*”Wadah Imanmu Menentukan Seberapa Banyak Mujizat Tercurah”*
Seruput Kopi Firman
Yenny Indra
*”Wadah Imanmu Menentukan Seberapa Banyak Mujizat Tercurah”*
Pagi ini saya merenungkan tentang hidup seorang hamba Tuhan bernama John G. Lake. Ia dikenal sebagai penginjil yang mendirikan rumah sakit tanpa obat. Bukan berarti ia menolak ilmu kedokteran, tetapi karena ia begitu yakin bahwa doa dan iman mampu mengalahkan penyakit. Tahun 1915, ia membuka Healing Rooms di Spokane, Washington. Bukan rumah sakit biasa—tidak ada dokter, tidak ada resep, hanya doa dan iman. Setiap pasien yang datang didoakan setiap hari oleh tim rohani yang diperlengkapi, sampai mereka mengalami kesembuhan.
Hasilnya sungguh mencengangkan. Lebih dari 100.000 orang bersaksi sembuh dalam kurun waktu hanya lima tahun. Bahkan catatan resmi pemerintah Amerika menyebut Spokane sebagai “kota tersehat di Amerika.” Itu semua bukan karena obat-obatan, tetapi karena orang-orang sederhana yang percaya penuh bahwa Tuhan masih sanggup menyembuhkan.
Apa yang membuat kisah ini begitu istimewa? Bukan semata-mata mujizat yang terjadi, melainkan keberanian seseorang yang menghidupi imannya. John G. Lake sungguh yakin bahwa kuasa yang sama yang membangkitkan Yesus dari kematian sudah diberikan kepada setiap orang percaya.
Pertanyaannya, seberapa banyak dari kuasa itu yang kita realisasikan dalam hidup sehari-hari?
Hal ini mengingatkan saya pada kisah Raja Yoas dan Nabi Elisa. Saat Elisa sakit keras, Raja Yoas datang menemuinya dan menangis. Elisa kemudian menyuruhnya mengambil busur dan anak panah. Dengan tangannya sendiri, Elisa meletakkan tangan di atas tangan Raja Yoas dan mengarahkannya menembakkan panah ke arah timur, tanda kemenangan Tuhan atas musuh. Setelah itu Elisa berkata, “Ambillah panah-panah itu dan pukulkanlah ke tanah.” Yoas pun memukul tanah—tetapi hanya tiga kali. Elisa menjadi kecewa, karena seharusnya ia memukul lebih banyak kali lagi. Seandainya ia melakukannya, kemenangannya akan penuh dan sempurna. Tetapi karena ia berhenti di tengah jalan, kemenangannya pun hanya sebagian.
Betapa sayangnya. Tuhan sudah menyiapkan kemenangan penuh, tetapi dibatasi oleh kecilnya iman seorang raja. Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan selalu siap memberi lebih, melimpahkan kuasa-Nya tanpa batas. Tetapi seringkali manusialah yang membatasi diri dengan iman yang setengah hati.
Bukankah kita juga sering seperti Yoas? Tuhan sudah mendepositkan kuasa-Nya dalam hidup kita. Ia memberi kesempatan, membukakan jalan, bahkan meletakkan tangan-Nya di atas tangan kita, agar kita yakin bahwa kita tidak berjalan sendirian. Namun kita berhenti terlalu cepat. Kita hanya berani “memukul tanah tiga kali” karena merasa cukup, atau karena takut gagal. Padahal Tuhan siap melakukan jauh lebih besar.
*Iman itu bagaikan wadah. Semakin besar wadah yang kita sediakan, semakin banyak air berkat yang bisa ditampung.*
Tuhan tidak pernah kehabisan. Tetapi kita sering berhenti menuang karena merasa cukup, atau tidak percaya bahwa masih ada lebih banyak lagi.
John G. Lake tidak berhenti di tengah jalan. Ia mengulurkan wadah imannya seluas mungkin. Ia percaya, ia melangkah, dan ia menyaksikan kuasa Tuhan bekerja.
Demikian juga dengan kisah janda miskin yang datang kepada Elisa karena terlilit hutang. Nabi itu memintanya untuk meminjam wadah kosong sebanyak-banyaknya, lalu menuangkan minyak dari buli-bulinya. Minyak itu baru berhenti mengalir ketika tidak ada lagi wadah kosong yang tersedia. Dengan minyak itu, ia melunasi hutangnya dan hidup berkecukupan bersama anak-anaknya.
Tuhan tidak membatasi, manusialah yang berhenti memberi ruang. Hari ini Tuhan mengingatkan, Ia sudah mendepositkan kuasa yang sama di dalam diri kita. Bukan hanya untuk hamba-hamba Tuhan besar, tetapi untuk setiap orang percaya.
*Pertanyaannya sederhana:*
Seberapa intim hubungan kita dengan-Nya, seberapa berani kita melangkah bersama-Nya, seberapa banyak kita bersedia memukul tanah sampai akhir?
Hidup ini singkat. Jangan puas dengan kemenangan yang setengah-setengah. Tuhan menghendaki kita mengalami kepenuhan janji-Nya.
Mari belajar melangkah _hand in hand_ dengan Tuhan, terus menembakkan panah iman, sampai kita melihat kemenangan penuh yang sudah Dia sediakan.
“Faith does not make things easy, it makes them possible.” – Luke 1:37
“Iman tidak membuat segalanya mudah, tetapi membuat segalanya mungkin.” – Lukas 1:37
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirman
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
