Category : Articles

Articles

“Siapa Tuhanmu?”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Siapa Tuhanmu?”

Berbicara secara umum, Tuhan kita adalah sesuatu yang kepadanya kita setia dan tunduk secara terus menerus. Mungkin saja kita mengatakan Yesus adalah Tuhan kita, tetapi jika kita dengan setia tunduk kepada hal-hal lain, hal-hal lain itulah yang benar-benar merupakan tuhan kita.

“Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu.”
Roma 6:16 (TB).

Mari kita lihat contoh seorang pria yang menjadi budak dari keadaannya. Dalam Yohanes, bab 5, terdapat kisah tentang seorang pria yang telah berbaring di tepi Kolam Betesda selama 38 tahun karena penderitaan fisiknya. Dia, bersama dengan banyak orang sakit lainnya, sedang menunggu air yang seharusnya digoncangkan oleh seorang malaikat, orang yang pertama masuk ke dalam air, akan disembuhkan.

Dalam uraian singkat ini, kita dapat melihat bagaimana pria ini tunduk pada dua ‘tuan’ berbeda yang mendominasi hidupnya. Dia budak dari hal-hal yang dia patuhi.

Pertama, dia menjadi budak dari penderitaannya, yang telah mendikte gaya hidupnya selama 38 tahun. Identitas, rutinitas, dan takdirnya berkisar di seputar penyakitnya. Penyakit itu telah menjadi tuannya.

Kedua, dia dikuasai oleh takhayul.
Keyakinannya telah membelenggunya di sekitar kolam itu.
Tidak disebutkan dalam Perjanjian Lama tentang kesembuhan yang datang kepada Bangsa Israel melalui malaikat yang menggoncangkan air kolam. Namun, banyak orang telah ditundukkan karena cerita ini.

“Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: ”Maukah engkau sembuh?”
Yohanes 5:6 (TB).

Yesus memberi orang ini pilihan yang baru. Dengan opsi baru ini, artinya penguasa atas penyakit dan takhayul harus dilepaskan cengkeramannya, dan pria tersebut dapat memasuki kebebasan sejati, JIKA dia bersedia melepaskan pegangannya pada ke dua tuan itu!

Sering kali kita membiarkan keadaan, takhayul, ketakutan, dan pemikiran salah menjadi tuan kita, tanpa menyadarinya.

Kita mengklaim bahwa Yesus adalah Tuhan, tetapi kita hidup dalam perbudakan tuhan lainnya.
Kebebasan sejati, termasuk kesembuhan, bisa datang ketika kita memilih untuk menjadikan Yesus sebagai Tuhan kita yang sejati.

Apakah Anda ingin bebas?
Apakah Anda ingin menjadi baik?
Serahkan diri Anda (hati, pikiran, dan takdir Anda) kepada Ketuhanan Yesus.
Tinggalkan ‘ketuhanan’ dari keadaan.
Kebebasan sejati dimulai dengan mengakui adanya ketuhanan perbudakan, memutuskan untuk memecat tuan itu dan memberikan hati Anda kepada orang yang mencintai Anda dan ingin membebaskan Anda. (Yesus)

“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”
Yohanes 8:36 (TB).

[Repost ; “Who is your Lord?”. – Barry Bennett, Penerjemah Yenny Indra].

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Sadarkah Kita, Tuhan Ingin Kita Bersatu, Bergotong-royong & Saling Mengasihi?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Sadarkah Kita, Tuhan Ingin Kita Bersatu, Bergotong-royong & Saling Mengasihi?

Begitu post artikel “Tuhan Yang Selalu Bisa Diandalkan! Ini buktinya…*, Monica memberi info tambahan yang apik.

Yang belum baca artikel kemarin, sila KLIK:
https://yennyindra.com/2022/05/tuhan-yang-selalu-bisa-diandalkan-ini-buktinya/

” Yenny, tahu gak siapa pemilik gedung, yang menjadi -Malaikat Penolong Sekolah Pelita Permai?” tanya Monica,
“Beliau seorang Muslim yang baik hati, bahkan pemilik sebuah pesantren. Dengan penuh kasih, mengijinkan Pelita membayar sesuai dana yang ada dan sisanya dicicil selama 1 tahun.”

Wow…..

Perbedaan keyakinan, suku, ras tidak menjadi masalah.
Jangan pernah membatasi diri dengan pemikiran kita yang terbatas.

Dari pengalaman pribadi saya juga sama.
Tanah pertama yang kami miliki, dibeli dari seorang dosen, P. Darto, namanya.
Beliau seorang muslim taat, yang memberi kami kesempatan membeli tanahnya dengan mencicil.
Bahkan sebelum mencicil yang pertama kalinya, beliau berkenan sertifikat dibalik nama an. P. Indra.

Setelah mencicil pertama, kami bisa dapat pinjaman bank dengan jaminan sertifikat tsb. sehingga kami dapat modal tambahan untuk berbisnis.
Kami pun mencicil pinjaman itu pada P. Darto hingga lunas.

Tuhan itu Allah yang Maha-kreatif.
Apa yang sulit bagi-Nya?
Tidak ada yang mustahil bagi-Nya!
Karena itu, jangan batasi Allah dengan otak kita yang hanya sebesar kacang.
Bangun hubungan baik dengan siapa saja.
Siapa pun bisa Tuhan pakai jadi malaikat penolong.


Sesungguhnya Bangsa Indonesia adalah bangsa yang penuh kasih, rukun dan saling bergotong-royong sejak jaman dulu.
Melalui peristiwa ini, kita diingatkan, alangkah indahnya jika setiap kita bersatu, saling membantu, saling menghormati, tanpa ada kotak-kotak perbedaan agama, ras, suku dsb., lalu bergotong-royong membantu saudara-saudara kita yang berkekurangan.
Betapa indahnya dunia ini….

Setiap kita umat Tuhan yang penuh kasih, tentunya kasih itulah yang perlu diamalkan dan dibuktikan bahwa buah kehidupan kita memang kasih.
Allah adalah Sang Kasih Yang Sempurna.
Jika Allah yang benar-benar ada di dalam hati kita, tentu yang terpancar melalui hidup kita, kasih juga.


Teringat saat kecil di Kota Kebumen, kampung halaman saya. Setiap lebaran mama sibuk mengirimkan hantaran untuk tetangga yang muslim. Ada juga tetangga muslim yang Orang Arab. Tuan Ali, demikian papa kerap menyebutnya.
Bahkan ketika ada penduduk yang baru pindah, justru mama yang penduduk lama yang mengirimi hantaran terlebih dulu.

“Ma, koq bukan tetangga baru yang ke rumah kita?”

“Gak apa, mungkin masih repot. Konon beliau seorang guru. Baru pindahan, hantaran ini bisa sedikit membantu.”

Hubungan antar tetangga sangat rukun dan damai. Tidak pernah terdengar pengkotak-kotakan seperti sekarang.
Bahkan saat Bapak pemilik Toko “Basuki” hendak menjual tokonya, banyak yang berminat. Baik dari tetangga yang muslim mau pun tionghoa.

“Toko ini hanya saya jual ke orang lain, kalau Papah & Mamah Toko Pojok tidak mau membelinya,” ujarnya.

Toko “Pojok” adalah toko milik papa & mama, yang sekarang dilanjutkan oleh Ayda, adik saya.
Sedemikian akrabnya hubungan persaudaraan dan pertemanan kami.
Sungguh menyenangkan dan membekas di hati. Keteladanan yang mulia.


Banyak guru-guru dan sahabat-sahabat saya yang muslim.:

  • P. Prasetya & B. Uti M. Brata – sang pakar Neuro Semantic. Provokasi & Inti Makna.
  • P. Eka Wartana – yang terkenal dengan teorinya “Berpikir Tanpa Mikir” yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan bukunya dipamerkan di Jerman.
  • P. Achmad Nurcholis, tokoh lintas agama.
  • Bunda Dewi Motik, sudah sangat terkenal dengan berbagai prestasinya sejak muda.
  • B. Santi Mia Sipan, pengusaha sekaligus ibu luar biasa yang berhasil mendidik putrinya yang autis jadi mandiri. Ada bukunya lho… Nanti saya tulis di Seruput Kopi Cantik ya..
  • Prof Edy Djuwito penemu Argentum yang wawasannya sangat luas, – baik soal rohani mau pun science -.
    Prof. Edy dengan murah hati memberikan berbagai bahan, mengajari hal-hal rohani tingkat tinggi…
    Hahahaha…. Saya yang ‘kepontalan,’ istilah Jawanya, terseok-seok, untuk memahaminya
  • dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Tidak sedikit pula yang Buddhist seperti filsuf kami, P. Sjahsjam, Bu Melly Kiong, dan ‘kakak’ saya tercinta, Bu Linda Ariamtiksna, meski beliau penganut Buddhist yang taat, namun tidak segan-segan membantu Sekolah Pelita Permai.
Bu Linda teman SMA P. Indra, kami bersahabat dekat.

Saya bangga, diperkaya, diperlengkapi dan menjadi lebih bijak serta memiliki wawasan yang lebih luas karena mereka.
Kami bergaul dekat dan akrab, perbedaan justru mempererat hubungan kami.
Memang kami berbeda keyakinan, beda suku, beda ras, beda level pendidikan tetapi itu tidak pernah membatasi kami untuk saling memperhatikan dan mengasihi.

Semakin seseorang mengenal Allah, semakin sadar bahwa sesungguhnya setiap kita adalah musafir di dunia ini. Tidak perlu sibuk dengan “aku” dan berbagai kepentingan di dunia ini.

“Wong urip iku mung mampir ngombe” – orang hidup itu hanya sekedar mampir minum, demikian kata pepatah Jawa.

Final kita, ketika berjumpa dengan Tuhan, berkenankah Allah pada apa yang kita kerjakan semasa di dunia ini?
Masing-masing akan mendapatkan upahnya.
Mengapa kita menyibukkan diri dengan yang sementara dan tidak mengejar yang kekal, selama-lamanya?

Saya senantiasa meyakini, di surga kelak, Tuhan juga tidak akan bertanya kita ini dari suku, ras, bangsa atau agama apa?
Tetapi Tuhan ingin tahu, apakah melalui kehidupan kita, orang lain bisa melihat Allah?
Bukankah kita ini ditugaskan menjadi Terang & Garam dunia?
Sudahkah kita melaksanakannya?

Jangan biarkan perbedaan memecah-belah bangsa kita.
Jika Tuhan menginginkan di dunia ini hanya ada satu agama, satu bangsa, satu warna kulit, satu suku dll, bisa ga?
Sangat bisa.
Dia Allah, apa yang mustahil bagi-Nya?
Tetapi Allah tidak melakukannya!

Why?

Taman kebanggaan di rumah kami, canttiiiik karena bunganya warna warni, dipadu dengan hamparan rumput yang menghijau.
Perbedaan warna inilah yang menciptakan kecantikan dan keanggunannya. Berbeda tapi rukun, masing-masing bunga berada di tempat masing-masing. Gak rebutan or saling tabrak.
Asri…. Ayem…. Adem…. Tenteram….
Jika kebun kami hanya satu warna, tentu membosankan. ‘Jebleh’, kata Orang Jawa.
Makes Sense?

Mari kita bersatu, bergotong-royong mengerjakan tugas Allah, agar dunia menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
Bangsa Indonesia & Negara Indonesia menjadi lebih baik, saling mengasihi, saling menghormati karena memiliki warga negara seperti kita.
Yuuuuukkkk….

Sometimes the simplest solution out of conflict is becoming someone’s friend, instead of saying goodbye forever.- Shannon L. Alder.
Love each other dearly always. There is scarcely anything else in the world but that: to love one another. (Victor Hugo)

Kadangkala solusi paling sederhana dari konflik, yaitu dengan cara berteman, alih-alih mengucapkan selamat tinggal selamanya.- Shannon L. Alder.
Saling mengasihi senantiasa. Hampir tidak ada hal penting lainnya di dunia selain untuk saling mengasihi. – Victor Hugo

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Penyesuaian Besar-Besaran. Berani Gak? THERE NOT HERE!*

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Penyesuaian Besar-Besaran. Berani Gak? THERE NOT HERE!

Kebanyakan orang mau ikut Tuhan, tetapi ingin tetap mengendalikan hidupnya sendiri. Dia ingin menjadi ‘allah’ atas hidupnya.
Hanya mau berkat, keselamatan, keuntungan, manfaat yang dijanjikan Tuhan, tetapi tidak mau taat menuruti syarat-syarat yang diberikan Tuhan.

Saat ada masalah cari Tuhan, sudah dapat solusi, masalah selesai langsung bye… bye…

Saya baru belajar, ternyata mengikut Tuhan artinya kita harus menyesuaikan hidup kita secara besar-besaran kepada Tuhan dan kehendak-Nya.

Sebelum kenal Tuhan, mungkin teman-teman kita lingkungan yang suka dugem, merokok, menghalalkan segala cara. Ketika hendak menjadi murid Tuhan yang sungguh-sungguh, kita ‘harus’ meninggalkan teman-teman lama.

Koq gitu? Sok suci banget…
Tentu saja… Karena nilai-nilai yang dihidupi berbeda.
Kalau betul-betul bertobat, pasti secara natural merasa tidak cocok lagi. Hal-hal yang menyerempet dosa, membuat hati yang bertobat merasa tidak nyaman lagi. Roh Allah sekarang tinggal di dalam roh kita.

Selain itu, jika memaksakan diri, terus bergaul dengan lingkungan lama, mustahil hidup kita bisa berubah dan berkenan kepada Allah.
Mustahil pula hidup kita bisa naik dan merealisasikan semua keuntungan janji-janji Tuhan dalam kehidupan kita.

Setiap janji, ada persyaratannya. Ada cara untuk memperolehnya.
Ibarat penggenapan janji Tuhan ada di sebelah timur, kalau kita ngotot ke barat, ya pasti gak ketemu.
Bukannya Tuhan ingkar janji tetapi kita yang tidak mengikuti arahan-Nya.

Ingat pepatah:
Hidup Anda adalah rata-rata dari kehidupan 5 orang terdekat dalam kehidupan Anda.

Jadi mau lihat masa depan kita itu mudah.
Lihat saja teman-teman terdekat kita.
Apakah keluarga mereka harmonis? Bisnis lancar? Menghidupi firman-Nya? Bisa dipercaya?
Kalau ya, hidup kita tidak akan jauh dari itu.

Kalau sebaliknya, hidup Anda kurang lebih seperti itu juga.


Tidak sedikit orang yang bersiteguh tidak mau pergi dari kota kelahirannya. Dari lahir sampai mati pokoknya harus di kota itu.
Tidak salah sich, asalkan selaras dengan kehendak Tuhan.

Nach kadang-kadang ada yang berdoa minta terobosan dari Tuhan. Minta berkat.
Sebetulnya Tuhan sudah menyediakannya tetapi masalahnya berkatnya ada di sana – ‘there’, bukan di sini – ‘here’.

Suatu ketika hiduplah Elia, dari Tisbe-Gilead. Karena bangsanya berdosa melawan Tuhan, maka terjadilah kekeringan panjang di negara itu.

Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Elia:
“Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan.
Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau Di SANA.”

Lalu Elia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan.
Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.

Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.
Gagak pun bisa rutin mengirim roti dan daging setiap pagi dan petang.
Tetapi penyediaan itu ada di tepi Sungai Kerit alias ‘THERE’,
bukan di kampung halaman Elia alias ‘HERE’.

Seandainya Elia ngotot, gak mau menuruti Tuhan pergi ke Sungai Kerit, tentunya tidak ada gagak yang kirim roti dan daging ke sana. Kelaparan dia…. Bahkan bisa mati.
Nach lho…. Siapa yang salah???

Dengan cara yang sama, kerapkali bukannya Tuhan tidak menjawab doa-doa kita, Tuhan sudah menjawabnya.
Tetapi jawaban doanya itu THERE NOT HERE.
Jawabannya DI SANA, BUKAN DI SINI.

“Tuhan jadikan aku sesuai rencana-Mu yang bisa berdampak mendunia seperti si X.”

“Gampang itu, Nak… Tapi ikuti cara-Ku BUKAN caramu…,” jawab Tuhan,
“Yang Tuhan itu Aku, BUKAN kamu… Ingat itu!”

Gubraaaaaakkkkk….

Tergantung kita, bersediakah menyesuaikan diri besar-besaran dengan kehendak Tuhan atau tidak?
Penyesuaian diri ini butuh iman, perjuangan dan tentu saja tidak nyaman.


Sejak lulus SMP, saya sudah keluar dari kampung halaman tercinta, Kota Kebumen. SMA sekolah di Semarang. Kuliah di Jogja. Menikah tinggal di Solo. Pindah Surabaya dan sekarang di Tangerang. Selama itu, biasa wira-wiri ke berbagai kota plus travelling.

Paham sekali, pindah kota gak mudah. Cari teman baru. Menyesuaikan diri dengan budaya setempat, butuh waktu untuk mendapatkan teman-teman yang pas dll.
Perjuangan pokoknya…

Awal sekolah Charis, saya ambil kelas koresponden. Belajar sendiri. Di sekolah hanya kenal Imam, yang memperkenalkan saya pada Sekolah Charis, dan Chang, sahabat Imam.

Oneday ada acara di sekolah, saya hadir. Gak kenal siapa-siapa kecuali Imam & Chang. Beda usianya jauh.
Cowo pula.
Bengong… Senyum kanan kiri… Sendirian.
Jadilah dalam acara itu ada ratusan foto dan wajah saya tidak nongol satu pun dalam foto itu….
Dieeenk…. Tertolak rasanya…

Tetapi demi kemajuan ya… Dibela-belain. Tidak ada YennyIndra hari ini or Seruput Kopi Cantik, jika saya tidak mau melangkah keluar.

Karena terlalu terbiasanya pindah-pindah, putri saya Elisa, sudah punya bisnis di Surabaya. Liburan lebaran tahun lalu ke rumah kami BSD, trus gak pulang lagi, langsung buka cabang Jakarta dan memutuskan stay di Jakarta.
Bisnisnya di Surabaya justru jadi cabang sekarang.
So simple!

Itulah sebabnya, kami terheran-heran kalau lihat orang mau pindah kota saja, hebohnya luar biasa.
Kami pindah cuma bawa 1-2 koper. Barang-barang lain? Yah… Kapan-kapan klo butuh. Kan gapapa tetap di rumah Surabaya.
Sesungguhnya gak banyak koq barang-barang yang betul-betul kita butuhkan.
Take it easy saja…

Gak harus juga klo memilih menetap di Tangerang, lalu harus di Tangerang terus. Bosan ya.. Ke Surabaya or Solo or ke mana saja….
Mengapa status pindah dan stay di suatu tempat mesti dibikin heboh? KTP saya tetap Surabaya.
Wong sekarang jaman internet. Bule-bule banyak yang bisnisnya di luar negeri, tapi mereka kerjanya dari Ubud. Sambil liburan setiap hari.

Yuk belajar taat dengan kehendak Tuhan.
Regangkan diri, berpikir lebih besar dan luas.
Di suru pergi ke THERE ya… melangkahlah….

Rancangan Tuhan itu bukan seukuran kita, tetapi seukuran Allah, artinya kita akan mengalami krisis dan butuh iman untuk mencapainya.

Nach ketika tercapai, kita sadar…. Ini Tuhan, bukan saya!
Saya gak sehebat itu.
Nama Tuhan dipermuliakan…. Polanya begitu.
Berani?

When you follow God’s will for your life, you can see how yesterday’s events prepared you for today’s challenges and tomorrow’s opportunities – David Jeremiah.

Ketika Anda mengikuti kehendak Tuhan untuk hidup Anda, maka Anda dapat melihat bagaimana berbagai peristiwa yang lalu, mempersiapkan Anda untuk menghadapi tantangan hari ini dan menciptakan peluang untuk esok hari – David Jeremiah.

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Toxic Shame.

Gospel Truth’s Cakes

Yenny Indra

Toxic Shame.

Ketika anak-anak masih kecil, kerap mereka pulang sekolah dengan bangga menceritakan pencapaiannya,

“Ma, aku hebat lho…. Tadi aku bla… bla… bla… Dan Bu guru memujiku.”

Lucu ya…. Dan sebagai orangtua, kita merasa bangga.

Tetapi seiring bertambahnya usia, kita sadar, memuji diri sendiri itu tidak wajar. Tabu.
Kadang ada yang meremehkan dsb. Ternyata pencapaian kita gak sepenting itu.
Meski pun sesungguhnya kita butuh pengakuan itu. Apalagi orang-orang yang bahasa kasihnya “Kata – Kata Penghargaan”, menurut Gary Chapman, dia merasa dikasihi ketika dipuji, diakui melalui perkataan verbal.

Kejujuran menjadi barang langka, di mana kita tidak bisa mengungkapkan apa yang kita rasakan apa adanya.

Bisa dibenci orang, kalau tidak pintar-pintar membawa diri. Tahu waktu, kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan sesuatu.


Suatu ketika, saya keceplosan tidak sengaja, betul-betul karena kelelahan, saya berkomentar ‘negatif’ mengungkapkan apa yang sejujurnya saya rasakan. Tanpa ada maksud apa pun…. Beneran…

Ketika teman saya menjawab sedemikian positifnya….
Tiba-tiba saya sadar, malu…..
Duh saya sudah sekolah sekian lama koq ternyata tetap punya pikiran negatif, dan tidak sebaik teman saya.

Perasaan malu, bersalah, menyalahkan diri sendiri bisa sedemikian mendera, sampai termimpi-mimpi saat tidur.
Bersamaan beberapa minggu lagi saya mendapatkan kesempatan bersaksi.
Saya merasa tidak layak….

“Lhah wong masih punya pikiran negatif koq mau bersaksi… Hatimu gak bersih, gak layak…”
Tuduhan-tuduhan itu meneror siang malam…
Tekanan darah tiba-tiba naik, dan saya sakit.

Lalu saya mengundurkan diri. Saya butuh waktu membereskan apa yang ada di dalam hati.
Padahal saya sekolah, tiap hari fokus firman….
Tiap hari post Seruput Kopi Cantik….
Bayangkan… Koq ga jadi panutan.
Ke depan saya harus lebih hati-hati, berpikir tulus, murni, baik, selalu memandang dari sisi positif dsb. dsb….
Demikian saya berjanji dalam hati, dengan perasaan tertuduh.

Ada perasaan takut mengecewakan orang lain, tidak bisa memenuhi harapan orang lain, tidak menjadi Terang & Garam dsb. Padahal makin berusaha dengan kekuatan sendiri, makin mustahil.

Sudah berdoa, minta ampun pada Tuhan dan paham, semua rasa malu, kesalahan dan dosa sudah ditanggung Yesus di Kayu Salib, tapi koq ya… Perasaan malu gak hilang-hilang juga.

Apakah hanya saya yang mengalaminya?
Gak tahulah.


Secara tidak sengaja Joyce Meyer muncul di Instagram saya.
Joyce bercerita, bahwa apa yang saya alami, itu disebut, Toxic Shame.

Tidak sekedar malu pada apa yang sudah kita lakukan atau katakan, bisa juga malu karena apa yang sudah dilakukan orang lain terhadap kita, tetapi akhirnya kita menjadi malu terhadap diri kita sendiri!
Inilah yang disebut Toxic Shame, perasaan malu yang meracuni.
Ketika kita malu terhadap diri sendiri, itu akan meracuni setiap aspek kehidupan kita.

Joyce Meyer mengalami sexual abuse dari kecil. Itu bukan salahnya, dia masih kecil tidak berdaya. Namun dia menjadi malu terhadap dirinya, merasa tidak layak, marah, dan berbagai perasaan negatif lainnya. Padahal dia hanyalah korban. Menyalahkan diri sendiri.

Apa beda rasa malu yang sehat dengan yang meracuni?
The Gottman Institute mengungkapkan:

Healthy shame guides toward self-correction, making amends, and growth.
Toxic shame, on the other hand, can be very harmful psychologically. It’s deeply absorbed in the nervous system (meaning, you feel it in your gut). Toxic shame is self-punishing and lingers on.

Rasa malu yang sehat membimbing menuju koreksi diri, perbaikan, dan pertumbuhan.
Rasa malu yang meracuni, di sisi lain, bisa sangat berbahaya secara psikologis. Perasaan ini diserap dalam sistem saraf (artinya, Anda merasakannya di usus Anda). Rasa malu meracuni, berakibat menghukum diri sendiri dan terus berlanjut, dan berlanjut…

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, (yaitu, dalam dagingku), di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan berbuat apa yang baik…….. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.” Demikian ungkapan Rasul Paulus.

Kita semua bisa merasakan dilema ini. Frustrasi karena mengetahui hal yang benar untuk dilakukan, tetapi karena kelemahan daging serta kelemahan tekad mental kita sendiri, mendapati diri kita melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan.

Tuhan ingin kita mengasihi diri sendiri. Tuhan menerima dan SUDAH mengampuni segala dosa kita, baik dosa masa lalu, sekarang, mau pun dosa di masa yang akan datang.
Semua sudah lunas dibayar!

Saya paham prinsip itu, sudah lulus ujian, nempel di kepala, tetapi ternyata belum menghidupinya!

Salah ucapan, tidak sekedar malu terhadap perkataan yang salah, saya jadi malu terhadap diri sendiri!


Setiap menulis, saya mengaitkannya dengan Tuhan karena bagi saya, Tuhan itu pusat kehidupan saya.
Dengan menuliskannya, saya mengajari diri saya sendiri, agar prinsip ini terukir dalam hati.

Kadang ada pembaca yang mengharapkan penulisnya seperti malaikat.
Tentu tidak bisa!
Saat hubungan dengan Tuhan mulus, saya merasa jauh lebih sabar. Karena sabar itu buah roh.
Tetapi ada kalanya, hubungan dengan Tuhan tidak sedekat biasanya, masalah datang bertubi-tubi, emosi muncul juga.

Tuhan itu Allah yang Mahabaik.
Munculnya Joyce Meyer menyadarkan saya akan Toxic Shame.
Tidak hanya itu, tanpa sengaja bertemu teman dalam sebuah pertemuan. Ketika sedang ngobrol sana sini, teman ini menceritakan hal yang sama seperti yang saya rasakan. Dia berkomentar sama dengan komentar saya yang ‘negatif’.

Wuiiihhh…. Leganya!
Ternyata bukan saya yang jahat. Ada orang lain berpendapat demikian juga. Itu normal.
Hingga kini saya berusaha jujur, klo baik, saya puji. Di berbagai artikel Seruput Kopi Cantik saya kerap bahkan senang mengapresiasi teman-teman. Namun jika saya tidak merasa mendapat sesuatu, saya diam, tidak mau memuji sekedar basa-basi. Gak nyaman di hati.

Meski demikian, iblis tidak langsung berhenti. Beberapa bulan kemudian, ketika saya diberi kesempatan bersaksi, teror kembali datang.

Saya berdoa dan bilang sama Tuhan:
It’s all about You, my Lord… not me.
Saya ingin menceritakan kebaikan-Mu, untuk kemuliaan-Mu, biarlah saya menjadi wadah, silakan hati-Mu, perkataan-Mu yang Engkau alirkan melaluiku.
Saya tidak mau dikalahkan lagi oleh si musuh.

Semua berjalan lancar setelah saya tidak mengandalkan diri sendiri. Tetapi bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

Joyce Meyer menambahkan,
“Meski pun hari ini adalah hari buruk Anda, sepanjang hari Anda bersikap tidak baik… Marah, menggerutu, dll tetapi saya beritahu: Tuhan tetap mengasihi Anda. Karena Tuhan melihat hatimu. Anda berada di sini karena Anda mencari-Nya dan mengasihi-Nya bukan? Allah perhitungkan hal itu.”

Memahami kita dibenarkan BUKAN karena kita baik atau melakukan hal yang benar, tetapi karena beriman kepada Yesus dan karya Salib yang Sudah Selesai, sungguh merupakan fondasi yang teguh.
Kita tidak diombang-ambingkan oleh perbuatan kita, tetapi saya benar karena saya ada di dalam Kristus.

Ketika kita belajar kebenaran firman Tuhan dan hidup dari Roh Allah, dosa dikalahkan.
Dan hasilnya? Kita tidak mengutuki diri sendiri lagi.
Tidak ada penghukuman ketika kita berjalan dalam Roh.

Yuk hidup dalam roh….

So now there is no condemnation for those who belong to Christ Jesus. – Romans 8:1

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Roma 8:1 (TB)

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Rest In The Lord!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Rest In The Lord!

Ada permasalahan dalam hidup yang datang berulangkali. Mungkin saja penampilannya berbeda tetapi esensinya sama.
Biasanya setiap menghadapi masalah seperti ini, saya segera mencari ahli di bidang ini, konsultan untuk minta pendapatnya, menyusun strategi dsb.
Kali ini, tidak!

Saya baru belajar pelajaran yang baru, – pelajaran lama sesungguhnya – tetapi baru saat ini menjadi pewahyuan yang hidup bagi saya.
Ketika saya menerima Tuhan sebagai Juruselamat, saat itu juga anugerah-Nya tercurah atas hidup saya.
Artinya, secara rohani, saya sekarang duduk di sebelah kanan Allah dalam POSISI MENANG.

Maksudnya?
Klo saya mau hidup secara rohani, tugas saya Rest In The Lord – Beristirahat di dalam Tuhan dalam posisi Menang.
Mempercayakan hidup kepada Tuhan dan percaya bersama Tuhan, kita sudah menang atas masalah, persoalan dan apa pun yang membebani hidup kita.

Lalu masalah yang dihadapi bagaimana?
Serahkan apa yang kita khawatirkan kepada Tuhan, sebab Dia yang memelihara kita.
Saya memerintahkan dengan Otoritas yang diberikan Tuhan, agar permasalahan selesai. Tuhan yang meluruskan jalan kami.

Ada godaan untuk melihat secara kasat mata, bagaimana hasilnya. Tetapi ada suara kecil yang mengingatkan kisah tentang pohon Ara.
Ketika pohon itu dikutuk, saat itu juga akar-akarnya menjadi kering dan mati tetapi secara kasat mata, kelihatannya tetap seperti biasa. Seolah tidak ada yang terjadi.
Tetapi keesokan harinya terbukti secara kasat mata, pohon ara itu benar-benar mati.
Percayalah!
Dan saya pun taat.

Apa yang terjadi?
Semua berlangsung mulus.
Kekhawatiran-kekhawatiran tidak terjadi.

Terbersit dalam pikiran, ketika menghadapi masalah, lalu sibuk membiarkan ketakutan-ketakutan meneror kita, sesungguhnya saat itulah kita sedang menciptakan permasalahan yang lebih berat. Membuka celah sehingga iblis masuk memporakporandakan hidup kita.

Kalau hati kita damai, tenang, rest in the Lord… Gantian si iblis yang pusing kepala.

Saat menunggu, apa yang harus dilakukan?
Deklarasikan saja janji-janji-Nya dan berdoa dalam roh. Percaya bahwa Janji Allah Ya dan Amin.
Segala kemenangan dimulai dari dunia roh, baru tercipta ke dalam dunia natural.
Biarkan Tuhan yang berperang bagi kita.

Rahasianya, pada saat keadaan baik, tanam benih firman Tuhan sebanyak-banyaknya dan dihidupi.
Firman itu Allah sendiri.
Firman itu Roh dan Hidup. Berkuasa untuk mencipta. Bahkan dunia ini pun ditopang oleh firman-Nya.
Yang rohani itu lebih nyata daripada yang jasmani.
Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Permasalahannya, apakah kita cukup rendah hati bersedia mengijinkan Tuhan berkarya melalui kehidupan kita?
Menjadikan Dia benar-benar Allah, yang utama dan terutama dalam kehidupan kita?
Jika Ya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam hidup ini.

Semakin menghidupi prinsip-prinsip ini, hidup makin ringan.
Tidak sibuk ngotot mengatur banyak hal tetapi membiarkan Tuhan yang mengarahkannya.

“Jika Tuhan memberi jeruk, buatlah limun” – Zig Ziglar.

Tugas saya hanya mengantisipasi apa yang Tuhan sediakan, buatlah yang terbaik darinya, sesuai arahan-Nya.
Life is so simple!

Ingat prinsip ini:
Ketika kita turun tangan, Tuhan lepas tangan.
Saat kita lepas tangan, Tuhan turun tangan.
Nach pilih mana?


Chat seorang teman dari Surabaya, Siau Siang.

“Ci Yenny, Bolehkah Siau Siang share keajaiban Tuhan buat Siang?

“Tentu boleh. Saya penasaran nich…”

“Aku mau share, pas malam lebaran aku dapat musibah tersiram minyak panas di kaki. Padahal di rumah tidak ada orang satu pun juga. Saat itu aku sedang bikin pisang goreng untuk dibagi-bagikan ke tetangga yang mau berbuka puasa.
Niatnya baik, tapi yang terjadi justru musibah kecelakaan….,” Siau Siang bercerita,
“Tuhan tolong…… itu aja yg bisa aku ucapkan. Tidak kuat rasanya. Panas puollllll…. Tapi tidak ada yang menolong. Aku ingat yang tertulis di Seruput Kopi Cantik, kesembuhan sudah ada di dalam rohku. Aku beriman, Tuhan menyembuhkan. Akhirnya, hanya diolesi salep yang diberi oleh teman-teman saja. Dan hari ini tepat 2 minggu setelah kecelakaan itu. Tuhan sudah menyembuhkan Siang…

Sebelum ini, Siang berbaik hati meminjamkan uang pensiun suami kepada seorang teman yang sedang kesulitan keuangan. Ternyata pembayaran justru mengalami aneka lika liku bak drama. Sebagian bisa terbayar tetapi masih ada yang tersisa hingga kini. ?. Niat baik tapi disalahgunakan.
Sungguh Siang sedih dan bingung, ini uang suami… Bayangkan…
Sebaliknya ada saudara seiman lain, yang justru memberi berkat. ‘Malaikat’ yang dikirim Tuhan.”

“Siang, ke depan hati-hati soal uang. Karena uang itu tidak kenal teman atau saudara. Lebih baik beri seikhlasnya, jangan memberi hutang…. Justru hubungan pertemanan bisa rusak karenanya. Yang baik, belum tentu benar. Sebelum mengambil keputusan apa pun, bawa dalam doa dulu.”

“Th 2014 akhir anakku kena kasus narkoba, bukan sebagai pemakai, yang Siang takutkan sebagai penjual. Tuhan selalu menolong dan tidak se-sen pun uang yang saya keluarkan saat anakku ditahan. Saya selalu setia pada Tuhan, gak pernah komplain. Sekarang anakku jadi anak yang berbakti, yang menanggung biaya hidup orangtuanya. Hidup tidak selalu mulus, tetapi Tuhan selalu dapat diandalkan dan endingnya masa depan penuh damai sejahtera.

Dari berbagai pergumulan, pengalaman, kesulitan yang saya alami, sungguh ajaib Tuhan kita. Th 2019 Siang dan suami bisa ikut tour ke Holyland berdua, free of charge. Gratis… Tis… Tis… Tis…. Hadiah dari Tuhan….
Padahal th 2018 Siang juga dapat gratis ke Holyland, tetapi suami bayar.
Bayangkan… Siang dapat 2x free ke Holyland.
Pokoknya ga ada yang mustahil bersama Tuhan.
Terimakasih untuk Seruput Kopi Cantik yang selalu menguatkan imanku di saat-saat penuh pergumulan.”

Wow….
Ketika Siau Siang Rest In The Lord, berserah sungguh-sungguh kepada Tuhan, maka jalan keluar yang tak terpikirkan pun terjadi. Tuhan kirim ‘malaikat’ yang mengembalikan sebagian uang yang sudah raib tak berbekas, kaki yang terbakar sembuh, anaknya sekarang menjadi anak berbakti. Dapat gratis ke Holyland pula. Siang 2x gratis dan suami 1x gratis ke Holyland … ???
So sweet….

Sungguh menyenangkan saat mendengar iman teman-teman dikuatkan karena Seruput Kopi Cantik.
Berarti saya menulis ini, kehendak Tuhan.
Tidak ada kebahagiaan yang melebihi kesadaran, bahwa kita berada ditengah-tengah kehendak-Nya dan sedang mengerjakan tugas yang diberikan-Nya.

Mari kita bersama-sama menghidupi kehendak-Nya & Rest In The Lord!

What you believe is powerful. If you can change what you believe, you can change your life! – Joseph Prince.

Apa yang Anda yakini sangat dahsyat. Jika Anda dapat mengubah apa yang Anda yakini, Anda dapat mengubah hidupmu! – Joseph Prince.

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 173 174 175 176 177 314