Articles

Belajar Mengasihi dari Lukas, Si Anak Autis.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Belajar Mengasihi dari Lukas, Si Anak Autis.

Lukas adalah seorang anak laki-laki kecil dengan autisme yang tinggal di New York City. Ia senang sekali mengoleksi boneka-boneka empuk, plushies. Suatu hari, keluarganya melihat Lukas membawa beberapa bonekanya ke luar rumah. Mereka penasaran, lalu mengikutinya. Ternyata Lukas sedang meletakkan boneka-boneka itu di pinggir jalan, tepat di depan rumah mereka.

Bukan tanpa alasan. Itu adalah hadiah dari Lukas untuk anak-anak miskin di lingkungan tempat tinggalnya. Tanpa banyak bicara, tanpa perlu pengakuan, ia membagikan apa yang ia punya kepada mereka yang tidak memiliki.

Tak ada yang menyuruhnya. Tak ada yang mengajarinya melakukan itu. Ia hanya mengikuti isi hatinya. Lukas mengasihi dengan cara yang sederhana tapi tulus.

Kisah ini langsung menyentuh hati saya. Terbayang betapa polos dan murninya kasih sayang seorang anak yang oleh banyak orang dianggap tidak normal. Padahal justru dari dia, kita bisa belajar tentang kepedulian yang tulus—yang mungkin jarang kita temui di tengah masyarakat yang sibuk mengejar status, kesuksesan, dan pengakuan.

Tuhan tidak pernah salah menciptakan seseorang. Dia tidak membuat manusia secara massal seperti pabrik mencetak barang. Setiap orang adalah ciptaan yang unik, istimewa, dan limited edition. Tidak ada yang persis sama. Kita dibentuk menurut rancangan-Nya, dengan tujuan khusus yang hanya kita yang bisa menggenapinya.

Wuih…. kerennya….

Masalahnya, kita sering lebih percaya pada standar dunia daripada rancangan Tuhan. Dunia punya definisi sendiri tentang apa itu berhasil, layak, penting, bahkan “normal”. Lalu tanpa sadar, kita mulai menuntut orang-orang di sekitar kita untuk mengikuti pola itu. Kita ingin anak-anak bertindak sesuai harapan kita, pasangan harus cocok dengan standar kita, bahkan teman sepelayanan pun kita ukur dengan ukuran pribadi.

Begitu seseorang bertindak berbeda, kita mudah curiga, menilai, atau bahkan menghindar. Kita lupa bahwa kasih sejati tidak bersyarat. Kasih yang dari Tuhan tidak memandang rupa, tidak memperhitungkan kekurangan, dan tidak tergantung pada performa.

“Our differences are not something to be tolerated. They are something to be celebrated.” – Rev. William Sloane Coffin.

“Perbedaan kita bukanlah sesuatu yang sekadar harus ditoleransi. Itu sesuatu yang patut dirayakan.” – Rev. William Sloane Coffin.

Bayangkan jika semua orang berpikir dan bertindak sama. Dunia ini akan terasa datar, membosankan, dan tanpa warna. Justru karena ada perbedaan, dunia menjadi lebih kaya. Kita butuh orang-orang seperti Lukas—yang tidak dibentuk oleh tekanan sosial, tapi berani mengikuti suara hatinya.

Saat Lukas diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri, kasih Tuhan mengalir melalui tindakannya. Ia tidak berpikir panjang soal status sosial, citra diri, atau balasan. Ia hanya membagikan yang ia punya dengan hati yang tulus.

Dan ironisnya, anak-anak miskin yang menerima boneka dari Lukas itu—sering kali justru diabaikan oleh orang-orang “normal” yang merasa lebih tahu, lebih penting, lebih sibuk.

Mungkin ini saatnya kita berhenti sejenak dan merenung. Jangan-jangan kita terlalu sibuk membenahi orang lain, menuntut perubahan, atau mengajarkan nilai-nilai… sampai lupa menghidupi kasih yang paling dasar: peka terhadap kebutuhan sesama.

Sering kali Tuhan memakai orang yang menurut dunia tidak penting untuk menyampaikan pesan kasih-Nya. Lukas adalah salah satu contohnya. Lewat tindakannya, kita diingatkan bahwa kasih sejati itu nyata. Tidak selalu rapi, tidak harus masuk akal, dan tidak perlu diumumkan. Tapi justru karena itulah, kasih itu murni.

Apa yang kita anggap sebagai kelemahan, bisa jadi adalah saluran Tuhan untuk mengalirkan kasih-Nya. Lukas mungkin tak bisa menyampaikan isi hatinya seperti anak lain, tapi ia mendengarkan suara kasih di dalam dirinya, dan bertindak.

Tuhan tidak melihat seperti manusia melihat. Manusia memandang penampilan luar, tetapi Tuhan melihat hati. Dan hati Lukas… begitu menyerupai hati-Nya.

Maukah kita belajar dari Lukas? Bukan hanya belajar memberi, tapi belajar untuk tidak menghakimi. Belajar membuka ruang bagi perbedaan. Belajar memberi tempat bagi orang lain menjadi versi terbaik dari dirinya, bukan salinan dari kita.

Karena kasih sejati bukan tentang menjadikan orang lain seperti kita, tapi menerima mereka sebagaimana Tuhan menciptakan mereka. Jika Lukas bisa melakukannya, kenapa kita tidak?

Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.” – Albert Einstein.

“Setiap orang adalah jenius. Tapi jika kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan menjalani hidupnya dengan keyakinan bahwa dirinya bodoh.” – Albert Einstein.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Apa Yang Tersimpan Di Dalam Hatimu?
Jika Tuhan Berdaulat….
INSPIRASI