Articles

Regent Seven Seas Explorer: Natal Itu Hadir, Bahkan di Tengah Samudra…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Regent Seven Seas Explorer: Natal Itu Hadir, Bahkan di Tengah Samudra…

Christmas yang Hangat dan Berkelas di Regent Seven Seas Explorer
Natal di Regent Seven Seas Explorer tidak datang tiba-tiba.

Suasananya sudah terasa sejak tanggal 24 Desember. Sejak pagi, kapal ini seolah berganti wajah. Musik Natal mengalun lembut di setiap sudut, dekorasi merah dan emas tertata anggun, dan para kru menyapa dengan senyum yang terasa lebih hangat dari biasanya.

Pagi itu, saat sarapan, kami sudah disambut Eggnog. Minuman khas liburan di negara Barat ini langsung menghadirkan nuansa Natal yang otentik. Terbuat dari campuran susu, krim, telur, gula, dan rempah—terutama pala—rasanya manis, gurih, dan kental seperti custard cair. Biasanya disajikan dingin, kadang dengan sentuhan rum atau brandy. Eggnog bukan sekadar minuman, tapi simbol kemewahan dan perayaan musim Natal.

Sejak melangkah keluar kabin, suasana Natal benar-benar terasa. Lampu-lampu temaram, ornamen khas, dan sentuhan warna merah emas membuat seluruh kapal tampak hidup, namun tetap elegan. Tidak berlebihan. Tidak bising. Justru hangat dan menenangkan.
.
B. Silvy & saya sedang santai di deck 5, ketika terdengar suara riuh. Kami pun melihat ke deck 4 dari ujung tangga. Ternyata Santa Claus muncul bersama timnya di dekat pohon natal. Para penumpang langsung berkumpul, tersenyum, dan mengabadikan momen. Paduan suara dari artis Regent mengiringi suasana dengan lagu-lagu Natal yang ceria. Tua, muda, semua larut dalam kegembiraan. Kami pun ikut berfoto bersama Santa.

Sejak 24 Desember, Kris dan saya mengenakan bando rusa sementara teman yang lain memakai topi Natal. Tak sedikit penumpang dan crew yang menggoda sambil berseru, “Ho… ho… ho!” menirukan ucapan khas Santa, disusul ucapan “Merry Christmas!” yang terdengar di mana-mana.

Malam itu, kami makan malam di chartreuse, restoran Prancis yang elegan. Setelah itu, kami menonton pertunjukan Christmas spesial. Inilah salah satu bagian paling memukau malam itu.

Pertunjukan dibuka dengan tarian bergaya Broadway, lalu mengalir ke balet yang lembut namun glamour. Dekorasi panggung yang terus berganti sesuai kisah yang ditampilkan, ditambah LCD background dan lighting yang memukau. Namun yang paling mencuri perhatian adalah saat Flamenco Spanyol tampil di panggung. Dentuman kaki yang kuat, gerakan penuh ekspresi, dan irama gitar yang menghentak membuat suasana berubah seketika. Lighting yang dramatis, kostum serasi nampak mewah dan ekspresi para penari menyatu sempurna. Bukan sekadar tarian, tapi energi. Sebuah perayaan kehidupan yang intens dan berani. Semua tersaji dengan berkelas, rapi, dan sangat berkesan.

Tanggal 25 Desember pagi kami sempat mengunjungi Brisbane.
Dan …..suasana Natal kembali menyapa sore harinya. Tepat pukul tiga sore, Christmas Carol dimulai. Lagu-lagu Natal mengalun syahdu. Kami ikut bernyanyi, memuji Tuhan bersama-sama. Bukan Natal yang ramai dan riuh, tapi Natal yang membawa hati kembali pada maknanya.

Santa kembali muncul dari lift atas, kali ini membawa kotak besar berisi hadiah untuk anak-anak. Tawa pecah, kamera kembali sibuk, dan suasana terasa hangat seperti keluarga besar.

Lalu tibalah pertunjukan yang paling ditunggu: penampilan Sarah Moir, violinist asal Australia. Sarah bukan sekadar pemain biola. Ia adalah “pengukir suara”. Dengan iringan band dan efek digital, ia merangkai bunyi biola menjadi lapisan musik yang kaya—memadukan klasik, jazz, folk, hingga sentuhan elektronik, semuanya dimainkan langsung di atas panggung.
Ia bisa membuat biolanya berbunyi seperti okulele dan menirukan alat musik lainnya atau suara-suara binatang atau benda lain, lalu memainkannya.

Yang paling unik, ia memainkan biola seolah berdialog dengan seekor kuda yang ditampilkan melalui visual di layar. Gerakan musik dan gambar berpadu indah.
Sarah bahkan menjelaskan bahwa kuda memiliki kepekaan luar biasa terhadap musik, mampu merespons emosi dan ritme. Dan malam itu, kami benar-benar bisa merasakannya.

Malam ditutup dengan Christmas Gala Dinner. Menu utamanya Roasted Turkey dengan Chestnut Stuffing, Giblet Gravy, dan Sweet Potatoes Rosette. Rasanya luar biasa. Empuk, kaya rasa, dan seimbang. Saya langsung teringat Mr. Bean dengan roast turkey-nya—bedanya, yang ini sukses tanpa drama.
Hahaha….. untunglah!

Kristina sempat bercerita bahwa restoran-restoran di Regent memang setara Michelin. Dan itu terasa, bukan hanya dari rasa, tapi dari detail penyajian.

Kris sendiri sudah menantikan Christmas Pudding khas Inggris. Katanya, di UK, pudding ini dibuat sangat serius bahkan bisa disimpan bertahun-tahun. Tradisi yang unik dan penuh cerita. Sayangnya, di Regent tidak menyajikan versi klasik itu. Sebagai gantinya, ada Christmas Panettone Pudding dengan Roasted Berry Ragout dan Nougat Sauce. Rasanya enak, manisnya pas, meski menurut Kris, tetap belum bisa mengalahkan versi Inggris yang otentik dan legendaris.

Natal di Regent bukan sekadar perayaan. Pengalaman baru bagi saya pribadi. Hangat, indah, penuh detail, dan menyentuh hati. Sebuah Natal yang tidak hanya dirayakan, tetapi benar-benar dirasakan.

Praise The Lord! Terimakasih Tuhan untuk kesempatan ini dan anugerah-Mu yang tak ternilai….
I love you full, meniru Gombloh, sang penyanyi lawas.

“The very purpose of Christmas is that God loved enough to send His Son.” – Billy Graham

“Makna sejati Natal adalah ini: Tuhan begitu mengasihi kita sehingga la mengutus Anak-Nya.” – Billy Graham.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Jagalah Iman Anda Tetap Segar.”
Apa Yang Membuat Thomas Fuller Istimewa?
“Bagaimana Kita Melihat Diri Kita Sendiri?”