Hoki Itu Nasib, atau Respon Hidup?
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Hoki Itu Nasib, atau Respon Hidup?
Bu Fonny, teman perjalanan saya saat ikut tur menyusuri Sungai Yangtze, menulis satu kalimat singkat di grup chat. Pendek, tapi cukup mengusik pikiran saya.
“Hoki te it – pun su te ji.”
Lalu ia menambahkan penjelasan sederhana namun tajam:
Hoki nomor satu, kemampuan nomor dua.
Kalimat itu membuat saya berhenti sejenak.
Benarkah hidup ini lebih banyak ditentukan oleh hoki dibanding kemampuan?
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hoki?
Ternyata dalam pemahaman orang Tionghoa, hoki bukan kebetulan buta. Bukan undian, bukan angka keberuntungan, apalagi nasib yang jatuh dari langit tanpa sebab.
Istilah yang dipakai adalah ?? (yùn qì). Artinya bukan sekadar keberuntungan, tetapi aliran hidup yang bertemu dengan timing dan respon manusia.
Dengan kata lain, hoki bukan sesuatu yang ditunggu, tetapi sesuatu yang dijalani.
Orang Tionghoa percaya bahwa hoki dibentuk oleh tiga unsur utama.
Yang pertama, ?? (Ti?n shí), waktu yang tepat.
Ada musim menanam, ada waktu melangkah, ada saat menunggu. Tidak semua pintu bisa dibuka bersamaan. Momentum perlu dibaca, bukan dipaksakan.
Yang kedua, ?? (Dì lì), tempat dan kondisi.
Lingkungan, posisi, relasi, dan situasi hidup. Ini sangat praktis. Apakah kita sedang berada di tempat yang mendukung pertumbuhan, atau justru terus menguras energi?
Yang ketiga, ?? (Rén hé), sikap dan relasi manusia.
Ini yang paling ditekankan. Etika, kerja keras, konsistensi, dan cara memperlakukan orang.
Ada pepatah Tionghoa yang sering saya dengar:
Orang yang bisa dipercaya, cepat atau lambat pasti dapat hoki.
Dari sini kita bisa merangkumnya dengan sederhana:
Hoki itu berada di tempat yang tepat, pada saat yang tepat dan menjadi orang yang tepat.
Dan ketika ketiga hal itu bertemu, hidup terlihat “pas”.
Pas waktunya. Pas orangnya. Pas kejadiannya. Kita menyebutnya kebetulan, hoki.
Padahal itu anugerah Tuhan yang bekerja dengan sangat rapi.
Siapa yang bisa mengatur semuanya bisa ‘pas’ ?
Hanya Tuhan!
*Ralph Waldo Emerson* berkata,
“There are no accidents; what we call by that name is the effect of some cause which we do not see.”
“Tidak ada kebetulan; apa yang kita sebut kebetulan adalah efek dari beberapa sebab yang tidak kita lihat.”
Hoki yang dimaksud itu sesungguhnya adalah Anugerah Tuhan.
Meskipun Anugerah itu sudah tersedia, tetapi kesuksesan tidak terjadi secara otomatis.
Dibutuhkan respon kita untuk bertindak dan meraihnya.
Di titik ini, saya teringat kisah seorang gadis muda dari Maluku di Facebook.
Sari Dewi berasal dari Bandaneira. Latar belakangnya sederhana. Setelah lulus SMA, ia merantau ke Jakarta. Kuliah sambil kerja. Gaji pas-pasan. Hidup hemat. Tidak ada priviledge. Tidak ada koneksi besar.
Yang ia miliki hanyalah karakter.
Ia bekerja dengan rapi, tenang, dan bertanggung jawab. Tidak banyak bicara, tidak drama, tidak mengeluh berlebihan. Saat lelah, ia tetap belajar. Saat ditolak mengurus visa, ia memperbaiki diri dan mencoba lagi. Ia tidak menunggu keadaan sempurna untuk bertumbuh.
Akhirnya ia mendapat kesempatan bekerja di Madrid sebagai nanny. Bukan pekerjaan yang terlihat wah, tapi ia mengerjakannya dengan sikap excellent. Detail, bisa dipercaya, konsisten. Orang-orang di sekitarnya melihat sesuatu yang jarang: ketekunan yang sunyi.
Dari situlah kesempatan lain terbuka. Ia direkomendasikan. Dipercaya. Hingga akhirnya bekerja di rumah keluarga David Beckham.Gajinya 52 juta.
Orang luar menyebutnya hoki.
Padahal yang terjadi adalah persiapan panjang yang akhirnya bertemu kesempatan, yang merupakan rahasia kesuksesan, demikian ungkapan Seneca, seorang filsuf Romawi.
Hoki atau Anugerah bisa datang. Kesempatan bisa muncul. Tetapi jika seseorang tidak siap, tidak berani melangkah, takut mengambil tanggung jawab, atau memilih diam, – tidak ada Respon – maka tidak ada yang terjadi.
Kesempatan emas lewat begitu saja.
Itu BUKAN NASIB, tapi pilihannya.
Banyak orang berdoa minta pintu terbuka, tapi tidak siap melangkah ketika pintu itu benar-benar terbuka.
Dalam iman, kita percaya Tuhan berkuasa atas waktu, tempat, dan pertemuan. Tuhan bisa menempatkan kita di momen yang tepat, bertemu dengan orang yang tepat, dan memberi kesempatan yang tepat. Tetapi Tuhan juga menghormati kehendak dan respon kita.
Kita sering menyebutnya hoki.
Padahal Tuhan menyebutnya kesempatan yang dibungkus rapi dalam anugerah.
Dan hidup dibentuk bukan oleh apa yang datang, tetapi oleh bagaimana kita meresponsnya.
Karakter menentukan apakah kesempatan itu bertahan atau hilang.
“Hoki te it – pun su te ji.” – Hoki nomor satu, kemampuan nomor dua.
Hhhmm …cengli.
Betul itu. Harus ada kesempatannya dulu, baru kemampuannya bisa dibuktikan.
Tuhan memberi kesempatan.
Manusia menentukan respon.
Dan di sanalah hidup dibentuk.
Setuju?
“I will prepare, and someday my chance will come.” – Abraham Lincoln.
“Aku akan mempersiapkan diri, dan suatu hari kesempatanku akan datang.” –
Abraham Lincoln
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama