Ketika Tahu Banyak Firman, Tapi Kehilangan Yesus.
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Ketika Tahu Banyak Firman, Tapi Kehilangan Yesus.
Beberapa waktu terakhir ini saya merenung.
Saya punya teman yang sangat tahu firman. Ayat hafal. Tafsiran kuat. Argumen tajam. Tapi entah kenapa, makin lama justru makin kaku, mudah marah, dan sulit diajak berdialog. Seolah-olah kebenaran harus selalu dimenangkan, meski kasih hilang di tengah jalan.
Di sisi lain, ada juga teman yang lain. Ia justru bingung karena terlalu banyak doktrin. Satu ajaran berkata begini, yang lain berkata begitu. Akhirnya ia berkata pelan, “Aku capek. Aku jadi tidak tahu lagi mana yang benar. Bahkan aku jadi ragu pada Yesus.”
Dua ekstrem yang berbeda, tapi akarnya sama:
*Yesus tidak lagi menjadi pusat.*
Di titik itulah saya mendengarkan pengajaran A. R. Bernard. Dan jujur, saya seperti mendapatkan kacamata baru.
Bukan pewahyuan yang rumit. Justru sangat sederhana. Tapi sederhana yang menampar dengan lembut.
Orang Kristen Itu Pengikut Pribadi, Bukan Sistem – Pribadi Yesus.
Satu kalimat dari pengajaran itu tertancap kuat di hati saya:
Kita bisa mengikuti Alkitab, tapi tidak sungguh-sungguh mengikuti Yesus.
Ini terdengar aneh, tapi nyata.
Alkitab itu Firman Allah, ya. Sangat berharga.
Tapi Alkitab bukan tujuan akhir. Yesus adalah tujuan akhirnya.
Ketika firman dipisahkan dari Pribadi Yesus, firman bisa berubah menjadi:
– alat pembenaran diri
– senjata untuk menghakimi
– beban yang memberatkan
– bahkan sumber ketakutan
Dan di situlah lahir orang Kristen yang “gila doktrin”.
Bukan karena terlalu cinta firman, tapi karena kehilangan wajah Yesus di dalam firman itu sendiri.
Injil dan Surat-Surat: Sekarang Saya Mengerti Bedanya
Di sini saya benar-benar tercerahkan.
Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) menunjukkan:
– siapa Yesus
– bagaimana Dia berbicara
– bagaimana Dia bersikap
– bagaimana Dia mengasihi
– bagaimana Dia merespons dosa, penderitaan, dan kekuasaan
Di Injil, kita melihat Yesus hidup.
Yohanes 14:9 (TB) Kata Yesus kepadanya: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;
Sedangkan surat-surat (epistles), seperti tulisan Paulus:
– menjelaskan makna karya Yesus
– membangun kerangka iman
– menolong gereja bertumbuh secara sehat
Masalah muncul ketika:
– kita membaca surat-surat tanpa Injil
– kita membangun teologi tanpa melihat karakter Yesus
– kita sibuk menjelaskan iman, tapi lupa meneladani Pribadi-Nya
Akhirnya iman jadi konsep, bukan relasi.
Yesus Adalah Lensa
Ini kunci terbesarnya.
Semua hal harus dilihat melalui Yesus:
– ayat Alkitab
– ajaran
– doktrin
– sikap hidup
– bahkan pendapat rohani
Bukan:
“Ayat ini berkata begini, jadi sah.”
Tetapi:
“Apakah ini selaras dengan hati, karakter, dan cara Yesus?”
Jika sebuah ajaran:
– membuat kita lebih keras
– lebih sombong
– lebih mudah menghakimi
– lebih jauh dari kasih
Maka patut berhenti sejenak dan bertanya:
apakah ini benar-benar Yesus?
Orang Kristen Sejati Itu Sehat
Pengikut Kristus yang sehat bukan orang yang tahu segalanya, tapi orang yang:
– hatinya lembut
– pikirannya berakar
– tidak mudah diombang-ambingkan
– tidak panik dengan perbedaan
– tidak kehilangan kasih saat berbeda pendapat
Ia tidak anti doktrin, tapi juga tidak diperbudak doktrin.
Ia menghormati Alkitab, tapi menempatkan Yesus di atas semuanya.
Hhmm…sekarang saya mengerti.
Mengapa ada orang yang tahu firman tapi kehilangan damai. Mengapa ada yang justru menjauh dari Yesus karena bingung doktrin.
Masalahnya bukan pada firman. Masalahnya bukan pada ajaran. Masalahnya adalah kita bisa sibuk membela kebenaran, tapi lupa mengikuti Sang Kebenaran itu sendiri.
Dan bagi saya, pencerahan ini sederhana tapi membebaskan:
Jika iman membuat kita makin mirip Yesus, kita sedang di jalan yang benar.
Jika iman membuat kita kehilangan kasih, mungkin kita sedang mengikuti ajaran — bukan Pribadi.
Kolose 2:6 (AMPC)
Karena itu, sebagaimana kamu telah menerima Kristus-Yesus sebagai Tuhan-hidup dan aturlah seluruh tingkah lakumu dalam kesatuan dengan Dia dan sesuai dengan Dia.
Yesus tidak pernah mengundang kita untuk menjadi ahli sistem. Dia mengundang kita untuk mengikut Dia.
Dan di sanalah iman menjadi sehat.
“If you believe what you like in the Gospels, and reject what you don’t like, it is not the Gospel you believe, but yourself.”- Augustine of Hippo.
“Jika kita percaya bagian Injil yang kita sukai dan menolak yang tidak kita sukai, yang kita percaya bukan Injil, melainkan diri kita sendiri.” – Augustine of Hippo.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
