Articles

Jangan Menyalahgunakan Kebaikan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Menyalahgunakan Kebaikan…

Niat baik bisa jadi bumerang kalau tidak dibarengi hikmat.
Banyak orang berpikir bahwa menolong = selalu memberi. Tapi kalau kita tidak hati-hati, “kasih” kita malah bisa menjerumuskan orang lain makin dalam ke dalam pola hidup yang salah.

Pernah dengar kalimat ini:
“Kalau dia tidak mau bekerja, jangan beri dia makan.”
Kedengarannya keras, ya? Tapi ini sebenarnya bentuk kasih yang benar.

Kita hidup di zaman yang suka mengaburkan batas antara baik hati dan dimanfaatkan. Di satu sisi, kita ingin membantu. Di sisi lain, ada orang yang menjadikan belas kasihan sebagai gaya hidup. Mereka bukan tidak mampu. Mereka hanya tidak mau berusaha. Dan lucunya, malah merasa itu sah-sah saja karena selalu ada yang “baik hati” menopang.

Ini bukan soal pelit. Tapi soal membangun manusia.
Menolong orang yang memang sedang jatuh, tertimpa musibah, atau benar-benar dalam masa sulit — itu wajib. Tapi “menolong” orang yang tidak mau berubah, tidak mau bertanggung jawab, justru membuat dia makin terlena.

Kebaikan tanpa batas itu bukan kasih. Itu kebodohan. Dan kalau diteruskan, bisa berubah jadi racun.

Saya pernah bertemu seorang pria muda yang selama bertahun-tahun hidup dari belas kasihan keluarganya. Setiap kali ia datang, ia bawa cerita sedih dan wajah penuh harap. Semua tergerak. Semua membantu. Tapi… tidak ada perubahan.
Tidak bekerja, tidak belajar, tidak bergerak.
Saat ditanya, jawabannya sederhana:
“Rejeki saya lewat orang-orang yang peduli.”

Sekilas terdengar rohani. Tapi itu manipulasi.
Kalimat manis yang dibungkus supaya orang lain terus membiayai kemalasannya.

Menolong tanpa membangun tanggung jawab = jebakan.
Itu bukan pertolongan. Itu pembiaran.
Dan sering kali, justru orang yang merasa menolong itu yang sedang menghalangi proses pendewasaan yang sedang terjadi dalam hidup si penerima.

Satu kalimat yang membekas dalam hidup saya:
“Kalau kamu menolong seseorang yang sebenarnya sedang diproses hidupnya, kamu bisa merusak proses itu.”

Jadi apa solusinya?
Tetap menolong — tapi dengan hikmat.
Alih-alih kasih uang, ajak ngobrol.
Daripada kasih bantuan terus-menerus, tawarkan pelatihan.
Daripada jadi penolong instan, jadilah sahabat yang berani menegur.

Orang malas bukan butuh kasihan, tapi butuh arahan.
Butuh dorongan untuk bangkit, bukan disuapi terus-menerus.
Karena kadang, cinta sejati justru muncul dalam bentuk ketegasan.

*Kebaikan bukan soal berapa sering kita memberi. Tapi seberapa jauh kita membangun manusia di baliknya.*

Mari jadi orang yang tetap murah hati, tapi cerdas.
Punya hati yang lembut, tapi tidak mudah dimanfaatkan.
Berani menolong, dan berani menolak — saat itu memang bentuk kasih yang lebih besar.

Karena tujuan kita bukan bikin orang nyaman dalam kondisi lama,
tapi membantu mereka keluar dari zona itu, bertumbuh, dan hidup dengan martabat.

Setuju?

“You are ridiculously in charge of your life.” – Dr. Henry Cloud.

“Hidupmu sepenuhnya tanggung jawabmu – suka tidak suka, kamu yang memegang kendalinya”. – Dr. Henry Cloud.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Dimanakah Imanmu?
Jangan Takut….!
Jawaban Doa Tergantung Kita atau Allah?