“Wuhan: Dari Jembatan Mao, Legenda Burung Kuning, hingga Lonceng Abadi Marquis Yi”
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
“Wuhan: Dari Jembatan Mao, Legenda Burung Kuning, hingga Lonceng Abadi Marquis Yi”
Wuhan, di sinilah kapal kami berlabuh pagi ini. Kota yang terkenal sebagai asal muasal Covid-19, meski penduduk lokal—termasuk Lidya, tour leader kami—menegur santai, “Jangan sebut Covid lagi dong… itu bukan salahnya penduduk lokal.”
Kota ini terbagi dalam tiga “kota dalam kota” yang bergabung: Hankou, Hanyang dan Wuchang — yang akhirnya membentuk nama “Wuhan” sebagai pusat Republik. Di sepanjang aliran Sungai Han dan Sungai Yangtze, kota ini tumbuh sebagai pusat industri dan manufaktur yang masif.
Di bagian Hankou & Hanyang utara, terdapat banyak pabrik besar mobil dan ponsel: kawasan industri otomotif di Wuhan menangani puluhan pabrik kendaraan dan suku cadang. Begitu pula sektor elektronik: misalnya Xiaomi membuka pabrik peralatan rumah pintar di Wuhan dengan investasi besar, memperkuat posisi kota ini sebagai hub teknologi.
Melintasi Sungai Han (dan kemudian Sungai Yangtze), kita akan melihat jembatan besar yang membelah kota — salah satunya adalah Wuhan Yangtze River Bridge yang diresmikan pada 15 Oktober 1957 oleh Mao Zedong. Jembatan dengan panjang sekitar 1.600 meter itu memiliki tiga lapis: lapis pertama untuk mobil, lapis kedua untuk kereta api, lapis ketiga untuk kapal. Efisien sekali sebagai simbol bahwa Wuhan sudah mulai menghubungkan mobilitas darat dan air sejak era awal modern.
Konon, Mao sangat suka berenang di Sungai Yangtze dekat Wuhan, dan saat ia berenang ia pernah melihat jembatan itu dan membuat puisi kenangan. Uniknya: di tahun 1956 banyak orang tua di Wuhan memberi nama anaknya “Ta Chiau” (‘jembatan besar’) sebagai penghormatan.
Agenda pertama hari ini, mengunjungi Yellow Crane Tower.
Menara ini berdiri di atas Snake Hill, dan awalnya dibangun pada tahun 223 M sebagai menara pengawas militer, untuk memperhatikan apakah musuh datang. Kali ini kita akan berada di menara yang dibangun ulang—menara asli sudah beberapa kali terbakar karena bahan kayunya—versi sekarang letaknya sekitar 100 meter dari yang asli. Dari puncaknya kita bisa melihat panorama luas Kota Wuhan dan sungai besar yang membelah kota.
Di balik menara ini ada legenda yang sangat terkenal: dahulu waktu itu ada pemilik warung anggur yang baik hati menerima seorang pendeta Tao. Setelah setahun makan gratis dan dirawat, si pendeta melukis seekor angsa kuning di dinding warung dengan kulit jeruk. Setiap kali pendeta meniup seruling atau tamu bertepuk tiga kali, angsa itu dikisahkan melompat dari dinding dan menari. Warung pun terkenal. Setelah 10 tahun, pendeta kembali hendak membawa angsa itu pergi — pemilik warung tidak setuju, dan akhirnya angsa itu terbang… kemudian warung dibongkar dan di lokasinya dibangun Yellow Crane Tower sebagai monumen. Legenda ini memberi kesan bahwa tempat ini bukan sekadar bangunan, tapi simbol kerinduan, keindahan dan perpisahan.
Berikutnya, kita menuju Hubei Provincial Museum yang menyimpan harta budaya luar biasa—termasuk artefak dari makam Marquis Yi of Zeng (Zeng Hou Yi) yang hidup di abad ke-5 SM.
Makam Marquis Yi ditemukan di Leigudun, Suizhou, Hubei pada tahun 1978 — sebuah penemuan yang sangat langka karena bagian dalam makam relatif utuh. Di dalamnya ditemukan lebih dari 15.000 artefak, termasuk set lonceng perunggu (bianzhong) besar yang dapat menghasilkan dua nada berbeda tiap lonceng dan mencakup sekitar lima oktaf.
“Lonceng-lonceng ini merupakan manifestasi budaya ritual dan musik yang sangat maju di China kuno – menunjukkan bagaimana manusia, pada masa perkembangan peradaban, telah mencapai ketinggian intelektual melalui astronomi, kalender, seni musik, dan teknologi perunggu.
Selain lonceng, museum juga menyimpan artefak pedang yang luar biasa, termasuk Pedang Raja Goujian dari Yue-salah satu penemuan paling terkenal di China. Ditemukan masih berkilau setelah terkubur lebih dari dua milenium, pedang ini terbuat dari campuran tembaga dan timah dengan ukiran halus serta hiasan batu pirus di gagangnya. Ketajamannya menakjubkan; bahkan mampu memotong selembar kertas dengan sekali tebas.
Kita bisa berdiri di depan artefak itu dan membayangkan: lebih dari 2.400 tahun lalu, seseorang menyiapkan ini semua untuk perjalanan setelah kematian-sebuah usaha besar untuk memastikan kehormatan di alam baka. Namun kini kita tahu, saat seseorang meninggalkan dunia, tidak ada satu pun harta benda yang bisa dibawa. Segala kemegahan, kemewahan, bahkan kebanggaan, tinggal menjadi benda pameran yang bisu.
Yang benar-benar bernilai hanyalah roh kita yang kembali kepada Tuhan, dan jejak kasih yang kita tinggalkan di dunia ini. Hidup kita bukan tentang berapa banyak yang kita kumpulkan, tapi berapa banyak hidup yang disentuh dan diberkati melalui kita. Tuhan memberkati kita bukan supaya kita berhenti di titik “berkelimpahan”, melainkan supaya kita menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Artefak-artefak itu menjadi cermin masa lalu, mengingatkan bahwa manusia selalu ingin meninggalkan jejak. Namun warisan sejati bukan pada benda, melainkan pada kasih, iman, dan kebaikan yang kita tabur. Kita diberkati bukan untuk menimbun, tapi untuk memberkati—agar hidup kita berdentang seperti lonceng perunggu itu, membawa gema kasih Tuhan yang abadi.
What we do for ourselves dies with us. What we do for others and the world remains and is immortal.” – Albert Pike
Apa yang kita lakukan untuk diri sendiri akan mati bersama kita. Apa yang kita lakukan untuk orang lain dan dunia akan tetap hidup dan abadi.
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

