“Pesona Xinjiang: Antara Salju, Sungai Zamrud, dan Sentuhan Kasih Tuhan”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
“Pesona Xinjiang: Antara Salju, Sungai Zamrud, dan Sentuhan Kasih Tuhan”
Beberapa bulan lalu, Xinjiang membuka bandara baru ..
Begitu landing… wow sungguh memukau. Jauh lebih modern daripada Beijing International Airport, resmi beroperasi sejak April 2025.
Toko-toko cantik berderet sepanjang jalan…. sungguh mengggoda.
Sekilas, ini terdengar seperti kemudahan perjalanan dan pintu masuk baru ke wilayah yang luas dan kaya budaya. Terkenal sebagai Swiss-nya China. Seperti biasa, jalan bareng Anton Thedy -TX Travel.
Tapi Xinjiang bukan sembarang daerah. Di sini, keamanan diperketat, polisi dan tentara bisa melakukan pemeriksaan berulang kali, dan setiap langkah terasa diawasi. Demikian infonya. Karena daerah Xinjiang selatan terutama, sempat ingin merdeka.
Sukunya Uighur, sebagian besar penduduknya muslim. Ketika perang dunia 1, ada orang-orang Rusia yang lari ke Xinjiang. Mereka sebagian kecil orang Kristen di sini.
Local guide kami bernama Saleh tapi matanya sipit.
Bahkan restonya bergaya timur tengah. Cakep hingga plafondnya yang diberi lampu kecil-kecil bak bintang di langit. Suasana hingga musiknya, serasa di Timur Tengah, bukan China.
Nach inilah hebatnya pemerintah China, pembangunan merata hingga ke pedalaman. Jika rakyat makmur, siapa yang mau memberontak lagi?
Pertama kami menuju taman kota Urumqi, Hongshan Park. Berfoto ria tentunya sambil melemaskan kaki.
Tuhan baik.
Ramalan cuaca hujan tetapi hujan sudah turun semalaman. Jadilah cerah dan sejuk…. wuih senangnya.
Selanjutnya, bayangkan ini: kita berdiri di antara tebing batu merah raksasa, menjulang tinggi dengan bentuk-bentuk alami yang unik—seperti kastil dan menara raksasa yang diukir angin selama jutaan tahun. Itulah Tianshan Grand Canyon di Xinjiang,tempat di mana alam menunjukkan kekuatannya dalam diam.
Di kejauhan, Pegunungan Tianshan membentang megah, puncaknya diselimuti salju abadi yang berkilau di bawah matahari. Di lerengnya, hutan pinus tumbuh rapat—memberi kontras hijau yang menenangkan di tengah warna coklat kemerahan tebing.
Tak jauh dari sana, mengalir sungai hijau jernih, tenang tapi dalam, membelah ngarai seperti pita zamrud. Airnya begitu bersih, sampai kita bisa melihat bebatuan di dasarnya.
Perpaduan antara tebing merah, gunung bersalju, hutan pinus, dan air yang jernih menciptakan pemandangan yang luar biasa—seolah Swiss bertemu Grand Canyon, tapi dengan sentuhan eksotis khas Xinjiang.
Air sungai yang mengalir dari ketinggian hingga ke tempat yang lebih rendah melewati elevasi bebatuan yang bertingkat-tingkat bak air terjun cantik yang membentuk tirai nan indah memukau….
Kami pun menuju spot yang lebih ke atas lagi.
Di puncak Pegunungan Tianshan, tersembunyi sebuah permata alam yang tenang dan memikat: Danau Goose (Goose Lake)
Tempat tinggal angsa hitam yang terkenal.
Danau ini bukan hanya indah, tapi juga seperti tempat di mana waktu berhenti. Suasananya sunyi, damai, dan menyegarkan jiwa-seperti dunia kecil yang tak terjamah hiruk-pikuk manusia.
Tempat ini bukan cuma cantik, tapi bikin hati terdiam. Alam sedang berkhotbah, tanpa kata.
Dan….. Tuhan begitu baik. Kami datang di musim yang terbaik. Daun-daun mulai menguning … tidak hanya itu, hingga pukul 8 malam langit masih terang.
Konon ini hanya terjadi di bulan September hingga awal Oktober.
Saat kami tengah asyik berfoto-ria, turun hujan salju di bulan September… bayangkan…
Bukankah itu *”Love – Gift”* dari Tuhan?
Wow…. kami bersuka ria menikmati keindahan alam, meski sedikit salah kostum… ternyata suhu turun hingga 3? Celcius…
Bbbrrrrr…. dinginnya.
Padahal kemarin di Beijing masih 24?.
Kami pun beramai-ramai beli baju dingin dadakan….
Travelling selalu meninggalkan kesan yang tak terlupakan.
Berada di tengah megahnya ciptaan Tuhan—pegunungan bersalju, sungai jernih, danau sunyi, dan hujan salju yang turun tak terduga—membuat kita tersadar: hidup ini terlalu indah untuk dilewati dengan terburu-buru.
Setiap langkah, setiap momen, adalah hadiah kasih yang tak ternilai.
Xinjiang bukan hanya destinasi, tapi pengalaman yang menyentuh hati dan membuka mata.
Perjalanan hari ini ditutup dengan dinner di kebun cantik, diiringi tarian tradisional yang apiiik.
Terima kasih Tuhan, untuk kesempatan menikmati keindahan ini.
God is good… all the time!
“Travel makes one modest. You see what a tiny place you occupy in the world.” – Gustave Flaubert
“Melancong membuat kita rendah hati. Kita sadar betapa kecilnya tempat kita di dunia.” – Gustave Flaubert.
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama