Kuatir Itu Melelahkan… Memangnya Itu Tugas Kita?
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Kuatir Itu Melelahkan… Memangnya Itu Tugas Kita?
Tullisan Fanky dengan gambar secangkir kopi, sungguh menggelitik.
Tuhan berkata: Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
Sekilas muncul pertanyaan ke diri sendiri: siapa yang disuruh jangan kuatir?
(Kamu/Saya/Kita kan?)
Berarti kendali rasa kuatir tersebut ada di tangan Tuhan atau kita?
Berarti kendali rasa kuatir tersebut ada di tangan Tuhan atau kita?
Lanjut muncul dibenak saya Kalau gitu Perasaan saya adalah tanggung jawab Dan Berarti kalau saya serahin balik ke Tuhan “TUHAN tolong kendali kan perasaan saya ataupun tolong singkirkan rasa kuatir ini” Apa itu Saya lempar balik tanggungjawab saya ke Tuhan ya?
Hmm Seruput kopi dulu….
********
Tuhan berkata: “Sebab itu janganlah kamu kuatir…”
Waktu membacanya, saya berhenti sejenak.
Tuhan bilang: “janganlah kamu kuatir.”
Nah… siapa yang disuruh jangan kuatir? Saya, kamu, kita, kan?
Berarti yang bertanggung jawab atas kekuatiran itu bukan Tuhan, tapi kita sendiri.
Itu membuat saya berpikir:
Kalau begitu… perasaan saya adalah tanggung jawab saya.
Kalau saya bilang, “Tuhan tolong dong hilangkan kekuatiran ini,”
apa saya lagi lempar balik tanggung jawab saya ke Tuhan?
Kadang kita ingin Tuhan yang mengangkat kekuatiran itu dari kita secara otomatis. Tapi sayangnya, Tuhan tidak bekerja seperti itu.
Tuhan memberi kita kuasa untuk memilih apa yang kita pikirkan dan rasakan.
Dia sudah memberi Firman-Nya. Memberi Janji-Nya. Memberi damai sejahtera-Nya. Tapi… kita yang harus memilih untuk percaya dan menolak kuatir.
“Kekuatiran adalah pilihan. Sama seperti damai sejahtera pun adalah pilihan.”
Lho? Masa sih?
Iya. Sama seperti kita bisa memilih untuk makan atau tidak, kita juga bisa memilih untuk memelihara kekuatiran… atau menolaknya.
Tuhan tidak akan pernah memaksa kita. Tapi Dia sudah membekali kita dengan Roh Kudus, pikiran Allah melalui firman-Nya, dan otoritas untuk menolak rasa takut.
Perhatikan tidak dikatakan
“Jangan kuatir, dan tunggulah sampai Aku mengambil kekuatiran itu dari hatimu.”
Tapi berkata:
“Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan…?”
Artinya: jangan biarkan pikiranmu dan mulutmu bergabung menyebarkan rasa cemas itu.
Kalau kita terus memikirkan, lalu kita mengucapkannya, kekuatiran itu makin kuat cengkeramannya.
“Kekuatiran berkembang lewat pemikiran dan pengakuan yang salah.”
Jadi kalau kita mau mengalahkan kekuatiran, kita harus ambil sikap.
Bukan duduk pasif berharap rasa khawatir itu menguap. Tetapi aktif menolak.
Praktisnya bagaimana?
Setiap kali kekuatiran muncul, katakan:
“Tidak! Aku tidak menerima pikiran ini. Tuhan sudah berjanji, Dia memelihara aku.”
Lalu ucapkan Firman Tuhan keras-keras:
“Tuhanku akan memenuhi segala keperluanku menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya.”
Ucapkan, bukan hanya pikirkan.
Karena mulut adalah kemudi hati. Mulut mengendalikan arah pikiran. Ketika kita memperkatakan Firman, perasaan akan ikut berbalik arah.
Kadang orang berkata,
“Saya nggak bisa mengendalikan perasaan saya.”
Tapi itu tidak sepenuhnya benar. Kita tidak bisa mencegah perasaan muncul, tapi kita bisa memutuskan apakah kita akan membiarkannya tinggal.
Kekuatiran bukan tamu kehormatan. Jangan disediakan kopi. Usir saja.
Tuhan tidak akan menyuruh kita “jangan kuatir” kalau itu tidak mungkin dilakukan.
Dia tahu kita sanggup—karena Dia sudah memberikan semua yang kita perlukan.
Jadi, kalau kita berkata,
“Tuhan, tolong singkirkan rasa khawatir ini dari saya…”
Hati-hati. Itu bisa jadi bentuk spiritual-sounding untuk lari dari tanggung jawab pribadi.
Lebih tepat kalau kita berkata:
“Tuhan, aku percaya pada-Mu. Aku menolak kuatir. Aku ambil damai-Mu sekarang juga.”
Lalu bertindaklah seolah damai itu nyata—karena memang nyata!
Kesimpulannya?
Tanggung jawab atas perasaan ada di tangan kita.
Tuhan sudah memberi damai sejahtera, tinggal kita terima dan pegang.
Kalau kita menunggu Tuhan yang “mengambil” rasa kuatir dari kita, maka kita akan terus dikuasai pikiran negatif.
Kita yang punya kendali.
Kita yang punya pilihan.
Dan… kita yang harus berkata:
“Aku tidak kuatir. Tuhan yang memelihara aku. Titik.”
Nah sekarang, yuk… seruput kopi cantik, sambil bersyukur bahwa hari ini kita bebas memilih damai.
Siap?
Worry is the antithesis of trust.
Every time you worry, you are practicing atheism.”- Elisabeth Elliot.
Kekhawatiran adalah antitesis dari kepercayaan. Setiap kali Anda khawatir, Anda sedang mempraktikkan ateisme.” – Elisabeth Elliot.
??YennyIndra??
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

