Articles

“Cita-Cita New York Times, Realistiskah?” (Part 1)

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Cita-Cita New York Times, Realistiskah?” (Part 1)

Sejak kecil saya suka sekali membaca buku. Saya masih ingat betul, waktu itu setiap kali membaca buku bagus, di sampulnya selalu tertulis: “New York Times Best Seller.” Kata itu seperti punya daya magis tersendiri. Saya tidak tahu apa New York Times itu, atau seberapa besar dunia, tapi di benak saya kecil, yang punya tulisan New York Times pasti hebat luar biasa.

Dari sanalah, muncul cita-cita yang bagi anak kecil di masa itu, mungkin terlalu tinggi: saya ingin keliling dunia. Waktu itu tidak ada internet, tidak mudah mencari informasi. Tapi setiap kali saya melihat gambar-gambar di kalender—pemandangan indah, pegunungan bersalju, menara-menara megah di negeri jauh—saya tahu, dunia ini luas dan saya ingin melihatnya.

Setiap akhir tahun saya punya hobi: mengumpulkan kalender bergambar tempat-tempat indah di belahan dunia lain. Saya tidak tahu bagaimana caranya sampai ke sana, tapi hati saya penuh harapan dan imajinasi. Rasanya seperti sedang menggenggam mimpi lewat gambar.

Lalu saya membaca kata-kata Dale Carnegie yang menempel di benak saya sampai sekarang:

“Shoot for the moon and if you miss you will still be among the stars”.

“Tembaklah bulan dan kalau pun meleset, Anda masih akan berada di antara bintang-bintang.”

Artinya, jika punya cita-cita, pancangkanlah setinggi bulan. Kalaupun meleset, setidaknya kita masih berada di antara bintang-bintang.
Hhmmm…. sebaliknya, kalau cita-cita kita rendah dan meleset, ya jatuhnya tidak ke mana-mana.
Hidup cuma sekali dan tidak bisa diulang, karenanya realisasikan apa yang kita inginkan.
Itu semua tidak otomatis, kita yang harus merealisasikannya.

Sejak itu saya punya istilah pribadi: New York Times artinya menjadi yang terbaik di dunia.
Dunianya siapa? Ya dunia saya.
Dunia tempat Tuhan menempatkan saya untuk berkarya.
New York Times bukan soal masuk koran terkenal, tapi tentang menjadi versi terbaik dari diri sendiri, mengukir pencapaian yang berarti, dan meninggalkan jejak abadi.

Saya selalu terinspirasi oleh pemikiran ini: ketika seseorang meninggal tetapi namanya tetap disebut, sesungguhnya ia masih hidup—karena pengaruhnya belum berhenti.
Hidup seperti itu yang saya mau. Hidup yang berdampak.

Saya ingat, saat lulus dari Sekolah Charis, setiap murid diminta menuliskan apa yang diinginkan setelah lulus. Sebagian besar teman-teman menulis ingin menjadi volunteer di CBC. Tapi saya menulis, “Saya ingin membawa Kabar Baik sampai ke ujung bumi.”
Bagi saya, itulah makna sesungguhnya dari New York Times—menjangkau dunia, membuat perbedaan di setiap langkah yang Tuhan percayakan.

Anak-anak saya paham betul ketika saya bicara tentang New York Times.
Bagi kami, itu berarti menjadi yang terbaik dan berdampak sampai ke ujung bumi. Itu cara saya menanamkan semangat itu kepada mereka bukan lewat teori, tapi lewat kehidupan. Lewat tindakan, lewat mimpi yang dikerjakan, bukan sekadar diucapkan.

Itulah sebabnya saya mengatur agar blog saya: www.yennyindra.com, bisa dibaca dalam berbagai bahasa. Saya ingin apa yang saya tulis bisa menjangkau lebih banyak orang. Bukan demi popularitas, tapi karena saya sungguh ingin pesan kebaikan Tuhan dikenal oleh siapa pun, di mana pun. Bahkan setelah saya tidak ada di dunia ini, tulisan itu tetap berbicara.

Saya masih ingat reaksi seorang local guide di Nepal. Saat ia tahu fotonya muncul di artikel perjalanan saya dan artikel itu bisa dibaca dalam bahasa Nepal, wajahnya bersinar. Ia berkata ingin ibunya juga bisa membacanya. Saya tersenyum dalam hati—bukankah itu cara sederhana untuk menggenapi cita-cita New York Times?

Di berbagai Whatsapp Groups di mana saya mengirimkan artikel, tidak sedikit yang anggota-anggotanya teman dari Indonesia yang bermukim di berbagai belahan dunia. Ada teman-teman dekat di Eropa yang suka membagikan tulisan saya pada teman-temannya, karena blog saya bisa dibaca dalam bahasa ibu mereka. Menarik bukan?

Ada teman yang pernah salah mengerti, mengira saya ingin masuk New York Times secara harfiah.
Saya tersenyum dan menjawab, “Kalau memang bisa, why not?”
Karena siapa tahu, Tuhan bisa membawa kita melampaui apa yang kita pikirkan maupun doakan. Yang terpenting bukan topnya, tapi inspirasinya.

Bagi saya, setiap pencapaian, setiap kesempatan, hanyalah sarana untuk menyampaikan Kabar Baik dengan lebih efektif.
Kesuksesan sejati bukan diukur dari seberapa banyak harta dikumpulkan, seberapa hebatnya kita, tapi seberapa banyak hidup orang lain menjadi lebih baik karena mengenal kita. Dunia menjadi sedikit lebih baik karena kita ada di dalamnya.

Kita semua punya dunia masing-masing. Di situlah Tuhan menempatkan kita untuk bersinar.
Tugas kita bukan membandingkan, tapi mengerjakan bagian kita dengan sebaik mungkin, dengan hati yang tunduk, dan iman yang bekerja melalui kasih.

Dan rencana Tuhan tidak pernah bisa kita capai sendirian. Bukan ‘one man show.’
Rencana Tuhan hanya bisa direalisasikan dengan cara Tuhan, menggunakan kemampuan Tuhan, dan iman-Nya yang sudah didepositkan di dalam kita. Karena pada akhirnya, setiap pencapaian bukan hasil kerja keras kita, tapi hasil kerja Tuhan melalui kita. Kita hanya bejana yang mengalirkan-Nya, atau pena yang digunakan untuk menuliskan kisah-Nya.

Itulah versi saya tentang New York Times.
Menjadi yang terbaik di dunia yang Tuhan percayakan, dengan hati yang mau dipakai-Nya untuk menyentuh dunia di sekitar kita.
It’s all about God not us. Ini semua tentang Tuhan, bukan kita.

Setuju? Praktik yuk….

“Success is not measured by what you accomplish, but by the opposition you have encountered, and the courage with which you have maintained the struggle against overwhelming odds.” – Orison Swett Marden

“Kesuksesan bukan diukur dari apa yang kamu capai, tetapi dari keberanianmu untuk tetap berjuang di tengah tantangan yang besar.” – Orison Swett Marden

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Inner Healing.
Benarkah Tuhan Memanggil Seseorang Untuk Meninggalkan Dunia?
BIG PICTURE