Batal Terbang Demi Ibadah: Kebetulan, Takdir, atau Ketaatan?
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Batal Terbang Demi Ibadah: Kebetulan, Takdir, atau Ketaatan?
Saya membaca kisah ini di sebuah grup WhatsApp. Sederhana, tapi menghantam hati.
Nama Franky D. Tanamal awalnya tercatat resmi dalam manifes penerbangan maut ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar. Semua sudah fix. Nama ada. Jadwal ada. Kursi ada.
Namun sore itu, Franky mengambil satu keputusan kecil yang ternyata mengubah seluruh garis hidupnya. Ia mengajukan izin kepada atasannya untuk tidak ikut terbang. Alasannya bukan darurat medis, bukan urusan keluarga, bukan karena takut naik pesawat. Alasannya satu: *ia harus menjalankan pelayanan ibadah di gereja.*
Keputusan mendahulukan panggilan Tuhan itu menjadi jalan keselamatannya. Pesawat tersebut jatuh di Gunung Bulusaraung, Sabtu (17/1), dan menelan banyak korban jiwa.
“Ia izin tidak ikut terbang karena ada pelayanan ibadah,” ujar rekannya, Rumoton Sitanggang.
Penutup kisah ini, Kisah Franky adalah pengingat indah bagi kita semua: bahwa jika Tuhan sudah berkehendak dan takdir belum waktunya, maka selalu ada cara ajaib bagi-Nya untuk melindungi hamba-Nya. Ketaatan membawa keselamatan
Benarkah demikian?
Dulu, saya juga berpikir hidup ini misteri. Seram. Sewaktu-waktu hal buruk bisa terjadi, dan kita manusia kecil yang tak berdaya. Tuhan berdaulat, katanya. Jadi semua tergantung mood Tuhan. Kalau Dia lagi baik, kita selamat. Kalau tidak, ya sudah.
Jujur saja, pemahaman seperti itu membuat hidup melelahkan dan iman penuh ketakutan.
Namun setelah belajar Firman dengan benar, termasuk dari Greg Mohr, guru saya, maka saya menyadari: Tuhan tidak bekerja seperti itu.
Tuhan bukan Allah yang diam, apalagi acuh. Ia selalu berbicara, selalu memperingatkan, selalu membimbing, dan selalu ingin melindungi anak-anak-Nya. Masalahnya bukan pada Tuhan. Masalahnya pada manusia yang diberi free will dan free choice. Mau dengar atau tidak. Mau taat atau tidak.
Sejak Adam memberontak di Taman Eden, otoritas atas dunia ini jatuh ke tangan iblis. Dunia berada di bawah sistem yang rusak. Malapetaka, kecelakaan, kehancuran, bukan berasal dari Tuhan. Itu strategi iblis untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan.
Tujuan Tuhan jelas dan konsisten: memberi hidup, bahkan hidup yang berkelimpahan. Mati itu tidak hidup. Jadi sumbernya jelas bukan Tuhan. Sesederhana itu.
Greg Mohr sering menegaskan, Tuhan terus memberi sinyal peringatan. Alarm bahaya itu ada. Pertanyaannya, apakah kita peka?
Ia berkata, “Jika hewan saja bisa mengikuti insting mereka dan bergerak ke tempat lebih tinggi sebelum tsunami, bukankah orang yang dipenuhi Roh Tuhan seharusnya lebih lagi mendapat perlindungan dari tsunami keuangan, kesehatan, relasi, dan krisis hidup lainnya?”
Fakta menarik terjadi saat tragedi 9/11 di WTC. Dari seluruh pekerja, hanya sepertiga yang hadir di kantor hari itu. Dua pertiga lainnya tidak masuk, dengan alasan yang beragam. Ada yang sakit, mobil rusak, ada yang merasa tidak tenang tanpa tahu sebabnya.
Bahkan salah satu pesawat yang menabrak menara, hanya berisi 13 penumpang. Sangat tidak lazim.
Kebetulan? Tidak. Itu dorongan. Itu peringatan. Masalahnya selalu sama: apakah kita peka dan taat?
Greg juga pernah mengalami hal serupa. Suatu pagi, hatinya sangat tidak tenang. Ia menahan anak-anaknya untuk tidak berangkat sekolah. Ia dan istrinya berdoa hampir satu jam sampai damai. Setelah itu barulah mereka berangkat.
Di jalan tol, mereka melihat kecelakaan beruntun sekitar 20 mobil. Waktu kejadiannya persis jam biasa Greg lewat di sana.
Pesannya jelas: jangan abaikan peringatan Tuhan.
Kepekaan kita ditentukan oleh kedekatan kita dengan Tuhan. Kita lebih banyak mendengar siapa? Berita dunia atau Firman? Hati kita sensitif ke mana? Benih apa yang kita tanam setiap hari?
Jawaban atas pertanyaan itu menentukan ending hidup kita.
Bukan soal takdir.
Masalahnya: ketaatan.
Pertanyaannya:
Bagaimana dengan kita?
“God speaks in the silence of the heart. Listening is the beginning of prayer.” – – Mother Teresa.
“Tuhan berbicara dalam keheningan hati. Mendengar adalah awal dari doa.” – Mother Teresa
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama
