Articles

“Musuh Terbesarmu Bukan Setan, Tapi Pikiran Lama yang Belum Diperbarui”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Musuh Terbesarmu Bukan Setan, Tapi Pikiran Lama yang Belum Diperbarui”

“Spiritual warfare is not fighting demons, it’s fighting wrong thinking.”
— Gregory Dickow

“Peperangan rohani bukanlah melawan iblis, melainkan melawan pemikiran yang salah.”
– Gregory Dickow.

Perang rohani bukan soal berteriak-teriak mengusir setan. Perang rohani sejati terjadi di medan yang jauh lebih sunyi: di dalam pikiran kita sendiri. Saat kita masih percaya kebohongan, hidup kita akan terus dibelenggu walaupun kita sudah lahir baru. Bukan karena kita tidak cukup rohani. Tapi karena pikiran kita belum diperbarui.

Masalah utama kita sering kali bukan roh, karena saat kita lahir baru, Tuhan tidak menyembuhkan roh lama kita—Dia menggantinya dengan roh yang baru. Namun, pikiran dan tubuh kita tetap sama. Dan bagian itu, Tuhan tidak akan mengubahkan untuk kita. Itu tugas kita. Kita diberi roh yang baru, tapi kita sendirilah yang harus memperbarui pikiran kita agar selaras dengan roh baru itu.

Firman Tuhan adalah alatnya. Firman bukan sekadar kumpulan ayat. Firman adalah pikiran Allah, iman Allah, bahkan Allah sendiri tinggal di dalam Firman-Nya. Ketika kita mengisi pikiran kita dengan Firman, kita sebenarnya sedang memasukkan pikiran-Nya ke dalam diri kita. Dan saat pikiran-Nya menjadi cara berpikir kita, hidup mulai berubah—bukan dari luar, tapi dari dalam.

Sayangnya, banyak orang yang sudah lahir baru tetap hidup dengan pola pikir lama. Itu sebabnya hidup mereka tidak mencerminkan siapa mereka sebenarnya di dalam Kristus. Mereka punya roh yang baru, tetapi tetap menoleransi pikiran lama, perasaan lama, dan cara hidup lama. Padahal, pikiran lama itu seperti virus—diam-diam mencuri, membatasi, dan merampok berkat yang sebenarnya sudah jadi milik kita.

Pikiran seperti “Aku tidak cukup. Aku tidak bisa bebas. Aku ini produk masa lalu. Sudah terlambat untukku,” bukan sekadar pikiran negatif. Itu stronghold—benteng yang dibangun iblis di dalam kepala kita untuk membatasi langkah kita. Itu sebabnya kita perlu bicara kepada diri sendiri dengan kebenaran Firman Tuhan: “Aku adalah karya agung Allah,” “Yang Anak itu bebaskan, sungguh-sungguh bebas,” “Kutuk sudah dipatahkan,” “Kasih setia Tuhan baru setiap pagi.”

Kebohongan kehilangan kuasanya saat kebenaran mengambil tempatnya.

Yakobus menulis, “Terimalah dengan lemah lembut Firman yang tertanam dalam kamu, yang sanggup menyelamatkan jiwamu.”

Ia menulis kepada orang percaya, artinya meskipun rohnya sudah selamat, jiwanya belum. Jiwa—pikiran, kehendak, dan emosi—harus terus diperbarui agar selamat secara penuh. Itulah tugas seumur hidup kita: memperbaharui pikiran agar hidup kita mencerminkan siapa kita di dalam Kristus.

Yesus memberi kita teladan. Setiap kali iblis muncul dalam pelayanan-Nya, siapa yang pergi lebih dulu?
Bukan Yesus. Tapi iblis.

Karena Yesus tahu otoritas-Nya, dan Dia tidak pernah meninggalkan tempat di mana iblis masih aktif.
Kita pun seharusnya hidup seperti itu—tidak membiarkan iblis tidak dijaga dalam hidup kita. Kita tidak membiarkan dia diam-diam menguasai pikiran kita, rumah tangga kita, bahkan tubuh kita. Kita punya otoritas, dan kita harus memakainya.

Kita bukan hanya duduk bersama Kristus di tempat surgawi—kita duduk di kursi yang sama. Karena kepala dan tubuh tidak mungkin duduk terpisah.
Apa artinya?
Kita memiliki otoritas yang sama, dan itu bukan karena kita hebat, tapi karena kita ada di dalam Kristus. Saat kita sadar siapa kita di dalam Kristus, hidup tidak akan sama lagi. Kita tidak lagi takut, tidak lagi minder, dan tidak lagi dikuasai masa lalu.

Perubahan sejati tidak terjadi karena kita mencoba lebih keras. Tapi karena kita mulai berpikir seperti Kristus, berbicara seperti Kristus, bertindak seperti Kristus.
Saat kebenaran tentang siapa kita di dalam Kristus memenuhi hati dan pikiran kita, semua rasa tidak aman, rendah diri, dan kebiasaan lama akan hilang dengan sendirinya. Mereka tidak bisa bertahan di tempat yang dipenuhi terang.

Kita tidak mencoba menjadi orang yang baru. Kita sudah baru.
Yang perlu kita lakukan adalah berhenti berpikir seperti yang lama.

Dan itu dimulai sekarang. Saat ini.
Ucapkan kebenaran. Penuhi pikiran dengan Firman.
Dan lihat bagaimana seluruh hidupmu—secara otomatis—mengikutinya.
Siap praktik? Yuuuuk….

Watchman Nee

“You must learn to see yourself as God sees you, not as you see yourself.” – Watchman Nee.

“Engkau harus belajar melihat dirimu sebagaimana Allah melihatmu, bukan sebagaimana engkau melihat dirimu sendiri.” – Watchman Nee.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
How To Handle Difficult Things?
Stevan Berangkat Ke Taiwan Yeaaayyyy….
Growth Environment for Our Children