut dianggap gagal. Kita lupa, luka yang dilemparkan orang lain bukan cermin yang harus kita pakai untuk menilai harga diri.

Tuhan menciptakan kita dengan nilai, bukan berdasarkan pendapat manusia. Nilai itu melekat, tetap utuh—meski orang lain menolak, mengabaikan, bahkan mencibir.

Dalam sebuah pengajaran kuno tertulis, bahwa hati yang penuh dengan kebencian akan mengeluarkan caci maki; tangan yang penuh kepahitan akan mencari sasaran untuk dijatuhkan. Tapi itu bukan tentangmu. Itu cerminan dari jiwanya yang terluka.

Tuhan melihat hati. Bukan hanya perilaku kita, tapi juga motivasi dan luka yang kita bawa. Maka ketika kita menerima perlakuan yang menyakitkan, sebenarnya kita sedang diundang untuk melihat lebih dalam: Apakah aku akan bereaksi seperti mereka, atau tetap berdiri dalam terang yang telah Tuhan berikan padaku?

Orang yang sehat secara rohani dan emosional tidak sibuk menjatuhkan. Mereka terlalu sibuk membangun, mencipta, dan menginspirasi. Mereka tahu bahwa menjatuhkan orang lain tidak membuat mereka lebih tinggi. Justru sebaliknya, memperlihatkan betapa kosongnya dunia batin mereka sendiri.

Ketika seseorang mencoba meruntuhkanmu, jangan lari. Berdirilah tegak.

Bukan untuk membalas, tapi sebagai pernyataan: Aku tahu siapa diriku. Aku tahu siapa yang memegang hidupku. Aku bukan pantulan dari kritikmu, tapi ciptaan Tuhan yang unik dan bernilai.

Terkadang, terang dalam dirimu begitu kuat, sampai-sampai kegelapan dalam diri orang lain merasa terancam. Maka jangan padamkan terang itu hanya karena ada yang merasa silau. Jangan biarkan luka mereka merusak jiwamu. Biarkan mereka dengan pergumulannya, dan teruslah bersinar.

Dan saat hatimu mulai goyah, ingatlah kisah Maya. Ia hampir menyerah karena cermin yang retak. Tapi yang ia butuhkan bukan cermin baru, melainkan keberanian untuk melihat dirinya lewat mata yang lebih tinggi—mata yang melihat bukan hanya kesalahan, tapi potensi, kasih, dan panggilan hidup.

Kadang, kehidupan memaksa kita lewat jalan sempit agar kita belajar membedakan: mana kritik yang membangun, dan mana yang lahir dari kegelapan jiwa orang lain.

Kita tidak bisa memilih bagaimana orang memperlakukan kita. Tapi kita bisa memilih untuk tetap berdiri dalam kasih, dalam pengampunan, dan dalam keyakinan bahwa hidup kita berharga—bukan karena pengakuan mereka, tapi karena Tuhan sendiri yang memberi nilai itu.

Siap praktik?
Mari jadi Pemenang!

“You will never be criticized by someone doing more than you. You will only be criticized by someone doing less.”- Denzel Washington.

“Kamu tidak akan dikritik oleh orang yang melakukan lebih darimu. Kritikan biasanya datang dari mereka yang melakukan lebih sedikit.” – Denzel Washington.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Inilah Pencuri Kebahagiaan & Kesehatan. Sadarkah Kita?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Inilah Pencuri Kebahagiaan & Kesehatan. Sadarkah Kita?

Tulisan guru saya, Barry Bennett membuat saya tersentak. Ternyata, hal-hal yang biasa dan tampak “sepele” bisa mencuri kebahagiaan… bahkan kesehatan kita, tanpa kita sadari!

Kita sering berpikir bahwa sakit itu akibat makanan, cuaca, kurang tidur, atau keturunan. Padahal ada satu area yang lebih penting dan sering terlupakan: hati kita sendiri. Barry berkata, “Kekuatiran dunia ini bisa menjadi pintu masuk penyakit.” Kalimat itu terlihat sederhana, tapi tajam menembus.

Coba perhatikan. Pernahkah kita menyimpan amarah, rasa kesal, sakit hati atau kecewa dalam diam? Mungkin kita sudah terbiasa. Kita marah diam-diam, tersinggung tapi pura-pura baik-baik saja. Kita gelisah dengan keadaan politik, kesal melihat orang lain lebih sukses, atau menyimpan luka dari masa lalu yang belum selesai.

Semua itu adalah bentuk perselisihan di hati. Dan perselisihan, tulis Barry, adalah buah dari iri hati dan sikap mementingkan diri sendiri. Bisa jadi karena kita belum mengampuni, merasa tersinggung, kepingin balas dendam, terlalu banyak mengeluh, atau… senang bergosip. Semua itu kelihatannya kecil, tapi jika dipelihara, bisa mencuri damai kita.

Dan ketika damai hilang, sukacita ikut lenyap. Tubuh jadi rentan. Penyakit pun punya celah untuk masuk.

Saya jadi teringat, dulu saya pernah mengalami sakit yang aneh. Sudah periksa ke dokter, semua hasilnya baik. Tapi kepala sering pusing, tubuh lemas. Setelah saya mulai belajar mengampuni, melepaskan beban dan menolak memelihara luka, tubuh saya mulai pulih. Bukan karena obat, tapi karena hati mulai bersih.

Ternyata kesehatan itu bukan cuma soal fisik. Tapi juga soal jiwa. Bahkan lebih dalam lagi, soal roh. Ketika hati penuh damai, tubuh ikut tenang. Ketika hati bersih, pikiran jernih. Tapi kalau hati kotor, tubuh pun ikut ‘keracunan’.

Kita sering sibuk “melayani Tuhan” — tapi tidak menjaga hati. Kita aktif dalam pelayanan, ikut persekutuan, rajin menyebut nama Tuhan, tapi… gampang sekali tersinggung, suka menghakimi, merasa lebih rohani dari orang lain. Tanpa sadar, kita membuka pintu lebar-lebar untuk pencuri: pencuri damai, pencuri sukacita, pencuri kesehatan.

“Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”

Hidup dalam Roh bukan cuma soal karunia, tapi hidup dalam damai. Hati yang damai menciptakan atmosfer yang sehat, bukan hanya bagi diri sendiri, tapi juga orang di sekitar kita.

Kalau hati kita hari ini tidak tenang, mungkin bukan karena keadaan di luar, tapi karena kita belum menyelesaikan hal di dalam. Kita tidak bisa mengendalikan dunia, tapi kita bisa memilih untuk menjaga hati kita sendiri.

Kesehatan dan kebahagiaan itu hak setiap anak Tuhan. Tapi untuk memilikinya, kita perlu memeriksa dan membersihkan hati setiap hari. Jangan beri ruang bagi kekuatiran, iri, gosip, dan dendam. Karena itulah pencuri yang sesungguhnya.

Akhiri hari ini dengan hati yang ringan. Ampuni mereka yang menyakiti. Doakan yang menolak kita. Pilih untuk tidak menanggapi gosip. Lepaskan beban yang bukan bagian kita. Karena hidup yang damai… adalah hidup yang penuh kuasa.

Dan seperti kata Corrie ten Boom:
“Worry does not empty tomorrow of its sorrow, it empties today of its strength.”

“Kekuatiran tidak mengosongkan hari esok dari kesusahannya, tetapi menguras kekuatan hari ini.”

Siap praktik? Yuuk….

“If you are humble nothing will touch you, neither praise nor disgrace, because you know what you are.” – Mother Teresa.

Jika kita rendah hati, tidak ada yang bisa menyentuh kita, baik pujian maupun hinaan, karena kita tahu siapa diri kita – Mother Teresa.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Tunggu Pintu Tuhan, Bukan Sorotan Dunia.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tunggu Pintu Tuhan, Bukan Sorotan Dunia.

Tuhan membuka pintu yang tak bisa ditutup siapa pun. Kalimat ini sederhana, tapi mengandung kuasa besar yang sering kita lupakan. Apalagi di tengah dunia sekarang yang penuh hiruk-pikuk pencitraan diri, branding, dan kompetisi tak berkesudahan. Seolah kalau kita tidak gencar promosi, tidak aktif mengejar kesempatan, maka hidup akan tertinggal. Padahal, kebenarannya tetap sama: jika Tuhan yang membuka pintu, tidak ada yang bisa menutup. Dan jika Dia yang menempatkan kita, tidak satu pun yang bisa menyingkirkan kita dari sana.

Namun kita sering lupa. Kita lebih percaya algoritma media sosial ketimbang janji Tuhan. Kita merasa harus terus menunjukkan kehebatan kita agar bisa “dipanggil naik”. Tapi sesungguhnya, panggilan Tuhan tidak bisa dipromosikan oleh manusia. Itu murni anugerah. Justru setiap kali aku berkata “ya” kepada Tuhan, bahkan saat aku sendiri belum tahu hasil akhirnya, di situlah aku merasa makin dekat dengan-Nya. Dekat dengan hati-Nya. Dan ketika hati kita menyatu dengan hati Tuhan, itulah posisi paling aman untuk bermimpi.

Mungkin kamu pernah takut bermimpi besar. Takut ditolak. Takut gagal. Takut mimpinya tak jadi nyata. Padahal akar dari semua itu sebenarnya hanya satu: takut dikecewakan. Tapi mari kita pikirkan baik-baik… apa benar Tuhan akan mengecewakan kita?

Mimpi yang dari Tuhan itu bukan seperti ide gila dari pikiran kita. Itu benih surgawi yang Dia taruh diam-diam di hati kita. Mungkin terlihat terlalu besar, terlalu sulit, bahkan mustahil. Tapi justru itulah tandanya bahwa itu bukan dari kita. Itu dari-Nya. Dan Dia sanggup menuntun sampai tuntas.

Masalahnya, kita ini sering menilai mimpi seperti resolusi tahun baru. Kalau belum kejadian dalam setahun, kita anggap gagal. Kita buang. Kita cari yang lain. Kita ingin semua serba cepat. Tapi Tuhan tidak bekerja seperti ponsel zaman sekarang. Dia lebih mirip kamera film analog.

Zaman dulu, habis foto-foto, kita harus sabar. Filmnya dikirim ke studio, masuk ke ruang gelap, prosesnya rumit—9 tahap kimia yang tidak boleh diganggu. Kalau pintunya dibuka sebelum waktunya, fotonya rusak. Demikian juga dengan mimpi kita. Ada prosesnya. Ada masa ‘ruang gelap’ di mana kita tidak tahu apa-apa, tapi justru di situlah karakter kita dibentuk dan gambar besar Tuhan sedang diproses.

Aku pernah diingatkan dengan kalimat yang sangat membekas: “Jangan pernah mencoba menempatkan dirimu di suatu tempat dengan kekuatan sendiri. Kalau kamu yang menaruh dirimu di sana, kamu juga yang harus berjuang keras supaya tetap di sana. Tapi kalau Tuhan yang menempatkanmu, tidak ada iblis dari neraka maupun manusia di bumi yang bisa mencabutmu dari situ.” Dan aku tahu, itu benar.

Kalimat ini menjadi jangkar dalam banyak musim hidupku. Saat aku tergoda untuk mengandalkan kekuatan sendiri, aku kembali pada kebenaran ini—lebih baik menunggu waktu Tuhan daripada memaksa pintu terbuka lebih cepat dari seharusnya.

Dunia terus mendesak kita: “Kejar mimpimu!” “Jadi versi terbaik dirimu!” “Lakukan apa yang kamu suka!” Tapi kalau semua itu tidak lahir dari relasi dengan Tuhan, hasil akhirnya selalu sama: hampa. Tidak ada pemenuhan sejati. Tapi kalau mimpi itu lahir dari perjumpaan dengan Tuhan, kita akan terus maju meski dunia bilang “gak mungkin.”

Jadi hari ini aku ingin mengajakmu… jangan sabotase mimpimu sendiri hanya karena kamu takut atau merasa tidak cukup. Ambil langkah iman itu. Bilang “ya” pada Tuhan, dan biarkan Dia menuntunmu ke tempat yang tak bisa dibuka oleh kekuatan manusia.

“God is not looking for perfection, but obedience.” – Christine Caine.

“Tuhan tidak mencari kesempurnaan, tetapi ketaatan.”- Christine Caine.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Penjara Tak Terlihat Bernama Rasa Bersalah”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Penjara Tak Terlihat Bernama Rasa Bersalah”

Mengampuni orang lain memang butuh keberanian. Tapi tahukah kita, mengampuni diri sendiri justru sering kali jauh lebih sulit? Kita tahu Tuhan mengampuni, tapi hati kita masih menolak menerima. Kita merasa terlalu gagal, terlalu kotor, terlalu terlambat.

Andrew Wommack pernah berkata, “Kalau kita merasa bersalah berlebihan, artinya kita menempatkan perasaan kita di atas salib Kristus.”

Saya termenung mendengarnya. Tanpa sadar, kita hidup dengan rasa bersalah yang tidak Tuhan berikan. Kita terima pengampunan secara teori, tapi dalam praktik, hati kita masih menyimpan vonis terhadap diri sendiri.

Nancy Dufresne mengingatkan, “Kalau Tuhan sudah mengampuni, tapi kamu belum bisa berdamai dengan dirimu sendiri, kamu sedang menolak kasih karunia-Nya.”

Kadang kita mengira itu tanda kerendahan hati. Padahal sebenarnya, itu bentuk kesombongan rohani—seolah-olah dosa kita lebih besar dari pengorbanan Yesus. Kita berkata, “Tuhan mengampuni, tapi saya belum bisa memaafkan diri saya sendiri,” padahal justru itulah yang membuat kita terus hidup dalam luka yang tidak sembuh.

Saya pun pernah mengalami rasa sesal yang dalam. Menangis, bertanya, “Kenapa saya bisa sebodoh itu? Kenapa saya gak sadar dari dulu?”

Tapi saya belajar, penyesalan tidak pernah membawa kita ke depan. Penyesalan menahan kita di masa lalu yang tidak bisa diubah. Justru penerimaan atas pengampunan Tuhanlah yang membawa pemulihan.

Tuhan tidak menunggu kita sempurna. Dia tahu kita pernah salah langkah, tapi kasih-Nya tidak berubah. Kalau kita mau jujur, kita semua punya hal yang ingin diulang kembali. Tapi waktu tidak pernah bisa diputar. Yang bisa kita lakukan adalah mengubah respon kita sekarang—dengan belajar berdamai dan mengampuni diri sendiri. Karena hanya orang yang sudah diampuni dan menerima pengampunan itulah yang bisa hidup dalam damai, mengalirkan kasih, dan dipakai Tuhan secara maksimal.

Andrew juga menekankan bahwa iman tidak bisa bekerja kalau hati masih dikuasai rasa bersalah. Iman bekerja lewat kasih. Dan kasih itu tidak menyimpan kesalahan, termasuk terhadap diri sendiri. Jadi hari ini, berhentilah memukul diri sendiri karena masa lalu. Kalau Tuhan sudah selesai menghakimi, kita tidak berhak terus menyiksa diri.

Saya pun mengalami proses ini dalam kehilangan orang-orang terkasih. Setiap kali kehilangan, entah itu papa, mama, maupun adik, selalu ada penyesalan. “Ah… seandainya saja saya lebih sering meluangkan waktu… lebih sabar… lebih perhatian.”

Kalimat-kalimat itu terus membayang. Tapi saya sadar, penyesalan tidak mengubah apa pun. Yang ada justru menghancurkan hati sendiri.

Saya mulai bertanya pada diri sendiri: “Kalau mereka masih hidup, apa yang mereka harapkan?” Jawabannya sederhana: tentu mereka ingin saya bahagia, dan menjalani hidup dengan penuh kasih. Maka saya pun memutuskan untuk memperhatikan adik dan keponakan yang masih hidup. Mencintai mereka, hadir buat mereka, memberi apa yang saya bisa. Saya percaya, di surga sana, papa, mama, dan adik saya pun ikut bersukacita.

Mengampuni diri sendiri adalah pilihan untuk hidup, bukan untuk terus terjebak dalam rasa bersalah. Bukan melupakan, tapi berdamai. Karena hanya orang yang berdamai dengan masa lalu yang bisa melangkah penuh iman ke masa depan.

“It’s not what you did that’s holding you back. It’s what you think about what you did.” – Lisa Nichols.

“Bukan apa yang kamu lakukan yang menahan langkahmu, tapi cara kamu memandang apa yang sudah terjadi. – Lisa Nichols.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 24 25 26 27 28 314