Articles

Ketika Ilmu Pengetahuan Belajar Rendah Hati: Imun, Kanker, dan Hikmat Tuhan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Ilmu Pengetahuan Belajar Rendah Hati: Imun, Kanker, dan Hikmat Tuhan.

Health science technologies kembali membuka mata kita pada satu kenyataan penting: ilmu pengetahuan tidak pernah final. Ia terus bergerak, bertumbuh, dan kadang harus mengoreksi dirinya sendiri.

Tahukah kita?
Di banyak negara maju, semakin banyak dokter kini tidak lagi langsung menyarankan kemoterapi, terutama untuk kanker stadium lanjut. Bukan karena mereka kurang peduli, justru sebaliknya. Karena mereka semakin paham dampaknya.

Kemoterapi bekerja dengan cara yang brutal: menghancurkan semua sel yang membelah cepat, tanpa pandang bulu. Sel kanker hancur, ya. Tapi bersamaan dengan itu, sel-sel imun yang menjadi benteng pertahanan tubuh juga ikut hancur. Pasien mungkin terlihat “bersih” setelah terapi, tetapi tubuhnya menjadi rapuh. Sistem imun rusak. Dan di situlah masalah besar dimulai.

Sel kanker bisa muncul kembali. Lebih agresif. Lebih sulit dikendalikan. Tubuh sudah tidak punya pasukan untuk melawan.

Karena itu, dunia medis mulai beralih ke pendekatan yang lebih cerdas dan manusiawi: terapi imun dan terapi molekul imun. Bukan menghancurkan tubuh demi membunuh penyakit, tetapi membantu tubuh menemukan kembali keseimbangannya dan melawan dengan kekuatan yang Tuhan sudah tanamkan sejak awal.

Penelitian yang didukung WHO dan juga Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa aktivasi sistem imun dapat membantu banyak pasien mencapai remisi jangka panjang, dengan kualitas hidup yang jauh lebih baik. Bukan sekadar bertahan hidup, tetapi hidup dengan martabat, energi, dan harapan.
Di titik ini, saya terdiam.

Karena kembali terbukti: apa yang lima atau sepuluh tahun lalu dianggap sebagai pertolongan terbaik, hari ini terbukti bukan yang terbaik, bahkan bisa membahayakan.

Lalu muncul pertanyaan yang tidak nyaman, tapi jujur:
berapa banyak penderita kanker yang akhirnya meninggal bukan karena kankernya, tetapi karena sistem imun mereka dihancurkan terlebih dahulu?
Saat imun tubuh dilemahkan, apa pun bisa menjadi fatal. Virus ringan, bakteri biasa, infeksi kecil yang seharusnya bisa dilawan tubuh dengan mudah.

Saya teringat pengalaman pribadi bersama P. Indra.

Saat beliau divonis autoimun, ia langsung diberikan imunosupresan, obat yang menekan sistem imun. Secara teori, itu dianggap standar. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Tubuhnya diserang oleh empat virus, salah satunya adalah virus yang biasanya hanya menyerang anak di bawah dua tahun. Virus yang seharusnya tidak berpengaruh pada orang dewasa.

Mengapa bisa begitu?
Karena sistem imunnya “ditidurkan”. Istilahnya halus, tapi dampaknya nyata. Tubuh tidak lagi punya kekuatan untuk mempertahankan diri.

Yang lebih mengejutkan, setelah berbagai tes lanjutan dilakukan, semua hasil tes yang menunjukkan autoimun ternyata negatif. Tidak ada bukti kuat bahwa ia menderita autoimun seperti yang didiagnosis sebelumnya.

Di situ saya belajar satu hal penting: penyakit tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan protokol. Diperlukan hikmat. Dan hikmat sejati bersumber dari Tuhan.

Ilmu pengetahuan itu baik. Sangat baik. Tapi ia bukan Allah. Ia adalah alat. Dan alat terbaik pun harus dipakai dengan hikmat.

Karena tubuh kita bukan musuh penyakit. Tubuh kita adalah senjata paling kuat yang Tuhan ciptakan, jika kita menolongnya bekerja dengan benar.
Maka tidak heran jika kini banyak orang mulai sadar, belajar, dan mencari pendekatan yang memulihkan, bukan merusak. Bukan menekan kehidupan, tetapi menopangnya.

Di sinilah kita diundang untuk bertumbuh. Untuk tidak menelan mentah-mentah setiap “standar medis”, tetapi juga tidak menolak ilmu. Kita belajar, bertanya, dan yang terpenting, mencari kehendak Tuhan.

Sebab pada akhirnya, ilmu pengetahuan pun lahir dari hikmat-Nya. Dan ketika ilmu bertemu dengan hikmat Tuhan, di situlah kesembuhan sejati menemukan jalannya.

“The good physician treats the disease; the great physician treats the patient who has the disease.” – William Osler.

“Dokter yang baik mengobati penyakitnya; dokter yang besar mengobati orang yang memiliki penyakit itu” – William Osler.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Buli-Buli yang Dipecahkan: Saat Hidup Kita Menjadi Kesaksian
Mana Buktinya Mujijat Masih Ada???
PERSEPSI