Ketika Puncak Tidak Lagi Membuat Bahagia…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Ketika Puncak Tidak Lagi Membuat Bahagia…
Ada seorang anak muda, sebut saja namanya Tommy.
Menurut ukuran dunia, hidupnya sudah sangat berhasil. Usianya masih muda, bisnisnya berkembang pesat, asetnya tidak sedikit. Banyak orang memandangnya dengan kagum. Banyak pula yang ingin berada di posisinya.
Namun di satu titik, di puncak semua itu, ia justru merasa kosong.
Ia dikelilingi banyak orang, tetapi nyaris tidak memiliki teman sejati. Teleponnya ramai, pertemuannya padat, tapi hatinya sepi. Semakin tinggi ia melangkah, semakin sunyi rasanya. Seperti berdiri di puncak piramida yang megah, indah dari kejauhan, namun dingin dan sepi saat benar-benar berada di atasnya.
Tommy kecewa.
Ia merasa telah mengejar semua yang ia pikir akan membuatnya bahagia. Uang. Pengakuan. Pencapaian. Kebanggaan. Tapi mengapa hatinya justru kosong?
Di titik itulah ia mulai bertanya,
“Kalau semua ini bukan jawabannya, lalu apa?”
Peter Drucker, bapak management modern, pernah berkata bahwa “salah satu kesalahan terbesar manusia adalah “berhasil menaiki tangga kesuksesan, hanya untuk menyadari bahwa tangga itu bersandar pada dinding yang salah.”
Kalimat itu sangat menggambarkan kondisi banyak orang hari ini. Kita berjuang mati-matian, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan relasi, untuk mencapai sesuatu. Tapi ketika sampai di atas, kita baru sadar… yang kita kejar bukanlah yang benar-benar kita butuhkan.
Seiring bertambahnya usia, pandangan tentang kebahagiaan memang berubah.
Hal-hal yang dulu terasa penting perlahan kehilangan daya tariknya. Pujian tidak lagi memuaskan. Kemenangan tidak lagi menggetarkan. Bahkan keberhasilan pun terasa hampa jika tidak bisa dibagikan dengan orang-orang yang tulus.
Di titik ini, hidup mulai mengajarkan pelajaran yang berbeda.
Bahwa kebahagiaan bukan soal seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa dalam kita bisa merasakan makna.
Bahwa damai tidak selalu datang dari keberhasilan besar, melainkan dari hati yang tidak lagi haus pengakuan.
Pelan-pelan seseorang mulai menyadari, kebaikan ternyata memberi rasa yang jauh lebih utuh daripada kemenangan.
Berbuat baik tanpa pamrih.
Mendengar tanpa ingin menghakimi.
Menolong tanpa perlu diketahui.
Hal-hal sederhana itu justru menghadirkan kelegaan yang tidak bisa dibeli.
Di sinilah seseorang mulai memahami bahwa kebaikan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan kebutuhan batin. Ia seperti napas bagi jiwa. Tanpanya, hati terasa sesak meski hidup terlihat sempurna.
Semakin dewasa, semakin jelas satu hal:
*kebahagiaan tidak selalu datang dari apa yang kita miliki, tetapi dari siapa kita menjadi.*
Kebaikan membuat hidup terasa lebih ringan.
Tidak ada beban membuktikan diri.
Tidak ada lelah mengejar pengakuan.
Tidak ada iri yang menggerogoti hati.
Pada akhirnya, usia mengajarkan satu kebenaran sederhana namun dalam:
bahagia bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang merasa cukup.
Dan kebaikan adalah bentuk paling jujur dari rasa cukup itu sendiri.
Mungkin itulah mengapa, di puncak kesuksesan, sebagian orang justru mulai mencari hal-hal yang dulu mereka abaikan. Bukan lagi prestasi, bukan lagi tepuk tangan, tetapi ketenangan hati.
Karena pada akhirnya, yang benar-benar membuat hidup terasa berarti bukan seberapa tinggi kita melangkah…
melainkan seberapa tulus kita hidup.
Hidup menggenapi rancangan Tuhan dalam menciptakan kita itulah, yang paling memuaskan. Karena untuk itulah kita ada di dunia ini.
“At the end of life, what truly matters is not what we have achieved, but how much we have loved.” – Mother Teresa
“Di akhir hidup, yang benar-benar berarti bukan apa yang kita capai, tetapi seberapa besar kita mengasihi”.- Mother Teresa
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama